Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Begitu pintu lift eksekutif berdenting di lantai teratas, Alesia melangkah keluar dengan napas yang sedikit terengah-engah.
Koridor lantai atas ini selalu memiliki atmosfer yang berbeda lebih sunyi, berkarpet tebal yang meredam suara langkah kaki, dan memancarkan wibawa kemewahan.
Sebelum langsung mengetuk pintu ruang kerja sang CEO, Alesia memutuskan untuk menemui Rey terlebih dahulu. Sang asisten pribadi tampak sedang duduk rapi di balik meja kerjanya yang terletak persis di depan pintu masuk ruangan Dante, sibuk memeriksa beberapa jadwal di tablet digitalnya.
"Permisi, Pak Rey," sapa Alesia dengan suara lembut dan sopan.
Rey mendongak dari tabletnya. Begitu melihat sosok Alesia yang berdiri di depannya sambil mendekap tas kertas cokelat, sebuah senyuman ramah langsung terukir di wajah tampannya.
"Ah, Nona Alesia. Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau bertemu Pak Dante,kira-kira... Pak Dante sedang sibuk atau tidak ya sekarang?" jawab Alesia.
Rey melirik ke arah pintu kaca buram di belakangnya, lalu tersenyum penuh arti. Tentu saja Rey tahu persis apa yang terjadi tadi malam Dante sendiri yang menghubungkannya pagi-pagi sekali untuk membatalkan jadwal rapat internal jam pertama dengan alasan 'perlu meninjau ulang efisiensi energi karyawan'.
"Sebentar ya, Nona Alesia. Saya tanyakan dulu pada beliau," ucap Rey cekatan.
Ia menekan tombol interkom di mejanya, menghubungkannya langsung ke dalam ruangan dalam.
"Permisi, Pak Dante. Nona Alesia Fiore dari divisi pemasaran ada di luar. Beliau ingin menemui Anda. Apakah diizinkan masuk?"
Hanya butuh waktu kurang dari dua detik sebelum sebuah suara berat dan dingin menyahut dari interkom. "Suruh dia masuk."
Rey mematikan interkom, lalu menatap Alesia dengan kedipan mata jenaka yang ramah.
"Silakan masuk, Nona Alesia. Beliau sedang menunggu."
"Baik, terima kasih banyak, Pak Rey," ucap Alesia tulus. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan seluruh keberaniannya, melangkah mendekati pintu ek kayu besar, lalu mengetuknya dengan pelan.
Tok! Tok!
"Masuk," terdengar sahutan pendek dari dalam.
Alesia mendorong pintu perlahan dan melangkah masuk ke dalam ruangan kerja yang luas itu. Aroma parfum maskulin yang familier langsung menyergap indra penciumannya, mengingatkannya kembali pada momen di depan toserba tadi malam.
Di balik meja marmer hitamnya yang megah, Dante Luca Alessio sedang duduk tegak. Namun, pemandangan pagi ini sukses membuat langkah kaki Alesia mendadak terhenti di tengah ruangan.
Dante tidak sedang berpenampilan seperti biasanya. Pria itu mengenakan sepasang kacamata berbingkai hitam tipis yang bertengger di atas hidung mancungnya, fokus membaca berkas-berkas digital di layar komputer tabletnya.
Kacamata itu... entah bagaimana, justru menambah tingkat ketampanan pria itu berkali-kali lipat. Aura tegas dan perfeksionisnya berpadu dengan kesan intelektual yang sangat menawan, membuat struktur rahangnya yang tegas terlihat semakin kokoh. Rambut hitamnya yang tertata rapi sedikit jatuh di dahinya, memberikan kesan kasual yang sangat seksi.
Tanpa sadar, Alesia mematung di tempatnya berdiri. Matanya menatap lekat-lekat ke arah Dante, terpaku dan terpesona sepenuhnya oleh visual luar biasa yang ada di hadapannya.
Otaknya mendadak blank, dan semua kalimat formal yang sudah ia hafalkan sepanjang jalan di lift tadi menguap begitu saja ke udara.
Menyadari ada orang yang masuk namun tidak kunjung bersuara, Dante perlahan menurunkan tabletnya. Ia mendongak, menatap lurus ke arah Alesia dari balik lensa kacamatanya yang jernih. Mata abu-abunya tampak berkilat tajam namun tenang.
"Fiore?" panggil Dante, membuyarkan lamunan panjang Alesia.
Alesia tersentak, seperti baru saja disiram air es. Ia berkedip berkali-kali dengan panik, wajahnya seketika merona merah akibat tertangkap basah sedang memandangi atasannya sendiri tanpa berkedip.
"Eh! I-iya, Pak! Maaf!" cicit Alesia gugup.
Ia buru-buru melangkah maju beberapa langkah mendekati meja kerja Dante dan meletakkan tas kertas cokelat itu di atas marmer dengan gerakan yang agak kikuk.
"Permisi, Pak... maaf mengganggu waktunya yang sibuk. Saya... saya mau mengembalikan jas milik Bapak yang tadi malam."
Dante melirik tas kertas cokelat di hadapannya, lalu kembali menatap Alesia. Ia melepas kacamatanya dengan satu tangan, meletakkannya di atas meja dengan gerakan yang sangat elegan, yang lagi-lagi membuat Alesia harus menahan napas.
"Hm," Dante hanya bergumam pendek sebagai jawaban, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi.
Dante mengangguk sekali. Ia bersandar pada kursi kerjanya, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Alesia dengan pandangan menilai.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan luas itu selama beberapa detik, membuat Alesia mulai merasa tidak nyaman dan ingin segera kabur dari hadapan pria mengintimidasi ini.
"Ada yang mau kamu bicarakan lagi?" tanya Dante tiba-tiba, memecah keheningan saat melihat Alesia masih berdiri mematung di depan mejanya dengan jemari yang bertautan gelisah.
"Ah? T-tidak, Pak! Tidak ada!" jawab Alesia panik, refleks melangkah mundur satu langkah.
"Kalau begitu.... Saya permisi kembali ke divisi saya, Pak. Terima kasih atas bantuan jasnya tadi malam!"
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut dari Dante, Alesia buru-buru membungkukkan badannya sedalam sembilan puluh derajat untuk memberi salam hormat, lalu berbalik dan melangkah setengah berlari keluar dari ruangan kerja sang CEO seolah-olah sedang dikejar oleh monster.
Begitu pintu ek besar itu tertutup rapat di belakangnya, Alesia bersandar pada dinding koridor di sebelah meja Rey. Ia memegangi dadanya yang berdetak sangat kencang tidak karuan, wajahnya terasa sangat panas seperti terbakar.
'Ganteng banget... arghhh!!! kenapa dia harus pakai kacamata segala sih pagi-pagi begini?!' batin Alesia berteriak frustrasi, merutuki detak jantungnya yang mendadak tidak bisa diajak bekerja sama.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras untuk mengusir bayangan wajah Dante dari otaknya, lalu buru-buru berjalan menuju lift dengan langkah terburu-buru sebelum Rey menyadari kegilaannya.
Sementara itu, di dalam ruangan kerja utama yang luas, Dante Luca Alessio masih duduk di kursinya. Pandangannya tertuju pada pintu kayu yang baru saja ditutup oleh Alesia.
Sudut bibirnya perlahan terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman samar yang dipenuhi oleh rasa geli sekaligus ketertarikan yang semakin mendalam.
Pria itu mengambil kembali kacamatanya, memakainya, lalu melirik ke arah tas kertas cokelat di mejanya dengan binar mata yang melunak. Hari-hari menyebalkan yang ia rancang untuk gadis ceroboh itu tampaknya perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia akhiri.