Jovanca dan Bima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sya_misa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkunjung Ke kantor Daddy
...***...
Jovanca melangkahkan kedua kakinya memasuki gedung pencakar langit yang mana di sana terdapat kantor milik Daddy nya.
Pandangan matanya menatap lurus kearah depan. Sebenarnya ia sangat malas pergi kekantor Daddynya, kalau saja Daddy nya tak terus memaksanya dan mengancamnya di kirim ke Belanda lagi, ia tak akan mau, di tambah lagi ia harus menemui laki-laki yang akan di jodohkan kepadanya. Oleh karena itu Ia harus membicarakan kepada Daddynya itu.
Pakaian yang ia kenakan saat ke kantor Daddy nya pun masih sama seperti yang ia kenakan di kampus.
Ia kebingungan mencari ruangan Daddy nya, ini adalah kali pertamanya kemari.
"Ugh...Dimana lagi ruangan Daddy! Kenapa juga kantor ini begitu besar?" ucapnya menggerutu kesal. Ia menoleh kekanan dan kekiri. Matanya tertuju pada meja sekretaris yang berada tak jauh darinya berdiri. Dengan segera ia melangkahkan kakinya menghampiri sekretaris itu, yang sibuk dengan komputer yang ada di hadapannya.
"Permisi!" sapa Jovanca dengan nada suara yang dingin.
Sekretaris itu mengalihkan pandangan dari komputer lalu Jovanca dengan mengeryit heran.
"Ada yang bisa saya bantu, Dek?" tanya sekretaris itu ramah.
Jovanca membulatkan mata kesal, apa yang di katakan sekretaris Daddynya tadi saat memanggilnya, Dek? Apakah ia terlihat seperti anak-anak? Bahkan tingginya dengan sekretaris itu tidak berbeda jauh, mungkin hanya selisih 4-5 cm saja. Lalu kenapa ia di panggil Dek. Menyebalkan!
"Saya bukan adik kamu! lagian saya tidak punya kakak yang menikah dengan kakak mu! Jadi jangan panggil saya adik, saya bukan anak kecil!" kata Jovanca ketus.
"Oh. Maafkan saya! lalu ada apa anda datang kekantor ini, apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan Daddy Bramasta Wijaya, bisakah kamu menunjukkan dimana ruangannya?"
"Apakah yang ada maksud adalah Ceo Bramasta wijaya?" tanya sekretaris itu meyakinkan.
Jovanca mengangguk.
"Apakah anda telah membuat janji dengannya?" tanya Sekretaris itu penuh selidik.
"Tinggal tunjukkam saja dimana ruangannya, apa susahnya sih!" kesal Jovanca, karena sekretaris Daddy nya ini terlalu banyak tanya.
"Bukan begitu maksud saya. Pak Bram itu orang yang sangat sibuk, maka oleh karena itu ia tidak suka di ganggu oleh hal-hal yang tidak penting," Jelasnya.
Saya tau itu. Batin Jovanca.
"Sudahlah saya tidak ingin membuang waktu dan bertengkar dengan anda, jadi katakan dimana ruangannya, sebelum saya kehabisan kesabaran!"
"Tapi Dek, eh maksud saya Nona. Jika belum membuat janji untuk bertemu dengannya, anda tidak di akan diperbolehkan masuk."
"Saya ini anaknya! apa saya masih tidak boleh masuk?" tanya Jovanca. Ia masih saja sabar menghadapi sekretaris Daddy nya itu.
"Ah benarkah Nona! Anda anaknya, kalau begitu silahkan masuk Nona, ruanganya dari sini lurus saja lalu belok kanan, disana ada tulisan di pintu ruanganya. Saya minta maaf Nona, atas kelancangan saya barusan, saya benar-benar tidak tau." katanya menyesal.
"Hei! kenapa kau memberitahunya? siapa tau dia berbohong! Jangan asal percaya dengan seseorang, apalagi seperti dia, gue yakin dia berbohong!" kata seseorang di belakang Jovanca.
Jovanca membalikkan tubuhnya, agar menghadap seseorang yang berada di belakangnya. Ia memperhatikan wanita itu, dandanan yang seksi dan mencolok dipadukan dengam make up yang sangat tebal, tatapannya sangat angkuh dan sombong. Ia memang menggunakan make up, tapi tak setebal wanita di hadapannya ini.
Jovanca berdecih di hadapan wanita itu.
"Kalau tidak percaya ya sudah!" kata Nabila acuh.
"Lebih baik lo pergi dari kantor ini, sebelum gw ngusir lo dengan cara kasar," ucap wanita di hadapannya angkuh. Jovanca memperhatikan serangam yang di kenakan wanita itu.
Ia tau jika seragam itu adalah seragam kariawan, karena banyak yang memakai seragam itu di sini.
"Gue gak akan pergi sebelum menemui Daddy!" kata Jovanca santai.
"Daddy lo itu gak ada disini, kalaupun ada, ia hanya seorang kariawan biasa, bukanlah Pak Bramasta Wijaya, Ceo disini." ucap kariawan itu merendahkan nya.
"Lama-lama mulut lo itu minta di sumpal dengan kaos kaki gue yang belum gue cuci sebulan ya!" kata Jovanca kelewat kesal.
"Jaga ucapan lo di depan gue!" Bentak karyawan itu padanya.
"Lo yang harusnya jaga ucapan dan tingkah laku di hadapan gue, kalau lo gak mau hidup lo sengsara!"
"Marni sudahlah, siapa tau di memang benar anaknya Pak bos, kamu bisa di pecat nantinya kalau dia tau kamu bentak anaknya." kata sekretaria itu kepada karyawan yang membentak Jovanca.
"Dia itu bohong Yuli, mana mungkin ia anak Pak bos, anak Pak bos itu di Belanda, jadi mana mungkin ia berada sisini!" kata marni.
"Tapi menurut berita yang gue denger, anak Pak bos itu sudah pulang ke Indonesia," kata Sekretaris itu yang Jovanca ketahui bernama Yuli.
"Lo jangan bodoh, kalaupun anak Pak bos itu beneran sudah pulang, bukan juga dia yang menjadi anaknya, sikap mereka berbeda sekali,"
"Tapi bagaimana jika memang anak Pak bos?" tanya Yuli.
Jovanca memutar bola matanya malas, ia malah menyaksikan pertengkaran antara sekretaris dan karyawan Daddy nya. Dengan langkah hati-hati ia meninggalkan dua wanita itu yang masih bertengkar menuju ruang Daddy nya.
"Daddy ayolah, aku tak mau bertemu dengannya, tolong jangan paksa aku!" kata Jovanca membujuk Daddy nya yang sama sekali tak merubah keputusanya.
"Daddy. Kumohon!"
"Daddy tambah ganteng deh, jangan jodohin Jovanca ya?"
"Jovsnca sayang Daddy,"
" Daddy tanpak tanpan jika menururi permintaanku,"
"Ayolah Dad!"
Bram menghela nafas mendengar Jovanca yang terus saja merengek padanya, seperti anak kecil yang meminta permennya. Ia memijat sendiri pelipisnya setelah selesai mengerjakkan tugasnya, dan menatap anaknya yang sendari tadi merengek padanya.
Ia mendekati anaknya dan memegang kedua bahunya. Menatap manik matanya tajam.
"Daddy tak memaksamu menikah dengannya! Dad hanya ingin kamu menemuinya, urusan kamu mau menikah dengannya atau tidak, itu menjadi pilihanmu, karena menurut Daddy kebahagiaan kamu lebih penting dari apapun dalam hidup Dad!"
Kedua mata Jovanca berkaca-kaca ketika mendengar penututuran Dad nya, hati dan perasaannya tersanjung, tidak menyangka jika hal terpenting dalam hidup Dad nya adalah dirinya.
Dengan sekejap Jovanca sudah berada dalam pelukan Daddy nya, pelukan hangat yang selalu diberikan untuk Jovanca. Jovanca menenggelamkan kepalanya di dada bidang Daddynya. Pelukan ini. Pelukan yang ia dapatkan terakhir kali ketika masih Tk. Kini ia mendapatkannya kembali.
Bram melepaskan pelukannya pada putrinya. Ia menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah! Kamh gak perlu menangis, kamu itu gadis kuat dan hebat, mana Jovanca yang selalu menindas orang, Daddy lebih suka kamu seperti itu daripada menjadi gadis yang cengeng dan lemah seperti ini." ucap Bram dengan menyapu air mata Jovanca yang telah menetes di kedua pipi Chubbynya.
"Dad ini sebenarnya memujaku atau menjatuhkanku? Emang aku seperti perempuan penindas apa!" kesalnya.
"Nah kamu tak menyadarinya Jovanca, ya Tuhan. Ampunilah dosa putriku yang manja ini," ucap Bram dramatis.
"Daddy kok nyebelinnya kumat sih, baru juga adegan mengharukan, tapi sekarang sudah mau membuatku marah lagi. Sepertinya Daddy ingin membuatku tua sebelum waktunya?"
Bram menggeleng pelan. Tidak setuju dengan ucapan Jovanca. "Itukan memang sifatmu, selalu marah-marah!"
"Ish...." dengus Jovanca kesal lalu mengembungkan pipinya.
"Kamu cepat pergilah ke restoran Jepang, dia sudah menunggumu disana, Namanya Nicolas, cepatlah pergi,"
"Daddy mengusirku?" tanya Jovanca tidak memyangka.
"Ia Daddy mengusirmu, sekarang pergilah!"
"Iya-iya. Bawel sekali Dad ini!" ucap Jovanca meninggalkan ruangan Bram.
...°°°°°°°°°°...
Jovanca menghampiri meja resepsionis restoran, menanyakan dimana tempat duduk orang yang menunggunya.
"Permisi, Mbak," sapa Jovanca ramah.
"Iya Mbak, ada yang bisa saya bantu?"
Tanya resepsionis itu ramah.
"Saya ingin menanyakan meja atas nama Bapak Nocolas, dimana ya?"
"Oh meja Pak Nicolas berada di meja No. 05. Itu dia orangnya Mbk," kata resepsionis itu menunjuk pria yang memakai Jas berwarna biru yang membelakangi mereka.
"Trimakasih Mbk, permisi," Pamit Jovanca ramah.
"Sama-sama," balasnya dengan tersenyum.
Jovanca berjalan menghampiri meja yang di tunjuk oleh resepsionis tadi.
Jika dilihat dari belakang sepertinya lelaki itu sangat tanpan dan gagah, tapi sama sekali bukan kriterianya. Menurutnya kriterianya berada semua pada diri Capten Pilot milik nya itu.
"Pemisi, apakah benar anda Bapak Nicolas?" tanya Jovanca. Ia takut salah orang.
Orang itu menolehkan wajahnya ke arahnya yang berada tepat di depan pria itu.
"Iya benar. Jovanca ya? ayo silahkan duduk," katanya memepersilahkan Jovanca untuk duduk. Dan Jovanca menurutinya.
Jovanca menatap lelaki yang ada di depannya ini, benar dugaannya, lelaki ini sangat tanpan dan berwibawa, tapi dasarnya sudah kepincut dengan Capten Pitot yang tak jelas asal usulnya. Ia bersikap biasa saja kepada lelaki di depannya ini, bahkan sama sekali ia tak tertarik.
"Sudah memandangi sayanya!" kata lelaki yang bernamana Nicolas itu padanya.
Nabila terserentak kaget atas ucapan lelaki itu.
"Siapa juga yang memandangimu? Pd sekali," Jawabnya ketus.
"Oke baiklah! Kau tanpak cantik," puji Nicolas.
"Gw udah tau!" Jawabnya ketus lagi. "Ada apa lo minta gw kesini, cepat katakan, gw gak biasa buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak penting!" lanjutnya.
Lelaki di depannya mengeryitkan dahinya heran.
"Biasanya, wanita yang selalu saya ajak bertemu akan bersikap manis dan sopan, bahkan ia suka berlama-lama didekat saya, samapi akhirnya saya yang mengusirnya pulang!"
Nabila tersenyum sinis atas perkataan lelaki di depannya. Sombong sekali menurutnya.
"Gw bukan mereka yang haus akan uang dan lelaki, lagian gw bukan mau sembarangan memilih lelaki. Orang seperti lo, sama sekali tidak termaksud dalam kriteria lelaki yang gw mau,"
"Benarkah! Saya sangat terkejut sekali Nona Jovanca Rosalianda."
Ucapnya dengan menunjukkam wajah pura-pura terkejutnya.
"Sudahlah! jagan banyak basa-basi, apa mu?" tanya Jovanca. kesal.
"Menjadi kekasihku dan menikahlah denganku," ucapnya santai.
Jovanca membelalakan matanya tak percaya, mululutnya mengaga sampai membentuk hutruf "O" dengan sempurna.
"APAAA," teriak Jovanca memekakan siapa saja yang mendengarnya. Ia mengedarkan pandanganya ke penjuru restoran, semua orang memandangnya. Tapi bukannya merasa malu, ia malah menghiraukan pandangan pengunjung restoran.
"Teriakanmu itu memekakan telingaku ini, sama seperti petasan!" dengus lelaki itu kesal.
"Apa lo ini gila, gue nikah sama lo, cih. Berhayal saja sana lo, gak sudi gue nikah sama lo!" kata Jovanca mensedekapkan kedua tangannya di dada.
"Kenapa menolak, aku tanpan, mapan, punya rumah besar, perusahaan, mobil. Kebutuhanmu akan terpenuhi,"
Nabila ia tertawa meremehkan.
"Lo kira gw gak punya semua itu, bahkan membuat lo gak berdaya pun gw sanggup. Tidak usah sombong di depan gw!"
"Kau akan menyesal menolakku!" geram Nicolas.
"Heh, gw kasih tau ya. Gw gak bakal nyesel nolak lo, karena menurut gw tindakan gw itu bener. Jadi tidak usah terlalau berharap memilikiku." Nabila beranjak dari duduknya..
"Dan jika kau mencari seorang istri, maka cari saja di Toko Pedia. Disana banyak sekali bermacam jenis barang yang lo inginkan, permirsi!" lanjutnya sebelum meninggalkan lelaki itu yang memandangnya sangat marah.
"Lihat saja kau! Kau akan merasakan malu yang ku rasakan!" geramnya.
"Tapi aku memang sangat tertarik dengannya, ia sangat berani melawan tanpa rasa takut," lanjutnya.
...*******...
seru dan bagus ceritanya
Jangan lupa mampir di ceritaku juga ya kak
You're my first love