Pernikahan adalah sesuatu hal yang sakral. Bagi setiap wanita menikah dengan pria yang dia cintai sungguh suatu hal yang sangat membahagiakan.
Sefya menikah dengan seorang pria yang diam-diam dia sukai dan pria itu adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan Kosmetik terkenal yaitu RAA'ARA Kosmetik, namun sayangnya pria itu tidak mencintainya sama sekali, pernikahan karena perjodohan memang sering kali menjadi cinta bertepuk sebelah tangan.
Sefya yang terus bertahan dengan sikap acuh suaminya, mulai berusaha agar suaminya mau mengakuinya dan juga mencintai dirinya.
Akankah usaha Sefya membuahkan hasil? atau malah akan sia-sia?
Baca ceritanya, jangan sampai ketinggalan, akan Update setiap hari dua bab...
Saranghae n Kamsahamida
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biggest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AR - 14 Sahabat
Sefya yang bertamu kerumah Dinniar menceritakan semua tentang hubungannya dengan Richard yang kurang membaik. Sefya menceritakan kalau dirinya sudah diketahui identitasnya oleh suaminya.
"Fy, aku rasa ini memang sudah jalan dari Tuhan untukmu. Ambil hikmahnya. Kamu sekarang harus berusaha memperbaiki rumah tanggamu. Kamu tidak mau'kan kalau rumah tanggamu kandas di usia masih seumur jagung?" tanya Dinniar.
"Biar saja, mungkin itu yang terbaik. Mungkin aku memang bukan jodohnya." Sefya cemberut.
"Fy, kalau kalian bukan jodoh. Tidak mungkin tuhan mempersatukan kalian. Dia jodohmu, kamu harus yakin itu. Sekarang giliran kamu berusaha semaksimal mungkin. Ingat, tidak ada usaha yang akan mengkhianati hasil." Dinniar memeluk sahabatnya.
Sefya benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dirinya sangat menyukai Richard, tapi suaminya sebaliknya sangat membencinya.
"Kita jalan-jalan ajah yuk. Namun, sebelum kita pergi. Kamu ikut aku ke kamar." Dinniar membawa sahabatnya ke kamarnya.
Dinniar dan Sefya sudah sampai di kamar yang begitu tertata rapih semua barangnya. Di sana banyak barang saling berpasangan, seperti pemilik kamar ini.
"Kamarmu, sangat membuat aku iri." Sefya tertunduk.
"Tidak perlu iri. Kamu akan segera merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan sekarang." Dinniar menggiring sahabatnya duduk di bangku meja riasnya.
"Duduk dan pandangi wajahmu. Buat wajah itu seperti dulu lagi. Aku menantimu di bawah." Dinniar memberikan waktu untuk sahabatnya membuat keputusan.
Sefya memandangi wajahnya di cermin, dia memegang pipinya.
Aku seharusnya tetap terlihat cantik di mata suamiku, meski aku tidak berdandan. Tapi apa boleh buat, suamiku tidak mencintaiku. Jadi haruskah aku kembali sekarang? Bisakah wajah ini membuatnya membuka hati untukku?
Sefya yang malang, menikah dengan membawa cinta seorang diri. Mengetahui kalau suaminya mencintai dan memuja wanita lain. Apa ini pernikahan yang dia harapkan? Tentu saja bukan. Dia mengharapkan pernikahan yang saling membalas perasaan satu sama lain.
Sefya perlahan membuka kacamata yang menempel diwajahnya. Dia memandangi wajahnya yang cantik meski polos tanpa sedikitpun makeup.
"Hah." Sefya menghela napas putus asanya.
"Baiklah Sefya! Tunjukkan kamu lebih cantik, lebih pintar dan lebih elegan dari pada wanita yang di cintai suamimu." Sefya menyemangati dirinya sendiri.
Sefya mulai memoles wajahnya dengan alas bedak, kemudian bedak. Dia juga merias matanya yang indah dengan eyeliner, eye shadow dan maskara. Tidak lupa dia memberikan warna pink natural di bibirnya yang mungil dan berbentuk indah.
Sefya sudah siap dengan dirinya yang dahulu. Dia sudah sangat cantik meski dengan polesan yang natural.
Sefy**a**
Sefya menguncir rambutnya dan selesai. Dia turun menghampiri Dinniar.
"Nah, ini baru Sefya yang aku kenal."
Dinniar sebenarnya dulu adalah teman yang biasa membantunya merekam saat akan membuat vlog. Jadi Dinniar sudah tahu bagaimana rupa Sefya yang sesungguhnya. Wanita cantik yang baik hati dan mandiri meski terlahir dengan sendok emas ditangannya.
"Kita pergi sekarang." Dinniar menggandeng tangan sahabatnya untuk mengalirkan kekuatan dan rasa percaya diri yang besar.
"Mau kemana kita?" tanya Sefya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Ikut saja."
Dinniar melajukan mobilnya, mereka pergi dengan menggunakan mobil Dinniar.
.
.
Richard memanggil sekretarisnya dan memintanya menunda meeting internal hari ini.
"Tapi Pak, hari ini meeting membahas tentang Branch Ambassador." Sekretaris mengingatkan bosnya.
"Tunda saja. Karena saya tidak mau pakai wanita itu untuk menjadi Branch Ambassador."
"Jadi maksud Bapak, artis itu batal kontrak dengan kita?" tanyanya agar memastikan apa yang diinginkan bosnya.
"Kalau kamu sudah tahu, kenapa pakai bertanya." Richard membuka pintu ruangan.
Sekretaris itu hanya bisa memandangi Richard yang keluar ruangan tanpa bisa mengetahui kenapa berubah pikiran.
.
.
Richard pergi menemui Clara di tempat syuting.
"Richard, kamu di sini?" tanya manager Clara.
"Di mana Clara?" tanya Richard.
"Clara ... Clara." Manager Clara bingung mau memberikan jawaban apa.
Wanita itu, apa dia tidak tahu kalau pacarnya akan menyusulnya kemari? Kenapa dia malah pergi dan bersenang-senang dengan pria lain?
"Dimana?" Richard kembali bertanya keberadaan kekasihnya.
"Dia sedang pergi, aku hubungi dia dulu." Meraih ponsel dan menghubungi Clara.
Sayangnya, Clara malah mengabaikan panggilannya. Namun dia tidak menyerah, dia menelepon kembali dan kali ini diangkat.
"Kamu dimana?" tanyanya kepada seseorang yang sedang dicari.
"Aku di hotel terdekat, kenapa?" Clara menjawab sambil nafasnya diburu.
"Kamu sedang apa?" bisiknya agar Richard tidak bisa mendengar.
"Tentu saja bercocok tanam. Dia membuatku ingin mencobanya." Clara sedikit mendesah.
"Ada Richard di sini, dia mencarimu."
"Apa? Suruh dia menungguku di restoran flame. Dekat dari hotel tapi agak jauh dari lokasi syuting. Aku selesaikan permainanku dengan cepat dan segera menyusulnya."
Telepon langsung terputus.
"Richard, Clara sedang ada di restoran Flame. Kamu bisa menyusulnya di sana."
Tanpa menjawab Richard langsung pergi dan manager Clara langsung mengirim pesan untuk modelnya yang gila main ranjang.
"Merepotkan." Keluhnya.
.
.
Dinniar mendapat panggilan telepon saat dia sedang menyetir.
"Hallo, bagaimana?" tanyanya.
"Okeh baiklah, aku akan segera ke sana." Dinniar menutup teleponnya.
"Siapa?" tanya Sefya.
"Temanku, kita akan ke restoran Flame. Kita bertemu dengan temanku di sana."
Sefya hanya mendengarkan saja perkataan sahabatnya tanpa bertanya apapun.
Dinniar melajukan mobilnya dengan cepat. Karena jarak tempuhnya lumayan jauh.
"Kenapa harus di Flame? Bukannya jauh dari sini?" tanya Sefya yang kemudian ingin tahu.
"Mereka yang menentukannya. Kita hanya akan mengikuti permainannya." Dinniar tersenyum tipis penuh rencana.
Sefya tidak tahu apa yang akan direncanakan sahabatnya dan tujuan mereka kesana.
.
.
Clara mempercepat tempo mainnya, dalam permainannya yang terpenting adalah keinginannya terpenuhi. Sedangkan untuk si pria yang penting sudah pernah mencicipi.
"Lanjutkan permainan. Berikan servis yang terbaik versimu. Agar kamu bisa kembali naik ranjang denganku."
Pria itu mengikuti perintah pemilik hasrat. Dia tidak bisa menolak atau meminta lebih dari usahanya.
Karena begitulah syarat dari Clara. Memenuhi keinginannya atau tidak akan pernah bisa menyentuh dirinya.
Sungguh wanita maniak naik ranjang. Tidak dapat dari kekasihnya dia mencari pria lain demi hasrat terlarangnya.
.
.
Richard sampai di restoran flame. Dia mencari sosok kekasih pujaan hatinya. Namun, di sana dia malah bertemu dengan Farah dan juga Kevin.
"Richard." panggil Farah.
"Farah? Kevin? Kalian di sini juga?" tanya Richard yang terkejut.
"Iyah. Kami janjian dengan seseorang di sini. Kamu di sini pasti mau makan sama Sefya ya?" tanyanya antusias.
"Tidak, aku ingin bertemu seseorang. Dia model yang akan menjadi Branch Ambassador salah satu produk perusahaan." jawabnya penuh kebohongan.
Richard tidak bisa memberitahukan Farah kalau dirinya akan menemui kekasihnya. Itu bisa menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.