"Kali ini apa lagi? Kau gak bosan apa tiap malam ngajakin balap motor mulu?" Tanya Rayan dengan nada kesalnya.
"Syut!" Alex menempelkan jari telunjuknya di mulut Rayan.
"Kali ini taruhannya 500 juta." Ujar Alex yang terdengar seperti bisikan syaiton. Rayan membelalak dengan Kilauan binar-binar di bola mata cantiknya. Dia tergiur dengan godaan itu!
"Gaslah!"
Ini hanyalah sepotong permulaan dari keseruan yang ada. Ikuti kisahnya karna akan ada bumbu suka-duka, tangis-tawa, sedih-bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JellyMask, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat perangkap
Saat waktu sekolah berakhir, Alex tak bisa langsung pulang. Seperti biasa, ia mendapat beberapa pekerjaan dari guru yang ada di sekolah itu, membuat waktu pulangnya jadi sangat terlambat.
Kelas dan lorong yang sepi, lapangan yang hanya terisi anak-anak ekskul, suasana sore hari dengan udara yang menyejukkan.
Tak ada masalah dalam perjalanannya menyusuri lorong, itu adalah ungkapan beberapa detik yang lalu sebelum ia berhadapan dengan dua sosok yang paling ia hindari dan musuhi. Si kembar berambut pirang, galaksi Andromeda dan galaksi Akairo. Dua remaja berdarah campuran AS dan Jepang.
"Hai! Sedang apa? Kenapa belum pulang?" Tanya Akairo, semata-mata untuk menyapa, tapi respon Alex jelas mengabaikan sembari menguatkan hatinya dengan beberapa perkataan.
"Abaikan saja"
"Jangan di tanggapi"
"Terus berjalan"
"Jangan berhenti"
Itulah yang di katakannya dalam hati sambil terus berjalan melewati celah tengah di antara dua kembar itu. Alex mencoba sebaik mungkin bersikap dingin, tapi ketakutan yang ia rasakan menghalangi sikap itu.
"Alexas Elloid"
Seketika Alex menghentikan lahkahnya. Matanya terbelalak. Ia reflek membalikkan pandangannya ke arah suara si penyebut tadi.
Andromeda tersenyum licik.
"Itu namamu bukan?"
Sadar akan kecurigaan Andromeda, Alex menetralkan ekspresinya, bersikap sebiasa mungkin.
"Bukan. Aku Alex Sanjaya." Jawabnya dengan datar.
"Hmm~ sayang sekali kalau begitu. Alexis pasti akan sedih lagi. Menyebalkan sekali saat dia meminta agar di carikan kakaknya yang hilang 4 tahun lalu." Ujar Andromeda memberi umpan untuk melihat reaksi Alex. Dan hasilnya Alex tetap datar.
"Apa yang kau lakukan pada barang bekas itu? Aku terkejut saat kau tiba-tiba membelinya di pasar lelang hari itu! Mau kau gunakan untuk apa sih? Dia tidak cantik dan tidak bisa jadi koleksi. Singkirkan sajalah!" Ujar Akairo dengan nada kesal.
Percakapan itu bukan merujuk pada nama Alexis yang tadi di sebutkan, itu merujuk pada orang lain yang tak ada hubungan apapun dengan masa lalu Alex.
"Dia masih berguna untuk para bawahan kita." Ujar Andromeda bernada datar.
Itu adalah percakapan yang semakin samar Alex dengar karna jarak yang semakin jauh dari sumber suara. Meski begitu, hal itu cukup membuat Alex gemetar dan menangis di tempatnya.
"Maafkan aku... Aku adalah kakak yang buruk... Yang hanya bisa mendengar penderitaanmu tanpa berani menolong... Padahal aku... Punya kekuatan untuk menolongmu." Alex berjalan cepat sambil mengelap kasar air matanya.
...----------------...
*Beberapa jam kemudian di kediaman kembar galaksi.
Rayan terlihat tengah berjalan-jalan santai di taman mansion pribadi milik si kembar bersaudara itu. Tapi karna ia lelah, ia pun kembali memasuki mansion lewat jalur tak biasa.
Dan itu telah mempertemukannya dengan jejeran demi jejeran maneken di sepanjang lorong masuk, maneken-maneken yang sangat indah.
Rayan menatapi maneken-maneken bentuk manusia itu dengan seksama, berhenti di salah satu maneken yang ada di sana.
"Terlihat seperti manusia asli."
"Memang itu asli."
Rayan mengalihkan pandangannya. Ia melihat seseorang yang tengah berjalan ke arahnya.
Rayan tak kaget dan tak merasa aneh karna ia sudah mengetahui siapa orang yang berjalan ke arahnya, ini ada hubungannya dengan rencana Indra yang lain. Tapi ia tak di beritahu secara jelas.
Rayan mengernyit bingung. "Asli?" ia mengharapkan penjelasan dari orang itu.
"Mereka dulunya manusia sungguhan. Aku sedikit melakukan sesuatu pada mereka untuk mempertahankan keindahannya. Kau juga akan bergabung dengan mereka bila sudah waktunya. Apa kau senang?" Ujar Akairo menjelaskan dengan senyum ramah.
"Hentikan omong kosong mu! Aku sedang tak ingin bersandiwara!" Rayan merespon dengan kesal. Terlihat jelas dari ekspresinya.
Akairo tertawa terbahak-bahak sembari memegang perutnya. "Maaf... Maaf..." Ujarnya di sela-sela tawanya.
"Sandiwara ini terlalu menyenangkan sampai aku tak ingin berhenti"
...----------------...
*Di sisi lain tempat Raditya berada...
Kondisi kamar bagaikan kapal pecah. Membuat remaja yang baru tiba di kamar itu merasa heran. Andromeda bersandar pada ambang pintu sembari bersidekap dada. "Apa lagi sekarang?"
Raditya memberikan tatapan sinis.
"Apa lagi? Kau tidak lihat aku sedang melampiaskan amarah. Kenapa Indra menyuruhku berperan sebagai anjingmu coba?"
"Mana ku tahu sialan! Jika kau sebegitu kesalnya, pulang sana ke Indonesia dan beri perhitungan pada ketuamu! Jangan kau rusak perabotan yang ada di rumahku! Itu harganya bisa sampai milyaran! Bahkan harga dirimu gak cukup untuk mengganti rugi semua barang yang kau rusak itu!"
Raditya tersentak kaget. Jiwa miskinnya sedikit bergetar. Tapi ia mencoba bersikap tenang, ah! Lebih tepatnya acuh tak acuh. "Halah! Harga segitu paling juga bukan apa-apa kalo di bandingkan dengan penghasilan bisnis keluargamu pertahun"
Andromeda merasa kesal, tapi ia mencoba bersabar dan tetap tenang. Sebenarnya ia juga merutuki Indra karna menitipkan mahkluk seperti ini padanya. "Haaah... aku berpikir untuk menjualmu. Sejelek-jeleknya kau, pasti hargamu cukup besar di pasar lelang mengingat kau adalah Superhuman."
Raditya menanggapi perkataan Andromeda dengan kembali melayangkan tatapan sinis. "Ohya? Lakukan saja!"
Itu perkataan yang membuat Andromeda merasa tertantang.
"Kau yakin?"
Raditya menghela nafas kasar sembari duduk di sofa mini yang ada di kamar, menuangkan wine dalam gelas dan kemudian meminumnya secara bertahap sambil menggoyangkan gelas wine tersebut.
"Mengapa kita harus berbuat sejauh ini hanya untuk sebuah drama?" Ujar Raditya bertanya-tanya.
Andromeda bergabung di sofa yang sama dengan Raditya, meminum wine dari botol yang sama, ekspresi keduanya nampak bersahabat.
"Tanyakan itu pada ketuamu! Aku tidak bisa percaya kalau aku harus berakting menjadi bajingan!" Gerutu Andromeda sedikit kesal.
"Yah... cocok untukmu." Ujar Raditya dengan santainya. Menimbulkan respon tak senang dari lawan bicaranya.
"Hei! Kau sudah gila ya?" Andromeda bertanya dengan kesal.
"Wah..wah! Apa yang terjadi di sini? Apa kamar ini mengalami gempa? Lihat kekacauan ini?" Celetuk Akairo di ambang pintu bersama Rayan di sisinya.
Kedua orang yang baru tiba itu langsung bergabung di sofa yang tersisa. Akairo nampak menyambar botol wine yang ada di sana, menuangkannya pada dua gelas di depannya.
"Kau mau?" Tawarnya pada sosok yang duduk di sebelahnya.
Rayan menggeleng pelan.
"Tidak usah kak. Aku gak pernah minum alkohol." Tolaknya dengan sopan.
"Coba saja dulu. Ini tidak memabukkan selama tidak di konsumsi berlebihan." Saran Akairo mencoba meyakinkan sosok polos di sampingnya.
Rayan pun menerima gelas wine itu sekaligus di ajari cara memegang gelasnya dengan benar.
"Ngomong-ngomong Rayan. Apa pengaruh kekuatan kakak kami masih berfungsi?" Tanya Andromeda memulai topik, mengabaikan ekspresi Rayan yang tengah terkagum dengan cita rasa dari minuman beralkohol itu.
"Sudah tidak kurasa. Pengaruhnya melemah, mungkin karna jaraknya jauh, jadi aku bisa sekalian mematahkan hipnotisnya." Rayan menjawab seadanya.
"Baguslah kalau begitu" celetuk Akairo dengan santai.
"Sepertinya kakak tidak benar-benar menghipnotismu. Karna setau kami, belum pernah ada orang yang bisa mematahkan hipnotisnya." Andromeda mengatakan berdasarkan fakta yang ia ketahui selama ini.
"Entahlah. Apa pun itu. Selama aku tidak bertemu lagi dengannya atau berakhir di kurung di penjara mengerikan itu. Aku tak peduli." Rayan bersikap acuh tak acuh. Ia males memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan hal mengerikan yang pernah di alaminya.
Keempat pria itu duduk sambil melakukan aktivitas masing-masing. Cukup lama juga mereka dalam posisi seperti itu sampai keempatnya menerima notifikasi dari nomor yang sama secara bersamaan.
Keempatnya berdiri serempak setelah membaca pesan di ponsel masing-masing.
"Alex mulai bergerak. Kita bersiap sesuai ren-"
BRUUUK!
Raditya terjatuh, seluruh tubuhnya lemas dan itu di susul juga oleh Rayan.
Raditya menatap tajam ke arah Andromeda dan Akairo, ia tau apa yang terjadi namun tak pernah menyangkanya.
"Apa-apaan ini?! Bukankah kita sudah sepakat?" Tanya Raditya, berusaha keras menjaga kesadarannya.
"Aku hanya bercanda. Jujur, kami tak punya niat untuk bekerja sama dari awal. Kami hanya ikut untuk bersenang-senang! Lagian kami juga punya dendam pribadi dengan Indra." Akairo menjawab dengan wajah angkuh dan tatapan meremehkan.
"Benar! Tapi kau tenang saja. Karna kami tak akan membunuhmu. Kau pasti akan sangat membantu para ilmuwan yang gila penelitian itu. Sedangkan untuk Rayan, kami akan mengawetkannya." Andromeda menjeda kalimatnya.
Ia tersenyum licik sambil menatap dalam mata Raditya. "Maksudnya, membunuh dan menjadikannya patung maneken. Dia pasti akan menjadi yang paling cantik di antara patung-patung lainnya!" Ujarnya tersenyum horor. Itu adalah senyum dari seorang psikopat.
Raditya menatap samar dua orang yang berdiri angkuh di hadapannya.
"Aku percaya kiamat akan datang. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini." Ia pun hilang kesadaran setelahnya.