Indonesia
NovelToon NovelToon
Prasasti Aksara

Prasasti Aksara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Fanfic / Ketos / Cintamanis
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maleeka

" Mari kita lihat, apa kau akan mengulanginya lagi?"

Dan Saat ia menoleh, Dirinya tengah berada di gudang, bersama dua sahabatnya yang tertawa sambil melempari makanan mereka ke seorang gadis dengan seragam berbeda darinya.

Tunggu, Apa ini? apa Nora melindur? Bukankah tadi dia sedang di UKS dan berusaha bunuh diri?

Lalu kenapa ia mendadak berada disini? disaat ia masih kelas 1?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prasasti - 11

Garuda masih terdiam membeku melihat darah yang menggenang dilantai, sedangkan Aksara menopang kepala Yunora yang mengeluarkan banyak darah, menatapnya panik dengan wajah pucat dan berteriak memanggil Garuda.

" GARUDA!!" Bentakan keras itu membungkam semua orang tapi mampu membangunkan Garuda untuk sadar dari acara shock nya.

pria itu dengan tangan yang gemetar hebat menghubungi ambulance, sedangkan Aksara sibuk memikirkan apa yang ia harus lakukan untuk menjaga Yunora agar tetap selamat.

ia harus menekan bagian kepala Yunora yang terluka, namun ia takut salah bertindak. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memeluk kepala Yunora sambil menggenggam salah satu tangan gadis itu.

apa yang terjadi? kenapa Yunora senekat ini hanya karena berbicara dengan Milly? Saat suara sirine ambulance mulai mendekati area sekolah, Aksara langsung menggendong Yunora dan hendak berlari untuk membawa gadis itu menuju ambulance.

Aksara tak pernah setakut ini melihat orang terluka. Saat Yunora memukul kepalanya dengan pot, Aksara merasa jantung seolah jatuh kebawah bersamaan dengan tubuh Yunora yang mengalami hal yang sama, tapi kakinya entah kenapa berlari menghampiri tubuh gadis itu agar tidak menyentuh lantai sekolah yang dingin dan kotor.

satu rengutan kecil di punggungnya membuat Aksara menoleh dengan ekspresi jengkel. Apa orang ini tak bisa melihat Yunora dalam keadaan yang gawat?

Milly menatap melas Aksara, menunjukkan kedua tangannya yang terluka, namun berpura-pura menatap cemas Yunora " Nora ga--"

" nanti aja Mil."

Milly terdiam kaku tak bisa mempercayai Aksara yang selama ini selalu membelanya kini meninggalkannya dengan dingin hanya karena seorang Yunora.

sedangkan Aksara menatap cemas Yunora yang masuk kedalam mobil ambulance. " Sa, Lo ikut dulu ke rumah sakit. gue musti hubungin bokapnya Rara sama ambil barangnya. kabarin gue kalo udah sampe."

Aksara menggangguk cepat dan langsung masuk kedalam mobil ambulance. Ia tak bisa menyimak ucapan petugas medis disampingnya yang tengaj memonitor keadaan Yunora.

Yang ia lakukan hanya menatap wajah pucat gadis itu yang memiliki beberapa aliran darah mengalir disana, dan terus menggenggam tangan Yunora yang semakin terasa dingin.

Bahkan ia tak ingat untuk menghubungi Garuda saat Yunora masuk ke ruang operasi darurat di rumah sakit. ia terus menatap kaca pintu ruang operasi walau ia tahu ia tak bisa melihat apapun.

dari tempat berdirinya, Aksara dapat mendengar seruan tenaga medis yang terdengar panik dibalik pintu ini. Degup jantungnya mulai melambat, seolah ia mulai putus asa, Air matanya mulai menggenang dan ia hanya bisa berlutut dilantai dengan kedua tangan yang masih menempel di pintu operasi itu.

" Ra, gue tarik semua ucapan gue. gue gak mau Lo ngalamin karma apapun. gue gak mau Lo sakit apapun ataupun sedih karena ibu Lo meninggal. gue gak pernah mau kita musuhan kayak gini. Sekarang yang gue mau Lo selamat. itu aja Ra... please.. cukup satu permohonan ini... cukup dia selamat dan bahagia, dan itu lebih dari cukup.."

" Yakin? "

DEGG

huft huft huft huft...

Nafas tersengal-sengal dan matanya yang sembab oleh air mata. Ia bahkan masih bisa merasakan degupan jantung yang terlalu cepat dan kepalanya yang sedikit pusing karena mendadak duduk dari tidurnya.

Aksara mengusap keringat dari kening hingga pipinya, Namun ia sadar, " Kenapa gue nangis? apa karena... mimpi tadi? mimpi Yunora Mati?" gumamnya tak percaya.

...****************...

Senin pagi memang bukan hari yang istimewa melainkan menyebalkan bagi Yunora karena harus bangun lebih pagi.

jika di hari yang lain ia bisa memanjat pagar belakang jika terlambat, Kalau hari Senin Yunora tidak bisa melakukannya karena beberapa guru sering mengawasi tempat tersebut pada jam-jamnya terlambat datang, bahkan ada beberapa guru yamg berpatroli diluar sekolah, mencari siswa yang membolos atau yang bersembunyi karena telat.

Tapi yang membuay Yunora sedikit heran sekaligus merasa aneh adalah kehadiran Aksara si MVP basket sekolah didepan pintu rumahnya ini. bahkan pria itu sedang mengobrol asik dengan Gerhana yang terkenal judes kepada semua teman sekolah Yunora khususnya pria.

" Kak Aksa jemput Bang Ruda?" Tanya Yunora berbasa-basi. sudah jelas pria itu menunggunya karena Aksara tengah bediri didepan rumahnya bukan didepan rumah Garuda.

Gerhana tersenyum cerah lalu merangkul leher Yunora membawa anak tetangganya ini keluar dari kandang. " dia jemput kamu cantik. Katanya kemarin kamu mimisan? untung Aksara mau jemput, pake mobil lagi. Ayah restuin kalo modelannya begini." ujar Gerhana tersenyum bangga.

Membuat Yunora menatap jijik kakak tetangganya ini, dan menggeleng kepalanya tak enak kepada Aksara yang kini tertawa kecil. tapi tamparan kecil ditangan Gerhana mampu membuat Pria itu terlonjak dan menoleh ke belakang punggung Yunora.

" Rara anak saya, sejak kapan istri saya nikah sama kamu Gerhana? pipis masih belok aja ngaku jadi ayahnya Rara." Ketusan Dion di Pagi hari berhasil membuat Aksara tertawa renyah. Kenapa ketusnya begitu mirip dengan Yunora? ternyata Yunora benar-benar buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya.

" Pagi Om, maaf ya saya jemput Nora gak izin dulu." Senyum manis Aksara dan sikap sopannya membuat Dion mau tak mau tersenyum ramah sambil mengangguk sejenak. Lea juga ramah seperti ini saat masih kuliah dulu.

Lea mendidik anak laki-lakinya ini seperti apa ya? fisik seperti Asa namun sifat seperti Lea. Kalau sifatnya seperti Asa, Dion mana mungkin membiarkan anaknya berdekatan dengan Aksara. Bahkan dalam mimpi pun tidak akan.

" Udah punya SIM, Sa?"

" udah om. gak nembak kok. kata Bunda nembak itu dosa, bisa bunuh orang jadi saya ikut testnya beneran." ujar Aksara sambil tersenyum manis.

" Yaudah, Pa, Aku berangkat dulu. Papa kalo pulang malem kabarin biar aku gak nungguin. aku juga ngantuk tau." Ujar Yunora sambil menyalami ayahnya dan langsung berbalik meninggalkan sang ayah yang hanya bisa mengangguk paham saja. Gerhana hanya bisa menggeleng. Anak dan ayah sama-sama cuek tapi sayang.

Di mobil, Yunora fokus memperhatikan jalan, bahkan gadis itu lebih fokus daripada yang tengah menyetir mobil disampingnya. " Ra, "

Nora menoleh dan menatap serius Aksara. entahlah, sejak Aksara tersenyum kepadanya tadi pagi, Yunora merasa Aksara memang ada perlu dengannya. tapi apa?

" gue... masih penasaran sama mimpi buruk Lo itu. sebenernya... di mimpi Lo itu, hubungan kita kayak gimana?"

Yunora mengangkat kedua alisnya setinggi mungkin. tidak menyangka Aksara akan bertanya SE tepat sasaran itu. bagaimana bisa pria ini menduga duga tentang keadaan hubungan mereka di mimpinya?

" berantakan. karena ada satu cewek yang tiba-tiba muncul terus sering fitnah aku, tapi kak Aksa emang bego sih percaya aja sama cewek itu. jadi ya gitu .. kita musuhan. tapi itu cuma mimpi kok. di mimpi aku bahkan kak Aksa gak pernah se-inisiatif ini untuk jemput aku." ucapan Lea hanya dibalas anggukan paham Aksara,

namun keduanya tahu, ada yang janggal dikedua pikiran masing-masing. saat mobil itu terparkir dibelakang sekolah, Aksara menahan lengan Yunora yang hendak keluar dari mobil. " Tolong... jaga hubungan ini biar gak kayak di mimpi Lo ya Ra. gue juga akan usaha buat ngelakuin hal yang sama."

Yunora mengangguk cepat walau dirinya sedikit bingung. bukankah yang harus meminta hal tersebut adalah dirinya? karena disini, yang sangat membutuhkan hubungan baik dengan Aksara adalah dirinya, bukan sebaliknya.

bahkan gafis itu sampai melamun didepan kelasnya, dan harus ditegur dengan keras oleh Aksara yang berniat menuju ke kelasnya sendiri. " Jangan bengong .. gak sakit 'kan?" tanya Aksara dengan pandabgan yang mulai cemas.

Nora menggeleng kepalanya dan melambaikan tangannya sebelum ia masuk ke kelas sambil menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Ada apa ini? kenapa Aksara jadi mirip Garuda?

baru saja gadis itu duduk di bangkunya, Nadia, teman sekelas sekaligus teman sekelompok untuk mata pelajaran sejarah Indonesia menghampirinya dengan gaya angkuhnya. " tugas kelompoknya udah jadi?"

Nora mengeluarkan buku pelajarannya, lalu menyalakan ponselnya seolah tak mendengar apa-apa. "Heh! gue ngomong sama Lo!" Sentak Nadia sambil mempertajam tatapannya.

Yunora meliriknya sebentar sebelum kembali menatap layar ponsel yang menampilkan tanggal rilis mini album pertama idolanya. " gue gak punya tugas kelompok apapun. adanya tugas individu. sana Lo ngerusak pemandangan punggungnya Adam." Ucap Yunora cuek tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.

" jangan macem-macem deh, Ra. besok kita presentasi! mana mungkin Lo bisa selesain tugas buat 4 orang sendirian?!"

Yunora menyunggingkan senyum miringnya. " Wah, berarti gue hebat dong. makalahnya udah jadi, tinggal PPT nya aja. gimana tuh?" ucap gadis itu dengan senyum manisnya.

Kali ini ia tak ingin berbaik hati ataupun kompromi. Ia sudah mengalami satu kematian, mana mungkin ia akan menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk berkompromi pada manusia tidak tahu diri sepertk mereka ini.

" Silahkan nikmatin Nilai Zeronya, jelek.." Bisik Yunora sambil tersenyum manis sebelum ia berdiri memberi hormat kepada guru Ekonominya yang baru hadir.

...****************...

" Ada Yunora gak Dam?" tanya Aksara sambil menghentikan langkah Adam yang baru keluar dari kelasnya. Adam menggeleng kepalanya, " tadi sih jam kosong soalnya guru Geografi lagi sakit. Nora tadi izin ke perpus sih, katanta mau ngerjain tugas ppt."ucal Adam memperjelas.

Aksara menggangguk cepat dan menepuk bahu Adam, berpamitan.

saat ia sampai di perpustakaan, Ia dapat melihat Yunora yang tengah tertidur diantara lipatan kedua tangannya, didepan laptop yang menyala. apa gadis itu mengantuk? di siang bolong begini?

Aksara duduk disampingnya, memperhatikan wajah polos yang sebagian tertutup oleh lipatan tangan. " Ra, Gak tidur di UKS aja?" ucap pria itu sambil mengelus puncak kepala Yunora dengan lembut.

rasanya menyenangkan saat ia bisa merasakan halusnya rambut Yunora, tapi Nora bangun dengan sedikit terlonjak seolah tengah terkejut. " Ra? gapapa?"

Yunora menoleh kearah aksara dengan mata yang terlihat masih terkejut dan nafas yang sedikit tidak teratur. beberapa detik kemudian gadis itu menelan Salivanya kasar, " gapapa. tadi mimpi jatoh aja. aku izin cuci muka dulu ya kak."

Aksara mengangguk sambil menatap cemas Yunora yang semakin menjauh dan tak terlihat, digantikan dua orang siswa yang berjalan cepat menghampiri mejanya.

" Misi Kak, ini laptopnya Yunora 'kan?"

Aksara menggangguk sambil tersenyum ramah. " kenapa?"

" i-ini kita mau mindahin tugas kelompok ke flashdisk. soalnya kata Yunora dia gak sempet kirim ke Grup kelompok."

Aksara mengangguk dan memilih untuk memainkan ponselnya. Sesaat ia melirik layar laptop Yunora dan begitu terlihat bahwa kedua siswa ini tidak tahu letak file yang mereka cari. tentu saja hal itu membuat Aksara mengerutkan keningnya. jika memang Yunora yang meminta mereka bukankah mereka diberitahu letak file nya? Yunora bukan orang secuek itu sampai tak memberitahu letak file sepenting tugas kelompok.

" Ngapain Lo berdua sama laptop gue?" Pertanyaan yang terkesan dingin membuat Dua siswa itu terlonjak kaget, sedangkan Aksara langsung menarik laptop Yunora untuk mendekat kepadanya.

" bukan kelompok Lo Ra?"

Yunora mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Aksara. Ia menghampiri pria itu dan memperhatikan laptopnya. Sial, Ternyata mereka mau mencuri tugasnya.

Yunora mengambil Laptopnya lalu membanting benda elektronik itu ke lantai, membuat dua siswa itu terpekik dan Aksara membelalakkan matanya. kemudian ia berjongkok dan mengambil flashdisk yang sempat terpasang pada Laptopnya, dan menginjak-injak benda itu hingga tidak berbentuk. lalu melempar patahan flashdisk itu kepada pemiliknya,

"Lo gak akan minta ganti rugi buat flashdisk Lo yang gak sebanding sama laptop gue kan? oke, Lo masih punya otak ternyata."

1
Wifasha Fasha
kok blm up Lagi,di tunggu lho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!