Cowok berandalan ketua geng motor jatuh cinta sama cewek baik-baik yang gak sengaja nolong dia. Romantis sekali, kan? Kisah cinta yang selalu menjadi favorit siapapun.
Sayangnya, Lexi sangat membenci kisah seperti itu. Karena ia bukan tokoh utama di cerita itu. Ia mencintai si cowok berandalan, tapi ia bukanlah si cewek baik-baik.
"Jovan sama Nara tuh perfect couple" ~ someone
"DIAM LO SEMUA!!" ~ Lexi
Cek konten POV di instagram dan tiktok @cacalavender
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caca Lavender, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 : Abang Sang Kekasih
Setelah kerusuhan yang berakhir damai (tidak bisa disebut damai juga sih) di rumah Lexi, Galang pulang ke rumah bersama dengan istrinya. Sementara itu, Jovan pergi mengantar Nara pulang ke rumahnya.
Bagaimana dengan Lexi? Dia cuma kebagian beres-beres rumah sambil bersumpah serapah atas kelakuan para lelaki di keluarga Priyanto.
Mari kita beralih pada pasangan yang baru saja jadian itu. Jovan dan Nara kini sudah sampai di depan rumah Nara. Rumah yang bisa tergolong mewah itu terlihat sepi.
Nara turun dari motornya, lalu tersenyum menatap Jovan. Begitu juga dengan Jovan, laki-laki itu tersenyum lembut sambil mengagumi kecantikan pacarnya.
"Maafin keluargaku ya, hari ini jadi kacau," ucap Jovan merasa bersalah.
Nara menyentuh bahu Jovan lembut, "gak apa-apa, Jo. Lagian ini semua bukan salah kamu."
"Makasih ya, udah ngertiin aku," kata Jovan.
Nara mengangguk, "kalau kamu lagi ada masalah, cerita aja sama aku. Kamu boleh kok berbagi bebanmu sama aku."
Jovan tersenyum haru mendengar ucapan Nara. Ia sangat bahagia ketika ada seseorang yang rela mendengarnya berkeluh kesah.
Lexi be like : lo kira selama ini kalo cerita kemana kalo bukan ke gue?!
Jovan meraih kedua telapak tangan Nara, lalu mengusapnya lembut menggunakan ibu jari. Mereka berdua saling berpandangan, mengungkapkan cinta melalui tatapan mata.
"Aku sayang banget sama kamu, Ra," ucap Jovan.
Nara tersenyum malu, "aku juga sayang sama kamu, Jo."
Mereka berdua tertawa bersama mendengar ungkapan sayang satu sama lain.
"Oh iya, kamu di rumah sama siapa? Kok sepi banget," tanya Jovan sambil memperhatikan rumah Nara.
"Eh, aku belum cerita ya sama kamu," seru Nara setelah mengingat sesuatu.
Jovan memandang Nara dengan tatapan bertanya, ia menunggu cerita apa yang akan disampaikan oleh pacarnya itu.
"Aku di rumah berdua aja sama abang aku. Mama sama papaku tinggal di Cina, mereka ngurus bisnis yang ada di sana," ucap Nara.
Jovan menganggukkan kepalanya paham, "terus, abang kamu dimana? Masih ngampus, ya? Atau udah kerja?"
Banyak tanya juga si Jovan ini, udah kayak dora. Tapi Nara oke-oke saja, itu berarti Jovan peduli dengan seluk beluk kehidupannya.
"Abang aku masih kuliah kok, di Universitas Tunas Bangsa," jawab Nara.
Senyum Jovan perlahan luntur digantikan dengan raut wajah masam. Mood-nya menjadi buruk setelah mendengar kampus yang menjadi basis geng motor musuhnya, Geng Andara.
'Semoga aja abangnya Nara bukan anggota geng Andara,' batin Jovan.
Brrum... Brrum...
Suara deru motor yang mendekat mengalihkan perhatian mereka.
"Nah, itu abang aku!" seru Nara sambil melihat laki-laki yang menaiki motor sport itu.
Jovan menoleh untuk melihat sosok abang dari pacarnya itu. Sang pengendara motor pun memberhentikan motornya tepat di depan pagar rumah, lalu turun dan menghampiri mereka. Motor sport hitam, jaket kulit hitam dengan logo api, fiks dia anggota Andara.
'Mampus! Bakal sulit nih dapet restu,' batin Jovan nelangsa.
Abangnya Nara membuka helm di depan Jovan. Jovan sangat sangat terkejut, bahkan matanya sudah melotot hampir keluar. Ini mah bukan anggota geng Andara lagi.... tapi ketuanya, si Candra!
Jovan masih syok dengan fakta bahwa Candra adalah kakak kandung Nara. Laki-laki ketua Phoenix itu kini hanya bisa diam menatap si ketua Andara dengan mulut terbuka.
Sedangkan Candra memindai Jovan dari atas ke bawah dengan tatapan remeh. Lalu, menoleh ke arah adiknya.
"Jadi, ini gebetan lo yang sering lo ceritain ke gue, Dek?" tanya Candra.
Nara menyengir lebar, "hehe... Iya, Bang. Ini pacar gue, namanya Jovan. Abang pasti udah kenal lah ya."
Candra tersenyum sinis menatap Jovan, "ya jelas gue kenal lah sama pacar lo ini."
Jovan hanya diam. Jika biasanya ia akan membalas Candra dengan perkataan yang tidak kalah pedas, sekarang ia hanya bisa diam. Bagaimanapun juga, ia masih ingin bersama Nara.
"Pinter juga lo nyari cewek," celetuk Candra, "atau jangan-jangan... lo mau manfaatin adik gue buat hancurin geng Andara?"
Enak aja si Candra ini. Padahal Jovan tulus cinta sama Nara, malah dikatai seperti itu.
"Gue gak punya niatan busuk kayak gitu sama sekali. Gue tulus suka sama Nara," ucap Jovan dengan nada datar.
Candra terkekeh pelan, "anjay... Ketua Phoenix ternyata bisa bucin juga ya. Gila sih."
"Lo bilang kalau lo tulus sama Nara, kan?" tanya Candra.
Pertanyaan Candra itu sudah membuat Jovan was-was. Ia sudah hafal bagaimana liciknya sang ketua Andara itu.
"Kalau lo emang tulus sama adik gue...," Candra menjeda ucapannya, "...berarti lo juga rela berkorban apapun buat dia, termasuk... ngorbanin Phoenix."
Rahang Jovan mengeras mendengar perkataan Candra. Benar-benar busuk sifat ketua Geng Andara itu.
Nara yang melihat situasi mulai memanas langsung angkat bicara, "apa-apaan sih lo, Bang?!"
"Kenapa? Gue cuma mau liat dia serius apa nggak sama lo," kata Candra dengan santainya.
Nara berdecak kesal, "tck! Gak perlu! Udah deh, lo gak usah ikut campur hubungan gue sama pacar gue."
Candra hanya mengedikkan bahunya acuh. Lalu, ia menatap sekilas Jovan dengan pandangan meremehkan, sebelum melangkah memasuki rumah meninggalkan sepasang kekasih itu.
"Jo," panggil Nara, "maafin abang aku ya."
Jovan menatap Nara kecewa, "kenapa kamu gak bilang dari awal, kalau Candra itu abang kamu?"
Nara menunduk tidak berani menatap mata Jovan, lalu berujar lirih, "kalau kamu tau sejak awal, kamu pasti gak mau deket sama aku."
Jovan menghela napas panjang, lalu mengangkat dagu Nara agar gadis itu menatap matanya.
"Ra," panggil Jovan lembut, "aku suka sama kamu apa adanya. Gak peduli kalau kamu adik dari rival aku sendiri... Aku tetep cinta sama kamu."
Nara tersenyum bahagia mendengar ucapan manis Jovan. Ia lega karena pacarnya itu tidak membencinya hanya karena dirinya adalah adik dari musuh bebuyutan sang pacar.
...----------------...
Sepulang dari mengantar pacarnya, Jovan langsung pergi menuju markas Phoenix. Beberapa anggota yang tidak memiliki jadwal kuliah hari ini sudah janjian untuk berkumpul di markas.
Ketika Jovan memasuki pintu markas, ia bisa melihat Lexi dan empat orang temannya yang lain sedang asyik bercanda. Gadis itu bisa tertawa ceria saat berkumpul dengan teman-temannya di markas.
"Udah nyampe sini aja lo, Lex?" tanya Jovan basa-basi sambil mendudukkan dirinya di hadapan Lexi.
Tawa ceria Lexi berubah menjadi tatapan sinis, "emang kenapa?! Gak boleh?!"
Jovan tersentak dengan suara Lexi yang meninggi. Bukannya apa-apa, perasaan tadi gadis itu haha hihi saja, kenapa sekarang kembali menjadi Lexi yang judes?
"Ya ampun, Lex, gue kan cuma nanya," ucap Jovan merasa tersakiti.
Lexi hanya merotasikan bola matanya malas. Sedangkan teman-temannya yang lain sudah menertawakan Jovan yang selalu ternistakan oleh sahabat perempuan mereka.
"SI Lexi lo apain lagi sih, Jo? Sampai jadi kayak maung gitu kalau ketemu sama lo," celetuk Ansel yang sedari tadi berada di sana.
Jovan mencebik kesal, "gak gue apa-apain lah. Emang udah dari sononya aja nih orang sensi kayak ibu hamil."
"Anjir!" geram Lexi sambil melotot tajam ke arah Jovan.
Jovan balas memelototi Lexi. Hanya sebentar, lalu laki-laki itu menghempaskan punggungnya untuk bersandar di sofa. Jovan memejamkan matanya dan menghela napas panjang.
Teman-temannya saling berpandangan saat melihat Jovan seperti itu.
"Lo kenapa, Jo?" tanya Ansel, "muka lo kayak banyak beban gitu. Ada masalah apa, Bro?"
Jovan hanya menghela napas lelah, ia belum berani untuk menjawab dan masih merangkai kata-kata untuk memberi tahu teman-temannya mengenai kakak kandung Nara.
"Hmm... Pasti lo galau gara-gara cewek lo, kan?" tebak salah satu temannya.
Jovan langsung menoleh heran. Tebakan temannya itu tepat sekali.
"Baru aja jadian, udah ada masalah," cibir Ansel, "emang kenapa sama Nara?"
Sedari tadi, Lexi hanya menyimak pembicaraan mereka. Sebenarnya, ia juga penasaran, ada masalah apa Jovan sama Nara.
'Apa jangan-jangan Nara gak menerima Jovan yang anak broken home?' batin Lexi.
"Tapi sebelum gue cerita, please kalian jangan benci Nara ataupun hubungan gue sama dia," ucap Jovan dengan tatapan memohon.
Semua yang ada di sana mengernyitkan dahi mereka bingung.
"Emang kita punya alasan buat benci sama pacar lo?" tanya Ansel.
Jovan menghela napas panjang (lagi), "setelah gue cerita, kalau pikiran kalian dangkal, kalian pasti bakalan benci sama Nara."
"Lo ngatain pikiran kita dangkal?!" protes Lexi tidak terima.
Jovan menatap Lexi jengah, "bukan itu intinya, Lex. Dengerin gue dulu. Jangan marah-marah terus napa."
Ansel yang duduk di sebelah Lexi mengusap pelan bahu gadis itu agar tidak membantah ucapan Jovan dulu. Ia merasa kalau kali ini, Jovan benar-benar serius.
"So... Lanjutin cerita lo, Jo," ucap Ansel.
Jovan menarik napas panjang, lalu berkata, "Nara adik kandungnya Candra."
Krik... Krik...
Hening. Jovan melirik ke arah teman-temannya yang saat ini menatapnya tidak percaya dengan mulut terbuka.
"Ekhmm...," deham Jovan karena merasa canggung, "kalian udah janji gak bakal benci sama Nara lho."
"Gila lo, Jo!" seru Lexi, "lo itu ketua geng Phoenix, dan lo pacaran sama adik dari ketua geng musuh kita."
"Lo bercanda?" sarkas Lexi.
"Please, Lex. Yang musuh kita tuh Candra, bukan Nara," lirih Jovan meminta pengertian.
"Tetep aja terlalu berisiko, Jo," ucap Ansel dengan nada tenang, "Geng Andara bisa manfaatin lo lewat Nara."
"Kok lo jadi berprasangka buruk sama Nara sih?" ucap Jovan membela pacarnya.
"Astaga... Ansel gak berprasangka buruk sama Nara, Jo," balas temannya yang lain, "tapi sama Candra dan gengnya. Mereka bisa manfaatin Nara buat ngelawan lo."
Jovan terdiam dan berpikir dengan keras. Ia tahu, sangat tahu tentang kemungkinan itu. Bahkan, tadi Candra sudah menunjukkan tanda-tandanya. Namun, ia tetap tidak ingin berpisah dengan Nara.
"Guys...," Jovan menatap teman-temannya dengan tatapan memohon, "gue cinta sama Nara..."
"...tolong terima dia ya. Nara cewek baik-baik. Dia gak ada hubungannya sama Andara," lirih Jovan, "gue cinta banget sama dia."
Para anggota Phoenix tersentuh dengan ucapan tulus Jovan. Mereka bisa melihat bahwa ketua mereka ini sangat menyayangi pacarnya.
"Haah~ terserah lo deh, Jo. Kalo emang lo bahagia sama Nara, yaa... kita bisa apa," ujar salah satu temannya.
"Yang penting jangan korbanin Phoenix cuma demi satu cewek," sahut Ansel.
Jovan tersenyum senang mendengar ucapan teman-temannya. Yaa... Walaupun terdengar tidak ikhlas, tapi setidaknya mereka merestui hubungannya dan Nara.
'Lo bahkan gak mikirin gue sama sekali, Jo...'
Tentu saja, ada seseorang yang tersakiti mendengar ketulusan Jovan kepada Nara. Lexi hanya bisa diam mendengar semua pembelaan Jovan untuk Nara.
...----------------...
1621 kata
...Jangan lupa like, komen, dan vote yaa... ♥♥...