Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi Sang Antagonis
Namun, di tengah momen penuh keintiman dan ketegangan emosional tersebut, tiba-tiba suara dering ponsel terdengar keras dari sekretaris Ma Yong Hua.
Feng Zhi, sekretaris pribadi yang berdiri beberapa meter di dekat pintu kantin, segera melangkah mendekat dengan gestur hormat, menyerahkan sebuah gawai komunikasi satelit berukuran kecil kepada sang majikan.
Ma Yong Hua menerima gawai tersebut dengan tenang, tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Evita sejenak pun. Ia menekan tombol speaker agar Evita juga bisa mendengar laporan penting yang baru saja masuk dari pusat kendali finansial Ma Group.
"Tuan Ma!" suara seseorang di ujung sambungan lain terdengar sangat tegas dan bersemangat. "Laporan dari lantai bursa utama baru saja masuk! Rencana kita berhasil seratus persen!"
Ma Yong Hua menaikkan sedikit keningnya, menatap lurus ke dalam mata Evita sambil tersenyum tipis. "Katakan. Apa yang terjadi pada Wiryawan Corporation?"
"Xander Wiryawan baru saja menyatakan kebangkrutan likuiditas secara nasional!" lapor sekretaris itu tanpa jeda. "Saham mereka terjun bebas tanpa rem setelah kita membuka kembali keran pasar modal secara masif. Kas perusahaan mereka kosong total akibat memborong saham kita kemarin, dan saat ini puluhan bank kreditor besar langsung menyita seluruh aset Wiryawan Corporation karena gagal bayar!"
Mendengar laporan mengejutkan itu, Evita membelalakkan matanya tidak percaya. Sebegitu cepatnya...? batin Evita terperanjat. Kerajaan bisnis yang dibanggakan Xander selama bertahun-tahun runtuh berkeping-keping hanya dalam hitungan detik di tangan pria di hadapannya ini.
Ma Yong Hua menutup sambungan telepon tersebut, lalu mengembalikan perhatiannya sepenuhnya kepada Evita. Sepasang mata sipitnya memancarkan kilatan kemenangan yang luar biasa mematikan.
"Permainan sudah selesai, Evita," bisik Ma Yong Hua lembut namun tegas. "Sekarang... saatnya kita mendatangi mereka dan menyaksikan sendiri akhir dari drama kebohongan yang mereka buat."
****
Pagi hari di halaman Pengadilan Agama Jakarta Pusat diwarnai oleh terik matahari yang menyengat, namun atmosfer di dalam ruang sidang utama justru terasa jauh lebih dingin dan kaku.
Di kursi pengunjung yang deretannya menghadap langsung ke meja hakim, Evita Desniati duduk seorang diri dengan postur tubuh yang tegak sempurna. Mengenakan setelan blus formal berwarna putih bersih dipadukan dengan celana bahan hitam, wajah Evita tampak tenang tanpa polesan make-up berlebihan. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata kepedihan seperti hari-hari sebelumnya. Di dalam dadanya, aliran darah baru yang dipompa oleh keteguhan hati serta dukungan penuh dari orang-orang terdekat telah mengubahnya menjadi sosok wanita yang jauh lebih kuat dan tidak mudah diinjak-injak.
Hari ini adalah jadwal sidang perdana perceraian antara dirinya dan Xander Wiryawan—sebuah pernikahan yang enam tahun lalu ia bangun dengan penuh cinta, namun harus berakhir di atas tumpukan pengkhianatan, fitnah keji, dan kehancuran moral sang suami.
"Nomor perkara tiga ratus empat puluh, atas nama penggugat Evita Desniati dan tergugat Xander Wiryawan, silakan memasuki ruang sidang utama," seru petugas panitera pengadilan dengan suara tegas menggema ke seluruh ruangan.
Evita menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah perlahan menuju meja hijau persidangan. Di seberang meja hakim, kursi pihak tergugat tampak kosong melompong. Xander Wiryawan, pria yang beberapa hari lalu masih berteriak penuh amarah dan arogansi di apartemennya, bahkan tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk hadir secara langsung menghadapi wanita yang telah ia dzalimi.
****
Hanya seorang pengacara paruh baya berjas hitam kusam yang duduk di kursi kuasa hukum tergugat sambil membawa berkas tebal.
Ketua majelis hakim membuka sidang dengan mengetuk palu satu kali.
"Pihak tergugat tidak hadir dan hanya diwakili oleh kuasa hukum?" tanya sang hakim ketua dengan nada tegas, melirik ke arah meja tergugat.
"Benar, Yang Mulia," jawab pengacara Xander membungkuk sopan. "Klien kami, Bapak Xander Wiryawan, berhalangan hadir karena sedang menghadapi situasi darurat yang sangat mendesak terkait internal perusahaannya."
Evita tersenyum tipis dalam hati. Situasi darurat? Kata yang sangat halus untuk menyebut kebangkrutan total dan penyitaan aset massal akibat ulahnya sendiri, batin Evita penuh ironi.
Sidang perdana yang mengagendakan mediasi awal dan pemeriksaan berkas identitas itu berjalan relatif singkat. Karena pihak Xander mangkir dan pengacaranya hanya membawa surat kuasa standar tanpa kewenangan untuk memutuskan perdamaian, majelis hakim memutuskan untuk menunda sidang ke pekan depan dengan agenda langsung pembacaan pokok gugatan verstek.
Begitu ketuk palu sidang ditutup dan Evita melangkah keluar meninggalkan gedung pengadilan, ia merasa sebagian beban berat di pundaknya telah terangkat lepas. Ikatan busuk itu benar-benar hampir sampai pada ujung akhirnya.
****
Namun, tanpa disadari oleh Evita, dari balik dinding pilar besar di sudut luar gerbang pengadilan, sepasang mata tajam mengintai gerak-geriknya dengan sorot penuh kebencian dan kalkulasi dingin.
Viola Sanustika berdiri di sana, menyilangkan tangan di depan dadanya sambil mengenakan kacamata hitam besar dan mantel desainer mahal. Wanita itu baru saja memantau jalannya sidang dari kejauhan.
Bukan rasa solidaritas pada Xander yang membawanya ke tempat itu, melainkan sebuah kesadaran pahit dan keji bahwa pria yang selama ini menjadi sumber dananya kini telah habis total. Berita kebangkrutan Wiryawan Corporation dan penyitaan seluruh aset mewah Xander oleh bank kreditor sudah menjadi rahasia umum di kalangan elit sosialita ibu kota sejak kemarin sore.
Viola mendengus, menyeringai sadis sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
"Bodoh... Xander ternyata benar-benar pria tidak berguna," gumam Viola tajam seorang diri di balik kacamata hitamnya. "Baru ditekan sedikit saja oleh bursa saham, perusahaannya langsung runtuh rata dengan tanah. Dia jatuh miskin, terlilit utang di mana-mana, dan sekarang menjadi pesakitan yang tidak punya nilai jual lagi."
Bagi wanita licik seperti Viola, manusia dinilai dari seberapa besar kekuasaan dan kekayaan yang bisa ia keruk. Begitu Xander kehilangan segalanya, rasa cinta palsu dan kemesraan yang selama ini ia tunjukkan langsung menguap begitu saja tanpa bekas. Xander sudah menjadi barang rongsokan yang harus dibuang ke tempat sampah.
****
Namun, alih-alih meratapi nasib sialnya karena salah memilih pasangan, otak licik Viola langsung berputar cepat merangkai sebuah rencana baru yang jauh lebih gila dan ambisius.
"Xander sudah habis..." seringai Viola semakin melebar, memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi namun memancarkan aura iblis.
"Tapi permainan belum berakhir bagiku. Kalau Xander saja bisa jatuh, maka mangsa utamaku yang sebenarnya harus segera kudapatkan."
Ingatan Viola langsung melompat pada sosok pria berdarah Tionghoa yang kekayaannya melampaui batas imajinasi: Ma Yong Hua.
Meskipun kemarin ia sempat mengira sang CEO Ma Group itu sekarat akibat serangan jantung, kenyataan bahwa Ma Group masih berdiri kokoh dan berhasil membalikkan keadaan di bursa saham membuat Viola terobsesi setengah mati. Di dalam kepala Viola yang penuh delusi, ia meyakini bahwa dirinya adalah wanita tercantik dan paling memikat di ibu kota, yang pasti bisa menaklukkan hati pria mana pun—termasuk Ma Yong Hua yang terkenal dingin.
"Xander sudah tidak ada gunanya. Mulai hari ini, aku akan merebut Ma Yong Hua!" decak Viola penuh percaya diri yang tidak masuk akal. "Aku akan membuatnya bertekuk lutut di hadapanku, menjadikanku Nyonya Besar Ma Group, dan hidup bermandi harta di puncak kekuasaan!"