"Zephyria" adalah negeri yang menyimpan banyak rahasia sehingga menjadi perebutan orang-orang yang haus dengan kekuasaan. Hingga datang para pemuda yang berasal dari dunia luar yang akan membantu melindungi negeri tersebut. Gimana kisah petualangannya.. Yukk simak terus..🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nay Lissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusupan
Paginya, mereka berkumpul di depan pintu universitas, wajah mereka serius, berfokus pada misi mereka. Mereka siap untuk menyusup ke dalam dunia balap motor, berharap untuk menemukan petunjuk tentang Adit.
"Dapat informasi dari mana kita mulai?" tanya Rafi, matanya memandang Farhan dan Satria.
Farhan melirik Satria, "Ada tempat yang biasa jadi lokasi balap motor liar, mungkin kita bisa mulai dari sana."
Satria mengangguk, "Aku tahu tempat itu, ikuti aku."
Perjalanan mereka dimulai dengan penuh harapan. Setiap petunjuk penting, setiap wajah yang mungkin dikenal, dan setiap kata yang mungkin menjadi petunjuk. Mereka harus berhati-hati, tak ingin menimbulkan kecurigaan dan menciptakan masalah baru.
Mereka berhenti di sebuah gudang tua yang tampaknya ditinggalkan. "Inilah tempatnya," kata Satria, menunjuk ke gudang. "Biasanya, balap liar diadakan di sini."
Farhan memandang sekeliling, wajahnya tampak tegang. "Kita harus berhati-hati, tak boleh ada yang tahu kita mencari Adit."
Aisyah menatap Farhan dan Satria dengan khawatir. "Kalian berdua harus berhati-hati. Jangan sampai terluka."
Farhan dan Satria mengangguk, menatap Aisyah dengan tegas. "Jangan khawatir, Aisyah. Kami akan baik-baik saja."
Saat mereka mulai mencari petunjuk, Rafi tiba-tiba memegang lengan Farhan, wajahnya tampak serius. "Far, lihat itu." Ia menunjuk ke sekelompok orang yang tampak sedang berbicara.
Mata Farhan membelalak. Di tengah kelompok itu, tampak seorang pemuda yang dikenalnya. "Itu... Adit!"
Mereka bersembunyi di balik tiang gudang, mengamati dari jauh. Adit tampak berbeda, wajahnya tampak lebih tua, dan tubuhnya tampak lebih kuat. Namun, yang paling membuat mereka terkejut adalah tatapan kosong di matanya. Tatapan yang sama sekali tidak mereka kenal.
"Satria, apa yang harus kita lakukan?" tanya Farhan, matanya tak berkedip menatap Adit.
Satria menghela nafas, "Kita harus berbicara dengannya, tapi kita juga harus berhati-hati. Kita tidak tahu apa yang telah dia alami."
Mereka berencana untuk mendekati Adit saat kelompoknya pergi, tetapi rencana itu harus ditunda. Seorang pria besar mendekati mereka, tatapannya curiga. "Ada apa kalian di sini?" tanyanya dengan suara yang berat dan mengancam.
Farhan dan Satria saling berpandangan, mencoba mencari cara untuk meyakinkan pria itu. Tapi sebelum mereka bisa bicara, Aisyah melangkah maju, wajahnya penuh keberanian.
"Kami mencari teman kami, Adit," jawab Aisyah, matanya menatap pria itu dengan tegas. "Kami hanya ingin berbicara dengannya."
Pria itu tampak terkejut sejenak, tetapi kemudian tersenyum sinis. "Jadi kalian teman Adit, ya? Baiklah, ikut aku."
Mereka mengikuti pria besar itu melintasi lorong-lorong gudang yang gelap dan berbau oli mesin. Cahaya matahari yang menembus celah-celah atap gudang memberi sedikit penerangan dan membuat bayangan mereka tampak memanjang di lantai beton.
"Ingat, jangan buat masalah," ucap pria besar itu tanpa menoleh, suaranya bergema di lorong gudang. Farhan dan Satria mengangguk, wajah mereka tetap serius.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan yang tampak seperti kantor. Di tengah ruangan ada meja tua dengan kursi logam, dan di belakang meja itu duduk seorang pria berbadan tegap. Pria itu tampak tua, dengan jenggot tebal dan mata yang tajam menatap mereka.
"Jadi, kalian mencari Adit?" tanya pria itu, suaranya keras dan jelas. Farhan dan Satria mengangguk. "Adit adalah bagian dari kami sekarang. Apa yang kalian inginkan darinya?"
Aisyah melangkah maju, matanya menatap pria itu dengan tegas. "Kami hanya ingin berbicara dengannya. Adit adalah teman kami, kami khawatir padanya."
Pria itu tampak terkejut, dia menatap Aisyah dengan ekspresi yang sulit ditafsirkan. Setelah beberapa detik, dia tersenyum. "Baiklah, kalian bisa bicara dengannya. Tapi ingat, jangan coba-coba membuat masalah."
Mereka mengangguk, menghela nafas lega. Tapi sebelum mereka bisa bicara lebih jauh, pintu ruangan itu terbuka dan Adit masuk. Dia tampak terkejut melihat mereka, matanya membelalak.
"Farhan, Satria, Aisyah, Rafi... apa kalian... apa kalian mencariku?" tanya Adit, tampak bingung.
"Adit, kami khawatir padamu," jawab Farhan, matanya menatap Adit dengan penuh kekhawatiran. "Kamu menghilang begitu saja, kami tidak tahu apa yang terjadi padamu."
Adit menunduk, tampak ragu. Dia kemudian menatap mereka satu per satu, matanya tampak kosong. "Aku... aku tidak tahu harus bagaimana," ucapnya pelan, suaranya bergetar. "Aku... aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."
Farhan dan Satria saling berpandangan, mereka bisa merasakan betapa bingung dan ketakutan Adit. Mereka tahu, mereka harus membantu Adit, apa pun yang terjadi.
"Adit, apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu bergabung dengan geng motor ini?" tanya Satria, matanya menatap Adit dengan tegas.
Adit tampak ragu, dia menatap mereka dan kemudian menatap pria berjenggot itu. "Aku... aku merasa terjebak," jawab Adit, suaranya bergetar. "Aku merasa tak ada jalan keluar."
Mereka semua tampak terkejut. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Adit akan merasa seperti ini. Mereka tahu, mereka harus membantu Adit, apa pun yang terjadi.
"Adit, kami di sini untukmu," kata Aisyah, matanya memandang Adit dengan penuh harap. "Kami akan membantumu, apa pun yang terjadi."
Setelah percakapan yang emosional itu, Satria menarik Adit ke pelukannya, menepuk punggung adiknya dengan lembut. "Aku minta maaf, Adit. Aku seharusnya lebih melindungimu," bisik Satria, suaranya bergetar.
Adit menggeleng, menatap Satria dengan mata yang berbinar. "Ini bukan salahmu, kak. Ini adalah pilihanku, dan aku harus bertanggung jawab atasnya."
Rafi berdiri di samping mereka, menatap dua saudara itu dengan rasa hormat. "Kalian berdua luar biasa," ujarnya, suaranya penuh dengan kekaguman.
Aisyah menatap mereka berdua, air mata menggenang di matanya. Dia berusaha menahan tangis, tetapi sulit untuk tidak terharu melihat dua saudara itu bersatu kembali dalam suka dan duka.
Farhan, menatap Adit dengan pandangan tegas. "Kamu tidak sendirian dalam ini."
Adit mengangguk, matanya berkilau dengan keberanian yang baru. "Aku siap," ujarnya, suaranya mantap. "Aku siap untuk menghadapi apa pun."
Mereka berempat, Farhan, Satria, Aisyah, dan Rafi, berdiri di sana, menghadap Adit, menunjukkan dukungan mereka. Mereka siap untuk membantu Adit, siap untuk melawan dunia jika itu yang dibutuhkan.
Namun, mereka tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Mereka harus merencanakan setiap langkah mereka dengan hati-hati, dan mereka harus selalu siap untuk segala kemungkinan.
"Pertama, kita harus mencari tahu siapa yang membuatmu terjebak dalam ini, Adit," kata Farhan, matanya fokus pada Adit. "Kita perlu tahu siapa musuh kita."
Adit mengangguk, dia tampak memahami pentingnya informasi ini. "Aku... aku akan mencoba mengingat sebanyak mungkin," ujarnya, tampak berusaha mengingat detail penting.
Sementara itu, Satria menatap sekeliling mereka, matanya memindai setiap wajah yang tampak asing. "Kita juga harus berhati-hati," katanya, suaranya serius. "Kita tidak tahu siapa yang bisa dipercaya."
Aisyah dan Rafi mengangguk, mereka berdua tampak paham akan risiko yang mereka hadapi. "Kita akan melakukan yang terbaik," kata Aisyah, wajahnya tampak teguh.
---
Mereka menghabiskan sebagian besar hari itu di gudang, berbicara dengan Adit dan mencoba memahami situasi yang dia hadapi. Adit memberi mereka sejumput petunjuk tentang bagaimana dia terjebak dalam dunia balap motor, dan tentang orang-orang yang tampaknya memegang kendali.
"Ada seorang pria, mereka menyebutnya 'Raja'," kata Adit, matanya tampak jauh. "Dia yang membuatku terjebak di sini."
"Saya belum pernah melihat wajahnya," tambah Adit. "Tapi suaranya... suaranya selalu ada di telepon. Dia yang memberi perintah."
Informasi ini tampaknya sangat penting. Farhan, Satria, Aisyah, dan Rafi saling berpandangan, mereka tahu mereka harus bergerak hati-hati. Mereka memutuskan untuk tetap di gudang, mencoba untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
"Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang 'Raja' ini," kata Farhan, matanya penuh determinasi. "Dan kita harus menemukan cara untuk membantu Adit keluar dari sini."
Agar tidak ketahuan, mereka bersembunyi di balik tumpukan barang dan mesin tua. Mereka tetap berjaga, takut akan kemungkinan bahaya. Adit, meski tampaknya nyaman dalam lingkungan tersebut, tapi wajahnya cemas. Dia berulang kali melihat ke arah pintu gudang, seolah menantikan sesuatu.
Malam berlalu tanpa insiden, namun pagi membawa kejutan. Seorang pria berjalan masuk ke gudang, tatapannya dingin dan menentu. Adit tampak terkejut melihatnya, dan Farhan bisa merasakan getaran ketakutan dari temannya.
"Itu dia... 'Raja'," bisik Adit, suaranya hampir tak terdengar. Pria itu tampak berbahaya, dengan badan besar dan tatapan tajam yang tampaknya bisa menembus jiwa.
Farhan menatap pria itu, merasakan dingin merayap di tulang belakangnya. Dia tahu, ini adalah saat mereka telah menunggu. Ini adalah saat mereka harus berhadapan dengan 'Raja'.
"Kita harus berbicara dengannya," kata Farhan, matanya tidak pernah beranjak dari 'Raja'. "Kita harus mengetahui apa yang dia inginkan dari Adit."
Mereka berempat berdiri, menatap 'Raja' dengan penuh determinasi. Mereka tahu ini mungkin berbahaya, tapi mereka juga tahu ini adalah satu-satunya cara untuk membantu Adit.
Mereka berjalan mendekati 'Raja', hati mereka berdebar-debar. 'Raja' menoleh, matanya menyapu mereka. "Apa yang kalian inginkan?" tanyanya, suaranya berat dan mengintimidasi.
Farhan mengambil nafas dalam-dalam, lalu berbicara. "Kami datang untuk Adit," katanya, suaranya tetap tenang meski dia merasa takut. "Kami ingin dia keluar dari dunia ini."
'Raja' tampak terkejut, kemudian tertawa. Tawanya keras dan menakutkan, menggema di sepanjang gudang. "Dan mengapa aku harus membiarkan itu terjadi?" tanyanya, tatapannya menantang.
"Karena kita tidak akan berhenti sampai kami membawanya pulang," jawab Farhan, matanya menatap 'Raja' dengan tegas. "Adit adalah keluarga kami. Dan kami akan melakukan apa saja untuk melindunginya."
Mereka berdiri di sana, di depan 'Raja', penuh determinasi dan keberanian. Mereka tahu perjuangan mereka baru saja dimulai, tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak akan menyerah.