Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Perubahan
"sikap mama hari ini sangat berbeda." Ujar Clare, kecewa.
"Kamu sekarang bukan lagi menantu tersayang saya, kamu sudah miskin!!" Jawab mertua Clare, tangannya mendorong badan Clare hingga terjatuh.
BRAKKK!!
Pintu terbanting keras, suara cacian dan makian terdengar dari balik pintu yang semakin menjauh.
Clare hanya bisa diam tak berdaya, melihat semua kekacauan yang tak pernah terduga. Ia berdiri lemas menyusuri tembok, melangkah dengan sisa tenaganya. Ia sampai di pintu kamar mandi, membuka lalu menutupnya pelan.
Clare melihat dirinya di cermin yang kacau, berantakan. Ia menyalakan air di wastafel, membasuh seluruh sisa air mata di wajahnya.
TOK!... TOK!... TOK!.....
BRAKKK!!!
Pintu terbuka paksa, terdengar beberapa langkah kaki masuk. Clare membuka pintu kamar mandi, ia melihat tiga orang pembantu sedang mencari sesuatu di seluruh kamar.
Clare lari ketika satu pembantu mendekati lemari perhiasannya.
"Hey! Sedang apa kamu!" Teriak Clare, pembantu itu sudah mengambil sebuah giok berwarna Hijau mengkilat.
"Kembalikan!" Ujar Clare, tangannya terus meraih giok itu.
"Enak saja, kami mengambil ini atas perintah tuan Hans!" Jawab pembantu, dia mendorong Clare ke ranjang.
"Kembalikan! Itu punya saya!" Clare terus meraih giok yang ada di tangan si pembantu.
Dua pembantu lainnya memegang lengan Clare hingga tak bisa melawan.
PLAK!! PLAK!! "Siapa kamu, beraninya menyuruh kami mengembalikan ini!" Teriak pembantu, tamparannya sangat keras.
"Pengkhianat!.. kalian semua pengkhianat!" Teriak Clare pecah, ia menangis tersedu-sedu, Pipinya bengkak karena mendapatkan tamparan beberapa kali. "Siapa sebenarnya yang memberi kalian upah? Itu saya." Lanjut Clare.
Pembantu itu tersenyum miring, ia melangkah ke arah jendela. Pelan.
"Hmph, sayangnya... Sekarang bukan kamu lagi yang memberi kami upah itu." Ujarnya sinis, ia mengambil sebuah gelas minuman berwarna merah di meja.
Pembantu itu mendekat membawa gelas wine yang terisi tak... tak... tak... Langkahnya pelan. "Kamu bukan siapa siapa lagi sekarang!" Air meluncur ke kepala Clare, cipratannya membasahi ranjang.
"JADI NGGAK USAH BELAGU." TING!! KRASSSH!! Gelas itu pecah di kepala Clare. Darah datang bercampur dengan wine. Clare terhentak ke bawah, tangannya berusaha melepas dari genggaman dua pembantu itu.
Tiba-tiba suara langkah yang cepat mendekat. Di sela pintu yang terbuka, tampak seorang wanita paruh baya datang, di pundaknya ada sebuah kain lap, rambutnya beruban sedikit.
"Astaga... Nona!" Teriak wanita itu melihat Clare terjatuh di lantai dengan luka.
Ia mendorong pembantu yang menghalangi jalannya. Lalu ia meraih Clare.
"Nona, tidak apa-apa?" Tanya wanita itu, gelisah. Tangannya memegang luka Clare.
"Kepala aku sakit, Mbok Lastri." Jawab Clare, ia jatuh di pangkuan Mbok Lastri.
"Nona! Ya ampun." Ujar Mbak Lastri ketakutan, ia menggendong Clare ke ranjang dengan sekuat tenaganya.
Mbok Lastri melirik satu persatu pembantu itu, ia menatap tajam pembantu yang memecahkan gelas di kepala Clare.
"KALIAN APAKAN NONA ClARE?" Teriakannya menggemparkan seluruh orang yang berada di rumah itu.
Hans datang, disusul ibu dan selingkuhannya, lalu di susul lagi dengan adik perempuannya. Mbok Lastri menoleh, ia berlari menghampiri Hans. "Tuan! Mereka harus anda pecat!" Ujarnya, menunjuk ke arah pembantu pembantu itu.
Hans membuang muka ke Mbok Lastri, tangannya berada di pinggang, menatap Clare yang terbaring di atas ranjang.
"Itu bukan urusan saya." Jawab Hans, dingin, nyaris tanpa emosi.
"Tapi, i-itu nona tuan..." Ujar Mbok Lastri, jempolnya menunjuk ke arah Clare.
"Dia bukan urusan saya!" Jawab Hans, ia melangkah,membalik badan.
"Tapi kan...i"
"SAYA NGGAK PEDULI!! KALO MBOK PEDULI URUS SENDIRI!!." Hans melanjutkan langkahnya di ikuti semua orang yang melihat tanpa emosi.
"B-baik tuan." Mbok Lastri menunduk, ia kembali ke ranjang.
Tiga pembantu itu juga pergi, meninggalkan Mbok Lastri dan Clare, membawa gelang giok yang diambilnya.
Clare masih terbaring, dahinya di penuhi darah, Mbok Lastri bergegas ke dapur mengambil air untuk membersihkan luka Clare.
Saat Clare terbangun, mbok Lastri masih berjaga di sampingnya. Saat itu, hari sudah mulai malam, di luar angin berhembus kencang menggoyangkan pepohonan, suaranya terdengar sayup sayup ke ruangan itu, ruangan yang tak lagi ramah.
Clare membuka mata, menatap langit langit, ia membangunkan tubuhnya. Mbak Lastri terbangun, ia membantu Clare untuk duduk. Di meja, mbak Lastri mengambil semangkuk bubur yang sudah ia siapkan, bubur itu sudah dingin.
"Ini nona, Mbok udah siapin bubur, tapi udah dingin. Apa nona masih mau?" Ujar mbak Lastri, tangannya menyendok bubur itu.
Clare memakannya satu suap, air mata Clare menggenang di matanya. Lalu Clare bangkit, ia turun dari ranjang, melangkah walau sempoyongan.
"Nona! Nona mau kemana, biar saya bantu?" Mbok Lastri mencoba memapah Clare. "Nggak usah mbok, aku mau ketemu temen." Clare melangkah ke pintu, ia mengambil tas.
"Non! Nona masih sakit, lebih baik istirahat saja."
"Nggak perlu, lebih baik Mbok bantu saya, biar bisa keluar, saya tidak mau ada perdebatan sekarang. Saya muak dengan itu!" ujar Clare, tangannya meraih ponsel di dalam tas. Nitt.. nit.. telepon terjawab
"Halo, na" panggil Clare.
"Ya, jadi?" Jawab Nana, sahabat Clare.
"Jemput aku, sekarang. Tunggu aja di luar, kalo aku belum keluar, jangn masuk!" Clare menuruni tangga, di ikuti mbok Lastri.
"Oke, aku akan segara sampai, tunggu!" Jawab Nana riang, di seberang terdengar Nana menyalakan mobilnya.
Clare menutup telepon itu, ia bersembunyi di balik tembok, mendengar kan sedikit pembicaraan mereka, di ruang tamu ada Hans dan seluruh keluarganya, bicara mereka sangat gembira membahas Hans dan selingkuhan itu. Clare hanya bisa mendengar sembari menangis, suara tangisnya tak terdengar tertutup tangan.
Mbok Lastri melewati Clare, berjalan ke arah ruang tamu, ia mengalihkan perhatian mereka dengan dalih menuangkan teh.
tak... tak... tak... Suara langkah kaki Clare pelan namun Hans hampir menyadarinya.
"Eh tuan, maaf!" Mbok Lastri menumpahkan teh ke sepatu Hans untuk mengalihkan perhatiannya.
"Mbok bisa hati hati gak sih!!" Glen berteriak, ia menendang mbok Lastri di depan banyak orang.
Clare melihatnya, ia sudah berbalik badan untuk menolong mbok Lastri, tapi mbok Lastri mengedipkan mata. Clare menurut lalu melanjutkan langkahnya.
Di teras rumah yang begitu besar dan kokoh, angin malam langsung menusuk kulit Clare, dingin. Di parkiran, mobil Nana sudah menunggu, lampunya menyala, Clare langsung berlari dengan heels nya yang melukai kaki, masuk ke dalam mobil itu.
Bump!
Pintu mobil tertutup keras.
"Kenapa kamu berlari!?" Tanya Nana, ia menyadari luka Clare, lalu merabanya.
"Kenapa dengan dahimu, Clare. Ada apa? Apa ini semua ulah Hans?" Suara Nana gelisah.
"Kita pergi dulu dari tempat ini, aku akan menceritakannya nanti." Jawab Clare sembari memakai sabuk pengaman.
Nana langsung menancap gas, mobilnya keluar dari parkiran rumah Clare...