Novel ini menceritakan tentang seorang laki laki remaja yang bernama Ren dalam petualangan dan perjuangan nya dalam membawa perdamaian ke dunia ini,dimana dunia nya di penuhi oleh peperangan tanpa henti yang membuat ibunya juga menjadi korban dari peperangan itu, setelah itu Ren bergabung dengan militer untuk mewujudkan janji nya kepada ibunya untuk membawa perdamaian ke dunia ini, di tinggal di markas nya bersama adik perempuan nya Lily, satu satunya keluarga nya yang tersisa, di saat itu, Ren secara tidak sengaja memperoleh 6 jiwa dewa yang bereinkarnasi di dalam tubuhnya, dia harus menyembunyikan nya dari semua orang, namun pada suatu saat, Ren diasingkan oleh negara nya sendiri karena telah mengetahui rahasia nya, Ren pergi dari negaranya dan menjalani hidupnya sebagai kultivator sejati setelah mengetahui kenyataan nya, dia kembali ke negaranya setelah beberapa tahun dan ada sebuah kejadian yang membuat nya mengamuk dan pergi dari dunia nya dan pergi ke alam kultivasi dan alam dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: pertarungan misterius
Pria itu langsung menembakkan anak panah itu ke arah Ren, Ren dengan sigap menangis anak panah itu dan langsung menerjang ke arah pria itu.
Tombak Ren dan busur panah pria itu bertabrakan, gesekan dari senjata mereka mengeluarkan percikan kecil layaknya kembang api, tatapan mereka saling menuju satu sama lain.
"siapa kamu? Dan apa yang kamu inginkan?"
Kata Ren sambil menatap tajam lurus ke arah mata pria itu.
"kau akan tahu setelah ini"
Kata pria itu dengan suara yang dingin, namun sorotan matanya yang tajam, memancarkan aura mistis tersendiri.
Pria itu memiliki rambut pirang panjang, topeng berwarna hitam dengan beberapa bagian berwarna merah menutupi wajah identitas nya, membuat Ren kesulitan mengenali sosok pria itu.
"kalau begitu...aku akan mengungkap nya sendiri"
Ren menebaskan tombak nya dengan serangan biasa, namun pria bertopeng itu berhasil melompat dan menghindar kebelakang.
Pria itu mematahkan busur panah nya, dan seketika busur panah itu menjadi dua buah pedang, memegang salah satu nya secara terbalik dan memasang posisi siap bertarung.
Ren yang melihat hal itu berujar dalam hatinya 'dia juga memiliki kekuatan spiritual?', dengan sedikit terkejut, dia juga mulai menyiapkan tombak nya dan menambah sikap kewaspadaan dan antisipasi dari serangan pria bertopeng itu.
mereka berdua menerjang ke arah satu sama lain, memulai pertarungan dengan serangan normal, namun mematikan untuk manusia biasa.
Serang demi serangan, mereka layangkan satu sama lain, setiap mereka menangkis serangan sebuah percikan api kecil keluar dari senjata mereka yang saling berbenturan.
Mereka menendang perut satu sama lain, membuat mereka terdorong kebelakang beberapa langkah, saat mereka berlutut di depan satu sama lain.
Secara tiba-tiba, pria bertopeng itu muncul di belakang tubuh Ren dan memegang kedua pedang nya dengan terbalik, mengangkat nya ke udara.
"*taring angin langit*"
Ren segera berguling ke depan dan menghindari serangan mematikan itu, saat pria itu menusukkan kedua pedang nya yang di pegang secara terbalik, menusuk tanah dengan aura berwarna putih kebiruan, dan berbentuk layaknya taring, menghancurkan lantai saat menusuk nya.
'sial, aku lengah...untung saja aku bisa menghindar, jika tidak...aku pasti sudah pindah alam' batin Ren berucap saat Ren membalikkan badannya dan nafas terengah-engah.
"*tombak guntur emas*"
Ren menghunuskan tombak nya kearah pria itu, dan sebuah gelombang guntur berwarna emas terpancar keluar dari ujung bilah tombak nya, mengarah langsung ke dada pria itu.
Namun, dengan kedua pedang nya, pria itu menghalangi serangan itu dengan menyilangkan kedua pedang nya di dadanya, membuat gelombang guntur itu terbelah dan melayang tanpa arah menghancurkan isi laboratorium itu.
'dia...menghalau serangan nya?, bagaimana bisa?' ujar Rei dalam hati dengan penuh keterkejutan, melihat pria itu dengan mudah menghalau serangan nya.
Beberapa puing metal dari ruangan itu mulai berjatuhan, dan beberapa bagian mulai gosong dan terbakar karena serangan Ren.
Saat salah satu puing jatuh di tengah antara Ren dan Pria itu, Ren menggunakan nya sebagai kesempatan, saat puing jatuh dan menghalangi pandangan pria itu, Ren menghentikan serangannya, dan menerjang ke arah Pria itu dari balik api yang membara.
Setelah berada di belakang pria itu, Ren mengangkat tombak nya, dan membanting nya ke tanah kearah kepala pria itu dengan keras.
"*paku magma kutukan*"
Pria itu dengan cepat melompat ke udara, dan menghindari pukulan itu, namun...saat tombak Ren membentur tanah dengan keras, sebuah celah retakan muncul di lantai, mengeluarkan duri-duri tajam yang terbuat dari batu magma, meskipun duri tidak mengenai pria itu, tapi kemunculan paku magma itu, menambah suhu panas dari ruangan.
"cukup baik untuk pemula seperti mu"
Kata Pria itu, sambil berdiri di ujung duri magma itu dengan ujung kakinya, seolah olah suhu panas itu tidak berpengaruh pada nya.
"diam kau!"
Kata Ren, dengan nada suara yang tinggi dan kesal, melayangkan satu buah tebasan ke arah pria itu, namun lagi-lagi pria itu berhasil melompati Serangan itu dengan mudah.
Pria itu menyatukan kedua pedang nya menjadi sebuah busur panah, dia menarik tali panah itu dan sebuah anak panah yang terbuat dari aura berwarna oranye muncul.
"*busur penembus jiwa*"
saat melepaskan tali itu, anak panah itu meluncur ke arah Ren, Ren berusaha menangkis nya dengan tombak nya, namun...anak panah itu menembus tombak dan dadanya, membuat nya terpental kebelakang.
"ugh...sial...uhuk-uhuk...."
Ren berlutut dengan tombak nya sebagai tumpuan, memegang dadanya yang terasa sakit, dan darah keluar dari mulut nya.
Saat Ren masih berusaha untuk berdiri dan menahan rasa sakit di dadanya, pria bertopeng itu mengarahkan pedang nya pada lehernya Ren.
"apakah hanya seperti ini kemampuan mu?, dasar makhluk naif..."
Kata pria misterius itu dengan suara yang merendahkan, sambil mengarahkan bilah pedang nya kearah lehernya Ren dan menatap nya dengan tatapan yang tajam.
Ren menundukkan kepalanya, dan masih memegang dadanya dan menahan sakit, menggenggam erat tombak nya, menggerakkan Gigi nya.
"diam kau!"
Kata Ren sambil menyerang pria itu dengan tombak nya, namun pria itu dengan mudah menggapai tombak nya dan menangkis serangan nya sehingga membuat tombak Ren terlempar jauh.
Tanpa pikir panjang, pria itu mulai menyerang Ren dengan pedang nya.
"*bilah penghancur keabadian*"
Pria itu langsung menyerang Ren dengan kedua pedang nya, menyerang nya dengan beberapa kali tebasan, setelah tebasan itu berakhir, pria itu memukul dadanya Ren sehingga membuat Ren melangkah mundur.
Tubuhnya Ren sekarang dipenuhi darah dan luka tebasan, nafas nya terengah-engah, darah mulai mengalir dari bibirnya dan luka di tubuhnya.
Ren kembali terjatuh dan berlutut dengan tubuh yang lemah dan penuh luka, nafasnya terasa berat, menahan rasa sakit di sekujur tubuh nya membuat nya sekarang mati rasa.
"sialan...aku tidak bisa bergerak..."
gumam Ren dengan suara yang pelan, dengan tatapan tertuju pada lantai dengan kepala tertunduk, dan tangan kanan nya menggenggam dadanya, tangan kirinya menyentuh lantai dan meremas lantai nya karena rasa sakit.
"skakmat....kau sudah kalah...menyerah lah!"
Kata pria itu sambil berdiri di depan Ren, dengan tatapan tajam dibalik topeng nya.
Ren kemudian menyeringai licik dan kemudian mengangkat kepalanya.
"kena kau"
Kata Ren, saat sebuah perisai spiritual berwarna biru muda muncul dan mengurung pria misterius itu, sontak pria itu terkejut dengan perangkap yang Ren siap kan.
Saat pertama kali mereka bertarung, setiap Ren menghindari serangan pria itu, dia meninggalkan jejak telapak tangannya di tempat yang dia lewati, dan mengajak pria itu secara tidak langsung masuk kedalam perangkap nya.
"apa apaan ini?"
Kata pria itu, dengan kebingungan dan melirik ke sekitar nya di saat perisai spiritual itu mengurung nya sepenuhnya tanpa celah keluar sedikit pun.
"kamu sudah masuk kedalam perangkap ku, sekarang adalah pertunjukan sebenarnya, *angin pedang abadi*"
Ren mengarahkan telapak tangan nya pada perisai spiritual itu dan mengepalkan nya, dan seketika itu juga, muncul beribu-ribu pedang yang mulai melayang layaknya angin, menyerang pria itu tanpa ampun secara bertubi-tubi, pria itu mengerang dan berteriak kesakitan.
Beberapa saat kemudian, setelah pria itu berhenti berteriak, Ren menghentikan serangan itu, dan pedang juga perisai spiritual itu menghilang, tubuh pria itu terjatuh dan tergeletak di lantai.
Ren menghampiri pria itu, dan berdiri di samping tubuh pria itu.
"sudah berakhir...."
Kata Ren dengan suara yang pelan dan lemah, dengan tubuhnya yang masih penuh luka, beberapa saat kemudian...
*(CLEB!!)*
Tanpa aba-aba, secara tiba-tiba sebuah pedang menusuk dan menembus dadanya Ren, mata Ren terbelalak kaget sekaligus merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.
"a-apa yang?...."
Kemudian, sosok pria itu muncul di belakang Ren, dan yang Ren serang beberapa saat yang lalu hanya bayangan nya, tubuh pria yang merupakan bayangan itu menghilang menjadi aura gelap dan menyatu dengan bayangan sedangkan yang aslinya, menusuk Ren dari belakang.
Pria itu mencabut pedang itu dari dada Ren, membuat Ren batuk darah dan mengeluarkan banyak darah dari mulut nya, dan Ren mulai jatuh tersungkur ke lantai.
"jadi...hanya seperti ini kemampuan mu?, aku tidak menyangka orang lemah seperti mu menjadi penerus pemilik teknik spiritual"
Kata Pria itu dengan suara yang merendahkan, sambil menginjak punggungnya Ren, Ren sudah sangat tak berdaya, tubuhnya penuh dengan luka, dan luka tusukan yang dalam menembus dadanya membuat nya semakin mendekati ujungnya.
'apakah...ini akhirnya?...aku mengingkari janji ku...aku mati tanpa menunjukkan kedamaian?..' batin Ren berbicara, di saat tubuh Ren tergeletak di lantai dengan darah mulai menggenang di sekitar tubuhnya.
'Lily...Yuna...Ibu...teman-teman, maaf....aku sudah...mengecewakan kalian...' batin Ren kembali bicara, di saat tubuhnya Ren semakin melemah dan jantung nya berdetak sangat lambat, darah semakin menggenang di sekitar tubuhnya yang terbaring di atas lantai, dengan tatapan kosong nya yang perlahan lahan tertutup.