Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:496
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Jemari Evangeline membeku di atas tutup permukaan kotak kayu itu diukir rapat dengan pola sulur mawar tanpa duri, sebuah perbedaan kontras dari ukiran mawar beracun milik Dominic.

Cahaya fajar yang abu-abu menerobos masuk dari dinding kaca lantai tiga, memantul tipis di atas mata hazel Eva yang berkilat penuh konflik batin.

Seorang wanita bermata hazel bersinar bagaikan mawar di tengah malam.

Kalimat Dominic masih bergaung keras di kepalanya. Apakah Lady Vivienne mengenal ibunya, Clara Cross? Apakah dua wanita dari dunia yang bertolak belakang itu memiliki rahasia bersama sebelum mereka berdua dihabisi secara misterius empat belas tahun lalu?

Dominic memperhatikan setiap milimeter perubahan pada raut wajah Eva. Pria itu menyandarkan siku di lututnya, memajukan tubuhnya sedikit hingga bayangannya menutupi sebagian meja kayu di antara mereka.

"Kau tidak tampak terkejut dengan deskripsi ibuku, Evie," bisik Dominic, suaranya yang serak meluncur rendah. "Atau kau memang sudah tahu bahwa takdirmu terkunci dengan rumah ini sejak sebelum kau menginjakan kaki di galeri seni itu?"

Eva mengendalikan embusan napasnya dengan presisi seorang pembunuh bayaran. Ia menarik kembali tangannya dari atas kotak kayu, menyilangkannya di depan dada untuk menyembunyikan getaran halus di jemarinya.

"Aku hanyalah seorang wanita yang baru saja selamat dari kejaran pembunuh berdarah dingin di ruang penyimpananmu, Dominic," balasan Eva dingin, matanya mengunci pandangan tajam pria di hadapannya tanpa ragu. "Jangan membebankan ramalan mistis almarhumah ibumu pada bahuku."

Dominic menyunggingkan senyum tipis. "Ibu tidak pernah percaya ramalan, Evie. Dia percaya pada perhitungan. Jika dia menuliskan ciri-ciri fisik seseorang dalam catatannya, itu berarti dia telah menyiapkan sesuatu untuk hari ini."

Dominic mengulurkan tangannya, menyentuh kait gembok kuningan pada kotak itu. Gembok tersebut tidak memiliki lubang kunci konvensional, melainkan empat roda angka kuningan berukir simbol-simbol kuno.

"Gareth tewas sebelum sempat menyentuh kotak ini," lanjut Dominic. "Pengkhianat di luar sana tahu kotak ini ada di vault, tetapi mereka tidak tahu kombinasi empat simbol untuk membukanya. Bahkan aku pun tidak tahu."

"Dan kau berharap aku tahu komparasi simbolnya?" cemooh Eva sinis.

"Aku berharap kau memikirkannya," sahut Dominic tegas. "Karena orang yang membunuh Gareth malam ini dengan pemicu racun jarak jauh... adalah orang yang sama yang menginginkan kepalamu jika mereka tahu kau ada di dalam vault bersamanya."

Ketegangan di antara mereka kembali memuncak. Dominic tidak menyerahkan kotak itu sepenuhnya, namun ia secara terbuka memamerkan teka-teki tersebut di hadapan Eva, sebuah umpan sekaligus jebakan mematikan.

Jika Eva mencoba membukanya secara paksa, Dominic akan tahu ia memiliki pengetahuan tersembunyi. Namun jika Eva mengabaikannya, ia akan kehilangan satu-satunya petunjuk yang bisa mengungkap identitas pembunuh Clara Cross.

"Sabar Evangeline, jangan terprovokasi oleh iblis ini," bisik suara batinnya sendiri.

Tiba-tiba, ketukan di pintu kamar utama kembali memecah hening pagi yang mencekam. Ketukan bersandi rahasia milik Viktor.

Dominic mengarahkan pandangannya ke pintu, rahangnya menegang tipis. Ia berdiri dari sofa, mengambil kembali kotak kayu berukir itu, lalu memasukkannya ke dalam kompartemen tersembunyi di balik dinding kayu meja kerjanya sebelum melangkah membukakan pintu.

Di balik pintu, berdiri Lady Eleanor Blackwood.

Wanita tua itu mengenakan gaun sutra hitam berkerah tinggi dengan selendang kasmir abu-abu yang melingkari bahunya. Meskipun usianya sudah lanjut, binar mata kelamnya memancarkan ketajaman murni seorang penguasa sejati yang telah melewati puluhan perang antar faksi. Di belakangnya, dua pengawal pribadi berdiri tegap dalam sikap siaga.

"Nenek," kata Dominic datar, memberi jalan bagi wanita tua itu untuk melangkah masuk.

Lady Eleanor melangkah anggun memasuki kamar utama. Tongkat kayu berukir kepala naga yang dipegangnya berketuk pelan di atas lantai marmer. Pandangan matanya langsung tertuju pada Eva yang masih duduk di sofa dengan pakaian latihan serba hitam.

"Laporan dari ruang penyimpanan bawah tanah sudah sampai ke mejaku satu jam lalu, Dominic," suara Lady Eleanor terdengar tenang namun menekan, bagaikan air tenang yang menghanyutkan.

"Seorang pengawal senior tewas teracuni, dan cucu menantuku berada di dalam ruangan beracun itu dalam kondisi memegang belati The Five Thorns."

Eva berdiri perlahan dari sofa, menundukkan kepalanya sedikit sebagai gestur penghormatan yang terkontrol. "Lady Eleanor."

Eleanor mendekati Eva, menghentikan langkahnya hanya setengah meter di depan gadis itu. Wanita tua itu mengangkat tangannya yang keriput namun kuat, menggunakan ujung tongkat naganya untuk mengangkat dagu Eva secara halus, memaksa Eva menatap lurus ke dalam matanya.

"Kau memiliki keberanian yang sangat berbahaya, Evie Thorne," desis Lady Eleanor seraya mengamati sepasang mata hazel Eva dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Seorang wanita biasa akan bersembunyi di balik selimut ketika mendengar bentrokan di sektor empat. Namun kau justru merayap menembus pipa air untuk menuju pusat rahasia keluarga ini."

"Aku mendengar kebocoran pengamanan dari koridor, Lady Eleanor," sahut Eva dengan alibi yang telah ia susun matang.

"Sebagai wanita yang kini terikat pada nama Blackwood, keberadaan pengkhianat di rumah ini adalah ancaman langsung bagi nyawaku sendiri. Aku hanya bertindak untuk bertahan hidup."

Lady Eleanor menatap Eva selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, seolah sedang menimbang seberapa banyak kebohongan yang terbungkus di balik kata-kata lembut gadis itu.

"Jawaban yang cerdas," ujar Lady Eleanor pelan, menurunkan tongkatnya kembali ke lantai. "Namun ketangkasanmu berburu di dalam gelap menunjukkan bahwa kau bukan sekadar putri seorang dokter bedah distrik luar."

Dominic melangkah mendekat, berdiri di samping Eva, memosisikan dirinya secara halus sebagai pelindung sekaligus pengawas utama Eva di hadapan sang Nenek.

"Evie bergerak atas perintah intuisiku, Nenek," potong Dominic, mengambil alih narasi secara dingin. "Pengkhianat malam ini membuktikan bahwa pertahanan Blackwood Manor telah bocor dari tingkat pimpinan faksi. Gareth tidak bertindak sendirian."

Lady Eleanor berbalik menatap cucunya. "Memang tidak. Dan itulah alasan aku datang ke kamar ini pagi-pagi sekali."

Wanita tua itu menarik sebuah amplop berstempel segel lilin perak dari balik selendangnya, meletakkannya di atas meja kopi.

"Pukul delapan pagi nanti, anggota Tiga Faksi telah meminta sidang darurat di Balai Pertemuan Utama," kata Eleanor tegas.

"Don Sergio Rossi dan Vincent Valenti menuding bahwa kebocoran di gudang sektor empat dan kematian Gareth di vault adalah skenario buatanmu untuk mengkambinghitamkan faksi mereka."

"Mereka panik karena salah satu dari mereka adalah pemegang sinyal radio pemicu racun itu," balas Dominic sinis.

"Tentu saja," timpal Eleanor.

"Namun di mata publik posisi pernikahanmu dengan Evie masih menjadi celah paling lemah. Faksi Vane melalui Madam Vane, telah menuntut agar identitas dan latar belakang Evie Thorne diuji secara resmi di depan Mahkamah Konsorsium."

Eva memicingkan matanya. Mahkamah Konsorsium.

Ia tahu apa arti lembaga itu dari informasi yang diberikan Silas di markas The Crow's Veil. Mahkamah Konsorsium adalah persidangan internal mafia tempat para tersangka diteliti menggunakan verifikasi data historis, tes kebohongan biometrik, dan interogasi fisik secara terbuka. Jika identitas Evie Thorne terbukti palsu di depan mahkamah tersebut, eksekusi mati adalah kewajiban mutlak tanpa pandang bulu.

"Nona Evie," Lady Eleanor berbalik menatap Eva kembali, mata tua itu berkilat penuh peringatan.

"Jika kau gagal melewati verifikasi Mahkamah Konsorsium pagi ini, bahkan Dominic tidak akan bisa menyelamatkan kepalamu dari hukum konsorsium. Apakah kau siap mempertanggungjawabkan alibimu di hadapan tiga faksi?"

Eva mengepalkan jemarinya pelan. Kebencian, dendam, dan insting bertahannya menyatu menjadi keberanian dingin yang tak tergoyahkan.

"Aku siap, Lady Eleanor," jawab Eva tanpa keraguan sedikit pun dalam suaranya.

Dominic melirik ke arah Eva dari sudut matanya, senyum tipis yang berbahaya kembali terukir di bibirnya. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa pandai pengantin baruku ini menari di atas mata pisau para serigala."

...****************...

Pukul delapan pagi.

Balai Pertemuan Utama Blackwood Manor adalah sebuah aula batu bergaya gotik beratap lengkung yang dibangun jauh di dalam perut bukit benteng. Dinding-dinding batunya dihiasi oleh bendera-bendera panji tiga faksi utama yang mengelilingi kediaman Blackwood.

Di tengah ruangan yang megah dan dingin itu, terdapat sebuah meja bundar batu hitam berdiameter sepuluh meter.

Di keliling meja tersebut, telah duduk para petinggi dunia bawah Verona Heights.

Don Sergio Rossi, dikelilingi oleh tiga eksekutor bersenjata berat dari faksi pelabuhan.

Vincent Valenti, bersama dua pengacara keuangan terkemuka yang memegang berkas-berkas transaksi gelap.

Madam Vane, berdiri kaku di samping kursi perwakilan Faksi Vane, matanya yang tajam bagai mata elang menatap lurus ke arah pintu masuk.

Di sekeliling perimeter aula, puluhan pengawal bersenjata taktis dari Blackwood Syndicate berjaga dengan senapan terkokang. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat kaku, penuh dengan bau asap cerutu mahal dan permusuhan yang pekat.

Klek.

Pintu ganda baja aula terbuka lebar.

Dominic Blackwood melangkah masuk dengan balapan jas hitam tiga lapis yang sangat rapi, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat beberapa pimpinan faksi menegang. Dan di samping kanannya, menggenggam lengannya erat, Evangeline.

Eva mengenakan gaun malam berpotongan lurus berwarna hijau zamrud tua, warna resmi keluarga Blackwood dengan rambut cokelat gelapnya yang disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus tanpa celah.

Di belakang mereka, Lady Eleanor melangkah masuk diiringi oleh Viktor.

"Selamat pagi, para Tuan dan Puan penguasa Verona," suara Dominic bergema keras di seluruh aula saat ia menarik kursi utamanya di ujung meja bundar. Pria itu menyuruh Eva duduk di kursi kayu berukir tepat di sebelah kirinya.

Don Sergio Rossi mematikan cerutunya di asbak perak dengan gerakan kasar.

"Tidak ada yang selamat dari pagi ini, Dominic!" Don Sergio membuka suara dengan nada menggelegar.

"Dua lokasi strategis dibobol dalam waktu kurang dari dua belas jam. Gudang sektor empat dan vault pribadi manor ini dan di kedua lokasi tersebut, wanita asing di sampingmu itu selalu berada di sekitar TKP!"

Vincent Valenti menyilangkan kakinya seraya mengetuk-ngetuk map dokumen di meja. "Kami di distrik keuangan menuntut kejelasan. Identitas 'Evie Thorne' yang kau klaim sebagai putri dokter bedah distrik luar belum pernah diverifikasi oleh jaringan intelijen konsorsium. Bagaimana jika dia adalah mata-mata yang dikirim oleh otoritas federal atau faksi luar untuk menghancurkan kita dari dalam?"

Madam Vane melangkah maju satu tapak, suaranya yang nyaring memotong pembicaraan.

"Lebih dari itu, Tuan Valenti," kata Madam Vane dingin.

"Saksi yang tewas di vault malam tadi, Gareth ditangkap saat mencoba mencuri manifes pengiriman St. Jude 2012. Dan menurut catatan internal yang saya pegang, distrik St. Jude adalah wilayah tempat kelompok perlawanan The Crow's Veil pernah beroperasi."

Jantung Eva berdesir halus mendengar nama organisasi aslinya disebut secara terbuka di meja mahkamah ini. Namun raut wajah datar tetap tidak menunjukkan riak emosi sedikit pun.

Madam Vane menatap Eva dengan pandangan menusuk. "Saya menuntut Mahkamah Konsorsium untuk melakukan verifikasi biometrik dan tes kejujuran berbasis serum scopolamine pada Nyonya Muda Evie sekarang juga!"

Suasana di aula mendadak hening seketika.

Serum Scopolamine, sebuah bahan kimia pelumpuh kehendak bebas yang dipaksa masuk ke dalam aliran darah untuk membuat subjek menjawab pertanyaan tanpa sanggup berbohong.

Jika serum itu disuntikkan ke dalam tubuh Eva, seluruh rahasianya sebagai Ghost Rose, identitas aslinya sebagai Evangeline Cross, serta misinya membunuh Dominic akan terbongkar dalam hitungan detik.

Don Sergio Rossi menyunggingkan senyum licik. "Aku mendukung usul Madam Vane. Jika gadis itu bersih, dia tidak perlu takut pada jarum tes kejujuran!"

Dominic bersandar di kursinya, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan irama yang sangat lambat. Sepasang mata tajamnya melirik ke arah Madam Vane, lalu bergeser menatap Eva.

"Serum kejujuran?" kata Dominic rendah, suaranya mengandung ancaman yang membuat para pengawal di sudut ruangan merinding.

"Kalian meminta pengantin baruku, Nyonya dari keluarga Blackwood disuntik bahan kimia berbahaya hanya berdasarkan spekulasi tanpa bukti?"

"Ini bukan spekulasi, Dominic! Ini masalah keamanan tiga faksi!" bentak Don Sergio seraya menepuk meja bundar keras-keras.

Sebelum bentrokan verbal itu berubah menjadi adu tembak antar-pengawal, Eva perlahan melepaskan pegangan tangannya dari lengan Dominic.

Ia berdiri dari kursinya.

Tindakan spontan Eva membuat seluruh mata di dalam aula gotik itu mengunci ke arahnya. Lady Eleanor menaikkan alisnya halus dari kursi kehormatan, sementara Dominic memiringkan kepalanya, mengamati keberanian wanita di sampingnya.

Eva melangkah pelan mendekati bagian tengah meja bundar, membiarkan gaun zamrudnya berdesir halus di atas lantai batu.

"Madam Vane," suara Eva meluncur begitu tenang, merdu, namun sarat akan ketajaman yang tak terduga.

"Anda menuduh saya sebagai mata-mata yang memanfaatkan dokumen St. Jude 2012 untuk menghancurkan konsorsium ini, bukan?"

Madam Vane memicingkan matanya keras. "Tindakanmu di vault malam tadi adalah buktinya, Nyonya."

Eva menyunggingkan senyum tipis, senyum memikat yang pernah diajarkan Silas untuk melumpuhkan kewaspadaan musuh.

"Kalau begitu, mari kita bicara soal bukti, Madam Vane," kata Eva pelan, memutar tubuhnya menatap tiga pimpinan faksi satu per satu. "Pemicu racun mikro yang membunuh Gareth di dalam vault malam tadi dipancarkan melalui sinyal radio frekuensi privat 433 MHz."

Vincent Valenti dan Don Sergio saling memandang dengan raut terkejut. Mereka tidak menyangka seorang wanita yang diklaim 'polos' mengetahui detail frekuensi teknis dari eksekusi racun tersebut.

Eva melanjutkan seraya melangkah mendekati kursi Madam Vane.

"Dan frekuensi privat 433 MHz tersebut," lanjut Eva dengan mata hazel yang berkilat tajam, "adalah pita frekuensi khusus yang dialokasikan hanya untuk sistem komunikasi jalur logistik distrik barat... wilayah yang berada di bawah kendali penuh Faksi Vane."

Bam!

Pernyataan Eva menghantam aula itu bagaikan ledakan bom taktis.

Madam Vane mendadak pucat pasi, itot-otot wajah kaku wanita paruh baya itu gemetar hebat saat menyadari bahwa Eva telah membalikkan tuduhan pengkhianatan itu tepat ke wajahnya sendiri di depan seluruh petinggi konsorsium.

"K-kau bicara omong kosong!" teriak Madam Vane dengan suara yang mendadak melengking panik. "Sistem logistik distrik barat memiliki puluhan sub-stasiun! Siapa pun bisa meretas frekuensi itu!"

"Memang bisa," potong Eva cepat tanpa memberi ruang bagi Madam Vane untuk bernapas. "Tapi hanya seseorang yang memiliki kode otorisasi tingkat tinggi di rumah ini yang bisa mengarahkan sinyal itu menembus beton vault lantai tiga bawah tanah tempat Gareth dieksekusi."

Dominic menyunggingkan senyum lebar, sebuah senyum bangga yang mematikan dari seorang predator yang melihat pasangannya baru saja mencabik-cabik musuhnya di arena persidangan.

Dominic berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Eva dan merangkul pinggang wanita itu dengan dominasi penuh.

"Penjelasan yang sangat luar biasa dari istriku," desis Dominic dingin, suaranya bergema di seluruh aula seraya sepasang mata kelamnya mengunci Madam Vane.

"Viktor, amankan seluruh staf komunikasi Faksi Vane dan periksa pemancar radio privat di kediaman Madam Vane sekarang juga!"

"Siap, Tuan!" teriak Viktor seraya memberi isyarat pada delapan eksekutor bersenjata lengkap untuk mengurung Madam Vane dan para pengawalnya di tempat!

"Dominic! Ini jebakan! Gadis ini memanipulasi kita semua!" jerit Madam Vane histeris saat dua eksekutor memegang kedua tangannya secara paksa.

Don Sergio Rossi dan Vincent Valenti bungkam seribu bahasa. Kebohongan taktis dan pengalihan isu yang dilancarkan oleh Eva tidak hanya menyelamatkan dirinya dari suntikan serum kejujuran, tetapi juga berhasil mengkambinghitamkan salah satu faksi terbesar yang mencoba menjatuhkan posisi Dominic.

Lady Eleanor berdiri dari kursinya, mengetukkan tongkat naganya ke lantai batu dengan suara yang berat.

"Sidang Mahkamah Konsorsium selesai!" tegas Lady Eleanor dengan wibawa mutlak.

"Madam Vane ditahan di sel isolasi bawah tanah hingga penyelidikan frekuensi selesai. Dan keberadaan Evie Thorne sebagai bagian dari keluarga Blackwood tidak boleh dipertanyakan lagi oleh siapa pun!"

Satu jam kemudian.

Keheningan kembali menyelimuti ruang kerja pribadi Dominic di lantai tiga manor.

Dominic berdiri di depan jendela kaca raksasa, menatap pemandangan kabut bukit yang mulai terkuak oleh sinar matahari pagi. Di belakangnya, Eva duduk di kursi kulit seraya merapikan gaun zamrudnya.

Dominic berbalik, menatap Eva dengan pandangan yang penuh rasa kagum sekaligus kewaspadaan yang makin dalam.

"Analisis frekuensi 433 MHz itu..." kata Dominic pelan, melangkah mendekati Eva. "Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Viktor bahkan belum mengeluarkan laporan teknis sinyal pemancar itu ke publik."

Eva menatap lurus ke dalam mata Dominic. Kebohongan yang ia lontarkan di sidang tadi adalah kombinasi dari pengetahuan taktis The Crow's Veil dan gertakan nekat untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.

"Aku adalah putri seorang dokter yang biasa mendengarkan radio komunikasi darurat di distrik luar, Dominic," jawab Eva tenang, mempertahankan alibinya hingga titik darah penghabisan. "Aku mengenali pola frekuensi logistik Faksi Vane dari sinyal ambulans tua yang biasa melewati klinik ayahku."

Dominic berhenti tepat di hadapan Eva. Pria itu menundukkan tubuhnya, menyisipkan beberapa helai rambut cokelat Eva ke belakang telinganya dengan jemarinya yang hangat.

"Kau adalah pembohong paling berbakat yang pernah kukenal, Evie," bisik Dominic di depan bibir Eva.

"Tapi pagi ini... kau baru saja menyelamatkan posisimu di rumah ini, sekaligus membuat musuh sesungguhnya bersembunyi semakin dalam di balik bayangan."

"Siapa musuh sesungguhnya itu?" tanya Eva memancing.

Dominic menyunggingkan senyum misterius. "Madam Vane hanyalah umpan yang kau santap dengan mudah. Tapi orang yang memegang pemicu utama The Five Thorns... adalah sosok yang jauh lebih dekat dari yang kita bayangkan."

Dominic meraih tangan Eva, membawanya ke bibirnya dan mencium buku-buku jari wanita itu secara perlahan.

"Selamat datang di perang sesungguhnya, Nyonya Blackwood," bisik Dominic pelan.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!