Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : LUKA YANG TAK TERLIHAT
...BAB 13...
...LUKA YANG TAK TERLIHAT...
Pagi itu, keadaan Rana sudah jauh lebih baik. Demamnya mulai turun setelah semalam mendapatkan obat. Anak kecil itu bahkan sudah kembali meminta digendong Wulan meskipun tubuhnya masih sedikit lemas.
Setelah memastikan Rana tertidur lagi, Wulan turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan.
Baru saja ia meletakkan piring di meja, suara Rian terdengar dari belakang.
“Wulan.” panggilnya.
Wulan menoleh. “Iya, Pak?”
Rian berjalan mendekat. Tatapannya langsung tertuju pada lengan Wulan. Alisnya sedikit bertaut.
“Lukamu... masih sakit?”
Wulan refleks menarik ujung lengan bajunya, menutupi bekasnya. “Sudah lumayan membaik.”
“Lumayan?” Nada Rian naik setengah. “Itu artinya masih sakit.”
Wulan tersenyum kecil, memaksa. “Saya bisa mengatasinya sendiri.”
Rian menghela napas panjang. Ia menyilangkan tangan di dada. “Kamu masih belum mau berobat juga?”
“Saya kira tidak perlu, Pak.”
“Kenapa?”
“Takut merepotkan.”
Rian menatapnya lama. Tatapan itu dalam, sampai Wulan nggak berani membalas.
“Kamu selalu bilang begitu. Selalu merasa kuat sendiri.”
Wulan terdiam. Ujung jarinya meremas ujung celemek.
“Padahal beberapa hari lalu saya lihat sendiri,” lanjut Rian, suaranya pelan tapi berat. “Lukanya masih lebar. Masih merah.”
“Saya baik-baik saja, Pak. Sungguh.”
“Wulan.” sahutnya lagi.
Hanya satu kata itu. Tapi nadanya membuat senyum Wulan langsung luruh.
“Luka seperti itu bukan sesuatu yang bisa kamu anggap sepele,” kata Rian. “Dan kamu nggak harus menanggung semuanya sendirian.”
Rian kemudian mengambil ponselnya. “Saya barusan sudah menghubungi dokternya.”
Wulan mengerutkan kening. “Dokter?”
“Dia teman saya, Dokter spesialis kulit, dan dia ahli menangani bekas luka.”
“Saya rasa tidak perlu sampai sejauh itu, Pak.”
“Nanti siang, kamu ikut saya.”
“Tidak perlu Pak. Saya bisa pergi sendiri.” Wulan menggeleng ingin menolaknya. Namun Rian tetap memaksanya.
“Tidak-tidak.” Jawab Rian tegas. “Kali ini kamu nggak punya pilihan lain.”
Wulan menghela napas. “Pak Rian…”
Rian mendekat selangkah. Suaranya melunak, tapi tetap nggak bisa dibantah. “Kalau kamu nggak mau berobat karena masalah biaya, biar saya yang tanggung. Tapi kalau kamu takut akan merepotkan orang, anggap saja ini... tanggung jawab saya.”
Wulan masih terdiam. Matanya mulai memanas.
Rian menurunkan suaranya. “Saya cuma ingin memastikan lukamu nggak semakin parah, Wulan. Itu saja.” ucapnya, tatapannya kini melembut pada wajah Wulan yang selalu tampak teduh.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat pertahanan Wulan runtuh.
“...Baiklah.” jawab Wulan pada akhirnya.
Rian langsung tersenyum lega. “Akhirnya...”
Wulan mengerutkan kening, setengah bingung. “Bapak begitu senang kalau saya mau berobat.”
“Karena sejak seminggu lalu saya sudah hampir gila menghadapi keras kepalamu,” jawab Rian jujur. “Saya capek, liat kamu pura-pura baik-baik saja.”
Wulan tersenyum tipis. “Maaf.”
“Jangan minta maaf. Kita ke dokter nanti.” perintahnya.
Beberapa jam kemudian, setelah makan siang, mereka tiba di sebuah klinik pribadi.
Wulan terlihat gugup ketika turun dari mobil. Tangannya mengepal di sisi tubuh.
Rian yang menyadarinya berjalan di sampingnya. “Tenanglah...”
“Saya tidak apa-apa.”
“Wajahmu bilang sebaliknya.” Rian berbisik. “Nggak usah takut. Aku di sini.”
Wulan menghela napas kecil. Kata "aku" itu entah kenapa membuat dadanya menghangat.
Mereka berdua masuk ke ruang pemeriksaan. Seorang dokter perempuan menyambut mereka. Usianya sekitar pertengahan tiga puluhan.
“Hei, Rian?”
Rian tersenyum. “Hallo Maya.”
“Kamu akhirnya datang juga. Bawa siapa ini?” tanyanya basa-basi. Padahal tadi sudah Rian beri tahu di telepon.
“Pasienku yang paling keras kepala,” jawab sindiran Rian sambil melirik Wulan.
Maya melirik Wulan, lalu tersenyum ramah. “Silakan duduk dulu di pembaringan, Bu Wulan.”
“Terima kasih, Dokter.”
Setelah menanyakan beberapa hal, Maya meminta Wulan memperlihatkan lengan yang terluka.
Begitu melihat bekas luka bakar itu, ekspresi Maya berubah serius.
“Ini sudah berapa lama?”
“Sudah hampir dua bulan.”
“Sudah diperiksa sebelumnya?”
Wulan menggeleng. Maya menatap Rian.
Rian langsung mengangkat kedua tangannya. “Aku sudah sering menyuruhnya. Dia saja yang ngeyel.”
Maya tersenyum tipis, lalu kembali fokus ke Wulan. “Masih terasa sakit?”
“Masih, Dok. Apalagi kalau tak sengaja tersentuh.”
Pemeriksaan berlanjut. Maya meminta Wulan untuk menunjukkan bagian lain yang terluka. Awalnya Wulan ragu dan sempat ingin menyangkalnya.
Maya terdiam cukup lama. Jarinya berhenti di atas kulit Wulan. “Wulan.”
“Iya, Dok?”
“Apa ada beberapa memar lain di tubuhmu.” tanyanya lagi penasaran. Maya yakin sekali kalau Wulan sedang menyembunyikannya.
Wulan menunduk entah itu takut atau malu. Namun pada akhirnya Wulan menunjukkan luka-luka lainnya.
Setelah Maya memeriksa bagian lengan, lalu bagian punggung yang di tunjuki Wulan, dan juga paha. Wajahnya semakin serius.
“Memarnya sudah ada yang memudar, tapi beberapa masih terlihat jelas.”
Di satu ruangan namun tersekat tirai, Rian yang sejak tadi duduk menunggu langsung berdiri.
“Apa itu cukup serius?”
Maya menggeleng perlahan. Lalu membuka tirai penyekat. “Tidak ada cedera berat. Tapi ini... bukan sekadar luka bakar, Rian.”
Rian memandang Wulan. Rahangnya mengeras. “Memar itu karena apa?” tanyanya.
Wulan tidak menjawabnya. Dia memalingkan wajah menghindari tatapan Rian.
Maya menatapnya lembut. “Wulan, saya perlu tahu penyebabnya. Biar penanganannya tepat.”
Ruangan menjadi sunyi. Hanya terdengar suara AC.
Wulan menelan ludah. Suaranya hampir tidak terdengar. “Itu, luka— pukulan." jawabnya singkat.
Tiga kata membuat Rian terdiam. Tangannya mengepal di sisi tubuh sampai buku-buku jarinya putih.
“Siapa yang melakukan ini padamu?” Suaranya rendah, namun terdengar seperti menahan amarah
Wulan menunduk semakin dalam. "Mantan suami saya.” jawabnya sangat pelan, matanya mendadak terasa panas.
Rian menutup mata sebentar. Menahan marah.
Maya tidak bertanya lebih jauh. Ia kembali memeriksa dengan hati-hati. “Ada beberapa bekas pukulan di punggung dan lengan. Dan di paha juga ada.” ujarnya. Wulan hanya mengangguk kecil.
“Lalu luka bakarnya?” tanya Maya.
Wulan menarik napas panjang. Dadanya kembali sakit. “...Itu, juga karena dia.”
Rian tidak berkata apa-apa. Tapi Wulan bisa merasakan udara di ruangan itu jadi berat.
Maya lalu memberikan resep. “Untuk bekas luka bakar, kita rawat secara rutin. Saya kasih obat dan salepnya. Kalau rajin mengobatinya, bekasnya bisa jauh lebih samar.”
“Apa bisa hilang?” tanya Rian cepat.
“Kita usahakan. Tapi jangan menjanjikan yang pasti.”
Rian mengangguk. “Ya, yang penting dirawat dulu.”
Maya tersenyum. “Tumben perhatian sekali sama pasien.” godanya.
“Maya.” Rian memperingatkan.
“Baik, baik.” Maya tertawa kecil. “Aku cuma kaget.”
Setelah pemeriksaan selesai, mereka keluar dari ruangan.
Wajah Wulan tampak berbeda dari sebelum masuk tadi. Dia lebih murung dan pandangannya terlihat kosong. Rian tidak ingin bertanya di klinik.
Mereka berdua langsung masuk ke mobil. Sepanjang beberapa menit, tidak ada yang berbicara.
Wulan duduk di samping Rian sambil memandangi jalan dari balik jendela. Pemeriksaan tadi seperti membuka kembali pintu yang selama ini susah payah ia tutup.
Rian beberapa kali meliriknya.
Sejak keluar dari ruang pemeriksaan, perempuan itu memang terlihat berbeda.
Wulan masih memandangi jalan dari balik jendela. Pemandangan di luar terlihat buram. Ingatannya seolah kembali.
Ke rumah, selama tujuh tahun lalu, suara pintu yang dibanting keras, bentakan kasar, dan rasa takut setiap kali Handi pulang terlambat.
Rian meliriknya. “Kamu tidak apa-apa?”
Wulan terkejut dari lamunannya. “Tidak.” ia menggeleng pelan.
“Wulan.”
“Iya, Pak?”
“Memar di tubuhmu tadi... semuanya karena mantan suamimu?”
Wulan terdiam. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. “Iya.”
Satu jawaban pendek itu membuat dada Rian terasa sesak.
Ia kembali menatap jalan, tetapi pikirannya justru dipenuhi bayangan luka yang baru saja dilihatnya. Memar di lengan, memar di punggung, memar di paha. Dan luka bakar yang masih belum sepenuhnya sembuh.
Selama ini Rian hanya melihat Wulan sebagai perempuan pendiam yang bekerja keras, mengurus anak-anaknya, dan hampir tidak pernah mengeluh.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik sikap tenang itu ada seseorang yang pernah diperlakukan sedemikian kejam.
Tangannya perlahan mengencang di atas kemudi. “Apa dia sering melakukan itu padamu?”
Wulan menarik napas panjang, lalu mengangguk singkat. "Ya.."
Jawaban itu membuat Rian terdiam. Ada amarah yang perlahan naik di dadanya.
Bukan amarah yang meledak, tetapi sesuatu yang jauh lebih dalam. Rasa tidak terima yang membuat rahangnya mengeras.
Bagaimana mungkin seorang laki-laki tega memukul perempuan yang seharusnya menjadi orang yang paling ia lindungi?
Rian menelan ludah. “Wulan...”
“Biasanya karena hal-hal kecil.” Suara Wulan terdengar lirih. “Kalau saya bertanya dia pergi ke mana, kenapa selalu pulang malam, atau kenapa tidak pernah memberi kabar... dia akan langsung marah.”
Rian menarik napas panjang. Jadi bahkan bertanya kepada suami sendiri pun membuatnya dipukul?
Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu membuat hati Rian semakin miris.
Ia teringat bagaimana Wulan selama ini selalu berhati-hati ketika berbicara dengannya.
Selalu memilih kata, selalu meminta maaf, selalu takut merepotkan.
Tiba-tiba Rian bertanya-tanya, apakah semua itu terbentuk karena bertahun-tahun hidup bersama orang yang membuatnya takut?
“Awalnya saya selalu berpikir mungkin dia sedang lelah,” lanjut Wulan. “Saya mencoba memakluminya.”
Rian tidak menyela. Ia tahu Wulan sedang mengumpulkan keberanian untuk menceritakan sesuatu yang mungkin selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
“Tapi setelah saya tahu dia selingkuh...” Wulan berhenti sebentar. “Semuanya semakin parah.”
Rian menoleh sekilas. “Dia memukulmu setelah kamu mengetahui perselingkuhannya?”
Wulan mengangguk. Air matanya mulai menggenang. “Bukan hanya memukul.”
Tangannya perlahan menyentuh bagian lengan yang pernah terkena luka bakar. “Terakhir kali dia menempelkan lengan saya dengan setrika panas.”
Rian seketika membeku. Wajahnya menegang, matanya terbuka lebar. Walau kakinya tetap menginjak pedal, tetapi pikirannya seperti berhenti sesaat. "Setrika?!" desisnya.
Ia kembali teringat bekas luka lebar di lengan Wulan.
Selama ini ia hanya tahu luka itu berasal dari sesuatu yang buruk.
Tetapi mendengar bagaimana luka itu terjadi membuat rasa sakit yang aneh menjalar ke dadanya.
Bagaimana rasanya ketika setrika panas itu mengenai tubuhnya?
Seberapa takut Wulan saat itu?
Dan yang paling membuat Rian tidak tahan adalah kenyataan bahwa perempuan itu menghadapinya sendirian.
Tidak ada yang melindungi. Tidak ada yang datang menolong.
Bersambung...