Pada tahun 1922, di desa Bavaria. Keluarga Gruber ditemukan tewas tanpa kepala, banyak dari pihak penyidik mengasumsikan jika mereka kemungkinan digilir masuk ke dalam gudang dan dilenyapkan.
Franz, detektif sekaligus selaku anak kedua dari keluarga Gruber, ia harus menyelidiki pelaku kematian anggota keluarganya. Namun, siapa sangka dibalik kematian keluarga Arsya Nur't, kasus pertama yang ia tangani ada campur tangan dengan anggota keluarganya, bagaimana jika ternyata Frissca ada sangkut pautnya dengan kasus kematian temannya? Sebelum keluarga mereka dibunuh secara massal, pada 31 Maret 1922 itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mn_Ikye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinterkaifeck; 11
01 April 1922
Kabut asap tipis terlihat di hutan, pagi yang dingin membungkus pedesaan namun, terlihat dua orang sedang berjalan pelan—dua orang laki-laki penjual kopi yakni Hans Schirovsky dan Eduard Schirovsky datang ke Hinterkaifeck untuk mengambil pesanan kopi, hal ini sudah biasa mereka lakukan. Pagi itu, Hans dan Eduard datang untuk mengambil pesanan kopi, Hans mengetuk pintu keluarga Gruber pagi ini—hingga dalam tiga kali ketukan Hans tidak mendapati jika keluarga Gruber pagi itu ada di rumah.
Kembali pada diri Eduard yang langsung ikut masuk ke dalam pekarangan rumah Gruber, Eduard mengetuk bagian jendela rumah keluarga Gruber tapi tidak ada sahutan atau respons dari keluarga itu. Cukup lama mereka berdiri di tempat itu, yang mereka tahu Aaric Gruber akan datang menemui mereka, seperti halnya yang sering mereka terima—biasanya jika Aaric Gruber berada di ladang maka akan ada pembantu mereka yakni Maria atau Putri bungsu mereka yang menanggapi ketika Cazillia Gruber sedang sibuk memberi makan hewan ternaknya.
Keduanya masih berkutat untuk memasuki halaman rumah keluarga Gruber, Hans Schirovsky dan Eduard Schirovsky saling bertatapan. "Kurasa mereka masih tidur." pungkas Hans.
Eduard menatap sebentar lawan bicaranya, "Tapi, gudang penyimpanan mesin mereka terbuka." jawab Eduard menanggapi—menujukkan jari telunjuk miliknya ke arah gudang itu.
Hans melihat ke arah tunjuk tangan Eduard, "Benar, mungkin masih tertidur. Mari pergi dari sini Eduard, kita masih banyak pelanggan." ajak Hans sembari berbalik badan yang diikuti oleh Eduard.
Dua sejoli, Hans Schirovsky dan Eduard Schirovsky pergi berlalu meninggalkan halaman rumah keluarga Gruber. Mereka tidak menemukan apa-apa selama berada di sekitar rumah keluarga itu, kiranya keluarga mereka masih terlelap di pagi yang dingin ini—hanya dua pekerja ini saja yang begitu ambisius dan rajin datang untuk mengambil pesanan kopi. Keduanya bahkan pergi dari Hinterkaifeck tanpa rasa curiga atau hal yang mengganjal.
...🗞️🗞️🗞️...
Berbeda lagi dengan tiga gadis yang baru saja keluar dari ruang bimbingan konseling, wajah mereka lebih terlihat pucat—entah karena merasa dingin atau tegang setelah kembali berhadapan dengan Rasmus. Nyatanya masalah mereka belum juga punya titik terang, tiga gadis menghadap masa sulit—Zelion, Bianca dan Yieus dilarang masuk kelas untuk mengikuti pelajaran karena status mereka sebagai terduga atas kematian Violin.
Zelion memungut salju yang menggunung di jalanan menuju gudang sekolah, Zelion yang terlihat kesal menggumpal salju itu hingga bulat kemudian melemparkannya dengan tenaga yang lebih besar serta merta umpatan yang mendengus. Bianca terperanjat saat merasakan lemparan bola salju meleset lewat di samping telinga kanannya, sejujurnya sedikit dari bagian bola salju itu mengenai daun telinganya—dan Bianca yakin itu bukan kesengajaan.
Yieus berdecak, ia berjalan bersebelahan dengan Zelion yang masih terus melakukan hal yang sama lalu melemparkan bola salju itu sembarangan. Bianca mengeluarkan sedikit uap pada mulutnya yang sedikit terbuka saat mengeluarkan napas yang sedikit lebih besar dan kasar, sekarang mereka justru bertiga berdiri seperti manekin pakaian—mematung, kendati bisa saja ditebak mata mereka bertiga mengarah garis-garis terlarang polisi.
"Kenapa polisi tua bangka yang gedut masih tidak percaya dengan apa yang kita katakan, dia menyebalkan!" umpat Zelion, sembari mengembuskan napasnya berat.
Yiues mendesah pasrah, "Polisi itu rekan kerja Tn. Franz jadi, tentunya tidak akan pernah percaya begitu saja dengan kita." Yieus menanggapi.
"Hei! Tn. Franz itu detektif, dan orang gendut itu polisi. Mana mungkin polisi dan detektif membela gadis sialan yang diganggu Violin." pungkas Bianca tak mau tinggal mendengarkan dua temannya saling mengeluh dan berargumen.
"Tapi bukannya Frissca itu adik dari Tn. Franz? Dan polisi gendut menjengkelkan itu rekan kerja kakak dari Frissca? Nah, bisa saja 'kan dua orang itu melakukan pembelaan pada Frissca?" rupanya Zelion punya siasat yang lebih bagus dan sedikit masuk akal.
Bianca diam sejenak, "Jika mereka membela Frissca, itu artinya mereka berdua merebut hak advokasi. Hah! Tidak adil jika begitu, nyatanya."
"Tapi bila dipikirkan lagi, bukankah Violin sedikit tidak suka dengan sikap Avies? Kalian bahkan tahu sendiri jika Avies kadang bertingkah sesuka hatinya, Avies sering melakukan kesalahan yang sama." Yieus mencoba mengingatkan hal-hal yang masih berkesan buruk dari Violin dan Avies.
Zelion berusaha mengingat sebelum menimpali perkataan Yieus itu, "Barang-barang mahal milik Violin sering rusak saat Avies meminjam, dan Avies sering-sering bertingkah menjijikkan saat berkunjung ke rumah Violin."
"Tapi jika benar Avies yang membunuh Violin lalu bagaimana dengan isi surat wasiat Avies? Bukankah dia menulis alibinya kenapa ia membunuh Violin? Kalian pasti ingat betul siapa yang didorong dan diludahi makan siang waktu itu. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasa curiga lebih besar dan mengarah pada anak itu." Bianca menatap mata dua temannya yang ikut menatap dirinya, dua temannya mengembuskan nafas mereka.
Uap kembali menghiasi mulut Yiues saat membuka mulutnya untuk membuka suara, "Tapi, Frissca itu pendiam, tidak mungkin melakukannya. Atau jika dia memberikan upah dan menyuruh orang lain menghabisi nyawa Violin."
"Pendiam belum tentu baik Yiues. Atau apa yang kau katakan ada kebenarannya, bisa saja 'kan?" Zelion melangkah menuju garis kuning, diikuti oleh Yieus dan Bianca.
Zelion menyibak garis kuning itu, dan kedua temannya masuk hingga diakhiri dengan dirinya. "Aku khawatir jika Frissca memutar fakta menjadi lebih menarik, bisa saja Frissca memaksa Avies menulis surat wasiat itu, kita juga sudah diperlihatkan jika kertas yang digunakan Avies bukan kertas miliknya. Kertas itu mirip seperti punya Frissca." Zelion menatap sumur sampah tertutup salju.
"Kita tidak punya bukti untuk membela Avies, meskipun dia sudah mati. Tapi apa yang kau katakan bisa saja menjadi bukti lisan kita, bagaimana kalau kita menemui polisi itu lagi?" usulan yang nyatanya membuat dua temannya memutar bola matanya dengan malas.
"Tidak mau, masih ada hari esok. Ayo pergi dari tempat ini, kita perlu membicarakan ini pada Frissca, ayo ke kelasnya." ajak Yiues yang bernyali besar mengajak Zelion dan Bianca.
Pelan-pelan melewati jalan yang bersalju, sambil sesekali merapatkan jaket mereka lalu, menggosok-gosokkan kedua telapak tangan untuk menciptakan sedikit kehangatan. Ketiganya tidak langsung pergi ke kelas Frissca, mereka masih sempat berkutat dengan melihat ke arah gudang sekolah—justru bekas darah yang mengering di atas pasir masih begitu nampak. Botol minum milik Violin yang terbengkalai, rupanya pihak forensik tidak membawa botol itu setelah mengadakan otopsi tempat kejadian.
Zelion memimpin langkah mereka, mereka terlihat berjalan di koridor, tidak saling berbincang, hanya tetap fokus berjalan. Tidak peduli banyak siswa lain yang menatap mereka, yah, itu wajar—biasanya mereka akan berjalan layaknya jagoan di koridor dengan lima anggota tapi setelah perginya dua anggota mereka seolah tikus kecil yang hanya menumpang lewat pada para pemangsa. Yiues menjegukkan kepalanya di jendela kayu, terlihat di dalam sana hanya ada anak perempuan dan laki-laki yang bercengkrama.
"Tempat duduk Frissca kosong." pungkas Yiues memberitahu kedua temannya.
Bianca lantas menautkan alisnya, ia kemudian memanggil salah satu anak yang sekelas dengan Frissca, "Apa gadis ****** itu pergi ke kantin? Atau sudah pulang lebih dulu?" tanya Bianca, matanya terlihat mengintimidasi adik kelasnya.
Lawan bicara Bianca menggeleng, "Frissca tidak masuk kelas hari ini, tanpa kabar apapun." jawabnya sedikit ketakutan.
Zelion mendengus, kemudian tangan kanannya masih sempat menjitak kepala anak itu, "Jangan menyebut namanya! Sudah, kau boleh kembali!" pungkas Zelion.
"Sipintar itu tidak masuk sekolah? Apa kalian mau datang ke rumahnya?" tawar Bianca pada dua temannya.
Yiues dan Zelion saling bersintatap, kemudian sontak keduanya menggeleng bersamaan, "Tidak, kurang kerjaan saja, masih ada besok—ayo pergi!" jawab sekaligus ajak Yiues.
...🗞️🗞️🗞️...
Saat ini, Franz justru memaksakan diri untuk tidak kembali ke rumah, banyak hal-hal negatif yang ia rasakan. Entah kenapa, tapi jika ia pulang sekarang maka mungkin saja tidak bisa diam atas apa yang dilakukan Aaric Gruber kepada Fernia, kendati apa yang dilakukan Aaric dan Fernia adalah perlakuan sama-sama mau, satu rasa dan sama-sama cinta. Hanya saja, seharusnya mereka tidak berlebihan seperti itu—lantas bagaimana ia bisa mengendalikan emosinya saat akan berhadapan dengan Frissca?
Diam-diam Frissca telah menjadi gadis SMP yang pandai memasang wajah yang baru—menyembunyikan hal yang begitu berat, selama beberapa hari ia melihat Frissca terkadang duduk menyendiri di dekat gudang penyimpanan makanan ternak, jika saja Franz tahu bahwa Frissca menyimpan rahasia berat, sedang stress karena hal itu dan jika saja Frissca lebih terbuka padanya mungkin saja ia akan memberikan bahunya untuk sandaran Frissca.
Sialnya! Frissca malah memilih diam, menyembunyikan akan hal itu, seolah ia adalah gadis SMP yang kuat. Padahal jika saja Frissca waras, yang ia simpan malah justru hal-hal yang tidak senonoh—ah! Kenapa Frissca pintar menyembunyikan. Ah! Franz bahkan harus menyalahkan dirinya sendiri, ia juga gagal menjadi seorang kakak yang baik untuk Frissca. Tapi apa yang harus ia lakukan setelah apa yang terjadi? Menganggap semuanya kesalahan dirinya? Yang pasti tidak ada orang yang bisa disalahkan.
Mata Franz beralih pada perapian yang hanya menyisakan bara, asap yang tipis naik menuju corong pembuangan. Hingga kemudian Franz justru langsung berdiri, menepuk celananya bagian belakang kemudian mendekat ke arah perapian, ia mengambil persediaan kayu di samping kanan—memasukkan dua tangkai kayu kering, hingga kembali berakhir duduk di depan perapian itu. Suhu tubuhnya kembali menghangat, suara pintu dibuka terdengar mengkriyet, Franz bergegas berdiri melihat siapa yang baru saja membuka pintu.
Franz terlambat untuk menyapa, Rasmus bertubuh gemuk memasang tampang yang masam, jidatnya terlihat berkerut. "Kau tidak bosan menghabiskan waktu di tempat ini tanpa keluarga, Franz?" tanya Rasmus, melangkah masuk yang diiringi oleh Franz dari belakang.
Franz langsung menggeleng, "Tidak, kendati sepi tapi aku cukup nyaman di tempat ini, Tn. Rasmus." jawab Franz, ikut berhenti melangkah dan duduk di kursi konsultasi.
Rasmus duduk di kursi yang berseberangan dengan Franz, "Ya, aku paham hal itu. Franz aku punya pertanyaan padamu," pungkas Rasmus sembari menangkap sedikit pupil mata Franz yang membesar.
"Ini menyangkut kematian Violin dan Avies, seharusnya kita tidak membahas ini tapi dua keluarga telah menuntut keadilan. Bianca, Zelion dan Yiues memberitahu kalau adik mu korban perundungan." untuk pertama Rasmus harus memberitahu perihal itu.
Franz menunduk, "Dia tidak pernah cerita soal dirinya padaku saat di sekolah, lalu? Apa selanjutnya?" desak Franz tidak lagi sabaran.
Rasmus menelan ludah, "Banyak pihak mengugat rasa curiga kepada Frissca, kita tahu pasti jika kertas yang digunakan Avies untuk menulis wasiat milik Frissca. Dan pada hari ini, ketiga teman Violin memberitahu jika bukan Avies yang di dorong dan dikotori jatah makannya, akan tetapi, Frissca." berhasil menjelaskan itu, sontak ada sedikit perasaan was-was pada diri Rasmus yang masih berkontak mata dengan Franz.
"Dengan artian jika Frissca yang membunuh Violin? Tidak mungkin. Dia itu pendiam, dia jujur dan yang kutahu dia bukan tipe manusia yang pendendam. Frissca tertutup Tn. Rasmus." Franz melakukan pembelaan.
"Pendiam dan jujur bukan berarti tidak punya sisi buruk Franz, aku tahu kau kakaknya dan kau pasti lebih tahu tentang dirinya. Hanya saja, Frissca terlibat dalam kasus ini," Rasmus menjeda, ia kembali menarik napas sebelum mengutarakan apa yang ia ketahui pada Franz.
"Aku percaya Frissca anak yang baik, aku tidak tahu harus mengatakannya atau tidak. Kau pasti ingat sendiri 'kan? Malam itu, setelah mendapatkan laporan pukul tiga dini hari, kita datang ke lokasi saat Avies masih dirawat—malam itu kita mengevakuasi jasad pak supir bus. Kau ingat Frissca masih menenteng tasnya? Aku sedikit melihat ujung ganggang pisau mencungkit." Franz justru terdiam sementara Rasmus jadi serba salah.
Franz mengembuskan napasnya yang kasar dan berat, "Aku juga melihat itu, aku juga melihat darah lebih banyak di lapak sepeda ketimbang di kursi belakang sepeda itu. Jadi, kau punya asumsi yang lebih bagus Tn. Rasmus?" tanya Franz, seharusnya dirinya yang mencari asumsi dan terkaan, tapi kali ini ia tidak bisa melakukan gagasan yang masuk akal.
"Mungkin kita bisa membenarkan ucapan tiga teman Violin, bisa saja Frissca membalik fakta ini—menurutku Frissca sengaja mengancam Avies untuk menulis wasiat dengan menceritakan kejadian itu, meminta Avies menulis dengan kalimat 'Aku' agar seseorang yang membaca wasiat seolah Avies lah yang membunuh Violin. Tidak menutup kemungkinan begitu." Rasmus kembali melihat ke arah Franz, ia ingin mendapatkan jawaban dari detektif muda itu.
"Pisau dalam ranselnya tidak bernoda, apa kita bisa mengasumsikan jika Frissca melakukan ancaman dengan membunuh Avies saat menulis wasiat itu? Begini saja, besok hari minggu. Aku akan dan Andreas akan datang ke gereja, ku usahakan bertemu Frissca dan membawanya kemari." gagasan itu datang secara tiba-tiba.
"Baiklah, sekarang kita punya hipotesis jika ada kemungkinan besar Frissca memutar jalan kejadian. Franz aku dengar dari Wilona pelaku pembunuhan paman mu sudah diketahui, apa kita akan melakukan penangkapan sesegera mungkin?" Franz terdiam sejenak, ia terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan Rasmus.
"Dia Aaric Gruber, rencananya kita akan melakukan penangkapan setelah pelaku pembunuhan Violin diketahui. Aku yakin, Dad belum mendengar berita jika pelaku pembunuhan keluarga Arsya Nur't sudah diketahui." dengan berat hati dan rasa malu yang tercampur dengan suaranya yang bergetar, Franz mengucapkan itu.
Rasmus terdiam merasa kurang nyaman, "Ini rumit Franz, aku mengerti perasaan mu. Aku harus pulang, ah iya dimana Andreas?" terlihat dari gaya bicara dan tingkah Rasmus, bahwa dirinya sedikit mengalihkan pembicaraan—ia juga menyesal menanyakan siapa pelakunya itu.
"Dia, kurasa sedang tidur, hati-hati di jalan Tn. Rasmus." Franz sedikit menarik sudut bibirnya, yang dibalas anggukan kepala oleh Rasmus.
––––––––