Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Putri bungsu
Pada malam harinya suasana istana cukup tenang. Pangeran Mahkota sedang menulis di ruangannya, pangeran kedua sedang menatap berbagai pedang di gudang senjata, melihat satu per satu dan memindainya, sementara Tuan Putri Bungsu berdiri di dekat kolam dan ikan-ikan koi memunculkan mulut mereka di permukaan air dengan tatapan memelas. Tuan putri hanya sedikit menatap ke bawah tanpa ekspresi kasihan.
Para ikan itu saling tumpang tindih dan terus melakukannya. Mereka tidak akan pergi sebelum mendapatkan makanannya. Dan ini sudah malam, perut mereka harus diisi secepat mungkin.
Tuan putri hanya menatapnya.
Sementara ikan-ikan itu terus mengepakkan sirip mereka dan menampilkan sepasang mata yang penuh kelembutan.
Sejenak tuan putri mengangkat tangan dari pergelangannya. Segera ikan-ikan itu bersorak gembira. Namun ketika ia melambaikan tangannya tidak ada sesuatu yang terlempar, tapi ikan-ikan itu sudah berebutan.
Dua sudut bibir tuan putri sedikit tertarik dan keceriaan muncul di wajahnya. Kemudian memasukkan kembali tangannya.
Para ikan tidak mendapatkan makanannya. Ekspresinya dipenuhi kekecewaan lalu kembali berkumpul di dekat tuan putri.
“Kalian terlalu dimanjakan,” kata tuan putri tenang.
Tidak seorang pun di sekitarnya sekarang kecuali lampion yang bergerak pelan di permukaan kolam, juga katak kecil yang melompat-lompat.
Ia tidak akan dianggap gila karena berbicara dengan para ikan itu dan mereka tidak akan tahu jika tuan putri sedang berbicara dengan mereka.
Tuan putri ingat kejadian siang tadi dan bagaimana wanita bernama Meng Meng itu berbicara. Ucapannya tidak bisa diremehkan dan juga pamannya pasti seorang ahli bela diri yang kuat.
Menurutnya ayah sudah salah berbicara dengannya. Tapi itu tidak ada hubungannya dengannya dan ia berpikir pamannya tidak pernah salah memilih seorang wanita.
Sebelumnya ia tahu wanita yang dibunuh oleh keluarga kekaisaran adalah seorang yang pernah terjun dalam perang perbatasan di utara dan memiliki kemampuan strategi yang cukup baik, sekarang sepertinya wanita bernama Meng Meng itu juga tidak kalah hebatnya.
Dua sudut bibir tuan putri tertarik membentuk senyuman. “Menarik.”
Kemudian ia menghela napas sembari berbalik.
“Pada akhirnya aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.”
Menaiki undakan tiga langkah, akhirnya ia mengambil guci makanan ikan dan kembali. Menggenggamnya, tangannya terasa sedikit hangat. Ia langsung menebarnya dan para ikan saling tumpang tindih memperebutkan makanan itu.
Tuan putri menatapnya. “Sepertinya banyak rakyat Kekaisaran Zhou tidak kelaparan ekstrem.”
Tuan putri ingat tentang peperangan yang pernah terjadi di masa lalu dan berpikir benar adanya jika rakyat tidak akan pernah kelaparan ekstrem. Dan ada banyak ladang dan hutan untuk mereka garap, tapi kehidupannya hanya berhenti di sana. Wanita bernama Meng Meng itu ingin melangkah lebih maju lagi. Ini sangat baik untuk kemajuan, akan tetapi kemajuan tanpa batas juga berbahaya. Ayahnya sepertinya memahami hewan peliharaan seperti ini dengan baik. Namun bukan berarti ia akan membuat kekaisarannya tetap seperti ini.
Menurut perkiraannya, ayahnya pasti akan melanjutkan kemajuan lalu invasi pasti tidak akan bisa dihindarkan. Tapi itu perlu waktu dan sudah banyak sarjana yang telah dikirim ke barat untuk belajar dan belum kembali. Tuan putri menunggu bagaimana kekaisaran ini di tahun yang akan datang dan apakah bisa bertahan lama atau dihancurkan waktu.
Ia menatap para ikan dan mereka kembali berbaris, menunggu makanan dilemparkan lagi. Kemudian mendengar desiran angin, ia berbalik.
Seorang gadis remaja sudah membungkuk memberi hormat kepadanya. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya.
“Yang Mulia...”
“Apa kamu sudah mencarinya?”
Gadis itu mengangguk lalu menjawab, “Yang Mulia, wanita bernama Meng Meng itu tidak punya identitas apa pun. Hamba sudah mencarinya. Kemungkinan besar dia hanya penduduk biasa.”
“Penduduk biasa?”
Tuan putri sedikit mengerutkan kening, memicingkan matanya lalu tiba-tiba ekspresinya berubah tenang dan sedikit senyum muncul di bibirnya.
“Sepertinya memang benar seperti itu.”
Tuan putri berbalik menatap ikan-ikan.
Kini jumlah ikan-ikan itu semakin sedikit.
Gadis di belakangnya membungkuk memberi hormat dan berbalik, hendak pergi, tapi tuan putri berkata, “Semudah itu?”
Gadis itu berhenti dan berbalik. “Yang Mulia, apa maksud Anda?”
“Bukankah kamu membawa pisau di lengan bajumu? Mengapa kamu belum melakukannya?”
Gadis itu memiliki tatapan yang tajam dan terlihat tidak suka.
“Apa kamu menjadi anak durhaka dengan tidak membalaskan dendam orang tuamu?”
Tuan putri tidak pernah berbalik ketika berbicara; ia terus menatap mulut-mulut ikan yang dengan lahap memakan makanan yang ditebarnya.
Ia melanjutkan, “Aku dengar kedua orang tuamu berkhianat dan mendapatkan hukuman gantung di gerbang desa. Apa itu benar?”
Gadis itu tidak pernah suka dan kerutan-kerutan kebencian memenuhi wajahnya. Ia lalu membungkuk. “Itu benar. Lalu apa saya bisa membunuh Anda dalam sarang Anda sendiri?”
“Aku pernah dengar ketakutan muncul karena ikatan dan kamu sepertinya punya banyak ikatan daripada keluargamu sendiri. Sayang sekali jika ayah dan ibumu tahu kamu memilih hidup seperti ini daripada berusaha membalas dendam.”
Gadis itu merenung sebentar dan jujur saja baginya setelah berpikir apa yang dikatakan tuan putri ada benarnya.
Tuan putri berkata, “Pergilah, jika kamu tidak mau.”
Gadis itu ragu-ragu dan tetap di sana. Namun tidak lama ia menarik belati dari lengan bajunya. Berjalan pelan seraya berkata, “Aku tidak tahu apa yang Anda inginkan, tapi aku harus mencobanya sendiri.”
Ia menekan kaki kanannya, mempersiapkan belati, segera melesat dengan kepercayaan diri yang kuat.
Target utamanya adalah leher, ia harus cepat melakukannya dan jika itu meleset ia harus cepat pergi dari sini. Hanya ada satu kali percobaan dan jika gagal, maka nyawanya akan terancam.
Namun sebelum gadis itu mencapai tuan putri, ekspresinya tiba-tiba dipenuhi keterkejutan dan membeku lalu tiba-tiba ambruk. Ia bahkan menjatuhkan pisaunya, memegang lehernya. Ingin berkata tapi tidak bisa, seolah-olah ada seseorang yang mencekiknya saat ini. Lalu pada akhirnya ia menutup matanya dan tidak sadarkan diri.
Tuan putri berbalik menatapnya, menghela napas lalu berkata, “Benar-benar bodoh.”