Blurb
Andai setahun yang lalu Madu akhiri semuanya. Hidupnya mungkin tak sepahit ini. Cinta sejati yang Madu bangga-banggakan, ternyata memporak-porandakan hidupnya.
Ketulusan dan kesetiannya telah dicurangi. Tetapi karena kenaifannya, Madu justru terjebak cinta sejati yang semu. Sosok Jidan yang hadir dalam hidupnya, membuat Madu bagai makan buah simalakama.
Rayyan yang mengetahui kelemahan Madu, semakin berjaya menabur luka di jiwa dan raga Madu. Tidak sedetik pun senyum Madu berkembang. Karena Rayyan selalu menabur garam pada setiap sendi kehidupan Madu.
Madu sangat ingin mengakhiri kisah itu. Namun kenaifannya menjerat tegas yang tersemat. Madu tak bisa melangkah bersama Jidan, namun dia pun tak bisa kembali pada Rayyan.
Bahagia serasa menjauh darinya, dunia seraya berhenti berputar. Madu merasa takdir benar-benar tidak berpihak kepadanya. Akankan madu mampu menggapai purnama, sedang jiwanya terperangkap dilautan bahtera rumah tangga dengan perahu yang karam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Wiyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapuh
Part 14
"Aku hanya ingin hakku, biarkan aku menikmatinya meskipun hanya sekali." Zakia membisikkan hasratnya pada Jidan.
Jidan yang termangu mendengar bisikan Zakia, semakin limbung. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin pun mengalir tanpa permisi. Pria beralis tebal itu, tidak pernah menyangka akan tiba pada posisi ini.
Bola mata Jidan meredup, perlahan tangannya membalas pelukan Zakia. Zakia tersenyum menggoda dan manja. Bibirnya mengisyaratkan nafsu yang tak terbendung. Pria beralis tebal itu pun pasrah dan hanya diam, menerima kemesraan yang diberikan Zakia.
Malam semakin larut, sang raja malam pun mulai menunjukkan kuasanya. Heningnya malam, seolah menjadi saksi tercurahnya hasrat yang lama terpendam. Tak ada suara atau pun perdebatan, hanya terdengar sesekali, ******* Zakia dan tarikkan napas panjang Jidan.
"Tunggu Kia, dengarkan aku." Jidan berusaha melepaskan pelukan erat Zakia.
"Tidak Jidan, malam ini Kau milikku." Zakia semakin erat memeluk Jidan.
"Bukan itu maksudku, dengarkan aku, aku mencium aroma amis dari tubuhmu." Jidan berbisik
Mendengar bisikan Jidan, seketika Zakia melepaskan pelukkannya. Kemudian dengan sigap, dia memeriksa dirinya. Tidak ditemukan aroma itu pada tubuhnya.
Zakia mengendus-endus tubuhnya. Hampir saja dia naik darah, namun Jidan menunjuk gaun bawahnya yang bernoda merah.
"Aku tidak tahu, kalau ternyata aku datang bulan." Zakia menutup mukanya.
"Ya Tuhan, kenapa Kau lakukan ini padaku." Zakia berteriak kecewa.
"Sudahlah Kia, sebaiknya Kau bersih-bersih dulu." Ujar Jidan.
Tanpa sepatah kata pun, Zakia beranjak dari tempat tidur. Perempuan berambut pirang itu membanting pintu dengan keras. Jidan yang melihat tingkah Zakia, menatap tajam tanpa tanya.
Hari telah berganti pagi, Zakia yang masih lelap dalam tidurnya tak menyadari sepasang bola mata menatapnya tajam. Pria beralis tebal itu telah bersiap ke kantor, namun saat menatap Zakia ada rasa bersalah bersemayam dalam dirinya.
Perlahan dia mendekati tempat tidur, lalu merapikan selimut dan membiarkan Zakia lelap dalam tidurnya. Ketika tepat di hadapan wajah Zakia, tiba-tiba bulu kudunya berdiri. Dia teringat peristiwa semalam, hampir saja dia kehilangan keperjakaannya.
"Sebenarnya Kau ini gila atau kurang waras?"
"Dia istrimu, tetapi mengapa Kau biarkan dia merindukanmu ?"
"Dia di dekatmu, tetapi mengapa Kau biarkan hatimu menjauh darinya?"
"Sadarlah Jidan, sampai kapan Kau hidup sebagai orang lain?"
Berjuta tanya, berkecamuk dalam benak pria beralis tebal itu. Dengan segala kerumitan pikirannya, dia pun meninggalkan pesan di samping Zakia dan secangkir teh hangat. Setelah itu, dia pun melajukan mobilnya dengan kencang.
Dalam perjalanan, sebuah panggilan masuk di ponselnya. Tanpa berpikir panjang, Jidan pun mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum, apa kabar pak Rahmat?" Jidan menyapa.
"Walaikumsalam, kabar saya baik Pak. Tetapi bu Madu Pak ... " suara Pak Rahmat tampak khawatir dan panik.
"Ada apa dengan Madu?"
"Bu Madu sakit Pak."
"Sakit?" Jidan menghentikan laju kendaraannya.
"Sudah satu minggu ini bu Madu sakit, tetapi beliau belum juga dibawa ke dokter." Ujar Pak Rahmat.
"Kenapa begitu Pak?" Jidan mengangkat alisnya.
"Iya Pak, Pak Rayyan pergi ke luar kota, sebelum pergi beliau berpesan agar ibu tidak keluar rumah, apapun yang terjadi."
"Astaghfirullah ... kenapa Madu diam saja, apakah suaminya tahu kalau Madu sakit?"
"Tidak ada yang memberitahu pak Rayyan, ponselnya tidak bisa dihubungi." Pria paruh baya itu mengecilkan nada bicaranya.
"Apa maksud Pak Rahmat?" Jidan mengerutkan dahinya.
"Nutt ... nutt ... " tidak ada jaringan.
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi ulang, namun ponsel pak Rahmat tetap tidak bisa dihubungi. Jidan memutar otak, dalam kebingungannya, tiba-tiba ada panggilan masuk.
"Maaf, selamat pagi, benar ini dengan Bapak Jidan?" Suara perempuan muda menyapa dengan ramah.
"Iya benar, maaf ini siapa?"
"Saya perawat Rumah Sakit tempat saudara Bapak dirawat."
"Iya suster, ada berita apa?"
"Saudara Bapak memberi respon, sebaiknya Bapak ke Rumah Sakit."
"Baiklah, terimakasih informasinya." Jidan pun segera menutup ponselnya, lalu melaju menuju ke Rumah Sakit.
Setibanya di Rumah Sakit, Jidan segera menuju ruangan di mana Syahid dirawat. Benih-benih bahagia mulai bersemi dibenaknya. Jidan berharap dengan sadarnya Syahid, tugasnya menjaga Zakia telah selesai.
Tidak berapa lama, pria beralis tebal itu pun sampai di ruangan Syahid dirawat. Tampak dokter dan beberapa perawat di sana. Syahid yang masih terbaring lemah, tampak tersenyum melihatnya.
Melihat senyum sahabatnya, Jidan pun segera berlari dan memeluk sahabatnya itu. Mereka pun tampak melepas rindu. Hingga tanpa sadar, butiran hangat pun mengalir dari bola mata kekar Jidan dan tatapan layu Syahid. Dokter dan seisi ruangan pun, ikut mengharu biru. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya bola mata yang saling menatap seolah menjelaskan segalanya.
"Selamat ya Pak, Anda telah kembali." Dokter tersenyum sembari menjabat tangan Syahid.
"Terimakasih Dok." Syahid membalas senyum sang dokter.
"Maaf, setelah ini silakan Anda ikut saya ke ruangan, dan biarkan pasien istirahat."
"Baik Dok." Jawab Jidan singkat, sembari berbinar-binar.
"Syahid, istirahatlah!" Jidan melepaskan tangan Syahid dan beranjak meninggalkannya.
Syahid melepas kepergian Jidan bersama dokter dengan senyum. Seorang suster menemani Syahid, dan merapikan alat-alat kesehatan yang melekat ditubuh Syahid.
"Suster, berapa lama saya di sini?" Syahid bertanya lirih.
"Sekitar 3 tahun Pak." Ujar suster.
"Tiga tahun?" Syahid mencoba meraba memorinya.
"Suster, kenapa kaki saya tidak bisa digerakkan dan kepala saya pusing?" Syahid meringis kesakitan dan memegang kepala dengan ke dua tangannya.
"Tenang Pak, jangan banyak bergerak dan jangan paksa pikiran Bapak bekerja!" Suster mencoba menenangkan Syahid.
"Tapi Suster, ini pusing sekali ... akhhh " Syahid terus saja merintih.
"Tenanglah Pak, semua akan baik-baik saja." Sang perawat dengan sabar mencoba menenangkan Syahid.
Sementara itu, Jidan yang berada di ruangan dokter, tampak serius mendengarkan penjelasan dokter. Ada rasa bahagia, sebab Syahid telah sadar. Namun juga ada rasa gelisah dan khawatir mendengar penjelasan dari dokter.
Pria beralis tebal itu, tambah dalam kegelisahan. Di waktu yang bersamaan dia harus mengambil keputusan yang serba sulit. Dia ingin menyelamatkan cintanya, namun faktanya itu bukan miliknya. Dia ingin mengembalikan tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya, namun faktanya dia harus bertanggung jawab dengan ikrar sakral yang bernama pernikahan. Sementara disisi lain dia pun ingin berkata jujur pada sahabatnya, tetapi dokter berpesan agar sahabatnya itu jangan dibebani dengan pikiran yang berat.
"Jadi itu yang harus saya sampaikan Anda, apakah Anda baik-baik saja?" Dokter berkali-kali mencoba menyadarkan Jidan dari riuhnya pikiran yang bertaburan dibenaknya.
"Maaf, apakah Anda baik-baik saja?" dokter melambaikan tangannya di wajah Jidan.
"Halo ... " dokter menjentikkan jarinya.
"Ahh ... maaf Dok, saya baik-baik saja." Jidan segera bangun dari lamunannya
"Baguslah, jadi sekarang jika masih ada yang ditanyakan silakan." Dokter tersenyum tegas.
"Jika dirasa cukup, Anda boleh kembali."
"Baik Dok, terimakasih saya rasa cukup." Jidan pun menyalami sang dokter, lalu bersiap pergi.
Namun belum sempat Jidan berpamitan, seorang perawat masuk dan meminta dokter ke ruangan Syahid. Tanpa berunding ketiganya pun bergegas menuju ruangan di mana Syahid dirawat.
*_Bersambung_*