Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Sekte
Sekte Formasi Langit.
Setelah upacara pengangkatan ketua sekte yang baru selesai, Zhi Ruo hendak bersiap untuk kembali ke Gerbang Timur. Ia bersama tetua sekte melangkah keluar. Namun, langkah mereka tiba-tiba terhenti begitu seorang murid berlari panik memasuki aula utama sekte.
“Lapor, Tetua. Ada utusan dari istana,” ucap si murid dengan napas yang tersendat.
“Mengapa kau begitu panik?” tegur Fei Zhen, alisnya sedikit terangkat melihat muridnya datang dengan terengah-engah.
“Me … mereka menghabisi banyak murid,” ungkapnya.
Kepanikan yang melanda seorang murid akhirnya meresap ke lubuk sanubari para tetua sekte. Seperti yang diketahui, kedatangan utusan istana tidak pernah sampai membunuh seseorang, tetapi kali ini berbeda, mereka datang dengan niat membunuh.
Fei Zhen dan tetua lainnya saling melirik dengan kepanikan yang melanda. Sementara Zhi Ruo masih tampak tenang, meski dalam hati ia merasa sangat bersalah.
“Ayo kita temui mereka,” ajak Fei Zhen kepada yang lainnya.
Di luar sudah berdiri Perdana Menteri Li Wudang bersama pasukannya. Namun, pandangan Fei Zhen dan tetua lainnya tertuju ke arah para murid yang tergeletak tak bernyawa.
“Mengapa kau membantai murid-murid kami?” geram Fei Zhen tak kuasa membendung amarah.
“Itu karena kalian berani mengusik istana,” kata Li Wudang, bicaranya tenang tanpa beban.
“Bajingan! Kau berani mengeksekusi orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini,” sela Zhi Ruo.
“Semua yang memiliki ikatan dengan Sekte Formasi Langit layak dihukum mati, termasuk kalian semua,” jelas Li Wudang. Niat membunuhnya begitu kentara.
Mendengar dekrit kejam itu, emosi para tetua sekte meledak. Aura di tubuh mereka seketika melonjak, menekan para utusan istana yang berdiri angkuh di hadapan mereka. Namun, tekanan kuat yang mereka pancarkan tiba-tiba teredam begitu para kultivator berdatangan.
Fei Zhen mendengus kasar. Seringai dingin menghiasi bibirnya sebelum ia berkata, “Pantas kau berani membantai murid-murid sekte kami, ternyata kau membawa banyak ahli untuk menghadapi kami.”
Tanpa sepatah kata yang terlontar untuk membalasnya, Li Wudang melambaikan tangan, memerintah para kultivator untuk menyerang.
Aura ketegangan semakin pekat di udara, mengawali pertarungan yang tidak terhindarkan lagi.
“Aktifkan formasi!” pekik Fei Zhen kepada yang lainnya. Ia berniat untuk mengurung semua orang ke dalam formasi.
Para tetua sekte berpencar membentuk sebuah pola. Mantra-mantra dirapalkan, membangun diagram besar yang muncul di udara, berputar, dan melapisi halaman luar sekte.
“Formasi Langit,” kata seorang kultivator mengetahuinya. “Benar-benar sesuai dengan reputasinya.”
“Jika formasi terbentuk sempurna, kita akan kesulitan,” sambung pria berbadan tegap mengingatkan.
Para kultivator sedikit panik melihatnya. Formasi yang diciptakan oleh tetua sekte Formasi Langit membuat mereka akhirnya terkurung di dalam pusara diagram.
Namun, kepanikan bukanlah pilihan. Seorang kultivator berambut merah meminta mereka untuk tetap tenang. Ia kemudian mengeluarkan sebuah artefak yang memancarkan cahaya merah. Artefak itu terlihat seperti permata kuno berukiran naga.
“Kita lihat sekuat apa formasi mereka?” Ia kemudian mengalirkan energi spiritual ke dalam artefak. Begitu artefak yang digenggamnya aktif, sebuah gelombang energi menyebar, memperlambat putaran diagram, dan mulai mengambil alih susunan formasi.
“Perkuat formasi!” kembali Fei Zhen berteriak.
Para tetua sekte segera mengatupkan tangan dan memfokuskan energi spiritual untuk menstabilkan formasi yang terancam hancur. Namun, kekuatan mereka kalah jauh dengan para kultivator utusan istana yang terlebih dahulu menyerang lapisan formasi dengan membabi buta.
Diagram formasi yang tadinya menekan kuat kini terus melemah, menimbulkan retakan-retakan halus yang muncul di permukaan dan terus menyebar ke seluruh bagian.
Gelombang energi dari artefak semakin kuat mendominasi, terus mengikis lapisan formasi hingga akhirnya diagram formasi hancur berkeping-keping.
Sebagian besar dari tetua sekte tewas menggelepar dan hanya menyisakan Ketua Fei Zhen serta Zhi Ruo yang berkali-kali memuntahkan darah segar.
Dari kejauhan Perdana Menteri Li Wudang merasa puas melihat kemenangan telak para kultivator bawaannya itu.
“Berani mengusik istana adalah kehancuran yang nyata,” gumamnya.
Angin yang berembus kencang bagaikan duri-duri tajam yang mencucuk kulit, seolah meratapi nasib sekte yang terancam punah. Kultivator berambut merah itu tertawa terbahak-bahak melihat ketidakberdayaan Ketua Sekte Fei Zhen dan Zhi Ruo yang terus memuntahkan darah.
“Kekuatan sekte kalian hanyalah bisikan angin lalu, tak lebih dari rumor omong kosong belaka!” ejeknya yang membuat Fei Zhen kembali memuntahkan darah.
Tak lama setelah itu, Fei Zhen bangkit. Ia angkat tangan kanannya ke udara, dan seketika pusaran energi spiritual berwarna biru terbentuk di telapaknya.
“Aku tidak akan membiarkan sekteku hancur di tangan kalian,” serunya dengan sorot mata yang tajam.
Sejenak ia alihkan pandangan ke arah Zhi Ruo. “Adik Ruo’er, aku percaya padamu bisa membangkitkan kembali sekte kita. Sekarang bersiaplah, aku akan membuka ruang untukmu melarikan diri.”
“Ketua Fei, jangan lakukan itu!” Zhi Ruo memohon. Ia tahu persis maksud ucapan Fei Zhen adalah mengorbankan diri demi menyelamatkannya.
Sang ketua sekte tersenyum tipis, senyum yang dipenuhi kelegaan dan juga kesedihan yang mendalam. Perlahan kepalanya mengangguk seraya menatap Zhi Ruo yang panik.
“Pergilah, hiduplah, dan bangkitkan kembali sekte kita,” ujar Fei Zhen. Ucapannya terdengar seperti salam perpisahan.
Pusaran energi biru di tangan Fei Zhen membesar. Tekanannya yang besar membuat para kultivator utusan istana memasang array pelindung.
“Matilah kalian semua!” teriak Fei Zhen yang seketika itu pula melemparkan seberkas energi dari tangannya seraya meledakkan qi energi di tubuhnya.
“Tidak …!” Zhi Ruo menjerit histeris melihat Fei Zhen mengorbankan diri untuk menyelamatkannya.
Gelombang kejut serta silau cahaya yang tercipta membuat ruang bagi Zhi Ruo untuk melarikan diri. Ia pun mengepalkan erat kedua tangannya.
“Setiap yang berhubungan dengan istana akan aku hancurkan,” tekad Zhi Ruo. Dan dengan air mata yang membasahi pipi, ia melangkah menuju pusaran cahaya bersama dendam yang terpatri di hati.
Sesampainya di Gerbang Timur, Zhi Ruo disambut oleh banyaknya mayat yang berserakan. Kemarahannya yang berkobar sedikit terobati setelah mengetahui mayat-mayat yang berserakan di sekitarnya merupakan pasukan istana.
“Di mana Tuan?” Zhi Ruo edarkan pandangan ke segala penjuru.
“Aku di sini,” sahut Qin Zhao yang berdiri di beranda lantai dua.
“Tuan,” ucap Zhi Ruo lemah, lalu tiba-tiba saja ia tersungkur jatuh.
Secepatnya Qin Zhao menghampiri dan membawanya masuk ke dalam paviliun, lalu merebahkannya di atas lantai kayu.
Kondisi wanita cantik itu sangat memprihatinkan. Qi energi miliknya terkuras habis, bahkan beberapa titik meridiannya tersumbat.
“Merem aja kamu udah cantik seperti ibuku, apalagi kalau melek, tetap ibuku yang cantik,” celoteh Qin Zhao terus memperhatikannya. “Tapi kan sebelum pingsan, pelayanku melek dulu!”
“Ih, kenapa aku tiba-tiba jadi bodoh begini?” Qin Zhao menepuk keningnya dan kembali fokus menatap Zhi Ruo.
“Siapa yang membuatmu begini?” tanya Qin Zhao terus memperhatikannya.
Wanita itu tidak menjawab karena memang tidak sadarkan diri, tetapi Qin Zhao terus mendesaknya untuk berbicara. “Kalau kau terus diam, aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu.” Ditepuknya wajah Zhi Ruo dan sesekali memijit hidungnya, tetapi tetap saja wanita itu tidak menanggapi.
Pada akhirnya Qin Zhao menyerah dan berlalu pergi meninggalkan Zhi Ruo yang terbaring.