Menikah demi bayi dalam kandungannya, tidak pernah Mikha bayangkan sebelumnya. Terlebih lagi, Arvin bukan ayah biologis bayinya. Juga bukan pria yang ia cintai.
Siapakah yang akan Mikha pilih sebagai pasangan hidup selamanya?
Di saat Arvin mulai mencintainya. Serta, hadirnya cinta pertamanya, Devan dalam kehidupannya. Menawarkan kebahagiaan yang sempat mereka impikan.
Demi melindungi bayi dalam kandungannya, Mikha bersedia menikah dengan pria yang baru saja ia kenal, serta tidak ia cintai, Arvin.
Sama-sama terpaksa menikah, Arvin dan Mikha setuju untuk membuat perjanjian pernikahan. Di mana, mereka akan bercerai setelah anak tersebut lahir.
Arvin yang memiliki trauma di masa lalunya, terus bersikap dingin dan jutek pada Mikha. Meskipun perempuan tersebut telah berusaha bersikap baik sebagai ucapan terima kasihnya. Karena Arvin bersedia menikahinya.
Siapakah yang akan Mikha pilih sebagai pasangan hidup selamanya?
Di saat Arvin mulai membuka hatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Friezta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Apa kamu cemburu
Arvin meminta bungkusan tersebut dari tangan sekretarisnya. Setelah melihat kotak bekal makanan itu, ia ingat jika kotak tersebut milik Mikha. Sebab ia pernah melihatnya di apartemen.
“Kamu beli makan pakai kartu ini saja,” ujar Arvin yang menyerahkan kartu kreditnya untuk sekretarisnya. “Ini pastinya di buat untuk saya. Jadi kamu beli makan sana,” titah pria tersebut yang masuk kembali ke dalam ruangannya.
“Ah, maaf. Ada sedikit masalah tadi. Karena sudah tidak ada yang harus kita bicarakan, silakan Anda kembali ke kantor. Karena saya mau makan siang,” pinta Arvin yang duduk di kursi kebesarannya.
Sementara wanita yang menjadi tamunya hanya bisa tersenyum canggungg. Merasa di usir oleh pria dingin tersebut.
“Maaf, untuk kejadian tadi. Bagaimana kalau sebagai ucapan maaf saya, kita bisa makan siang bersama mungkin?” tawar wanita tersebut.
Arvin menggeleng pelan. “Maaf, tapi saya sudah mendapatkan makan siang dari istri saya. Dan masalah tadi, saya hanya menolong atas dasar kemanusiaan, tidak ada maksud lain. Kecuali jika Anda yang memiliki maksud lain kepada saya. Tapi maaf, karena saya sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak. Jadi, saya harap Anda berhenti sampai di sini. Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja, nggak lebih,” jelas Arvin yang tak ingin mendapatkan masalah baru. Seandainya wanita ini terus berusaha mendekatinya dengan berbagai cara liciknya.
Malu atas apa yang Arvin katakan, wanita tersebut lebih memilih untuk segera pergi. Sementara pria itu, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sembari menghela napasnya panjang.
“Kenapa dia ke sini tanpa bilang dulu? Semoga dia nggak ngadu ke Tante Sarah,” gumam Arvin yang memikirkan kedatangan Mikha secara mendadak seperti tadi.
Arvin segera membawa bungkusan bekal makanan yang di bawa oleh Mikha tadi. Mencicipi masakan dari istrinya itu. Ada seulas senyum tipis menghiasi bibirnya saat memakannya.
Pria tersebut berjanji akan menjelaskan semuanya nanti saat pulang. Ia tak ingin Mikha salah paham terhadapnya.
Selesai makan, Arvin kembali menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaannya yang menumpuk. Ia ingin segera menyelesaikannya lalu pulang tepat waktu. Agar bisa bertemu dengan Mikha. Menjelaskan apa yang wanita hamil tadi lihat, karena tidak sesuai dengan dugaannya. Mungkin sambil makan malam di luar.
Tak lama, dering ponselnya terdengar. Rupanya Tante Sarah yang menghubunginya. Arvin bingung ada apa tantenya itu menghubunginya di saat jam kerja seperti ini.
“Ya, hallo, tante? Ada apa?” sapa pria tersebut berusaha setenang mungkin.
“Apa Mikha masih di sana? Soalnya kata bibi, dia mau mengantarkan makan siang kamu. Tapi kenapa sampai sore begini belum pulang juga. Kalau di sana, ya sudah. Tante hanya cemas padanya,” cerocos tante Sarah yang berhasil membuat jantung Arvin berdegup kencang.
Pasalnya, ia sedang tak bersama Mikha saat ini. Dan lagi, wanita tersebut pergi dari kantornya siang tadi.
Jika sampai sore ia belum kembali ke apartemen, lantas ke mana perginya wanita hamil itu?
Arvin bingung apa yang harus dia katakan kepada tantenya saat ini. Apa tanggapan tantenya jika tahu permasalahan mereka.
“Iya, tante. Dia di sini, kok. Nanti biar pulang sama Arvin saja. Mau menemani aku kerja katanya,” dusta pria itu berusaha tenang. Agar tantenya tidak curiga. Meskipun saat ini pikirannya tengah kalut memikirkan keberadaan Mikha di mana.
“Oke. Kalau begitu tante pulang dulu, yah? Salam saja sama istrimu,” pamit Sarah yang memutuskan panggilannya begitu mendengar jawaban Arvin.
Sedangkan Arvin, pria itu terlihat frustrasi saat ini. Ia cemas dan khawatir memikirkan ke mana sebenarnya Mikha pergi.
Tak ingin menunggu lebih lama, Arvin memutuskan untuk secepatnya mencari Mikha. Mengambil kunci mobil dan tas kantornya. Segera keluar dari ruangannya dan mendekati sekretarisnya yang mengerutkan keningnya melihatnya keluar.
“Juna, saya mau pulang. Ada urusan penting, kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi saya,” pungkas Arvin yang terlihat terburu-buru pergi.
Membuat Juna hanya bisa mengangguk patuh. Tak tahu apa yang membuat bosnya itu pergi seperti itu. Terlihat raut kecemasan dalam wajahnya. Dan itu membuatnya penasaran akan siapa sosok yang bisa membuat sang bos dinginnya ini begitu peduli. Selain Om dan Tantenya, Arvin memang tak peduli pada orang-orang sekitarnya.
Arvin mencoba menghubungi ponsel Mikha, tapi sayangnya ponselnya tidak aktif. Pria tersebut memukul kemudinya dengan kesal. “Sial! Kemana perginya dia? Haish, menyusahkan saja, bikin orang khawatir saja,” gerutunya sembari menoleh ke kanan dan kiri. Melihat sisi jalanan yang ia lewati. Berharap bisa menemukan istrinya tersebut.
Pria tersebut menjelajahi jalanan seputar menuju ke apartemennya. Ia yakin, jika Mikha tak akan pergi jauh. Terlebih lagi dengan kondisi hamil.
Dan benar saja, Arvin menajamkan pandangannya. Tatkala melihat sesosok yang ia hapal dari postur tubuhnya. Tengah duduk di taman, sembari menikmati rujak buah. Tampak sangat lahap, juga beberapa makanan yang pria itu lihat ada di sebelah wanita tersebut.
Arvin segera menghentikan mobilnya dan buru-buru keluar dari mobil. Berlari kecil menghampiri Mikha yang terlihat asyik menyaksikan beberapa anak-anak kecil bermain bola.
“Mikha?” panggil Arvin saat berdiri di depan wanita tersebut, dengan napas leganya.
Merasa di panggil, Mikha mendongak dan membelalakkan matanya lebar. Terkejut tentu saja melihat suaminya berada di depannya saat ini.
“Arvin? Kok ada di sini?” tanyanya sembari menengok ke belakang pria tersebut. Memastikan bahwa suaminya itu datang sendiri.
“Kenapa ponsel kamu nggak aktif? Ke mana saja kamu? Kenapa nggka masuk saja tadi? Kamu datang ke kantor dan malah memberikan bekal makan siangku ke sekretarisku? Sebenarnya kamu niat nggak, sih, buat makan siang untukku?” cerocos Arvin yang lega sekaligus bercampur kesal.
Mikha menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sedih karena pria tersebut datang menjemputnya hanya untuk memarahinya di depan umum seperti ini?
Arvin terjingkat kaget saat melihat Mikha malah terisak pelan. Membuang napasnya kasar, ia menarik tangan istrinya agar berdiri dan memeluknya erat.
Sambil mengusap lembut punggungnya, “Maaf. Aku bukannya marah ke kamu. Aku hanya khawatir sama kamu, sama kandungan kamu. Jadi, jangan hilang seperti ini lagi. Mengerti?” tegasnya sambil melepaskan pelukannya dan mengusap lembut air mata istrinya yang mengangguk patuh.
“Sekarang ayo, pulang, hm?” ajak Arvin.
Mikha kembali mengangguk patuh. Entah, apa yang kini tengah ia rasakan. Rasanya seperti seorang istri yang di bujuk oleh suaminya saat sedang merajuk.
Arvin melirik bungkusan makanan yang di bawa oleh Mikha. “Kamu borong semua itu? Bagus! Makanan nggak sehat di makan semua, nanti kalau sakit perut gimana? Siapa yang susah?” omelnya kesal.
Mikha mendengus kesal, “Heh! Ini juga gara-gara kamu merusak mood aku. Makanya aku beli apa saja yang kelihatan oleh mata. Jadi, kamu yang salah, titik!” debatnya tidak ingin di salahkan sama sekali.
Arvin mengernyitkan keningnya, tak terima di salahkan oleh istrinya. “Loh? Kok jadi aku yang salah? Kamu yang salah, ‘kan? Enak saja melimpahkan kesalahan ke aku,” gerutunya sebal.
“Ya, pokoknya kamu yang salah. Siapa suruh malah peluk-pelukan sama cewek seksi di kantor. Ya, sudah bekalnya aku kasih karyawan kamu saja, huh,” balas wanita tersebut dengan bibir merengut kesal. Tak lupa kedua tangannya yang ia lipat di depan.
Arvin membukakan pintu mobil untuk Mikha. Setelah istrinya itu masuk dan duduk masih dengan wajah masamnya.
Pria tersebut mendekat dan menarik seat belt untuk Mikha. Sembari berbisik tepat di telinga wanita tersebut, “Apa kamu cemburu?” tanyanya dengan senyum menyeringai.
semangat update lgiii