Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suasana di pelataran belakang bedak Bang Jaka terasa begitu hangat.
Ikan kakap bakar berbalur bumbu kecap pedas manis buatan Dayang telah tersaji di atas lembaran daun pisang.
Asap tipis beraroma gurih membumbung tinggi, mengundang selera mereka yang sejak siang tadi belum mengisi perut.
"Ayo, Mas Bima! Jangan malu-malu, makan yang banyak," seru Bang Jaka seraya melahap bagian daging kakapnya dengan nikmat.
"Iya, Bang. Terima kasih," sahut Rimba. Sang CEO raksasa yang terbiasa makan menggunakan pisau dan garpu perak kini menyantap ikan bakar menggunakan jemari tangannya langsung—sebuah kesederhanaan yang terasa aneh namun sangat ia nikmati.
Namun, di tengah keasyikan melahap daging ikan yang gurih manis itu, sebuah kecelakaan kecil terjadi.
Saat menggigit bagian dekat kepala ikan, sebuah duri tajam berukuran sedang tak sengaja terselip keras dan menancap tegap di antara celah gigi geraham belakang Rimba.
"Ssshh," Rimba mendadak menyeringai menahan nyeri, tangannya refleks memegangi rahang kirinya.
Dayang yang duduk tepat di sampingnya langsung menghentikan suapannya. Matanya menatap Rimba penuh rasa khawatir.
"Kenapa, Mas Bima? Tertusuk duri ya?" tanya Dayang sigap.
"E-iya, Mbak, ada tulang ikan nancap di gigi belakang," sahut Rimba serak menahan ngilu.
"Coba buka mulutmu, Mas," perintah Dayang seraya bergeser makin rapat hingga jarak di antara mereka terkikis habis.
"Nggak apa-apa, biar saya ambil sendiri—"
"Jangan aneh-aneh, nanti malah makin tancap ke gusi! Sini, buka mulutmu," potong Dayang tegas namun lembut.
Ia memegangi rahang bawah Rimba dengan jemari kirinya yang halus.
"Jangan takut," bisik Dayang menenangkan.
Dengan hati-hati, Dayang mencondongkan wajahnya sangat dekat, mata beningnya memfokuskan pandangan ke dalam rongga mulut bagian belakang Rimba.
Jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Rimba—yang masih bertelanjang dada dengan nafas yang tertahan—sangat bisa merasakan hembusan napas hangat Dayang menerpa pipinya.
Dari jarak sesedikit ini, Rimba bisa melihat dengan sangat jelas betapa cantiknya paras alami gadis pasar itu: bulu matanya yang lentik, rona tipis di pipinya akibat hawa panas panggangan, dan aroma wangi tubuhnya yang memabukkan.
Jantung sang CEO seketika berdetak kencang tak beraturan.
Dada bidangnya naik turun berpacu cepat, sebuah desiran dahsyat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya merayapi seluruh aliran darahnya.
Musuh yang ingin ia hancurkan itu kini berada tepat di depan matanya, merawatnya dengan kepedulian yang begitu tulus.
"Nah, ini dia." gumam Dayang pelan. Dengan gerakan lembut dan cekatan, jemari jemari
Dayang berhasil menjepit ujung duri tersebut lalu menariknya keluar dalam sekali gerakan cepat.
"Dapat!"
Rimba mendesah lega, meski rasa canggung dan jantungnya yang berdebar kencang masih menyiksanya.
"Waduh, waduh! Sebentar, Abang ambilkan air hangat dulu buat cuci mulut!" seru Bang Jaka dari dalam bedak, bergegas mengambilkan segelas air hangat agar nyeri di gusi Rimba berkurang.
Dayang menarik kembali tangannya, menyunggingkan senyum lega.
"Bagaimana, Mas? Masih sakit?"
Rimba menatap mata bening Dayang lekat-lekat, suara hatinya berbisik kencang di tengah deru angin laut pelelangan.
"S-sudah ndak, Mbak. Terima kasih banyak," bisik Rimba dengan pandangan yang tak sanggup berpaling dari kecantikan Dayang.
Bang Jaka kembali dari dalam bedak sembari membawa segelas air hangat yang asapnya masih mengepul tipis.
Pria berkumis tebal itu menyerahkan gelas tersebut kepada Rimba, namun matanya tak lepas memandangi Dayang dan Rimba yang masih duduk sangat rapat dengan sisa-sisa kecanggungan yang menggantung tebal di udara.
"Nih, Mas Bima, buat kumur-kumur dulu biar gusinya ndak infeksi," ujar Bang Jaka.
"Terima kasih, Bang," sahut Rimba.
Ia menerima gelas itu, membilas mulutnya pelan, lalu meneguk sisa air hangatnya demi menetralkan tenggorokannya yang terasa kering—bukan hanya karena duri ikan, melainkan karena kelewat gugup berdekatan dengan Dayang.
Bang Jaka melipat kedua tangannya di atas perut gempalnya, lalu menyunggingkan senyum goda yang amat lebar.
"Waduh, Waduh. Abang perhatikan dari tadi, kok mesra banget toh kalian ini?" ledek Bang Jaka dengan suara nyaring, sengaja memancing perhatian beberapa kuli angkut di sekitar bedak.
"Tadi Mas Bima lepas baju saja matamu sudah kayak mau melompat keluar, Nduk. Sekarang pakai acara pegang-pegang rahang sama tatap-tatapan mata segala. Kalau orang ndak tahu, pasti disangka pasangan pengantin baru lagi pacaran di pelelangan ikan!"
"Bang Jaka!" seru Dayang cepat, mukanya seketika memerah padam hingga ke ujung telinga.
Rona merah di pipinya tercetak begitu jelas, tak sanggup lagi ia sembunyikan meski ia berusaha memasang raut galak.
"Ngomongnya makin sembarangan saja! Saya ini cuma bantu cabut duri, daripada Mas Bima kelaparan ndak bisa lanjut makan!" elak Dayang ketus, berusaha keras menguasai degup jantungnya sendiri yang sebenarnya tak kalah berpacu kencang.
Bang Jaka malah tertawa makin ngakak melihat kepiting rebus di wajah gadis bertubuh tegap itu.
"Alah, elakanmu itu lho, Nduk! Biasanya preman pasar kayak kamu paling pantang di goda, ini kok malah pipinya merah membara begitu? Mas Bima ini memang jempolan, baru sehari ikut sudah bisa bikin srikandi Pasar Matahari salah tingkah!"
Rimba yang mendengar godaan itu hanya bisa menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
Sang CEO raksasa yang biasa tampil dingin dan kaku itu diam-diam menikmati momen di mana gadis pasar yang paling ditakuti ini dibuat tak berdaya dan serba salah di hadapannya.
"Sudah, sudah! Jangan digodain terus Bang Jaka, kasihan Mbak Dayang-nya," bela Rimba dengan suara berat yang menenangkan, membuat pendar mata Dayang makin tak berani menatapnya langsung.
Dayang berdeham keras, bergegas berdiri demi menutupi rasa malu yang membakar dadanya.
"A-ayo Mas Bima, pakai bajumu lagi! Kita rapikan keranjang ikannya terus langsung pulang ke rumah, sudah mau sore!" perintah Dayang seraya membelakangi mereka berdua, berpura-pura sibuk mengecek ikatan terpal di dekat motor sport-nya.
Bang Jaka menyenggol pelan bahu tegap Rimba seraya berbisik santai, "Mas Bima, pinter-pinter ngambil hatinya ya. Nduk Dayang itu luarnya saja kayak macan, tapi hatinya lembut banget."
Rimba meraih kemeja pudarnya yang mulai mengering, mengenakannya kembali tanpa melepas pandangan dari punggung Dayang.
"Pasti, Bang. Terima kasih banyak," bisiknya mantap, mengukuhkan tekad aneh yang makin kuat berakar di dadanya.
Setelah semua urusan selesai dan keranjang-keranjang ikan sudah dirapikan, Dayang menghampiri Bang Jaka untuk mengonfirmasi pengiriman pasokan.
"Bang Jaka, seperti biasa ya, tolong kirim ikan-ikan ini ke lapak besok subuh," pesan Dayang.
"Beres, Nduk! Subuh-subuh pasti sudah sampai lapakmu," sahut Bang Jaka dengan acungan jempol mantap.
Mereka pun berpamitan dan berjalan menuju parkiran.
Rimba kembali menaiki jok depan motor sport hitam milik Dayang, sementara Dayang naik ke jok belakang.
Namun kali ini, suasana di antara mereka terasa sangat berbeda.
Kejadian di bedak Bang Jaka tadi—dari tubuh bertelanjang dada Rimba hingga insiden cabut duri ikan—masih menyisakan rasa canggung yang tebal.
Dayang duduk sedikit menarik diri ke belakang. Kedua tangannya yang biasa sigap memeluk pinggang kini hanya bertumpu canggung pada besi pegangan di buntut motor.
Rona merah di pipinya seolah belum sepenuhnya surut.
Rimba menyalakan mesin motor yang meraung halus.
Saat memutar spion, ia memperhatikan posisi duduk Dayang yang berjauhan dan terkesan menahan diri.
Sang CEO menyunggingkan senyum tipis di balik ketenangannya.
Sebelum memutar gas untuk melaju, Rimba tiba-tiba meraih kedua tangan Dayang dari belakang, lalu menarik jemari gadis itu secara perlahan namun tegas untuk kembali melingkar erat di pinggangnya.
"Pegangan yang erat, Mbak Dayang. Nanti jatuh," ucap Rimba dengan suara beratnya yang tenang menembus deru mesin.
Jantung Dayang seketika melompat hebat. Sentuhan hangat jemari Rimba di punggung tangannya membuat tubuh gadis perkasa itu mendadak kaku.
Namun alih-alih menarik tangannya kembali, Dayang justru membiarkan jemarinya mendekap pinggang tegap sang 'kuli baru' dengan erat saat motor sport itu melesat membelah jalanan pesisir menuju rumah.
Hembusan angin sore yang sejuk di sepanjang jalanan pesisir, dipadu dengan rasa lelah setelah seharian beraktivitas di pasar dan pelelangan ikan, perlahan membelai kesadaran Dayang.
Ditambah lagi, kehangatan tubuh tegap pria yang sedang mendayung kuda besi itu terasa begitu menenangkan.
Gadis perkasa yang biasanya selalu siaga dan tangguh itu perlahan-lahan mulai kehilangan daya tahannya terhadap kantuk.
Kepala Dayang perlahan terkulai lelah, lalu bersandar sepenuhnya di punggung tegap Rimba.
Pelukan tangannya di pinggang sang CEO pun merapat tanpa sadar, saat terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Rimba yang sedang fokus mengendalikan motor mendadak merasakan benturan pelan helm Dayang di punggungnya, disusul keheningan dari gadis yang biasanya tegas itu.
Saat menyadari napas teratur Dayang menembus kain kemejanya, Rimba menyunggingkan senyum yang sangat tipis namun penuh kehangatan.
Secara refleks, Rimba memelankan laju motornya.
Ia melintasi jalanan berlubang dengan sangat hati-hati, memastikan tiap goncangan tertahan agar tidur gadis di belakangnya tidak terganggu.
Tangan kirinya sesekali turun mengusap lembut jemari Dayang yang melingkari pinggangnya, menjaga agar pegangan Dayang tidak terlepas.
Ada perasaan aneh yang berdesir di dada sang CEO Suryo Group.
Srikandi perkasa Pasar Matahari yang sanggup merobohkan preman ini, kini tertidur pulas dan menyandarkan seluruh rasa amannya pada dirinya—seorang musuh yang menyamar sebagai kuli jalanan.
Motor sport hitam itu pun meluncur pelan membelah senja, membawa mereka berdua kembali ke rumah kayu yang tenang.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂