Setiap orang pasti punya masa lalu apapun bentuknya, kali ini seorang gadis cantik yang terkenal periang,baik hati, manis, dan manja kini berubah 360 derajat dari sifat nya yang dulu.
Rasa sakit yang selalu ia terima membuatnya ingin selalu berusaha mengakhiri hidupnya, ia takut mempercayai orang-orang, ia takut untuk jatuh cinta, dan ia tak percaya akan semua keindahan ia membencinya, ia merasa Tuhan tak adil akan hidupnya.
Akankah gadis ini akan kembali menjadi dirinya yang dulu ?
Akankah gadis ini akan menemukan pria yang mencintainya dengan tulus ?
Apakah kali ini waktu akan berpihak padanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Kato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Rooftop vs Go food
Saat lari dari hadapan Sean ia pergi dengan rasa kecewa dengan air mata yang tiba-tiba netes di pipinya yang sangat lucu, kegilaan Senna di rooftop rumah sakit mencuri perhatian dokter muda spesialis saraf yang baru saja di pindahkan kerumah sakit ini. Saat ini Senna sedang berteriak mencaci maki semua orang dan ia tak mendengar beberapa kali di panggil oleh dokter muda ini yang sebenarnya umurnya sama dengan Sean.
"Jangan berharap Senna hidup ini hanya manipulasi saja, tak ada orang yang peduli dengan hidupmu,tak ada orang yang mengharapankan mu, tak ada orang yang mencintaimu jadi berharap bahagia. Dasar kehidupan bajingan kamu tidak akan pernah bahagiaa. SSIAAAAALLLLLL." Ucap Senna sambil teriak dan mendukkan kepala seperti orang mau lompat dari rooftop rumah sakit.
Tiba-tiba saja ada orang yang menolong Senna dan memeluknya tatapan mereka begitu lama dan pria itu nafas nya seprti ngos-ngosan, dan itu membuat Senna bingun ada apa dengan pria itu.
"Bersyukur lo di kasih hidup malah mau mati, banyak orang disini rela bayar mahal rumah sakit untuk bertahan hidup lo malah mau bunuh diri. Gila lo." Ucap laki-laki yang menolong Senna.
"Hei, siapa yang mau bunuh diri!."
"Siapa kalau bukan lo main mau loncat aja di rooftop."
"Syaraf lo ia gua lagi cari angin malah di kira mau bunuh diri."
"Sepertinya lo perlu periksa di dokter saraf biar jiwa lo sedikit membaik."
"Lo aja yang periksa , males gua berdebat sama lo bye." Ucap Senna sambil meninggal dokter itu di rooftop.
"UCAP TERIMAKSIH KE UDAH GUA TOLONGIN WOI." Teriak dokter muda sambil tersenyum menatap Senna pergi kembali Ke kamarnya."
Di kamar Senna semua orang di buat bingun karena tak menemukan Senna apalagi ponselnya tidak di bawa, Sean begitu khawatir apalagi ini sudah malam tanda-tanda Senna tak ada di kamarnya makin membuat semua orang bingun.
Tiba-tiba Senna datang dengan santai tanpa respon apa-apa malah dia yang bingun kenapa di kamar begitu ramai dan itu membingunkan diri nya, dengan sepontan Sean memeluk Senna di depan semua orang dengan sifat tidak peduli dengan nafas yang berat dan itu membuat Senna bingun dengan sikap Sean.
"Kamu kemana aja kenapa ga bawa hp, udah tau baru sadar udah main kabur-kaburan aja. Aahh bisa ga bikin orang ga khawatir sedikit aja jangan buat aku bingun." Ucap Sean sambil memeluk Senna dengan erat dan membuat Senna melotot mendengar ucapan Sean dan membuat semua orang di kamar bingung dan tersenyum kecil.
"Cuma ke rooftop doang, bang please lepas sesak tau aku ga bisa nafas." Ucap Senna sambil melepas pelukan erat Sean.
"Maafin abang." Ucap Sean sambil melepas pelukannya.
"Sepertinya ada yang baru saja mengungkapkan perasaanya kalau di khawatir hahaha tapi gensi kayaknya." Ucap Sarah.
"Pada akhirnya tunjukin juga pedulinya." celetuk Dea
Semua orang di sana tersenyum dan tertawa bahagia , kecuali Meira yang merasakan sakit hati dengan apa yang baru ia lihat.
Saat itu Senna sudah ada di ranjang rumah sakit ia sedang melihat tv sambil mendengar coletah dari keluarganya , ia memesan makanan favoritenya Makaroni keju panggan dan kopi latte dan butter croissant 2.
Tiba-tiba perawat rumah sakit mengedor kamar dan mengantarkan pesanan Senna.
"Permisi, mba Senna ada ?." Ucap perawat
"Ia ada apa ?." Ucap Senna
"Ini penasanan mba Senna dari go food."
"Oke makasih." Ucap Sean yang mengambil makanana Senna.
Saat itu Senna membuka makananya ia tersenyum bahagia melihat makanan ini makanan favoritnya yang sudah ia rindu selama 3 bulan ini.
"Akhirnya makan ini juga,setelah tidur panjang 3 bulan." Ucap Senna di perhatikan Sean dan yang lain.
Saat ingin memakan makanan nya tiba-tiba Sean menganti makanan yang di bawakan oleh perawat untuk Senna, dan kejadian itu membuat Senna melotot dan hawa jadi horor.
"Makan itu aja." Ucap Sean dengan tegas
"Kenapa di ganti makanannya itu makanan favorite aku, kenapa seenaknya ganti makananku." Ucap Senna yang sekarang lebih sensitif dari biasanya.
"Hmm,dokter belum kasi kamu makan yang lain selain bubur dan sayur dulu."
"Bohong , kenapa semua bang Seanb atur ahh mana dokter bilang begitu." Ucap Senna dengan nada tingga dan mata berair.
"Tadi pagi dokter bilang ke abang."
"BOHONG,GA USAH SOK PEDULI DEH KALIAN SEMUA ! TOH JUGA DULU GA PERNAH PEDULI SAMA SENNA KENAPA SEKARANG SOK JADI PAHLAWAN ATAU SOK CARE SAMA SENNA DASAR MUNAFIK LO SEMUA." Ucap Senna dengan Air mata dan suara yang terisak-isak .
"Sayang, masuk bang Senna baik sayang." Ucap Bunda
"Ga peduli aku mau tidur." Ucap Senna langsung masukkan mukanya dalam selimut.
"Udah kamu sabar iaa nak." Ucap Bunda sambil mengepuk bahu Sean.
"Sabar bang semua perlu waktu nak." Ucap Umi sambil tersenyum melihat anaknya.
"Kalau abang cinta perjuangkan dia abi yakin lambat laun hatinya pasti menerima abang." Ucap abi
"Kita pulang aja biar Senna istirahat aja." Ucap Angga
"Bibi pulang aja biar Sean aja yang jaga Senna." Ucap Sean
"Ga apa-apa tuan ?." Ucap Bibi
"Ga apa-apa bi." Ucap Sean , sambil mengantar semua orang di depan pintu kamar Senna pulang.
"Cemumut abang kyuuu." Ucap Sarah dengan tatapan iseng
"Hmm." Ucap Sean sambil mengusap rambut adeknya .
"Semanga bang kanebo kering." Ucap Dea sambil lari sama Sarah
"Asem kamu." Ucap Sean dan berlalu masuk ke kamar melihat senna yang sudah tidur.
Saat itu Sean merapikan selimut Senna dan menaruh makanannya di meja makan ia menganti baju nya dengan baju tidur,beberapa jam berlalu tiba-tiba Sean ke kamar mandi dan Senna bangun ini minum dan ia melihat jam dan tv masih menyala.
"Mungkin Bibi." Ucap Senna sambil mengecek ponsel sudah pukul 12 malam."
"Kamu kenapa bangun , butuh apa ?." Ucap bang Sean
"ASTGAFIRULLAH." Ucap Senna dengan teriak
"Kamu kenapa ?."
"Kenapa abang bisa disini ?"
"Jaga kamu , terus ngapain."
"Mana Bibi kenapa abang disini."
"Gantian kenapa ga boleh ?."
"Ga bolehlah , nanti calon istri abang marah."
"Siapa calon istri abang?."
"SOK GA TAU ."
"Bahasanya Senna ."
"Bodoh amattt."
"Jawan abang siapa ?." Ucap Senna sambil duduk di sebelah Senna.
"Sok ga paham, siapa lagi kalau bukan yanh di taman."
"HAHAHAHA, CEMBURU IAA ?." Ucap Sean sambil tersenyum jahil.
"DIHHH PEDE LO."
"NGAKU AJA KALAU CEMBURU."
"Apaan sih bang."
"Dengar penjelasan abang dulu soal yang tadi oke."
"Ogah ah gua mau tidur."
"Dengar dulu ia." Ucap Sean sambil mengenggam tangan Senna.
Flasback di taman sore tadi ...
"Meira abang perlu bicara."
"Apa bang ?."
"Abang ingin tau apalasan Meira tinggal abang saat pernikahan kita ?."
"Hmmm... maaf abang waktu itu, Mei sakit parah kata dokter dan harus menjalanin trapi dan beberapa rangkaian operasi. Maaf Mei ga kasih tau abang soal itu dan lari di hari pernikahan kita bang."
"Akhirnya abang paham Mei."
"Abang apa mau memulai kembali cerita kita ?, aku tau aku salah udah tinggal kan abang bertahun-tahun tanpa kepastian. Tapi aku cinta abang."
"Maaf untuk saat ini abang ga bisa kembali menjalin lagi hubungan dengan Mei selain seorang teman karena rasa abang untuk seseorang yang abang rasa layak mendapatkankan rasa itu dan perlu. Maafkan abang."
"Apa itu Senna ?, Saudara tiri Mei ?."
"Siapapun itu pilihan abang jadi Mei jangan berharap dengan abang ia."
"Apa tidak ada kesempatan abang buat Mei ?."
"Maafka abang ia."
"Boleh Meira rasakan pelukan abang yang terakhir kalinya?."
"Hmmm boleh."
- End -
"Terus apa hubunganya dengan Senna ?."
"Karena kamu alasan abang seyakin ini sama kamu."
"Diii ga percaya."
"Abang lihat kamu pas Mei peluk abang terus kamu lari kan , makanya abang jelasin ke kamu biar ga cemburu."
"Bodoh amat , siapa yang cemburu." Ucap Senna sambil melepaskan ngenggaman dari Sean dan tidurr mengadap Tv membelakangin jendela.
"Hahaha Cemburu ia."
"Siapa yang cemburu."
Tiba-tiba Sean naik di ranjang pasien dan memeluk Senna dari belakang dan meletakan dagunya di leher Senna dan memeluk dengan begitu erat dan iru mengagetkan Senna.
"Turun bang ga muak , kenapa naik disini ?."
"Karena aku membutuhkan pelukan hangat ini, tidurlah akau akan menjagamu."
"Tapi aku sesak di peluk terlalu erat."
"Tidurlah aku tidak akan melepaskan pelukan ini, ini sangat hangat."
"Tapi bang , ..."
"Tidurlah jangan banyak bicara."
Akhirnya Senna tertidur dengan pulas dan nyaman ia benar-benar tidur dengan pulas Senna benar-benar tidur dengan sangat nyaman dari biasanya.
"Jangan membuatku khawatir lagi ,jangan membuatku tidak bisa melihat senyummu, marah mu , atau sikap dinginmu. Maafkan aku yang tak bisa melihat cinta mu kala itu karena aku terlalu larut dengan lukaku. Hingga aku membuatmu pergi begitu saja dengan penuh luka. Maafkan aku ,aku janji aku akan membuatmu nyamanan dan bahagia di dekatku dan jangan pernah menjauh dariku karena aku mencintaimu." Ucap Sean sambil mengusap kepala Senna dan ikut tidur bersama.