Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Di ruang utama rumah besar milik keluarga Adhitama, suasananya begitu dingin dan mencekam.
Zara berdiri di sudut ruangan, sambil meremas jemarinya sendiri sampai buku-buku tangannya memutih bak kertas.
Di hadapannya, Hendra Adhitama, ayahnya dan ibu tirinya Roselin tampak tegang saat memandangi dokumen kesepakatan yang ada di atas meja. Di sisi lain sofa, ada Selene yang sedang menangis terisak-isak, sambil menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya sendiri.
"Aku tidak mau, Papi! Aku tidak mau menikah dengan monster itu!" teriak Selene.
"Selene dengar Papi-"
"Tidak! Semua orang di kalangan atas tahu betapa kejam dan dinginnya seorang Regantara Benedict! Dia bisa menghancurkan siapa saja tanpa berkedip. Kalau aku menikah dengannya, hidupku pasti tamat!" Selene kembali berteriak frustasi.
"Selene, tenanglah..." bisik Roselin sambil mengelus bahu putri kesayangannya itu, lalu ia menatap Hendra dengan pandangan menuntut.
"Mas, kamu dengar sendiri, kan? Kita tidak bisa membiarkan Selene menderita. Kerja sama dengan Benedict Group memang penting, tapi masa depan Selene jauh lebih berharga." ucap Roselin penuh harap agar Hendra membatalkan perjodohan ini.
Hendra memijat pelipisnya yang berdenyut sakit.
Ini buruk sekali.
Jika perjodohan ini dibatalkan, sama saja dengan mencoreng wajah keluarga Benedict dan hal itu berarti kehancuran finansial bagi perusahaan Adhitama yang sedang berada di ambang kebangkrutan.
"Tapi Regantara sudah menyetujui nama putri keluarga Adhitama..." gumam Hendra pelan.
Mata Roselin seketika berkilat kearah Zara. Ia memutar tubuhnya, mengarahkan pandangan tajam ke arah Zara yang sejak tadi diam membisu di sudut ruangan.
"Pria itu hanya minta putri keluarga Adhitama, bukan?" suara Roselin terdengar penuh intrik, dengan senyum licik di bibirnya. "Dia tidak pernah secara spesifik menyebut nama Selene dalam dokumen awal. Zara juga putrimu, Mas. Biar Zara yang menggantikan posisi Selene." ucapnya.
Jantung Zara terasa berhenti berdetak saat itu juga. Ia mendongak, menatap ayah kandungnya dengan tatapan tak percaya.
Apakah Hendra begitu tega padanya?
"Tante... Papi..." suara Zara hampir berupa bisikan, bergetar. "Kenapa harus Zara?"
"Kamu harus tahu diri, Zara!" potong Roselin cepat, sambil menatap Zara dengan pandangan tajam. "Atap tempatmu berteduh, biaya kuliahmu, dan kehidupanmu selama ini, siapa yang membiayainya kalau bukan Papi? Ini saatnya kamu membalas budi pada keluarga ini. Lagi pula, Selene tidak sanggup. Kamu anak yang kuat, bukan?" ucapnya penuh kelicikan.
Zara beralih menatap Ayahnya, ia berharap ada sedikit belas kasihan atau penolakan dari pria itu. Namun, Hendra justru langsung mengalihkan pandangan, menolak beradu mata dengan putri sulungnya.
"Lakukan demi keluarga kita, Zara. Pengantin wanita yang akan hadir besok lusa adalah kamu." ucap Hendra dingin, membuat rasa percaya Zara pada pria itu lenyap detik itu juga.
.
Dua hari terasa begitu cepat bagi Zara.
Sekarang ia tengah berdiri di depan pintu megah raksasa dengan gaun pengantin yang melekat di tubuh indahnya.
Balutan gaun putih mewah itu, tentu saja buatan desainer ternama yang seharusnya dikenakan oleh Selene hari ini, namun takdir berkata lain Zara lah yang mengenakannya. Wajah Zara yang dipoles riasan pengantin memantulkan bayangan seorang wanita yang tampak anggun, dengan mahkota indah di kepalanya namun sorot matanya menyimpam duka yang begitu dalam.
Pintu megah itu terbuka secara perlahan.
Musik organ yang terdengar megah mulai berbunyi senada dengan langkah kaki Zara yang mendekat ke altar.
Zara melangkah pelan di koridor berkarpet merah, sambil memegang buket bunga mawar putih dengan tangannya yang bergetar hebat. Di ujung altar, ia bisa melihat seorang pria berdiri tegap menunggu kedatangannya.
Regantara Benedict.
Pria itu mengenakan tuksedo hitam.
Postur tubuhnya tinggi, tegap, dan memancarkan aura dominan yang amat kuat. Parasnya luar biasa tampan dengan rahang tegas, namun sepasang matanya yang tajam berwarna kelam menatap Zara tanpa kehangatan sedikit pun.
Ketika Zara akhirnya tiba di sampingnya, Regantara tidak menyambutnya dengan senyuman hangat seorang suami. Pria itu hanya meliriknya sekilas dari sudut mata, yang menurut Zara tidak lebih seperti kolektor yang tengah menilai barang.
Proses pernikahan itu berlangsung singkat.
Setiap kali tangan mereka bersentuhan saat penukaran cincin, Zara benar-benar gemetar.
Begitu janji suci selesai diucapkan dan para tamu undangan memberikan tepuk tangan, Regantara langsung membungkuk sedikit dan membisikkan sesuatu ke telinga Zara.
"Pilihan yang berani, gadis kecil." bisik Regantara dengan suara berat. "Kau pikir aku tidak tahu kalau kau hanyalah umpan pengganti yang dikirim untuk menggantikan saudarimu?" ucapnya lagi kali ini diakhiri kekehan.
Zara langsung menahan napas, matanya membelalak sempurna saat menatap mata hitam milik Regantara yang kini menatapnya.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." lanjut Regantara sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh tipu muslihat dan rahasia, sebelum akhirnya pria itu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Zara dan langsung melangkah pergi meninggalkan Zara di atas altar seorang diri.
Di sudut lain, Roselin membuka kipas miliknya, dan tersenyum penuh kelicikan dibalik kipas itu dengan tatapan yang mengarah kepada Zara Adhitama.