Indonesia
NovelToon NovelToon
Holding Until The End

Holding Until The End

Status: tamat
Genre:Ketos / Teen Angst / Keluarga & Kasih Sayang / Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agnettasybilla

Kebenaran itu sulit dibuktikan. Orang-orang lebih percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Selain itu semuanya tentang kebenaran hanya semu belakang dan kebohongan. Sienna tidak pernah menyangka kalau kehilangan ibu akan mengubah hidupnya begitu drastis. Ia pikir hidup akan berjalan seperti yang ia mau. Sienna dituduh sebagai penyebab kematian sang ibu oleh ayahnya sendiri. Beranjak remaja, penderitaan itu pun enggan menjauh dari dirinya, seolah dirinya memang ditakdirkan menderita sampai sisa hidupnya yang begitu mengenaskan. Mencoba untuk bertahan, ia kembali dikecewakan. Siapa yang harus dipercaya? Siapa yang bisa menolongnya agar kuat bertahan menghadapi hidup? Hingga waktu itu berada di genggamannya, Sienna memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnettasybilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Holding Until The End - 11

"Balikin buku tugas gue, Gio! Gue bilangin sama Bu Eva ya lo seenaknya menyalin tugas gue."

"Sabar sedikit kenapa? Tinggal nomor lima kok. Sesama teman gak boleh pelit loh, entar kuburan lo sempit."

"Bian!" seru Diandra merengek.

"Lo gak bisa sedikit lebih tegas lagi gak sih sama Gio. Dia ini udah sering nyontek tugas gue, lo malah nyantai ajah!"

"Balikin bukunya Gio.." ujar Bian dari meja guru. Cowok itu sedang membersihkan dan merapikan meja guru yang sedikit berantakan.

"Sabar, sabar. Tinggal dua soal lagi."

"BIAN!" kesal Diandra menghentakkan kaki di lantai. Bian pun berdecak kasar dari meja guru. Ia bangkit dan berjalan tiga langkah lalu menarik buku tugas Diandra.

"Tugas rumah dikerjakan di rumah, bukan di sekolah Gio. Mau jadi apa lo kalau setiap hari menyalin punya orang terus?"

"Ya ampun tinggal satu soal lagi pun. Gue kan gak tiap hari nyontek kayak gini. Kebetulan gue semalam ada acara di luar jadi gak sempat ngerjainnya."

"Acara apaan?" tanya Bian.

"Bohong! Akal-akalannya ajah itu pake alasan ada acara lagi. Semalam gue lihat dia nongkrong di depan warung Mang Soip sama anak-anak lain kok. Bohong itu dosa Gio..." kata Diandra membuat Bian langsung menoyor kepala cowok itu.

"Apapun alasannya lo gak boleh nyontek! Hargai kerja keras Diandra ngerjainnya," tegas Bian memberikan buku tugas milik Diandra ke dalam tangan gadis itu.

"Makan tuh tugas lo! Pelit bangat jadi orang..." ledek Gio kembali ke tempat duduknya.

Tiba-tiba saja Diandra memukul kepala Gio dengan buku tulisnya. Ia sangat kesal karena ketidaktahu diri Gio kepadanya.

"Gak tau malu bangat ya lo. Udah nyontek malah nyolot! Harusnya ngomong maaf kek atau apa, ini malah sok-sok an."

"Ngapain gue bilang makasih sama orang pelit kayak lo. Lain cerita kalau gue dapat semua baru gue bilang makasih Diandra. Ini gak, tinggal satu lagi malah heboh."

"Anjir, mulut lo lemes amat Gio! Gue gak habis pikir cowok kayak lo mulutnya kayak emak-emak di pasar--heboh!"

Gio tidak menyahut lagi dan langsung duduk ikut bergabung dengan kumpulan cowok-cowok di sebelah kiri.

***

Di mejanya Sienna sedang sibuk sendiri dengan buku paket kumpulan soal-soal matematika. Diandra datang dan duduk di kursi depan meja Sienna yang kebetulan kosong. Diandra pun berdehem membuat Sienna menatapnya dingin.

"Maaf Na. Kalau gue ganggu sebentar boleh ngga?"

Sienna langsung menggeleng pelan lalu kembali menatap bukunya. Diandra dengan gerak cepat meletakkan buku besarnya di hadapan Sienna, menimpa buku soal yang sedang Sienna kerjakan membuat gadis itu mengerutkan dahi dan memandangnya.

Apa maksudnya ini?

"Bantuin gue dong.. please. Tadi gue kena amuk Kak Sean karena laporan keuangan yang gue kerjakan masih salah. Bantu periksa sebentar, boleh ya? soalnya sebelum bel mesti gue kasih sama kak Sean. Ini laporan untuk acara pensi nanti. Please..."

"Besok-besok gue traktir es krim kesukaan lo deh. Mau ya, please?" ujar Diandra mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

"Bentar gue cek dulu," kata Sienna menggeser buku soalnya lalu menarik buku besar bendahara milik OSIS dihadapannya. Setelah mengamati satu persatu pekerjaan Diandra, Sienna hanya bisa bisa geleng-geleng kepala.

"Lo hitungnya pake apa kok bisa salah jumlah kayak gini?"

"Biasalah pake kalkulator, tapi tetap ajah salah kata kak Sean. Gue ngga tau salahnya dimana. Dari semalam gue udah cek berulang kali gak ada yang salah kok."

"Jelaslah salah, Ndra. Ini pengeluaran malah lo masukin ke pemasukan. Seharusnya lo lebih teliti menempatkannya dimana. Namanya juga pengeluaran."

"Mana?" ujar Diandra melihat jari telunjuk Sienna di buku besarnya. Ia menepuk jidat merasa kesalahan sebesar itu pun tidak bisa dilihat matanya.

"Salahnya disini doang?" Sienna mengangguk. "Salahnya cuman dibagian itu. Lagian sejak kapan pengeluaran dimasukin ke pemasukan. Jelas-jelas disitu udah lo catat biaya kegiatan pensi berarti masuk ke bagian pengeluaran."

"Ah, iya iya kok gue baru ngeh ya. Bodoh bangat gue. Any way, makasih banyak ya. Gue memang selalu kurang teliti. Bentar ya gue perbaiki dulu," ujar Diandra meraih buku besarnya lalu beranjak kemeja nya dibarisan paling depan berhadapan dengan meja guru.

Suara sepatu yang tidak asing di telinga sang ketua kelas terdengar nyaring dari luar ruangan. Segera cowok itu bangkit lalu mengintip dari celah pintu yang sedikit tertutup. Kehebohan pun spontan menggelegar dalam kelas. Bian menarik napas panjang lalu berteriak.

"Guru woi, guru! Bu Eva udah datang. Buru balek ke tempat masing-masing!"

"Bubar woy, bubar!"

"Woy Kiran, rapikan tuh kursi! Lo tuh perempuan tapi kelakuan kayak laki-laki ajah."

"Minggir, anjir! Ngehalangin jalan gue ajah lo!"

"Lo yang halangin jalan gue. Meja lo disitu malah nangkring di meja gue. Sana lo!"

"Lo yang sana!"

"Evi, Bastian! Gue lempar penghapus juga ya lo berdua. Gak di luar di kelas juga ada aja kelakuan lo berdua."

"Teman lo nih lambe nya kayak pantat ayam. Ngerocos aja," ujar Evi memandang Bastian sinis.

"Idih, mending kayak gitu. Daripada lo sok kecentilan sama cowok kelas sebelah."

"Halahh, lo cemburu bilang ajah kali. Gak usah ngode-ngode gitu," kekeh Evi.

"Jijik..." sahut Bastian bergidik ngeri lalu kembali ke bangkunya.

Setelah itu seisi kelas langsung dilanda keheningan secepat kilat saat kehadiran Bu Eva, salah satu guru paling garang di sekolah melangkahkan kaki di depan pintu memasuki ruangan.

Setelah Bu Eva masuk dan meletakkan tasnya di atas meja, beliau dengan cepat meraih spidol dari saku blazer yang sudah ia siapkan dari kantor guru. Beliau berbalik badan menghadap white board—menuliskan satu buah soal matematika.

Sontak suara riuh dari belakangnya membuat guru muda itu menoleh menatap tiga puluh dua siswa satu kelas itu.

"Ya ampun Bu. Kenapa kita langsung dikasih soal Bu? Materi ajah belum ibu bahas udah langsung tancap gas ajah," ujar laki-laki di kursi paling belakang barisan ketiga dari kanan. Sebut saja dia Gery.

"Justru pagi-pagi begini enak jawab soal. Sebagai pemanasan dulu. Ayok, dikerjakan soalnya," ujar Bu Eva tersenyum lebar. Senyuman lebar yang justru mematikan bagi siswanya.

"Siapa yang bisa jawab satu soal di depan papan tulis ini ibu akan kasih nilai A dan tidak ikut ulangan bulan depan. Ayo, ada yang berniat," ucap Bu Eva lagi lalu menatap bergantian siswa di hadapannya.

"Ngadi-ngadi nih Bu Eva. Baru juga menit-menit awal udah ngerjain soal ajah," bisik perempuan di pojok barisan ketiga pada teman sebangkunya.

"Kenapa di dunia ini harus ada pelajaran matematika. Kepala gue kan jadi pusing tujuh keliling. Bosan bangat tau Bu belajar melulu," kata Obi, curhat.

"Memangnya cuman kamu doang yang bosan, Obi? Ibu juga lebih bosan dengar curhatan kamu yang bosan belajar setiap saya masuk. Lihat di luaran sana banyak yang ingin sekolah, lah kamu malah ngeluh."

"Orangtuamu yang biayain sekolahmu. Kamu hanya datang kemari dan belajar dengan bagus bukan malah mengatakan yang tidak seharusnya. Bosan itu bukan jawaban seorang siswa kelas sebelas."

"Sienna? Kamu sudah balik sekolah lagi? Kenapa tidak pernah masuk? Ada masalah apa, Nak?"

Lagi-lagi pertanyaan itu, batin Sienna.

Semua pasang mata yang berada di ruangan itu mengarah kepadanya.

"Tidak ada Bu. Tidak ada masalah apa-apa..."

"Baiklah. Kau saja yang mengerjakan soalnya. Bisa kan?" Sienna mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. Berjalan ke arah meja guru lalu meraih spidol berwarna hitam disana.

"Eh, ngomong-ngomong gue dengar tadi Sienna mukul Ricky anak kelas sepuluh. Cowok yang hari kemarin masuk anggota basket."

"Seriusan lo? Terus gimana?" tanya perempuan berpakaian ketat di barisan ketika nomor lima dari belakang.

Yesi dan Kinara menyimak dari meja barisan belakang.

"Berarti Sienna marah ke lo karena berantam sama adik kelas yang namanya Ricky," bisik Yesi kepada Kinara. Kinara hanya mengangguk. Ia melirik Sienna yang ada di ujung barisan kanan.

"Yang dibelakang tolong suaranya!" seru Bu Eva dari depan.

"Iya Bu. Maaf..."

Beberapa detik memandangi soal di hadapannya akhirnya tangan gadis itu perlahan mulai menuliskan rumus dan angka satu persatu. Setiap tangannya menuliskan angka, Bu Eva terus saja menganggukkan kepala.

"Maaf kalau salah Bu..."

Setelah itu Sienna kembali ke tempat duduknya. Beberapa detik berlalu bahkan hampir satu menitan Bu Eva memandangi hasil pekerjaan gadis itu. Tulisan tangan yang indah dan rapi.

"Bagus sekali Sienna Ibu senang dengan jawabanmu ini. Kamu dapat nilai A dari ibu ya. Minggu depan kamu tidak perlu ikut kuis dari ibu. Begini yang buat ibu senang masuk kelas ini. Siswanya pada cerdas."

"Terimakasih Bu."

"Beneran benar ya Bu jawaban yang Sienna kerjakan?" tanya Luna gadis yang duduk dibarisan sebelah kiri paling depan.

Luna ini salah satu gadis yang berada di daftar hitam Sienna sejak ia sekelas dengannya mulai dari kelas sepuluh. Luna itu biar wajahnya polos tapi mulutnya itu benar-benar berbisa. Ia mau saja melakukan apapun untuk terlihat baik di depan semua orang.

"Benar. Sekarang salin soal dan jawaban di papan tulis ke dalam catatan kalian. Awas kalau tidak disalin. Minggu depan akan ibu periksa."

Sienna yang sibuk mengerjakan soal tiba-tiba panik saat setetes darah dari hidungnya jatuh di atas kertasnya. Ia buru-buru merobek kertas itu lalu memasukkannya dalam tas. Tak disangka, sosok Kinara yang menatapnya tiba-tiba mengulurkan dua helai tissue ke arahnya.

"Mending lo izin ke toilet takut tissue yang gue kasih gak cukup buat mimisan lo," ujar Kinara.

"Bu..."

Kinara mengangkat tangan. Bu Eva yang sedang berjalan-jalan dari meja ke meja menoleh padanya.

"Ada apa Kinara?"

"Sienna ngeluh sakit perut Bu. Katanya dia lagi datang bulan. Boleh izin ke toilet Bu?"

"Boleh, boleh. Silakan Sienna jangan ditahan-tahan kalau memang perutnya sakit," balas Bu Eva.

Setelah Sienna menerima izin keluar dari Bu Eva gadis itu langsung keluar dari kelas dengan peluh berkumpul di keningnya. Kaki jenjangnya mulai menyusuri lorong kelas menuju toilet di ujung sana. Sesampainya di dalam toilet, ia langsung mengeluh kesakitan. Ia berjongkok di bawah wastafel sembari meremas kuat-kuat rambutnya.

"Kenapa sakit sekali!!"

1
Nenden Nuranisa
please sienna pergi jauh aja dia harus bahagia 😭❤️
RiiaNii Khaulah
sedih beut..
RiiaNii Khaulah
br arti ayahnya blom tau pnyakitnya ya..trus knapa kake nya nggk mau punya cucu prempuan ya
RiiaNii Khaulah
sedih banget 😭kasih happy end ya otor kasian
RiiaNii Khaulah
lanjut ka
IdDesiRswt
semangat nulisnya Thor, kalau boleh mampir juga yu dinovel karya aku 🥰
dayanirann
penulisannya tapi banget Thor, keren😍💗
Agnettasybilla: thank you
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!