Seorang pendekar pedang petir melakukan perjalanan jauh untuk mengambil sebuah pedang petir terkuat di Gunung Petir tertinggi.
Di perjalanan, dia menemui orang kuat untuk bertarung. Namun gurunya akan menolongnya karena kemampuan bertarung dia masih lemah.
Pedang Petir terkuat menjadi salah satu perintah gurunya untuk mendapatkan kekuatan pedang petir terkuat yang harus di ambil untuk mewariskan pedang petir dari generasi ke generasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan di Kedai
"Menginap disini saja." ucap pemilik kedai menawarkan diri.
"Begitu ya. Boleh kalau itu saran anda." ucap Pim duduk santai melanjutkan minum teh.
"Sluuurp aah." ucap Pim minum teh.
"Dug. Dug. Dug." Pim berjalan menuju kamar di temani oleh pemilik kedai.
"Ini kamarnya, silahkan nikmati ya." ucap pemilik kedai.
"Baik, terimakasih atas layanan anda." ucap Pim meletakkan barang bawaan di sudut ruangan kamar.
"Haaah. Hujannya sangat deras sekali." ucap Pim melihat jendela penuh hutan lebat dengan hujan yang turun sangat deras.
Tiba-tiba Pim mendengar suara sedang ribut, Pim berdiri membuka pintu kamar berjalan menuju kedai mengintip dari kejauhan.
"Aaah ada orang." Pim kaget melihat pemilik kedai bertengkar dengan seorang pria memegang topi dan memakai jaket.
"Cepat berikan makanan kepada saya!" teriak seorang pria memaksa pemilik kedai.
"Maaf tuan, saya tidak bisa." ucap pemilik kedai.
"Tidak bisa kamu bilang, oke saya akan beri anda pelajaran berharga kepada kamu." ucap seorang pria mengeluarkan pedang.
"Hmm, orang ini mulai cari masalah." ucap Pim berjalan keluar menghampiri mereka.
"Hihi, daaa!" teriak pria mengarahkan pedang ke meja.
"Ting." Pim menangkis pedang pria itu dengan pisau dapur.
"Hey, kau tidak boleh merusak barang orang lain." ucap Pim.
"Siapa kau?" tanya seorang pria.
"Sring." pria itu melepas tekanan pedang Pim.
"Haah" sudah jangan bertengkar disini." ucap pemilik kedai kepada pria itu.
"Hey, kamu sebaiknya pergi sana." ucap Pim.
Pria itu melotot melihat Pim dari kepala sampai telapak kaki mengayunkan pedang di tangan kanan berwajah menantang.
"Ooh menarik juga kamu ya." ucap pria itu merasa tertantang.
"Duaaaarrrrrr." suara gemuruh terdengar keras di dalam kedai. Hujan malam semakin deras terdengar di atap dan luar rumah kedai.
"Ting. Ting. Ting. Ting. Ting." pria itu menyerang Pim dari samping depan kanan atas dan bawah mencari celah.
Pim fokus menangkis dengan pisau dapur, pria itu menggunakan pedang biasa yang cukup besar.
"Hentikan!" teriak pemilik kedai.
"Sring. Sring. Sring. Sring. Teng. Teng. Teng." Pim melepaskan pedang pria itu dari genggamannya terjatuh ke lantai.
"Apa, luar biasa." ucap pria itu melongo melihat Pim.
"Huug." Pim mengarahkan pisau dapur tepat di dekat wajah pria itu, mata melotot.
"Apa." pria itu berdiri diam melihat reaksi Pim serius menyerang.
"Pergi sana, jangan kesini lagi, cepat!" teriak Pim.
"Ahli pedang." wajah pria itu berubah, mengambil pedangnya melihat Pim wajah kaget meninggalkan kedai tanpa bicara.
"Terimakasih, sudah mengusir orang itu." ucap pemilik kedai.
"Iya, memang siapa orang itu?" tanya Pim duduk di kursi kedai.
"Orang itu hanya meminta makan saja, kalau tidak dia akan merusak kedai saya." ucap pemilik kedai.
"Begitu ya." ucap Pim paham.
"Dug. Dug. Dug. Dug. Pim berjalan ke kamar di koridor rumah.
"Sruug." Pim membuka pintu kamar lalu duduk di ranjang.
"Ini ada sedikit makanan dan minuman hangat untuk anda." ucap pemilik kedai.
"Tidak usah repot-repot pak." ucap Pim.
"Sluurp." Pim meminum secangkir teh hangat di cuaca yang dingin dan hujan terus mengguyur.
"Siapa orang itu, sepertinya sering sekali kedai ini." ucap Pim.
"Ya, kelompok ingin makan tidak bayar, begitu orang luar masuk kedai saya. Walaupun tidak sering tetap saja selalu ada." ucap pemilik kedai.
"Dug. Dug. Dug. Dug. Dug." bunyi suara pintu kedai terdengar sampai kamar Pim.
"Pak, itu ada orang gedor pintu." ucap anak kecil pemilik kedai menyampaikan ke kamar Pim.
"Apa." ucap pemilik kedai heran segera berdiri bersama Pim berjalan menuju kedai.
"Sepertinya yang tadi." ucap Pim berdiri bersama pemilik kedai di depan pintu.
"Benar sih, tapi siapa tahu itu beda lagi." ucap pemilik kedai.
"Dug. Dug. Dug." Ketukan suara pintu terdengar lagi.
"Biar saya intip." ucap pemilik kedai mengintip dari lubang pintu.
"Orangnya beda lagi." ucap pemilik kedai melihat sekelompok orang berdiri di depan pintu memakai jas hujan dan topi.
"Pria semua?" tanya Pim.
"Benar." ucap pemilik kedai mengintip.
"Sebaiknya tidak perlu dibuka, tutup saja." ucap Pim memberikan saran.
"Apa!" pemilik kedai kaget.
"Dug. Dug. Dug." pintu kedai diketuk lagi.
"Awas biar saya lihat." ucap Pim mengintip melalui lubang.
"Bagaimana, nampak?" tanya pemilik kedai.
"Beda lagi. Baik buka pintunya dan beri pelayanan untuk mereka." ucap Pim berjalan ke dalam.
"Sluur." pemilik kedai membuka pintu.
Mereka semua masuk ke dalam kedai mencari tempat duduk meletakan jas hujan di sudut ruang kedai.
Pemilik kedai melayani pelanggan dengan ramah yang berjumlah 6 orang.
"Orang ini." ucap Pim mengintip dibalik koridor menuju kamar.
"Tolong teh ini dan makanan ini." ucap seorang pria kepada pemilik kedai.
"Baik, mohon tunggu ya." ucap pemilik kedai menuju dapur.
"Orang ini beda lagi, tapi sepertinya mereka itu tidak akan bayar." ucap Pim bicara sendiri mengintip enam pria sedang duduk berwajah melotot.
"Ini teh dan makanan. Selamat menikmati." ucap pemilik kedai menghindangkan menu makan dan minum di meja enam pria di beda meja.
Pim berdiri bersiap dengan pedang pemberian master Cen saat mereka hampir selesai menikmati makan dan minuman.
"Enak sekali." ucap seorang pria membersihkan mulutnya dengan kain.
"Ayo." ucap seorang pria berdiri serentak berjalan menuju keluar kedai.
"Hey bayar, dulu." ucap pemilik kedai berlari menahan seorang pria.
"Lepaskan!" ucap seorang pria melepaskan genggaman tangan pemilik kedai.
"Hey tuan-tuan. Dug. Dug. Dug. Dug. Dug." ucap Pim berdiri di depan pintu kedai memukul wajah mereka dengan pedang yang sedang ditutup pakai kain.
"Aaakh. seorang pria terjatuh kena pukulan di wajah.
"Uuh. Uuh. Uuh. Aaah."keempat pria terjatuh terkena pukulan keras di wajah oleh Pim.
"Hey bayar, cepat!" teriak Pim menaikkan tubuh seorang pria setingginya.
"Aaaa tolong." ucap seorang pria ketakutan.
"Cepat periksa barang bawaan dan tubuhnya." ucap Pim menyuruh pemilik kedai.
"Baik." ucap pemilik kedai memeriksa bagian pakaian mereka dan barang bawaan yang diletakkan di sudut kedai.
"Saya menemukan barang bawaan yang cukup membayar makanan dan minum mereka." ucap pemilik kedai meletakkan barang bawaan di meja.
"Sekarang jawab kalian ini siapa dan kenapa melakukan ini?" tanya Pim bertanya kepada enak pria sedang jongkok di sudut ruang kedai.
Mereka diam tidak Berani menjawab apapun.
"Siapa anggota kalian, orang yang baru pertama kali kemari itu?" tanya Pim.
"Itu orangnya." ucap seorang pria bersama pria tangguh memakai jas dan topi hitam membawa pedang di gantung di samping tubuhnya.
"Hah. Pim kaget melihat seorang pria dikenalnya dan pria tangguh.
"Hmm." pria tangguh melihat Pim berwajah marah mata melotot.
"Sring.." Pim menangkis serangan pria tangguh berwajah serius.