Mendengar kata mantan akan terasa sensitif bagi sebagian orang. Kembali menjalin hubungan dengan mantan rasanya seperti membaca buku dua kali, karena kisahnya akan saman saja. Namun, hal itu tak berlaku bagi Lean yang menjalin hubungan kembali dengan mantannya.
Walaupun pernah berpisah, namun mereka dipertemukan kembali oleh takdir. Orang tua mereka pun saling berniat untuk menjodohkan mereka, dengan alasan bisnis. Awalnya mereka saling menolak datu sama lain. Namun, ternyata pasangan yang dijodohkan para orang tuanya adalah pasangan yang dulu pernah menjalin hubungan juga.
Dengan seiringnya waktu Lean dan Vino akhirnya bisa saling menerima juga. Kira-kira Lean berhasil membangun rumah tangga yang bahagia dengan sang mantan, Vino?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusha Krya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia kenapa?
"Ini aku, Jeng. Mawar!" jawab penelepon tersebut.
"Oh, Jeung Mawar. Apa kabar Jeng?"
"Alhamdulillah sehat, Jeng. Oh ya, aku sudah pindah ke Jakarta loh.
"Oya! Syukurlah, Jeng."
"Sudah ada dua minggu aku di kota ini. Jeng! Aku ingin mengundang Jeung Anjani bersama anakmu untuk datang ke rumah. Sudah lama kita gak ketemu. Mungkin anakmu sekarang sudah besar dan cantik. Kita makan malam bersama. Sekalian kita kenalkan mereka, siapa tahu berjodoh." suara Tante Mawar dalam telepon.
"Wah, terima kasih banyak, Jeung. InsyaAllah, nanti kita datang ke rumah." jawab Ibu.
Dari dulu Ibu dan Tante Mawar sangat ingin menjodohkan anaknya bersama ku. Namun, aku selalu menolaknya, dengan beberapa alasan. Dan begitu juga anak dari Tante Mawar sendiri.
Mendengar dari cerita Ibu. Bahwa anaknya Tante Mawar pun sama denganku, tidak pernah menyetujui perjodohannya, dengan alasan ia sangat amat mencintai, cinta pertamanya. Hingga saat ini ia tidak pernah berpaling hati kepada perempuan lain.
Aku bergegas untuk segera pergi ke kamar mandi untuk mandi. Tanpa harus menunggu perbincangan Ibu dan Tante Mawar selesai.
Setelah selesai mandi, dengan mengenakan baju tidur dengan rambut yang masih basah terurai, karena telah keramas. Aku pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam seperti biasa. Namun, seketika Ibu menghampiri aku di dapur. "Gak usah masak, Nak. Kita akan makan malam di rumah Tante Mawar." ujar Ibu.
"Tante Mawar?" tanyaku heran.
"Iya, tadi Tante Mawar ngasih kabar ke Ibu, kalau dia sudah pindah rumah ke daerah sini juga. Jadi dia mengundang Ibu dan kamu untuk makan bersama di rumah barunya." jelas Ibu.
"Apa yang mereka rencanakan lagi. Apa masih ingin melanjutkan perjodohannya?" gumamku dalam hati.
"Sudah, jangan banyak bengong. Sekarang kamu ganti baju dan dandan yang cantik ya. Jangan lupa pakai baju yang sopan! Ibu juga mau siap-siap dulu."
Aku menyesal, kenapa harus mengangguk saat itu. Aku sangat tidak ingin dijodoh-jodohkan. Tapi mungkin ada baiknya jika aku menuruti saja keinginan Ibu.
Hendaklah aku pergi ke kamar untuk ganti baju dan siap-siap pergi ke rumah Tante Mawar.
Di usia ke 22 tahun mimpiku seakan hancur. Semua yang aku mimpikan kini sirna seketika. Bagaikan abu yang diterpa angin, semua hilang begitu saja dengan mudah.
Ayah sudah meninggal, kini pacarku, bahkan karirku saja hilang karena ulah sahabat dekatku, Rika. Wanita itu telah menjadi parasit kebahagiaanku sejak sekolah tanpa ku sadari.
"Ya Allah! Kenapa kau membiarkan Rika terus mengusik kebahagiaanku? Tolong berikanlah kebaikan untuknya. Sadarkan lah dia, ya Allah!" Ku panjatkan doa disertai tangisan.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ku lihat nomor yang tanpa nama muncul di layar ponselku. "Siapa yang nelpon?" tanya ku heran sambil membawa ponselnya di atas nakas.
"Hallo! Assalamu'alaikum," Ku sapa orang yang menelepoku.
"Wa'alaikumsalam, Yan." jawab seorang lelaki di balik telepon.
"Ini dengan siapa, ya?" tanyaku.
"Ini aku, Vino. Save ya nomor aku!"
"Oh, Vino. Baiklah aki save ya. Ada apa Vin?"
"Kamu bisa bantu aku gak, Yan?" tanya Vino di balik telepon.
"Bantu apa?
Vino kembali menjawab dengan tergesa-gesa. "Semoga kamu bisa bantu ya. Aku butuh kamu untuk malam ini saja, kamu jadi pacar pura-pura aku. Gimana mau?"
Belum aku menjawab dia sudah memutuskan sebelah pihak saja.
"Mau ya! Oke makasih banyak. Aku jemput kamu di taman yang kemarin ya!"
Ada apa sih dengan Vino?
eh malah maraton di novel ini
hadehhhh...
tuh udah q taro kopi 2 cangkir.. biar sedap ngobrolnya..
itu kenapa akang diputusin seh Lean, sampe akang gagal move on gitu...
tiap ketemu bawaannya nafsu mulu... hahaha
itu alasannya Lean belum bisa menerima perjodohan ini
Semoga ayah Vino selamat dan tidak tejadi sesuatu yang buruk pada nya.