Setelah lima tahun berlalu, takdir cinta mempertemukan mereka kembali. Sayang, wanita yang disebut gadis purple olehnya saat menjalani kasih dahulu dan sangat dicintai Azka memilih mengganti identitasnya. Cinta yang begitu kuat dalam diri Azka, tak akan bisa dibohongi. Kenapa dan apa alasannya, wanita yang dulu dicintai kini begitu tak ingin bersamanya kembali. Rahasia apa yang dia sembunyikan, hingga Azka harus berjuang mencari tahu kebenarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emmy Liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Entah kenapa hatiku terus memikirkan pesan singkat pria misterius itu dari semalam. Aku menjadi tak fokus mengikuti mata kuliahku hari ini. Pikiranku kacau, apa yang harus aku lakukan. Kenapa hatiku semakin berdebar tak karuan.
"Gwen," tepukkan lembut tangan Anet mengagetkan aku.
"Bakso kamu udah dingin, sejak tadi dianggurin. Apa sih yang sedang kamu pikirkan?"
Aku menggelengkan kepala.
"Entahlah, Net. Aku juga bingung," jawabku lemah.
"Duniaku seakan berhenti berputar, degupan jantungku semakin bertalu. Nafsu makan pun berkurang. Perasaan apa ini, aku tak mengerti. Aku merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupku saat ini."
"Jangan-jangan kamu terkena virus?" pekik Anet membuat aku terkejut.
"Benarkah aku terjangkit virus, apa virus ini mematikan?" tanyaku panik.
Sedang Anet mengangguk pelan menahan tawa.
"Anet," aku mencebikan bibirku.
Hahahhahaa
"Katakan padaku, gejala seperti ini, virus apa ini?"
"Virus Cinta, Gwen."
Hahahhahahaha
Tawa Anet terdengar keras, sehingga membuat mahasiswa lain menatap heran pada kami.
"Anet."
Aku mencubit lengannya.
Awww
"Sakit, Gwen," teriak Anet.
Kami berdua lalu tertawa bersama-sama.
"Bagaimana rencana untuk malam nanti?"
"Entahlah, aku juga bingung."
"Kenapa harus bingung, aku berada di belakangmu, Gwen."
Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku tak memiliki kepercayaan diri, Net," ucapku menundukkan kepala.
"Kenapa?" tanya Anet mengernyitkan dahinya.
"Aku takut jika memulai sebuah hubungan, para pria akan menganggap aku membosankan. Lalu mereka pergi begitu saja," jawabku.
"Gwen, aku ini sahabat kamu. Jika ada pria yang menilai kamu membosankan, tapi tidak bagiku. Aku akan selalu bersama kamu. Segera tinggalkan pria yang mengatakan diri kamu membosankan itu, masih ada aku yang akan menjadi pendamping kamu dalam suka mau pun duka," ucap Anet sambil tersenyum dan mengedipkan matanya berulang-ulang.
"Enak saja, apa kamu pikir aku menyukai wanita juga?"
Anet tertawa senang, saat melihat aku cemberut.
"Sudah, nggak usah dipikirkan. Malam nanti beranikan diri kamu untuk menemui pria misterius itu. Jika dia jelek, terima saja itu kenyataan hidup kamu. Tapi jika dia tampan--" ucap Anet menggantung perkataannya.
"Apa?" tanya Gwen penasaran kelanjutannya pada kata Anet.
"Serahkan pria itu padaku."
Anet kembali mengedipkan matanya.
Gwen terkekeh geli.
"Yang ada kebalik tau. Jika dia tampan aku akan berpikir dia menjadi milikku. Jika dia jelek, dengan senang hati, aku akan mempersilahkan kalian untuk menjalin hubungan.
Hahahahha
Tawa mereka kembali pecah, seakan kantin bakso milik Mbok Nyem di kampus mereka adalah milik pribadi jadi mereka bisa tertawa keras sesuka hati mereka.
"Habiskan bakso mu, setelah ini kita akan mencari gaun untu kamu."
"Gaun? Untuk apa?"
"Ya untuk kamu pakai malam nanti."
"Nggak aku nggak mau."
"Gwen, di mana-mana seseorang gadis jika berencana bertemu lawan jenisnya, sudah dari satu minggu yang lalu mereka memikirkan pakaian apa yang akan dipakai oleh mereka nanti. Lah kamu, malah bertanya gaun untuk apa, hadeh," ucap Aneta menepuk keningnya. Tak percaya gadis sahabatnya ini terlalu polos, saking polosnya dia bisa mendapatkan rangking polos level dua belas.
****
"Sempurna," teriak Aneta.
Saat hasil riasannya pada wajahku di tunjukkan di cermin.
Sejak sore tadi Anet sibuk menyiapkan gaun untukku, lalu kini aku diharuskan duduk di depan cermin. Hasilnya sangat luar biasa, aku sampai tak mempercayai wajahku menjadi cantik disulap olehnya. Riasan natural, tidak berlebihan.
Aku sempat tak percaya melihat bayanganku sendiri.
"Aku tak percaya, kau merias aku secantik ini, Anet. Apa bayangan di cermin itu adalah aku?"
Anet menganggukkan kepalanya, membaut aku tersipu malu.
"Sudah, kamu akan telat jika terus melihat bayanganmu di cermin," sungut Aneta.
"Ya, baiklah. ayo kita berangkat," ajaknya lagi.
Aneta begitu sangat baik kepadaku. Dia menawarkan diri mengantarkan aku ke cafe tempat yang sudah pria itu tentukan. Yah, Aku juga jadi bingung dengan diriku sendiri. Kenapa hanya dengan sebuah kesan singkat saja aku menuruti keinginannya. Padahal aku tak tahu bagaimana sosok pria itu. Seperti apa dirinya aku tak tahu. Tapi kenapa diriku merasa debaran di jantungku semakin kuat. Begitu pun dengan keinginan hatiku. Apa benar seperti apa yang dikatakan oleh Anet, aku sudah terkena virus cinta. Oh tidak, tidak mungkin, aku menggelengkan kepalaku.
"Kamu kenapa Gwen?
"Tidak," jawabku, hanya merasa gugup."
Anet tersenyum.
"Apa kau sedang meledek aku?"
"Tidak," jawab Anet santai.
Tapi aku malah kepanasan, bagaimana aku bisa meredam rasa ini.Telapak tanganku sudah basah oleh keringat, saat cafe yang di tuju sudah mulai terlihat dan mobil Anet masuk di area parkirnya.
"Turunlah," pinta Anet.
Aku menggelengkan kepala dengan cepat.
"Tidak, Anet. Aku gugup sekali."
"Sudahlah, ayo turun. Aku akan memperhatikanmu dari belakang."
"Ba--iklah."
Aku memberanikan diri untuk turun.
Di depan pintu cafe, terlihat banyak sekali anak-anak muda. Saat melihat aku, mereka segera membentuk barisan di kiri dan kananku. Lalu seorang pria tersenyum ke arahku, kemudian memberikan sekuntum mawar berwarna purple padaku.
Diikuti oleh semua orang yang berbaris hingga masuk ke dalam pintu cafe. Bunga mawar purple menjadi banyak di tanganku.
"Lagu ini, aku persembahkan untuk seorang gadis pujaan hatiku. Entah kenapa, sejak pertemuan kami di malam itu aku tak bisa berhenti untuk memikirkan dirinya. Malam ini, lagu ini aku persembahkan spesial untukmu, Gadis Purple ku."
Suara pembuka sang vokalis membuat jantungku tambah berdegup kencang. Semua orang saling berdesakkan untuk masuk. Sehingga membuat tubuhku terdorong masuk ke dalam ruangan cafe, hingga tepat di depan panggung.
Membuat sang vokalis yang berdiri di atas panggung menatap mataku, sambil tersenyum dengan senyuman yang tak bisa aku artikan. Sebuket mawar purple yang terletak di kursi miliknya dia ambil dan turun berjalan ke arahku. Kemudian menyerahkan buket bunga itu padaku.
Membuat riuh para pengunjung mengarah pada kami. Aku tertunduk tersipu malu, merasa pipiku memerah.
"Kau cantik sekali malam ini," bisiknya tepat di telingaku.
Lalu kembali melompat naik ke atas panggung.
Musik dari gitar yang dia mainkan mulai mengalun.
🎶🎶🎶🎶
Kamu yang ada di depan mata
Aku ingin terus menatapmu
Karena senyum tawa
Yang terlalu lama kau simpan
Aku terpana terbawa suasana
Yang ada di malam itu
Kau yang kulihat dari banyaknya
Kaum hawa
Cukup berdua dan kita tinggalkan dunia
Yang terasa hampa
Tanpa membawa segala rasa
Yang pernah ada di hatiku
🎶🎶🎶🎶🎶
Lirik lagu Cokelat Biru dari GIORGINO ABRAHAM mengalun indah dari arah panggung di dalam cafe.
Suara berat tapi sangat khas di telinga membuat siapa pun akan akan terpana. Aku terpaku berdiri tepat di depan panggung. Hingga lagu yang mengalun selesai aku masih berdiri di tempatku. Suara pria yang berada di hadapanku membuat aku terbawa dalam angan khayalanku sendiri.
"Terima kasih," ucapnya menutup lagi yang baru saja dia nyanyikan.
Para pengunjung bertepuk tangan, lagu yang dia nyanyikan sangat apik. Dibawakan olehnya dengan alunan musik jazz.
Sungguh aku terpana sesaat. Tersadar saat pria itu sudah berdiri tepat di hadapanku.
Untuk sepersekian detik mata kami saling beradu pandang. Mata tajam, bak mata elang. Jika dia tersenyum, akan menampakkan lesung pipi di pipi kanan dan kirinya, manis sekali. Kulitnya yang coklat, dan hidungnya mancung, tubuh kekar tinggi dan tegap.
"Apa kita akan terus berdiri seperti ini?" tanyaku pelan nyaris berbisik.
Pria itu masih menatap mataku.
"Itu, kakiku sudah terasa pegal sekali. High heels milik Aneta yang aku pakai ini sangat menyiksaku," gumamku.
"Oh maaf." Pria itu tertawa kecil.
"Dia mendengarkanku," gerutuku.
Sejak tadi hanya berdiri membuat kakiku sakit. Ku Harap pria ini bisa mengerti, nyatanya dia terus menatapku, seakan dia baru saja melihat makhluk tuhan yang disebut wanita. Kakiku sudah mulai pegal dan aku sudah tak tahan lagi.
"Ayo kita duduk di sana," ajaknya menunjuk ke arah sebuah meja dengan dua buah kursi kosong.
Aku mengikuti arahnya dengan langkah perlahan, agar kakiku tak terasa sakit. Entah sejak kapan tangan pria itu sudah meraih lenganku, memapah langkahku. Aku hanya terdiam sambil menatap ke arahnya yang masih tersenyum.
Setelah aku duduk, pria itu juga mengambil tempatnya di hadapanku. Kemudian dia mengulurkan tangannya.
"Namaku Azka."
Sambil mengulur tangan menyambut tangannya.
"Gwen, Gwennuella."
Pria itu mengangguk, lalu dia mempersilahkan kami menikmati hidangan yang baru saja dihidangkan di atas meja kami. Makan dalam diam, dalam situasi yang sangat canggung. Hingga hidangan penutup juga sudah habis, kami duduk dalam diam.
Meja kami pun sudah dibersihkan kembali. Aku semakin gugup, rupanya Anet duduk tak jauh dari tempat duduk kami. Aku bisa menangkap apa yang dia katakan, meminta aku tetap tenang.
"Mari menikah," ucapnya.
Singkat, padat dan jelas.
Aku membulatkan mataku, tak percaya dengan apa yang diucapkan pria dihadapanku ini barusan.