Indonesia
NovelToon NovelToon
1,2,&3 (NOVEL PERTAMA)

1,2,&3 (NOVEL PERTAMA)

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Keluarga & Kasih Sayang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: pecintamieinstant

Novel pertama "1,2,&3"

Kisah Ratih Maheswari. Gadis cantik dewasa, berusia dua puluh lima tahun. Ia akan menceritakan ulang kisahnya di bangku kelas sepuluh, tentang seseorang yang ia kagumi, yang selama ini telah ia pendam di hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecintamieinstant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14- PRAKTEK POTONGAN BAHAN

"Kok bisa sih, gadis culun itu, sekelompok dengan Bagas?" Wanita berkerudung, satu kelas denganku, berbisik pada teman, disamping.

"Iya. Dia menyebalkan, memang." Membalas pertanyaan darinya.

Aku sangat benci, dengan mereka yang menatap dengki. Tatapan sorot mata-Ratih menyadari dari delapan belas orang itu.

Terkecuali Riana, daritadi sibuk bermain ponselnya. Dan, Fatma, tak memperdulikan.

Bu Tri, selalu guru pembimbing IPA, membaca semua grup tadi, telah diberikan dari Fatma, kepadanya.

Melalui buku itu, guru kami memotret, dan mengembalikan kepada si ketua kelas.

Beranjak bangun-menulis tugas proyek yang akan dikerjakan bagi kami. Terutama waktu pengumpulan tugas itu, diperkirakan dua hari mendatang.

Keseriusan terus berlanjut. Benar-benar, aku memastikan ulang tenggat waktu. Mataku tak salah, kami hanya diberikan waktu dua hari saja. Itupun, jika tidak berdempetan dengan waktu praktek kami.

Setelahnya, Bu Tri meninggalkan pelajaran, seusai bel pelajaran berakhir, kemudian diteruskan ke praktek memasak hari ini.

Aku ikut keluar membawa kresek berisi baju chef putih, bermotif batik. Melangkah bersama Riana-menyusul didepan.

"Kau mencuci bajumu, Na?" Ratih antusias menanyakan.

"Tidak. Aku malas. Lagipula ini masih baru. Dan kita memakai untuk pertama kali. Nanti saja, kalau sudah kotor."

"Sependapat denganmu." Aku tertawa kecil.

"Iya kan. Makanya itu."

Kami berdua mengobrol hingga tempat yang kami datangi, akhirnya berada dihadapan ini.

Kamar mandi dekat tangga, tampaknya agak penuh. Semua mengantri, di empat pintu itu.

Ada juga-agak ekstrim kulihat, mereka membuka kerudung, lalu cepat berganti dengan yang baru. Begitu pula rok abu-abu berubah cepat mengganti dengan celana panjang hitam.

Aku tak mau melakukan seperti yang kulihat. "Lebih bagus, menunggu yang didalam selesai." Berbaris mencari orang sedikit.

Lambat laun giliran Ratih Maheswari, bertukar pakaian. Mengenakan baju chef tadi, celana hitam, kerudung hitam.

Bergegas keluar dan meninggalkan semua barang kedalam tas. Mengambil celemek hitam, pemberian sekolah. Alat makan.

Menuruni anak tangga, bertemu Riana dibawah-tadi terpisah sementara. Ia telah bersiap, membawa alat tempur hari ini.

"Aku agak tegang," Ratih memandang beberapa orang-ikut bergabung.

Riana menengok padaku, "katanya,nanti hanya belajar memotong bahan."

"Potong-potong? Yang benar?"

"Kata ketua kelas, begitu sih."

Ratih mengangguk, membalas tau. Setelahnya, berkerumun membentuk barisan, setelah Fatma menyuruh kami semua, telah berdiri memencar.

"Kitchen 1" Nama yang kubaca, pada papan kecil diatas pintu itu.

"Selamat siang, semuanya." Bu Mega menyapa. Tegas berteriak kepada anak-anak baru. Telah mengenakan baju chef merah, agak pudar.

"Siang bu!" Mereka menjawab.

Dari suara guru itu, Ratih menjadi tak percaya diri. Ia seperti merendahkan diri. Nampak, rasa tegang mengalir di seluruh tubuhnya.

"Selamat datang di kelas praktek hari ini. Saya, bu Mega selaku pelajaran boga dasar, akan membersamai kalian semua selama tiga tahun. Silahkan memakai celemek, dan kita akan memasuki ke ruang kelas baru."

Mendengar suruhan tadi, Ratih ikut mengenakan. Bersama lain, turut memulai.

"Baik, sudah semua dipakai. Sekarang silahkan masuk. Jangan berlari, karena bukan area bermain."

Sebanyak dua puluh orang memasuki kelas baru. Atmosfer asing, Ratih rasakan.

Ruangan besar, dengan susunan set meja dapur-seperti dirumah sendiri.

Empat tungku kompor, di masing-masing meja itu. Dibawahnya, ada oven pemanggang jika nantinya dilakukan praktek memasak kue.

Kulkas besar, menyala. Berdiri tegak di tengah ruangan.

Enam belas meja dapur tadi, menghadap kepada papan tulis, dengan meja guru.

Lingkungan menakjubkan, dilihat di kedua mata Ratih, pertama kali menjejakkan kaki didalam. Hawa panas, menyelimuti ruangan.

"Silahkan menuju tempat masing-masing, sesuai nomor yang sudah ditempel di meja itu." Bu Mega, berseru.

Aku yang mendengar suruhan guru itu, kebingungan mencari nomor berapa, Ratih dapatkan. Riana-daritadi ia santai berjalan-jalan, melihat pemandangan baru ini.

"Teman-teman, mohon perhatikan. Kelompok kalian untuk praktek-praktek selanjutnya, sesuai dari kelompok IPA." Fatma memberitahu.

"Berarti... Bagas denganku?" Pipiku memerah.

"Ayo cepat. Waktu ini tidak banyak. Kelas-kelas lain, sedang menunggu, ini." Bu mega menepuk tangan, kepada anak-anaknya, yang berlari kebingungan.

"I-iya, bu..."

Perempuan berkerudung, mengangguk paham, sekaligus panik. Bersusah payah mencari keberadaan meja itu. "Dimana, nomor itu?"

"Aku hitung saja. Satu... Dua... Tiga..." Seterusnya, Ratih menghitung keras, hingga, ia menemukan titik terangnya.

Bangku enam belas berada paling belakang. Bersamaan dengan Lelaki tinggi. Sejak tadi sudah berdiri disana. Melipat tangan, seolah menunggu.

Aku menghampiri tempatnya. Berdiri agak menjauh darinya. Aku tak melirik wajah lelaki itu. Hanya saja... Rasa grogi, menggerogoti.

"Hari ini, kita akan belajar memotong bahan yang benar."

Bu Mega memulai pengajaran. Memutar sebuah video, di sebuah alat proyektor. Menampilkan chef professional, sedang mempresentasikan bagaimana memotong bahan, yang benar.

Disana telah disiapkan wortel, dan tomat.

"Wow, lihat tangannya. Sangat cepat menggunakan pisau tajam."

... ...

Durasi agak panjang, dicepatkan oleh guru itu. Menutup video tadi, berbicara lagi.

"Tadi sudah dijelaskan di video tentang bagaimana potongan sayur yang baik. Ada Paysane, Juliene, Dice, Bruonise, Chopped, Jardinier, Slice, dan juga Wedges.

Didepan kalian, sudah ada bahan-bahan. Silahkan gunakan sebaik-baiknya."

Tray stainless, telah diletakkan di antara kami berdua, dengan lima wortel dan dua tomat merah segar, ukuran sedang. Selebihnya, tergantung masing-masing.

"Terdapat sepuluh macam potongan sayur, didalam video. Silahkan membuat delapan potongan itu. Nanti kalau sudah selesai, akan ibu nilai." Bu Mega menduduki kursi lipat.

Semuanya bergerak, memotong. Aku melihatnya.

"Baiklah, aku juga harus mulai." Ratih berbicara sendiri.

Aku mengambil set pisau juga alas pemotong-sudah diletakkan di tempat itu. Satu pisau tajam, dipegang tangan kananku.

Bagas, sudah memulai memotong bahan itu, sejak tadi.

"Semoga aku masih ingat video tadi."

Aku, bersemangat memulai.

Tangan kanan perempuan itu, membelah wortel menjadi tiga bagian. Satu bagian tadi, dibelahnya menjadi beberapa potongan panjang.

Dibantu penggaris-aku temukan didalam laci bersih. Mencoba mengukur seberapa tebal dan tipis wortel tadi.

Tubuhnya membungkuk. Mengukur wortel tadi, yang belum siap dipotong. Semakin lama, tangan anak itu menjadi sedikit kram.

"Ternyata susah. Tidak segampang didalam video." Ratih menyadari.

Ratih melihat hasil lelaki disamping. Satu per satu potongan-piring saji, dipenuhi hasil potongan-nya. Dilanjutkan tomat merah, dipotong sedemikian rupa, sama seperti di video tadi.

"Seharusnya, aku juga bisa seperti itu. Rapi kulihat.

Semakin lama ia membungkuk, rasa encok ikut terasa. "Punggungku!"

Di mata gadis itu, ia melihat semacam bekas luka bakar dan sayatan di lengan kanan, lelaki samping-ku. Saat anak itu, melipat setengah lengan baju chefnya.

"Luka apa itu, ya?" Ratih bertanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!