Indonesia
NovelToon NovelToon
My Boss BASTARD

My Boss BASTARD

Status: tamat
Genre:CEO / Pengganti / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElvinaAhmad

Rangkaian cara untuk balas dendam telah dilakukan. Hingga membuat musuh tak mengenali rencana piciknya. Akan tetapi ia lupa menyiapkan rencana agar tidak jatuh cinta.
Lantas bagaimana kehidupannya selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElvinaAhmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 11

KIKO POV

Jantungku berdetak lebih tak sabaran. Ketika Bos Gavi, mengikis jarak. Wajahnya kini lebih dekat, perlahan ia membungkuk. Menyejajarkan tingginya denganku. Kini bibir kami hanya berjarak udara kosong, satu centi. Wangi sensual mengobrak penciuman. Membuat diriku lupa akan hal yang sebenarnya tidak boleh. Namun entah mengapa, ini benar-benar menantang adrenalin. Sedikit lagi bibir kami menyatu, ku putuskan untuk memejamkan mata.

“APPA!” teriakan kesal itu, membuat Bos Gavi mundur selangkah.

“Aduh mataku!” Sela ku cepat, mulai membuka satu mata. Aku tidak ingin anak Bos Gavi berpikir yang tidak-tidak. Dan semoga Bos Gavi juga paham maksudku.

“Kau jangan mikir yang aneh-aneh. Appa hanya ingin membantunya,” kata Gavi mulai mendekat. Ingin membantu, namun lagi dan lagi. Kenny yang berdiri di sampingnya. Menarik lengannya.

“Ada banyak cara mengeluarkan partikel dimata. Enggak perlu adegan intim,” ketus Kenny, wajahnya mulai memerah tak kuasa menahan kekesalan.

Sedangkan seorang wanita dengan postur tubuh tinggi, berdiri di samping Kenny. Hanya bersendekap.

“Tanya dia, partikel kecil itu ada dimana. Jika ada di bawah, dia bisa menarik bagian mata bawah ke ujung. Pun sebaliknya.”

“Sekarang ayo pulang,” ujar Kenny menarik paksa tangan ayahnya.

“Tunggu dulu, Appa harus ke kantor dan ya kenapa kau tahu Apa disini?” ujar Bos Gavi menoleh ke belakang mobil Jeep. Disana sudah ada dua buah mobil berwarna hitam dan satu orang berpakaian sopir.

Kenny terdiam melirik jam yang Gavi kenakan. Menatap ayahnya sekilas dan berucap, “Sudah setengah tiga, bentar lagi jam kantor pulang. Appa lupa besok kita terbang ke Singapore? Dan ya masalah bagaimana Kenny tahu keberadaan Appa. Itu perkara gampang, pertama Appa share lock ke sopir. Dan ya jam ini....” ujar Kenny menunjuk jam ayahnya.

“Maaf Appa, Kenny diam-diam memasangkan pelacak.”

“Apa?” pekik Gavi tak percaya.

Sedangkan perempuan yang berdiri di samping Kenny hanya tersenyum samar.

“Ya sudah sekarang kita pulang, packing-packing. Tetya dan yang lain sudah datang,” pungkasnya.

“Tapi dia bagaimana,” ujar Gavi menunjuk ke arah ku.

Kenny berdecak tidak suka. Terlihat jelas dari gesture muka dan caranya membuang napas kasar.

“Ada dua mobil, biar sopir nganterin dia pulang. Dan Appa, pulang sama aku dan Mamah! Jangan lupa jelaskan kenapa kaca mobil bisa pecah.”

Gavi, Kenny dan mantan istrinya pergi. Bahkan sebelum aku bilang terima kasih dan minta maaf pada Bos Gavi.

Sore itu aku telah sampai lebih dulu di kontrakan Putri. Sebulan ke depan mungkin aku akan stay di ibu kota. Meskipun demikian, sebagai seorang teman. Aku juga akan membayar biaya kontrakan separuh.

Tepatnya jam enam, Putri pulang dari kerja. Dia menyapaku sejenak. Dan bertanya kemana aku dan Bos Gavi pergi. Ku jawab dengan senyuman. Ia juga tahu, jika aku mendapatkan diskriminasi. Karena mencoret wajah putra Bos Gavi. Dari grup chat antar OB.

Setelah itu aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Merebahkan tubuhku yang kaku. Adegan penembakan di jalan. Membuat aku berpikir siapa Bos Gavi sebenarnya. Hingga ketukan pintu membuyarkan lamunanku.

“Ada apa Put?” tanyaku menyembulkan kepala di daun pintu.

“Pak Bos! Dia datang.” Putri terlihat gugup bukan main.

“Maksudnya?” tanyaku mode paste wajah bodoh.

“Bos Gavi nyari lu....”

Aku tertegun bukan kepalang. Apa pula Bos Gavi datang mencariku.

“Lu temuin gih, tapi gua saranin. Jika lu diajak pergi jangan mau. Entah mengapa ada yang mengusik hatiku. Setelah melihat tatapan bos Gavi,” ujar Putri mewanti-wanti. Aku hanya tersenyum mengelus pundaknya. Untuk tidak terlalu khawatir, selama aku bersama Bos. Pria itu tidak yang neko-neko.

Akhirnya aku putuskan untuk keluar. Terlihat Bos sedang menunggu, memunggungiku. Aku berdeham sejenak. Membuat bos menoleh. Auranya tidak seperti yang Putri bilang. Wajahnya terlihat lebih bersahabat. Tatapan mata serta senyumannya. Jelas jarang ku lihat.

“Malam!” sapanya.

Susah payah aku menelan ludah. Saat ia menyapa.

“Ada apa Bos. Aku minta maaf, karena bikin kerusakan mobil,” ujarku merasa tidak enak.

“Seperti yang saya bilang waktu itu, ketika kita bertemu untuk yang pertama kalinya. Kau harus membayarnya mahal,” jawabnya bersandar di pillar. Kembali tersenyum.

“Ah tapi lupakan sejenak untuk itu. Sekarang pikirkan bagaimana cara kita keluar dari kejaran empat orang itu. Saya pikir tidak baik. Jika kau tetap tinggal di sini. Itu bisa membahayakan temanmu. Sepertinya mereka tidak akan tinggal diam lagi, setelah tiga kali kau lolos.”

“Maka ikutlah dengan saya, ada tempat aman untukmu.”

Aku terdiam sejenak, sebenarnya apa alasan. Bos Gavi mengkhawatirkan keadaanku. Dan ya mengapa disaat aku dalam masalah. Ia selalu ada. Apa yang sebenarnya tidak aku ketahui.

“Bagaimana Kadrun?” Bos Gavi kembali bertanya. Namun sebelum aku menjawab. Ia kembali berkata, “Apa kau tidak khawatir dengan temanmu. Jika seandainya kejadian tadi siang berulang kembali.’

Aku kembali terdiam, memikirkan nasib Putri. Maka sudah menjadi keputusanku. Untuk mengikuti saran bos Gavi. Sekalipun Putri kembali memintaku untuk tidak mengikuti Bos Gavi.

“Tenanglah Put, aku akan menjaga diriku. Aku juga punya tahnik dasar melumpuhkan lawan. Kau percayalah padaku, aku kan belajar bela diri. Ya kalau lawanku pakai tembak. Aku baru kelimpungan,” ujarku berusaha bercanda. Menenangkannya, yang sadari tadi menghadangku agar tidak keluar kembali. Setelah aku mengambil ransel kecil di kamar.

“Aku mohon, turuti permintaanku. Sumpah demi Tuhan, aku memiliki firasat tidak baik,” ujar Putri menggenggam tanganku.

Aku menghela nafas panjang. Berusaha meyakinkan, jika semua akan baik-baik saja.

Akhirnya dengan berat hati ia mengizinkan. Kita berpelukan sejenak, dan aku segera melenggang pergi.

Kini mobil yang dikendarai bos Gavi. Mulai memasuki jalan raya.

“Bos Gavi tahu alamat kontrakan saya dari mana?” tanyaku menatapnya sejenak. Malam ini bos Gavi terlihat lebih beda, dari segi raut wajah dan penampilan. Dan ya, ia juga tidak memakai jam tangan.

“Ah kau lupa jika tadi, sopir mengantarmu.” Dia menoleh kembali tersenyum. Entah mengapa aku jadi merasa ada yang keliru dalam situasi ini. Namun dengan cepat aku menyingkirkannya. Jika dia mau berbuat buruk padaku. Harusnya bisa dari awal kita bertemu kan?

“Bos mengapa Anda repot-repot membantu saya?” Kini ku menatapnya lebih intens. Karisma duda dua anak ini, bukan kaleng-kaleng. Tatapannya, cara dia bicara semua memiliki kualitas.

“Tentunya semua itu memiliki alasan,” jawaban yang penuh menteri. Membuatku tidak nyaman. Namun sedetik kemudian, ia tertawa renyah.

“Ayolah kau jangan mikir sesuatu yang enggak-enggak. Karena pada dasarnya seseorang berbuat kebaikan. Mesti memiliki tujuan, entah itu ingin menghapus dosa atau mendapat pahala ...bisa juga pembalasan dendam.” Bos Gavi kembali tertawa menatapku sejenak, sedangkan tangannya kokoh menekan kemudi.

“Untuk akhir kalimat saya. Kau bisa menganggapnya hanya bercanda,” benahnya. Mencubit pipiku sejenak, yang membuatku beku. Ini pertama kali bos Gavi berlaku tidak sopan, selama ini ia tidak pernah melakukan hal ini. Pertama saat kita di kamar hotel, batasannya hingga mengungkung tubuhku saja. Begitupun tadi siang.

Mobil yang dikendarai bos Gavi menuju parkiran apartemen.

“Kau akan tinggal di sini, mungkin lebih aman untukmu. Hingga saya pulang dari Singapure. Setelah itu kita bertemu dengan orang-orang yang selalu mengejarmu. Kita akan membuat kesepakatan,” kata Bos Gavi melepaskan sabuk pengaman. Kami pun melangkah bersama memasuki lobby. Yang didominasi warna coklat muda dan marmer yang hampir mirip. Kali ini kita hanya berdua yang mengenakan lift menuju lantai 45. Bos Gavi sadari tadi hanya diam bersandar. Akhirnya tak lama lift terbuka. Aku hanya mengikuti bos Gavi dari belakang. Melewati lorong panjang, berbelok, setelah hampir satu meter berjalan, si Bos yang memimpin jalan. Kembali berbelok menapaki lorong yang sangat panjang. Hingga akhirnya kami sampai di depan pintu apartemen. Ia langsung memasukkan nomor digit.

“Masuklah,” pintanya ketika pintu terbuka.

Aku mengerjap-ngjapkan mata tak percaya. Apartemen classic six, milik bos Gavi. Didominasi warna putih. Satu buah sofa panjang berwarna putih menghadap Utara. Jarak satu meter, juga ada sofa tunggal saling berhadapan dengan meja bundar sebagai penghalang. Terdapat vas bunga berbentuk tabung. Aku diajak berkeliling, mulai dari ruang tamu, ruang makan. Dan naik ke lantai dua, disana ada dua buah kamar yang saling berdampingan dengan luas yang sama.

“Saya membelinya ketika baru menikah dengan Sabrina. Sayang waktu hanya memberi kami sedikit ruang. Untuk menjalin cinta, ” ujarnya menutup kembali pintu kamar.

Aku mengangguk tazim, sepertinya si bos tipe lelaki yang setia. Terpancar jelas dari sorot mata dan senyumannya. Kami pun mulai kembali menuruni anak tangga. Aku diminta duduk di ruang tamu. Sedangkan bos Gavi menuju dapur yang menyatu dengan ruang makan.

Setelah beberapa menit menunggu, ia datang membawa dua cangkir. Menyodorkan satu gelas untukku. Sembari duduk di sampingku yang menatap televisi.

“Kau suka kopi, ini spesial kapan lagi. Seorang Gavi membuatkan minuman untuk orang.” Bos Gavi tersenyum mengajakku bersulang.

“Cheers buat bos Gavi,” seruku yang dijawab cepat. “Cheers untuk Kiko.”

Kami pun menyesap kopi yang masih mengepul asapnya perlahan. Hingga tak terasa kopi yang ada dalam cangkirku tinggal separuh. Ternyata bicara dengan Bos Gavi lumayan asyik. Hingga lupa waktu.

“Kenapa lihat jarum jam terus?” tanyaku heran, sadari tadi. Kami bicara Bos Gavi sering kali melirik jam dinding.

“Hem, tinggal menghitung detik. Kehancuran bisa datang.” Senyumannya kali ini benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Apalagi ketika ia menyelipkan rambutku di telinga. Pria ini benar-benar berkarisma.

Sial saat wajahnya mulai dekat. Aku merasa ada yang berbeda.

“Bos apa kau bisa menambahkan suhu Ac-nya?” Aku berdiri tidak sabaran, mengapa tubuhku kepanasan.

Bos Gavi justru tersenyum, mengurangi suhu AC-nya.

Terlambat sudah. Aku telah terperangkap dalam jebakan. Mengapa aku tidak menyadarinya.

“APA YANG KAU MASUKKAN KE DALAM MINUMANKU?”

Gavi pria itu justru tertawa renyah. Melempar cangkir yang tadi di pegang ke segala arah. Hingga memantulkan bunyi yang memekakkan telinga. Tidak ada lagi wajah yang berkarisma. Yang ada kini, aku hanya melihat sosok monster yang mengerikan. Dengan tatapan benci.

POV Berakhir.

Kak jangan kaget ya kalau aku ganti judul novel. Karena judul pertama terlalu panjang. Dan maaf belum bisa update setiap hari.

1
🌻Ruby Kejora
Karyanya bagus kak
STARLA my journey
jgn ksh maaf terlalu cpt enak aj
Merry Dara santika
ya ko tamat sih. lanjut lagi dong
Merry Dara santika
cerita nya bagus banget
Merry Dara santika
cerita nya bagus banget
Malika Ayu
kenapa gavin tidak cerita saja alasannya dia marah sama kiko biar jelas salah paham apa bukan
baiq fathiyatirrohmi
sepertinya bos Gavi salah paham mengenai Kiko🤔🤔🤔 semangat dan ku nanti slalu cerita serruumu Thor 🥰🥰🥰
Heri Wibowo
Oke terima kasih
Ainy Bundanya Gilang
seruuuu .....crta nya
Imam Al Ghazali
aku bela"in Download aplikasinya cm untuk bc karya y author
Elvin: maaf jika suatu saat nanti mengecewakan
total 1 replies
baiq fathiyatirrohmi
sukkkaaaa ceritamu 🥰🥰🥰
sepertinya si Bos mulai tertarik dijadikan pengasuh anak2z dan juga dirinya 🤭🤭🤭
semangat dan ku nanti slalu cerita serruumu Thor 👌👌👌
Widya Sari Widya Widya
lanjut lagi
Heri Wibowo
Oke lanjut
Heri Wibowo
ditunggu kelanjutannya
Heri Wibowo
Oke lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!