Kehidupan Afrina Tara Gulnar seorang gadis berhijab yang duduk di kelas 2 SMA, berubah drastis ketika seorang siswa baru Zayne Ikram, siswa pindahan dari negeri sebrang dengan paras tampan yang di gemari banyak gadis, diam-diam menyukainya. Saat cinta yang sudah saling menyambut, sebuah tragedi pun terjadi hingga membuat Afrina mengucapkan sebuah sumpah yang akan mengubah masa depan pernikahannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Saraswati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Troublemaker
Berakhir...
Hari beratnya telah berakhir, kini ia membuka pintu kamarnya dengan malas dan lunglai. Dimasukinya ruangan yang redup cahaya itu. Tanpa berniat membuatnya lebih terang.
Remaja itu lalu menjatuhkan diri di atas ranjang empuknya. Ia membenamkan wajahnya yang lelah pada bantal berwarna ungu muda itu.
Beberapa kali iya menarik napas dalam demi melupakan gambaran-gambaran mengesalkan itu. Terutama, gambaran sebuah ciuman di kelas itu.
Mata Afri kembali berlinangan setelah gagal melupakan kejadian itu. Ia melirik ke arah meja lampu tidurnya. Lalu memandang topi baseball biru tua yang tergeletak diatasnya.
"Konyolnya aku, sampai-sampai membeli topi itu."
Merasa geram Afri mengambil topi itu, "bisa-bisanya kamu ciuman sama cewe lain! Setelah bilang padaku kalau kamu hanya mau perhatian dariku!" katanya sambil melempar topi itu dengan marah.
Wajahnya kembali terbenam di atas bantal, "terus malah ngasih cewe itu senyuman yang sangat manis, terlalu manis..." lirihnya.
Afri menoleh ke arah ia melempar topi itu.
"Kemana topi itu jatuhnya?"
Dengan langkah malas, ia turun dari tempat tidurnya dan mencari-cari di kolong-kolong lemari.
Setelah menemukannya, ia kembali menaruhnya di pinggir lampu tidur yang berbentuk bintang itu. Menepuk-nepuknya hingga debu di atas topi itu menghilang, kemudian kembali menelungkup.
"Dasar bodoh! Zayne bodoh! Aku pun juga bodoh!" ia kembali terisak.
"Nyi iteuuuungg...! I'm home...!!!" Miya menerobos kamar Afri begitu saja seakan itu adalah kamarnya juga. Dengan riang ia menghampiri Afri. Lalu duduk di sisinya.
Afri yang terkejut segera menghapus air matanya dan duduk tegak dengan salah tingkah.
"Kamu udah pulang dari GBK?"
"Iya, nih gue bawain seblak kesukaan...lo" Miya memandang wajah Afri dengan seksama.
Afri berpaling menghindari tatapan Miya.
"Waaah... seblak kornet kesukaan aku, punya kamu pasti pake ceker ayam kan? Nanti aku minta satu ya cekernya..." Afri pengalihan.
"Fri..." wajah Miya berubah serius.
"Jadi PERSIB menang gak tadi? Berapa skornya?" Afri masih menghindar dan terus mencoba mengalihkan.
"Lo lagi nangis kan?"
"Enggak kok! Eh eh... pedes kan seblaknya? Makan sekarang yuuk! Kebetulan aku laper nih... Hehe"
"Gara-gara abah kamu?"
"Apaan sih, Mi! Orang aku gak papa!"
"Gara-gara Zayne?"
Afri tiba-tiba berhenti terpaku.
Jawaban yang sudah sangat jelas bagi Miya.
"Hiiissshh! Gue udah tau kalo tu cowo pasti brengs*k!" Miya berdiri dan mengepalkan tangannya.
"Miya... sejak kapan kamu tau kalo aku..." Afri sengaja menggantung ucapannya.
Miya duduk dan kembali menatap mata Afri.
"Fri, gue kenal lo tu udah lama! Sejak kita kerja kelompok gue juga udah curiga, di tambah lagi lo tiba-tiba pengen beli topi biru yang harusnya buat gue kan? Topi itu yang milih Zayne kunyuk itu kan? Di mall waktu itu lo ketemu ama dia sambil ketawa-ketawa gak kayak lo biasanya yang judes ke cowo lain kan?"
Afri tertunduk.
"Pokoknya gue harus kasih perhitungan ama dia!" Miya melangkah pergi dengan penuh emosi. Mengacuhkan Afri yang memanggil-manggil namanya dengan terisak-isak.
***
Keesokan paginya di kelas 11 IPA2 -- kelas Zayne dan Rian.
DUAAK
Miya menendang keras pintu kelas hingga terbuka lebar. Semua murid di kelas itu hampir meloncat kaget. Beruntung guru yang mengajar masih belum datang ke tempat.
"Zayne Ikraam! Dimana lo brengs*k?!"
Zayne yang sedang ngobrol dengan Rian dan yang lainnya, seketika menoleh ke arahnya dengan sedikit terkejut.
Miya menghampiri ke titik berdirinya Zayne dengan tatapan membunuh. Kemudian tanpa ragu, mendorong leher Zayne dengan sikutnya hingga punggung Zayne menabrak dinding di dekatnya.
"Sekali lagi lo berani nyakitin Afri, gue patahin leher lo!" ancam Miya.
"Lo boleh patahin leher gue! Lo juga boleh patahin seluruh tulang di badan gue, tapi gue sedikitpun gak pernah berniat buat nyakitin Afri!" jawab Zayne dengan napas yang tersengal-sengal, namun tetap tenang.
Miya sedikit heran melihat cowok itu, biasanya, dalam kondisi begini, lawannya akan bergetar ketakutan dengan hanya melihat tatapan matanya saja. Sedang dia, berpeluh sedikitpun tidak.
"Miya...! Hentikan!" Afri datang dan menghampiri mereka dengan terburu-buru.
"Afri..." mata Zayne berkaca-kaca saat melihat gadis itu menghampirinya dengan mimik khawatir.
"Lepas!" Zayne menatap Miya dingin, "kalo gue mau, gue bisa banting lo ke lantai dengan mudah!"
"Coba aja kalo lo bisa!" seringai sinis pemegang sabuk hitam karate itu.
"Don't make me do it!" tatapan Zayne menajam.
Rian yang malah menelan ludah
"Miya! Cukup!" Afri menarik mundur Miya dengan paksa.
"Semua ini gak ada artinya!" lerai Afri.
"Semua hal ada artinya! Lo kan yang suka bilang gitu ke gue, Fri!"
Miya menunjuk Zayne dengan penuh intimidasi, "cowok sok kegantengan kayak dia, harus di ajarin dulu kayak bayi! Kalo dia emang suka ama lo, dia harusnya berhenti tebar pesona sana sini!"
"Iya... gue akuin, kalo gue yang salah, tapi gue janji, gue bakal berubah, asal Afri mau kasih gue kesempatan!" kini ia menatap Afri dengan memelas.
Miya mendengus kasar, "yang lo harus lakuin sekarang, adalah jauh-jauh dari Afri!"
"Lebih baik lo patahin aja leher gue, dari pada gue harus jauh dari Afri, sekarang... gue udah gak bisa jauh dari dia."
Afri tertegun.
Lagi-lagi Miya mendengus kasar, "heh! Afri udah cerita semuanya ama gue, termasuk antara lo dan Bella!"
Zayne tercengang. Dia melihat kejadian itu? Pantas saja wajahnya begitu membenciku saat itu. Benaknya.
"Itu... gak seperti yang lo kira, Fri..." Zayne mencoba mendekati Afri, namun Afri melangkah mundur menghindarinya tanpa mau menatap wajahnya. Melihat itu, hati Zayne semakin hancur.
"Lo buta, apa **** sih? Atau **** plus buta? Lo sendiri liat kan apa yang fans-fans lo lakuin ke Afri kemaren?"
"Gue bakal lindungin dia mulai sekarang, gue juga bakal buat perhitungan ama mereka!"
"Mereka?" Miya dan Afri penasaran.
"Iya, sepertinya gue tau siapa yang udah bikin tulisan di papan tulis itu, tapi gue gak yakin karena gue belum punya bukti atau saksi, kalau aja ada yang liat kejadian itu..."
"Ada!"
Miya, Zayne dan Rian menatap Afri.
"Ada yang liat, ada saksinya!" kata Afri yakin.
***
Galvin --teman sekelas Afri dan Miya-- sedang jongkok di pinggir kantin memainkan game online nya seperti biasa pada jam istirahat. Tanpa disadarinya, Zayne dan Rian telah berada di belakangnya, berdiri dengan tangan yang terlipat serta tatapan yang seakan siap menerkam.
"Eh apaan nih?" protes Galvin saat Zayne menggiringnya dengan leher terkunci. Dan tangan dilipat kebelakang oleh Rian.
"Berisik!" jawab mereka.
Galvin menelan ludah kikuk.
Sesampainya di lab komputer yang kosong, Zayne dan Rian melepaskanya.
"Duduk!" perintah Zayne dingin. Membuat bulu kuduk Galvin berdiri. Ia pun menurut.
"Ada apa sih? Kok kalian bawa aku kesini?" ujar Shanty --juga teman sekelas Afri dan Miya-- saat memasuki ruang leb bersama Afri dan Miya.
"Kita cuma mau nanya sesuatu aja, duduk dulu ya sebentar," Afri lembut, berusaha tidak membuat Shanty ketakutan.
Namun saat melihat wajah Galvin yang pucat pasi, Afri cemberut pada Zayne dan Rian.
"Aku kan udah bilang jangan pake kekerasan?!"
"Hehe... biar gak banyak birokrasi, Fri" Zayne garuk-garuk.
Afri mendengus kesal.
"Galvin, Shanty, kalianlah yang terakhir aku liat masih di kelas waktu jam istirahat kemaren, kita cuma mau nanya, apa kalian gak ngeliat, siapa yang bertanggung jawab sama kejadian kemaren?"
Mereka berdua sangat mengerti dengan pertanyaan Afri, namun keduanya hanya terdiam.
"Haiiissshhh... jawab!" teriak Zayne tidak sabar, sambil menarik kerah baju Galvin.
"Gue gak tau! Sueer! Gue emang lagi di kelas, tapi... gue... lagi maen game, jadi gak ngeuh!" Galvin bergetar ketakutan.
Bau ini... benak Zayne. Ia melepaskan tarikannya.
"Aku juga gak liat, aku lagi gak ada di kelas waktu kejadian, aku pergi ke perpus setelah Afri keluar kelas, buat ngembaliin buku."
"Ck! Geregetan gue!" keluh Miya, "gimana nih, Fri?"
"Salah satu dari mereka sedang berbohong," Afri yakin.
"Enggak! Lebih tepatnya, keduanya sedang berbohong!" timpal Zayne.
Afri, Miya dan Rian mengerutkan dahi.
"Galvin saat itu gak ada di kelas," semuanya menahan napas.
"Gue tau dari bau badan dia, bau rokok! Setiap jam istirahat, dia pasti pergi merokok, iya kan? Ngaku lo!" desak Zayne.
"Hehe... iya, gue gak ada di kelas waktu itu, gue keluar buat ngerokok, please jangan aduin gue ke guru yaah... Afri, jangan bilang ke bapak lo yaah..." Galvin memelas.
"Shanty, kamu juga berbohong, kamu ada di kelas waktu itu kan? karena kaki kamu lagi cedera! Iya kan?"
Shanty menunduk lesu.
"Ckckck" Miya geleng-geleng.
"Kamu berbohong dan bilang kalo kamu pergi ke perpus, kenapa?" giliran Afri mendesak Shanty.
"Karena..." air mata Shanty mulai mengalir, "karena aku di jambak sama mereka sampai mau copot rasanya!" semuanya tercengang.
"Kakiku yang cedera juga di injak keras sampai aku harus balik lagi ke rumah sakit sorenya, mereka terus mengancam akan melakukan hal yang lebih kejam lagi jika aku mengadukan mereka! Aku... aku... sangat ketakutan! huhuhu..." tangisannya pecah.
"Heuh... drama!" Miya mengerlingkan matanya.
"Mereka... Bony, Saly dan Giani kan?" terang Afri.
Shanty mengangguk-angguk.
"Sekarang kita sudah punya saksinya, lebih baik, kita lapor aja pada Pak kepala dan guru BK," ajak Rian.
"Enggak! Gak usah!" tolak Afri.
"Afri..." mata Miya menyipit.
"Kenapa Fri?" Zayne terheran.
"Yang tau aksi mereka cuma Shanty, kalo mereka dapet hukuman karena itu, mereka akan tau kalo Shanty sudah membocorkannya."
Shanty semakin kencang menangis.
"Abah sudah pulang, Miya juga ada, mereka gak akan cari aku, mereka juga gak akan cari kalian, tapi mereka akan cari Shanty. Aku gak akan bisa maafin diriku sendiri, kalo sampai Shanty di bully mereka lagi gara-gara aku, kita akhiri aja sampe sini, jangan di perpanjang!"
Zayne tertegun lalu tersenyum.
"Zayne..." Afri membuyarkan tegunan Zayne, "janji ya... jangan perpanjang masalah ini!"
Sedetik, mungkin, Zayne terdiam berpikir, kemudian ia mengangguk pada Afri.
"Haaahhh..." sebuah tarikan napas lega telah Afri keluarkan, "makasih ya semuanya..." ia beralih menatap Zayne, "makasih ya Zayne..."
Zayne kembali tertegun melihat senyuman Afri yang telah lama hilang dari raut wajahnya. Meski tipis, itu sudah cukup bagi Zayne untuk menyuntikan semangat pada dirinya.
Namun dalam hatinya, Zayne masih menyimpan rencana pembalasan dendam.
-Nara & heafen ( fake love)
- Heaven ( psycho brother)
-Heaven ( hanya budak nafsu)
-nara & heafen (fake love)