Hai Nurul sahabatku, kau memiliki cahaya hati yang tulus dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.
Aku mohon padamu untuk menerima satu permintaan terakhirku, menikahlah kau dengan suamiku dan jaga anakku.
Aku beri dia nama Nurul Aini nama yang sama denganmu Nurul agar ia memiliki hati sepertimu dan Aini yang berarti mata agar ia bisa melihat cinta yang sesungguhnya agar tidak jatuh dalam jurang penyesalan sepertiku.
Nurul sahabatku, sungguh maafkan aku yang sudah merebut cintamu, aku mohon maafkan kesalahan ku. Bangunlah lagi cintamu yang sudah kau pendam itu, kini aku serahkan ia kepadamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Try Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Bersama Aldo
Setelah resmi jadian, Tuti dan Aldo sering bertemu. Selain Aldo yang sering mengunjungi Tuti di tempat kerja, ia juga sering mengajak Tuti jalan-jalan. Malam ini Aldo mengajak Tuti berkencan disebuah tempat yang indah.
Sesaat sebelum jam kerja berakhir, terparkir sebuah mobil mewah dengan merk FERRARI. Seorang pria keluar dari mobil itu dengan mengenakan pakaian rapi, datang menjemput Tuti.
"Al, kau ngapain kesini? aku masih kerja" mata Tuti melotot saat mengetahui Aldo sudah berada di restoran.
Aldo tak langsung menjawab pertanyaan itu, ia meraih tangan Tuti dan menciumnya.
"Bersiaplah, aku akan menunggu didepan"
"Kita mau kemana?"
"Kita akan berkencan di tempat yang indah"
Orang-orang yang melihat mereka berdua saling berbisik-bisik, betapa tidak cemburu mereka melihat sepasang kekasih yang mesra sering berjumpa, meski sang wanita bukan seorang yang kaya namun, tetap diperlakukan bak seorang putri raja.
"Kau tidak keberatan jika menungguku lama?"
"Aku akan menunggumu" Jawab Aldo dengan tenang sambil tersenyum manis.
Tik tok tik tok
Suara jam dinding itu berbunyi, waktu menunjukkan pukul 9 malam. Sudah waktunya beristirahat, Tuti segera bersiap-siap karena tak ingin membuat Aldo menunggu lama.
Tuti mengenakan baju kemeja polos berwarna hitam dipasangkan dengan celana jeans dan menggunakan jilbab yang dililitkan dileher.
Ia berjalan menemui Aldo
"Aldo, aku sudah siap" Tuti sedikit merapikan jilbabnya.
"Kau sangat cantik" kata Aldo sambil mencubit pipi Tuti.
Mereka berdua masuk kedalam mobil dan pergi ke sebuah tempat yang disebut bukit bintang. Itu tempat wisata yang memang dibuka pada malam hari, karena dari puncak ketinggian bukit bintang, mereka bisa melihat jelas gemerlap lampu kota menghiasi malam.
Saat sampai Aldo langsung membukakan pintu mobil untuk Tuti, mengantarkannya ke tempat yang sudah ia pesan berada di paling atas bukit, disana mereka bisa melihat pemandangannya paling indah tanpa ada yang menghalangi.
"Waaw... aku belum pernah ke tempat seperti ini" Tuti menyisir seluruh pemandangan disekitarnya, indah sekali. Lampu-lampu itu bagaikan bintang yang bertebaran di atas kota. Tak ada pohon sama sekali yang menghalangi matanya untuk melihat keindahan dunia.
"Kau sengaja mengajakku kesini untuk berkencan, ini tempat yang luar biasa, terimakasih Aldo, terimakasih" Tuti secara tidak sadar memeluk erat tubuh Aldo.
Aldo kemudian membalas pelukan itu, tangan kirinya memegang pinggang Tuti dan tangan kanannya mengelus lembut kepala Tuti. Menyadari bahwa dirinya secara reflek memeluk Aldo, Tuti langsung melepaskan pelukan itu.
"Ehm... ma.. maaf.. aku gak bermaksud meluk kamu" Tuti mengatakan dengan terbata-bata.
"Tidak masalah, aku menyukainya" ucap Aldo sambil menggandeng tangan Tuti.
Mereka kemudian duduk dan memesan minuman. Di meja yang bersebelahan dengan mereka terlihat seorang laki-laki yang berusia sekitar 16 tahun melihat mereka dengan mata penuh kebencian. Tuti yang menyadari itu, menatap laki-laki itu dengan senyuman namun, apa balasan dari laki-laki itu? ia memicingkan bibirnya dan membuang muka.
"Hei Al, apa kau mengenal laki-laki yang ada di meja sana?"
"Oh itu adik laki-laki ku namanya Dion, kenapa?"
"Tidak, aku hanya merasa diawasi oleh__"
"Dia tak menyukaiku, dan semua yang aku sukai. Tuti, aku menyukaimu" pungkas Aldo.
Tuti tertegun, pantas saja Dion melihatnya seperti itu ternyata alasannya adalah Ia tak menyukai Aldo, tapi bagaimana bisa hubungan antar kakak beradik tidak baik.
"Al.. sebenarnya banyak yang ingin aku bicarakan padamu"
"Kau boleh bilang apa saja, silahkan"
"Bolehkah aku mengenal lebih banyak tentang keluargamu, karena sampai saat ini kau belum pernah mengenalkanku pada orang tuamu"
Belum sempat Aldo menjawab pertanyaan itu, seorang pelayan mendatangani mereka dengan membawa minuman dan secarik kertas. Aldo melirik sinis pelayanan itu dan mengetuk meja beberapa kali, Tuti tak menyadari apapun bahwa saat itu Aldo memberi perintah kode kepada pelayan itu agar cepat pergi.
Pelayan yang barusan datang adalah salah satu rekan kerja Aldo, ia menyamar sebagai seorang pelayan dan memberikan peringatan kode Morse melalui kertas, didalamnya tertulis
...-•• •- -• --• • •-•...
...•-•• •- •-• ••...
Tulisan itu teramat kecil dan hampir tak bisa dilihat, Tuti sempat melihatnya namun tidak mengerti bahwa itu peringatan.
...DANGER...
...LARI...
Itulah yang diketahui Aldo, setelah membaca kode, matanya tak bisa diam. Ia melihat seluruh penjuru bukit, melihat barang kali ada orang yang mencurigakan.
"Al, kau kenapa?" tanya Tuti dengan penasaran.
"Ahh tidak, tadi kau bilang ingin mengenal keluargaku kan!, sekarang aku akan mengajakmu ke rumah"
"Ha.. sekarang?"
Aldo berdiri dari tempat duduknya, menggenggam tangan mungil Tuti dan buru-buru pergi.
"Al, tunggu dulu. Kenapa harus buru-buru?"
"Maaf Tuti, tapi kita harus segera pergi dari tempat itu. Tuti...."
Tangan Aldo memegang kedua pipi Tuti sembari menatapnya dengan lekat.
"Aku sangat mencintaimu, maukah kau percaya denganku"
Tuti manggut-manggut
"Hm.. aku juga mencintaimu Al, aku akan selalu percaya padamu"
Mereka menuruni bukit dengan tergesa-gesa, saat hampir sampai didekat parkir mobil, terdengar suara daun semak-semak bergesekan.
"Tuti, kau percaya padaku bukan! sekarang tutuplah telingamu sampai kau tak bisa mendengar suara apapun"
Tuti menuruti permintaan kekasihnya. Dengan senyumnya Aldo memeluk dan membelai lembut kepala Tuti lalu tangan kirinya menutup kedua matanya. Tangan kanannya meraih pistol yang ia sembunyikan dibalik jas hitamnya. Dengan tenang ia menarik pelatuk dan "Whusssh whussh" 2 peluru itu mendarat didada seorang yang bersembunyi dibalik semak-semak.
Pistol tanpa suara itu telah membunuh seorang pengintai yang berusaha membunuh Aldo.
"Apa kau mendengar sesuatu?" tanya Aldo sambil menyembunyikan pistol.
"Tidak" jawab Tuti dengan lugunya.
"Kau sangat manis, sekarang ayo kita pulang, kau bisa beristirahat disana"
Vrooommm suara mobil pergi meninggalkan tempat itu, mereka menuju rumah Aldo yang jauh berada ditengah hutan.
"Al, kenapa rumahmu berada ditengah hutan kayak gini"
Aldo hanya tersenyum
"Masuklah ke dalam, kau bisa membersihkan diri dan istirahat disini" Aldo mengalihkan pembicaraan mereka.
Udah itu aja, thanks 🙇🏻♂️
Namanya jg Tuti wkwk
bu asih jangan ketus" ya buk😌
kok mataku jadi becek....
hhhuuuuu sedih tauuuu 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Tuti Malas Sekolah (Novelku)