Menjadi istri hanya karena sebuah taruhan. Konyol sekali, bukan? Itulah yang Ayu rasakan. Menikah dengan Rendra, seorang laki-laki tak hanya tampan tapi juga mapan.
Kasih sayang yang Rendra berikan, nyatanya hanya kamuflase belaka. Hingga berhasil menjerat hati Ayu.
Ibarat Nasi sudah menjadi bubur. Pernikahan yang awalnya Ayu harap sebuah kebahagiaan. Kini malah menjadi mimpi buruk yang ia benci.
Masalah semakin runyam, tatkala para orang tua juga turut menambah kerumitan rumah tangganya. Dapatkah Ayu tetap bertahan dengan status istri taruhan? Ataukah pergi dengan mengorbankan cintanya yang tulus pada Rendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ivan witami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Menang taruhan
Rendra dan sang Mama pergi ke hotel untuk melihat persiapan resepsi pernikahannya. Sementara Ayu dan Ibunya berada di rumah bersama Wibowo serta Bagas dan Dira.
Ayu bangun jam 10 pagi dan langsung turun dari lantai atas. Ayu mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya dari anak tangga.
“Laki ku mana?” Ayu terus menuruni anak tangga. Sesampainya di bawah ia melihat Wibowo sedang bermain bersama Bagas dan Dira di ruang tengah.
“Pa!” panggil Ayu. Wibowo menoleh dan melihat Ayu berjalan ke arahnya dengan susah payah.
“Kamu kenapa jalannya kayak orang habis lahiran?”
“Hais … Papa. Ini ulah Mas Rendra.” Ayu kemudian berjalan menuju ruang makan sedangkan Wibowo hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
Ayu duduk lalu lalu membuka penutup makanan. Kemudian membalikkan piring dan mengambil nasi beserta lauk pauknya. Ayu makan dengan begitu lahapnya. Mungkin jika orang melihat ayu makan, akan membuat orang yang melihatnya ingin sekali ikut makan. Bagaimana ia tidak lapar, ia tiba malam hari di rumah suaminya dan malam dan pagi terus digempur sang suami tanpa ampun.
Wibowo tersenyum melihat menantunya yang sedang makan. Raut wajah yang apa adanya dan terlihat polos. Tetapi sepertinya Ayu mempunyai sisi tegas yang bisa membuat sang anak tunduk. Mungkin tidak saat ini.
Wibowo juga khawatir bagaimana reaksi Ayu jika ia dijadikan taruhan oleh Rendra.
“Ayu…,” panggil sang Ibu.
“Ya, Bu.” Ayu melihat sang Ibu menghampirinya lalu duduk di sampingnya.
“Kamu kok baru bangun, ini jam berapa?
“Ibu kayak gak pernah muda aja. Namanya juga pengantin baru, Bu.” Ayu dengan santainya memakan sarapannya. Sementara Rahma malu dengan anaknya yang bangun kesiangan, padahal di rumah mertuanya.
“Lain kali jangan seperti itu ya. Malu sama mertua kamu. Ingat kamu orang biasa yang harus tahu diri,” balas Rahma sedikit bernada pelan agar Wibowo tidak mendengar.
Walau Wibowo tidak mendengar ucapan mereka berdua, Namun ia tahu apa yang dibicarakan Rahma. Wibowo diam-diam memperhatikan Rahma yang pagi ini tampak segar dan manis. Entah mengapa semenjak pertama melihat Rahma ia terus memikirkan rahma siang dan malam.
Ayu sudah menyelesaikan sarapannya, setelah itu ia menghampiri Papa mertuanya yang duduk di ruang tengah.
“Pa, Mas Rendra masih lama, ya.” Ayu duduk di sofa di seberang sang mertua.
“Sebentar lagi juga pulang, mana bisa dia jauh dari kamu!”
“Papa bisa saja.”
“Aku pulang!” seru seseorang terdengar sampai ke semua ruangan.
“Nah itu, baru juga papa bilang!” ujar Wibowo saat mendengar suara Rendra.
“Ayang, aku kangen!” Rendra menghampiri Ayu lalu memeluknya dari belakang.
“Apa sih, Mas! lebay deh!” Ayu berusaha melepaskan pelukan Rendra. Namun Rendra terus memeluknya dan mencium berulang kali pucuk rambutnya.
“Stop, Mas! Papa liat Mas Rendra!”
“Rendra…,” seru Wibowo melihat Rendra yang kini duduk di sofa di samping Ayu.
“Bagaimana persiapan tempat resepsi kalian nanti malam?” tanya Wibowo.
“Sudah selesai, Pa. Tinggal kita kesana nanti siang!”
“Ini sudah siang, Mas!”, sambung Ayu.
“Ya sudah kalau begitu kita siap-siap ke hotel. Mama kamu langsung stay di sana, kan?”
“Iya, Pa! Ya sudah Papa suruh orang Papa untuk memberi tahu keluarga Ayu untuk bersiap, nanti jam 2 di jemput menuju hotel. Aku, Ayu dan Ibu. Nanti kesana jam 12 siang.”
“Ya sudah, Papa menyusul Mamamu!” Wibowo kemudian bangkit dari duduknya lalu sekilas melihat Rahma yang sedang bermain bersama Bagas.
***
Acara Resepsi pernikahan pun digelar dengan begitu meriah. semua tamu undangan vsudah memenuhi tempat acara. Sedangkan Rendra dan Ayu masih di dalam kamar. Ayu bersandar saat di rias sambil memejamkan matanya. Sementara Rendra tersenyum melihat begitu cantiknya sang istri.
"Non, riasannya sudah!” ucap sang MUA. Namun Ayu justru tertidur.
“Tuan, maaf. Ini istrinya malah ketiduran!” ucap sang MUA pada Rendra. Rendra berjalan menghampiri Ayu.
"Sayang ... bangun.” Rendra mengusap bahu Ayu. Ayu membuka matanya dan melihat sekilas sang suami lalu memejamkan matanya lagi.
"Ngantuk!” ujarnya lirih.
“Minum dulu, biar gak ngantuk!” Rendra mengambilkan jus alpukat yang memang s dsri tadi sudah di siapkan dan sudah di minum setengah oleh Ayu. Ayu meminumnya sampai habis baru ia merasa sedikit bersemangat.
“Sudah gak ngantuk?” tanya Rendra.
“Gak!” Ayu tersenyum lalu bangkit mensejajarkan tingginya dengan Rendra. Ayu tersenyum malu saat Rendra terus memandanginya.
“Cantik!” puji Rendra kemudian Rendra memberikan lengannya agar ayu menggandengnya. Mereka berjalan keluar dari kamar hotel menuju tempat acara pesta resepsi.
Semua tamu undangan begitu takjub melihat kecantikan Ayu dan ketempanan Rendra. Rendra begy bangga memiliki istri yang begitu cantik. Bagaimana tidak cantik, Ibunya ayu saja begitu cantik dan mempesona setelah di makeover dan menggunakan kebaya yang seragam dengan keluarga Rendra. Sampai- sampai Wibowo pun terus mencuri pandang ke arah Rahma.
Rendra dan Ayu kini duduk di pelaminan melihat semua tamu undangan yang hadir. Cukup banyak tamu undangan yang hadir. prosesi demi prosesi pernikahan adat juga di jalankan. Sampai saatnya Ayu dan Rendra berganti pakaian dengan gaun dan jas modern, begitu juga orang tua masing-masing. pesta terakhir adalah bersenang-senang menemui temen dan rekan bisnis. Ada juga yang berdansa di lantai dansa yang sudahh di sediakan.
“Selamat ya bro! Kau memang taruhan!” ucap Alex pada Rendra saat Ayu sedang berbicara dengan istri Rendra dan Bara.
"Tidak ada yang bisa mengalahkanku Lex!” balas Rendra begitu bangganya.
“Jadi Ayu itu statusnya istri taruhan dong!” sambung Bara.
“Sudah jangan bahas itu. Hari ini kita senang-senang!” Balas Rendra sambil mengangkat gelasnya yang berisikan Wine.
Mereka bertiga pun minum dan bersenang-senang. Rendra tidak minum banyak wine, karena ia tidak ingin mabuk. ia hanya minum secukupnya saja. Setelah itu Rendra menghampiri Ayu untuk berdansa.
Wibowo juga tidak mau kalah, ia juga ikut berdansa dengan sang istri. Mereka semua larut dengan suasan yang begitu romantis. Namun mata Wibowo terus mencuri pandang ke arah Rahma yang duduk tersenyum melihat sang anak sedang berdansa dengan suaminya.
Ratna merasa sudah lelah akhirnya ia meminta pada Wibowo agar menyudahi dansanya.
“Pa, sudah ya! Aku sudah capek!”
"Baiklah. Kita duduk!” Wibowo merangkul pinggang Ratna dan duduk di bangku satu meja Rahma.
“Papa Bowo! Bagas ngantuk!” ujar Bagas tiba-tiba menghampiri Wibowo.
“Ya sudah sini!” Wibowo memangku Bagas.
“Bagas, sama ibu saja ya!” Rahma merasa tidak enak dengan sikab Bagas yang seenaknya memanggil Wibowo dengan sebutan Papa.
“Gak mau!”
"Sudah Bu. Tidak apa-apa.” saut Ratna tersenyum lalu mengusap lembut rambut Bagas.
Rahma tersenyum tipis lalu sekilas melihat Wibowo byang ternyata sedari tadi terus melihatnya pandangan mereka bertemu membuat keduanya salah tingkah.