Miss Bread adalah sebuah julukan yang disematkan oleh seorang pria kepada Zarina Qarira yang memiliki ingatan tajam.
Zarina memiliki luka masa lalu yang membuatnya tidak tertarik dengan cinta. Namun, saat SMA Zarina di pertemukan dengan seorang pria, dan seiring berjalannya waktu pria tersebut mulai menyayangi dan selalu melindungi Zarina.
Akankah Zarina bisa melupakan lukanya dan membuka hatinya untuk pria itu? Lantas luka masa lalu apa yang Zarina miliki?
Enjoy reading and enjoy the storyline 😻
🦊This novel is just fiction🦊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bebev lonely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : UKS
Di dalam ruangan UKS
Zarina sudah berbaring di atas ranjang pemeriksaan dengan Aprian yang berdiri di sampingnya. Mereka berdua hanya terdiam tanpa suara sampai dokter masuk ke ruangan itu.
"Maaf jadi buat kalian menunggu. Tadi saya habis dari ruangan kepala sekolah," ucap dokter wanita yang bernama Namira Umami.
Terlihat seperti pasangan suami istri yang hendak berkonsultasi dengan dokter kandungan _dokter Namira
“Dok. Saya boleh pinjam handphone nya?” tanya Aprian pada dokter Namira.
“Oh boleh-boleh. Apa si yang engga buat calon ade ipar.” Dokter Namira langsung memberikan handphone nya pada Aprian.
“Makasih. Oh ya saya titip dia sebentar.” Aprian menunjuk Zarina, lalu berjalan keluar meninggalkan Zarina dan dokter Namira di ruang UKS.
“Iya sama-sama. Tenang aja dek, pacarnya akan kakak jaga dengan baik,” kata dokter Namira.
“Dia bukan pacar saya,” ucap Aprian sebelum menghilang dibalik pintu.
Zarina hanya diam melihat Aprian dan dokter Namira yang terlihat akrab. dokter Namira mendekat ke Zarina untuk memeriksa keadaannya. Setelah selesai dengan serangkaian pemeriksaan, dokter Namira meminta Zarina untuk duduk di kursi meja kerjanya.
“Saya boleh tanya sesuatu?” kata dokter Namira.
“Boleh dok,” jawab Zarina.
“Sebelumnya, Kenalin nama saya Namira Umami.” Dokter Namira mengulurkan tangan kanannya.
Dengan cepat Zarina membalas jabat tangan dokter Namira. “Saya Zarina Qarira. Senang bisa berkenalan dengan anda, dok.” Senyum Zarina terlihat merekah.
Manis, _dokter Namira terkesima melihat senyuman Zarina.
***
Diwaktu yang bersamaan. Aprian keluar ruangan untuk melakukan panggilan telepon.
📞 “Halo ... ini siapa?” Tanya dari sebrang.
“Ini gue,” jawab Aprian.
📞 “Bos. Ini lo?”
“Iya. Za ambilin hoodie gue di loker kelas, anterin sekarang ke UKS. Cepet gak pake lama.”
📞 “Lo ngapain di UKS? ... lo sakit bos? perasaan tadi baik-baik aja,” kata Eza.
“Waktu lu 1 menit dari sekarang. Telat dikit gue pecat lu dari jabatan ketua basket.”
📞 “5 menit oke.”
“2 menit,” kata Aprian lalu menutup sepihak panggilan itu.
Setelah menelpon Eza. Aprian membuka pintu dengan pelan-pelan untuk masuk ke ruangan UKS. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar obrolan antar dokter Namira dan Zarina.
“Kamu sekolah SMP nya dimana?” Tanya dokter Namira.
“SMP Presiden, dok,” jawab Zarina.
“SMP Presiden?” Dokter Namira menegaskan ucapan Zarina. Zarina mengangguk kecil sambil tersenyum tipis.
“Kalau saya tidak salah menebak. dokter menanyakan sekolah SMP saya mungkin karena dokter bingung. Kok bisa ada siswi Mahendra IHS yang tenggelam di kolam. Bukankah begitu?” Tanya Zarina.
Nih anak bukan cuma cantik. Tapi gue rasa dia bisa baca pikiran orang deh. dokter psikolog juga gak gini-gini amat, _dokter Namira.
“Ya– kurang lebih seperti itu. Karena setau saya, semua siswa/i yang masuk ke SMA ini adalah anak-anak yang sekolah SMP nya juga favorit serta miliki fasilitas yang cukup lengkap. Jarang sekali para siswa/i di SMA ini yang tidak bisa berenang bahkan selama saya menjadi dokter di sini, saya belum pernah mendapati siswi yang tenggelam,” jelas dokter Namira.
“Kecuali jika siswi itu memiliki trauma atau berasal dari SMP yang fasilitasnya terbatas. Tapi, SMP Presiden adalah sekolah yang fasilitasnya lengkap karena saya juga lulusan SMP itu,” lanjutnya lagi.
Bu dokternya cantik, baik dan juga cerdas. Apa semua dokter kayak gini? _Zarina tengah asik dengan pikirannya sendiri.
Apa Zarina punya trauma sama air? _Aprian.
“Aprian kamu ngapain berdiri aja di depan pintu? Sini masuk.” Dokter Namira menyadari kehadiran Aprian.
Aprian menghampiri mereka lalu duduk di kursi yang ada disebelah Zarina. Aprian terlebih dahulu mengembalikan handphone dokter Namira tak lupa dia mengucapkan terima kasih.
“Gimana keadaannya Dok? Apa dia perlu dibawa ke RS?” Tanya Aprian.
Aku mohon dokter tidak menjelaskan semuanya pada kak Aprian. karena itu dapat membuat ku gak nyaman, _Zarina.
Terlihat dokter Namira sedikit melirik ke arah Zarina sebelum menjawab pertanyaan Aprian.
“Sejauh ini kondisinya sudah jauh lebih baik, dan tidak perlu untuk dibawa ke RS. Saya anjurkan untuk lebih banyak istirahat kalau bisa langsung izin pulang aja,” jelas dokter Namira.
“Hanya itu aja, Dok?” tanya Aprian.
“Ya ... hanya itu saja.” Dokter Namira sedikit tersenyum.
Maaf Aprian, saya tidak bisa memberitahukan lebih banyak tentang kondisi Zarina yang sebenarnya. karena itu benar-benar diluar kapasitas saya, _Dokter Namira.
Terima kasih dok, _Zarina.
Tok... tok... tok
“Masuk,” ucap dokter Namira.
“Maaf dok mengganggu waktunya. Dokter Namira diminta untuk datang ke ruang rapat sekarang” ucap staf kebersihan sekolah.
“Baik. Sebentar lagi saya akan ke sana,” ucap dokter Namira.
“Yasudah kalau begitu saya permisi, Dok.” Staf kebersihan pamit. Lalu disusul oleh dokter Namira setelah berpamitan dengan Aprian dan Zarina.
Setelah kepergian dokter Namira dari ruangan UKS. Terlihat Zarina sedang mencari sesuatu.
“Kamu lagi cari apa?” tanya Aprian.
“Aku lagi cari handphone kak.”
“Mungkin aja handphone kamu ketinggalan di kolam renang,” kata Aprian. “Mau ngapain emang?” tanyanya lagi.
“Aku mau ngabarin Hana. Aku yakin dia pasti lagi khawatir sekarang.”
Siapa Hana? Apa ibunya? Ah masa iya ibunya ikut sekolah, _Aprian.
Tok... tok... tok
Pintu ruangan UKS itu kembali diketuk.
“Kamu tunggu di sini sebentar,” kata Aprian lalu Zarina mengangguk pelan.
***
Aprian keluar dari ruangan UKS untuk menemui seseorang yang berada di luar.
“Ini udah lebih dari 2 menit,” kata Aprian dengan tangannya menyilang di depan dada.
“Ya maaf bos. Kan jarak dari kelas kita ke UKS lumayan jauh, makanya bos bikin sekolahan jangan gede-gede,” celetuk Eza.
“Lo pikir gue yang bikin sekolahan ini hah? Mana sini hoodie gue,” kata Aprian, lalu Eza menyerahkan hoodienya. “Sekalian gue pinjem handphone lo.”
“Handphone lo kemana emang bos?” tanya Eza sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya.
“Ketinggalan di kolam renang.”
“Sebenarnya lo abis ngapain sih bos? UKS, kolam renang, beneran deh gue bingung.”
“Pulang sekolah gue ceritain. Sekarang tugas lo cari 2 handphone gue di kolam renang mungkin yang satunya ada di dalam air.”
“Oke. Asalkan absen mapel matematika Lintas Minat gue hari ini aman.”
“Iya gampang. Cari tuh handphone sampai ketemu.”
Eza mengangguk paham lalu pergi. Sementara Aprian kembali ke ruangan UKS.
Di dalam ruangan UKS.
“Nih.” Aprian memberikan handphone Eza kepada Zarina.
“Buat apa kak?”
“Katanya mau ngabarin Hana.”
“Emangnya boleh kak?”
“Kalau gak boleh ngapain saya kasih ke kamu?”
“Hehe ... makasih kak Aprian.” Zarina langsung mengambil handphone itu dari tangan Aprian.
“Hmm ... Iyah.”
Zarina langsung melakukan panggilan telepon ke nomor Hana.
“Halo,” kata Zarina saat panggilannya sudah tersambung.
📞 “Zarina. Ini kamu?” Hana langsung mengenali suara Zarina.
“Iyah Han. Ini aku Zarina.”
📞 “Zarina kamu kemana aja? Aku dari tadi nungguin kamu tapi kamu gak dateng-dateng. Aku udah keliling sekolah tapi Kamu nya gak ada. Kamu kemana Zar aku khawatir... handphone kamu juga gak aktif. Kamu gapapa kan Zar?” Hana berbicara dengan suara yang terisak-isak. Takut jika hal buruk terjadi pada sahabatnya.
“Hey ... aku gapapa kok. Maaf yah udah buat kamu khawatir. Sekarang aku lagi di UKS, sebentar lagi juga aku mau ke kelas.”
📞 “UKS? Kamu sakit zar? Kenapa kamu gak bilang? Kamu diam-diam di sana aku ke UKS sekarang.” Hana menutup panggilannya.
“Ha–halo ... Hana,” panggil Zarina.
“Kenapa?” tanya Aprian.
“Hana mau ke sini kak.”
Zarina mengembalikan handphone milik Eza pada Aprian.
“Kak Aprian makasih udah pinjemin handphone nya. Makasih juga udah nolong aku waktu tenggelam di kolam tadi,” ucap Zarina dengan tulus.
“Iyah sama-sama. Yauda kalau gitu saya pamit duluan. Kamu pakai ini.” Aprian memberikan hoodienya yang berwarna light grey pada Zarina.
“Ini punya siapa kak?”
“Punya saya.”