SERIES PERTAMA!
Kisah tentang kehidupan manusia pada mulanya di suatu planet biru, merangkum sejarah kehidupan itu, mulai dari awal sampai ...
Genre: History, Mystery
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Menunggangi
Keduanya diam-diam mengamati diri Amon, tampaknya Amon benar-benar tidak berbohong tentang kisahnya, dan bahwa benar dia pernah bertemu dua orang kuat yang menyuruhnya pergi ke arah barat.
"Apakah itu roh leluhur kita?"
"Apa maksudmu, Arsia?"
Sela tampaknya tahu tentang apa yang dipikirkan oleh Arsia, jadi dia sendiri yang menjelaskannya kepada Amon, Tuannya. Katanya, "Ada cerita yang mengatakan bahwa kita memang berasal dari barat, dibawah pimpinan Leluhur bernama Metusael."
"Metusael ..." Nama ini sudah tidak asing lagi di telinga Amon, sebab dia sudah pernah mendengarnya dari orang tuanya, Metusael sendiri adalah pemimpin pertama yang menciptakan Kota Manusia ribuan tahun yang lalu.
Benar juga ... Amon tiba-tiba menyadari sesuatu, tentang ... di mana manusia ada sebelum ada Kota Manusia?
"Apa kita benar-benar dari barat?" Amon berbisik rendah. Jika ini benar, maka mungkin saja memang roh leluhurnya yang berbicara kepadanya, menurutnya, sebab di zaman ini masyarakat lebih percaya kepada roh leluhur mereka.
"Benar atau tidak, tapi begitulah yang pernah diceritakan oleh nenekku saat aku masih kecil, tapi sepertinya itu hanya dongeng," imbuh Sela. Dia bisa berpikir seperti ini sebab tidak mungkin manusia bisa melakukan itu, apalagi dikatakan bahwa dahulu jumlah manusia hanya kurang dari 1.000 orang, bagaimana cara mereka melewati hutan yang sangat berbahaya ini?
Tapi andai saja dia tahu bahwa kekuatan manusia zaman dulu berbeda dengan yang sekarang, mungkin saja dia akan percaya.
"Sela, tidak baik berkata seperti itu, aku yakin bahwa leluhur benar-benar sangat kuat sehingga mereka dapat bertahan hidup di masa lalu dengan jumlah yang sedikit," ucap Arsia dengan nada sedikit kesal, sebab berbeda dengan Sela yang tidak mempercayai hal-hal di luar nalar, dirinya malah lebih percaya.
"Hmmm ..." Sela mengangguk, dia hanya memberikan pendapatnya, jika itu tidak diterima oleh Arsia, maka biarkanlah.
Sekarang semuanya berada di tangan Amon, Tuan mereka, biarkan dia yang memutuskan.
Amon awalnya masih terdiam, sampai ketika dia akan berkata, tiba-tiba terdengar suara dari belakang mereka.
“Apa kalian ingin ke barat?”
Segera ketiganya membalikkan wajah mereka dan melihat ke balik semak-semak. Dari sana, keluar seorang wanita berumur 30 tahun, di tubuhnya mengenakan selendang merah dengan pakaian berbulu.
“Siapa kau?” Amon bertanya.
Wanita itu berjalan mendekati Amon, lalu berhenti di sana. “Aku adalah Alina.” Alina bertanya lagi, “Apa kalian benar-benar pergi ke sana?” tunjuknya ke arah depan tebing jurang tersebut.
“Bagaimana jika iya?” tanya Amon.
“Jika iya ... aku ingin ikut!” pintanya.
“Ikut?” Arsia mengernyitkan keningnya, begitu juga Sela.
“Kalian tidak perlu khawatir sebab aku tidak akan menyusahkan kalian.”
“Tidak akan menyusahkan apanya—” ucapan Arsia berhenti ketika Amon memotongnya.
“Kenapa? Kenapa kau ingin ke sana?” dia bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi. Mungkinkah wanita ini juga disuruh oleh dua orang misterius itu? pikir Amon.
Akan tetapi jawaban dari wanita itu membuat Amon agak kecewa, karena ternyata ini bukan karena perintah, tapi karena alasan pribadinya sendiri.
“Aku ingin mencari suamiku.”
“...” Amon langsung terdiam. Karena ini bukan alasan yang sama, alhasil minatnya berkurang drastis.
Melihat perubahan ekspresi yang jelas di wajah Amon membuat wajah wanita itu menjadi sedikit buruk.
“Anda adalah anak dari Tuan Kota Ruel, bukan? Apakah anda tidak bisa membantuku? Aku yakin jika anda adalah beliau, beliau pasti membantuku!” tuturnya dengan nada seperti membandingkan, sepertinya dia benar-benar ingin membuat Amon menyetujui dirinya untuk ikut.
“Hmm ...” Amon sedikit tersinggung dengan kalimat barusan, wanita ini mengatakan seolah dirinya lebih lemah dari ayahnya, Ruel.
Gampang terpicu, itu adalah salah satu sifat buruk Amon yang sudah sering dinasehati oleh Ruel, ayahnya, sejak dahulu. Hanya saja ini sudah seperti sifat alami yang sulit untuk dia kendalikan, dia mungkin mirip dengan ibunya dibanding ayahnya.
Dengan kepala yang tidak dingin, dan dalam sedikit rasa tak ingin direndahkan, Amon berkata: “Aku akan ke barat, terserah jika kau mau ikut atau tidak!”
“Benarkah?”
“Tu-Tuan ...” Sela dan Arsia sedikit terkejut, bukannya bagaimana, tapi mereka khawatir dengan keselamatan tuannya.
“Pergilah dan bawa barangmu, kita akan segera pergi!”
“Baik!” Wanita itu tersenyum puas dan bergegas pergi kemudian.
“Tuan, apa kau yakin?” Sela sedikit mendesaknya, “Ini sangat berbahaya, Tuan Yiro sudah berpesan kepada kami untuk membawamu balik lagi dengan selamat.”
“Itu benar!” tambah Arsia. Tapi yang sebenarnya mereka ucapkan adalah penipuan, sebab Yiro, kakak dari Amon, tidak pernah berpesan seperti itu kepada mereka.
Akan tetapi kekhawatiran mereka nyata adanya.
“Arsia, Sela, ini adalah keputusanku. Sebaiknya kalian berdua juga bersiap-siap, lalu kembali ke sini.”
“Baik, Tuanku!” Dengan penuh rasa sesak, mereka berdua langsung bergegas pergi dan bersiap-siap seperti apa yang diperintahkan oleh Amon, tuan mereka.
“Hah ...” Amon berbalik badan dan menatap kepada sekumpulan monster berleher panjang di bawah sana. “Kuharap ... aku tidak akan menyesali keputusanku saat ini.”
Dini hari, ketika semua orang sudah dikumpulkan kembali bersama-sama di tempat ini.
Meski kali ini sedikit berbeda karena ada penambahan beberapa orang lain. Mereka adalah Alina beserta dua orang-orangnya, Asrot (laki-laki) dan Eldia (perempuan). Asrot merupakan adik dari Alina, dan Eldia adalah kakaknya yang baru berumur 35 tahun. Sama seperti Alina, sepertinya Eldia juga memiliki alasan yang sama, dan Asrot ikut karena dia merasa harus melindungi kakak perempuannya itu dari bahaya.
“Moooooooooohhhhhhh ...” Suara binatang berleher panjang sudah dikorbankan, dan tatapan semua orang melihat ke bawah jurang.
“Ayo!” Amon buru-buru mengajak mereka menuruni tebing tersebut, setibanya mereka di bagian bawah tebing, barulah saat itu mereka dapat melihat dengan jelas, sekelompok binatang berleher panjang itu dengan jelas.
“Luar biasa ...” Amon dibuat terpukau dengan apa yang dia lihat dengan kedua matanya.
Binatang dengan badan sepanjang 30 meter dan tinggi 9 meter lebih membuat Amon tidak habis pikir ada monster semacam ini di dunia!
Tiba-tiba Amon berpikir, jika monster ini adalah pemakan daging, mampukah manusia untuk bertahan hidup?
“Sepertinya sulit ...” gumam Amon.
“Tuan, apa yang kau katakan?” tanya Arsia atas apa yang baru saja diucapkan oleh Amon.
Tetapi Amon tidak menjawab yang sesungguhnya. “Kalian pasti bingung kenapa kita tidak naik kuda, bukan? Kita akan menaiki mereka!”
“Apa?!” Semua orang di tempat itu serentak terkejut mendengar apa yang diucapkan dari mulut Amon.
Manusia menaiki monster semacam ini?
“Tidak usah terkejut, ayo kita naik!” Dengan menggendong tas karungnya, Amon langsung berlari dan menaiki binatang tersebut melalui ekornya. Karena ukuran dia yang sangat kecil, seperti binatang tersebut tidak terlalu memedulikannya.
“Astaga, dia benar-benar menaikinya ...” Alina dibuat tercengang dengan aksi nekat dari Amon.
-Bersambung-
Soalnya ini novel under 30 bab.