Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:191.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelisah di Dalam Perangkap Utang

Kamar tidur itu gelap, hanya diterangi oleh pendar cahaya biru yang dingin dari layar ponsel. Di atas ranjang, Andi duduk bersila dengan punggung melengkung kaku bagai busur yang siap patah. Keringat dingin merembes dari sela-sela rambutnya, menetes lambat melewati pelipisnya yang berdenyut kencang.

Di layar ponselnya, sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal berkedip-kedip, membawa ancaman yang diketik dengan huruf kapital tebal:

“ANDI WIJAYA. UTANGMU SUDAH MENEMBUS SERATUS LIMA PULUH JUTA RUPIAH. JIKA SORE INI TIDAK ADA SETORAN MINIMAL TIGA PULUH JUTA, KAMI AKAN DATANG KE RUMAH PAMANMU DAN MEMBUAT PERHITUNGAN DENGAN CARA KAMI.”

Andi menelan ludah, namun tenggorokannya terasa sekering semen basah yang mengeras. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi.

"Sial! Sial! Bagaimana bisa secepat ini?" desisnya lirih, suaranya bergetar di tengah keheningan kamar yang pengap.

Tiga puluh juta rupiah. Angka itu kini terasa bagai seutas tali gantungan yang perlahan-lahan mengencang di lehernya. Beberapa bulan lalu, ketika ia masih bisa dengan mudah merayu Ningsih untuk membelikannya barang-barang mewah atau meminta "uang saku tambahan" dari Reza dengan alasan biaya kuliah dan kegiatan sosial keagamaan, uang sebesar itu bisa ia dapatkan dalam sekejap.

Gelisah di Dalam Perangkap Utang hanya perlu bersikap sopan, melafalkan beberapa nasihat bijak dengan nada teduh, dan membiarkan ego paman serta bibinya yang haus akan sanjungan itu terpuaskan. Dan jika ia terdesak seperti kejadian subuh itu, ia cukup melangkah masuk ke kamar Ningsih, mengambil amplop dari laci rias, lalu melemparkan semua kesalahan itu kepada Naya—si menantu miskin yang selalu menjadi tempat pembuangan sampah moral di rumah tersebut.

Namun kini, mesin anjungan tunai mandiri berjalan itu telah mati.

Andi mendengar suara pintu depan yang dibanting dengan keras, disusul oleh derap langkah kaki yang terburu-buru dan kacau. Suara tangisan histeris Ningsih yang melengking pecah di ruang tengah, bersahutan dengan makian kasar Reza yang terdengar parau dan putus asa.

Andi tersentak. Ia segera mematikan ponselnya, memasukkannya ke dalam saku celana, dan memasang kembali topeng yang selama ini menjadi pelindungnya: wajah seorang keponakan yang santun, tenang, dan penuh simpati.

Ia membuka pintu kamar perlahan, melangkah keluar dengan raut wajah yang sengaja dibuat cemas.

Di ruang tengah, pemandangan yang menyambutnya begitu mengenaskan. Ningsih terduduk di atas lantai marmer, gaun brokat merah menyalanya kini kotor oleh debu jalanan, rambut sasaknya telah runtuh sepenuhnya bagai sarang burung yang dirusak badai. Riasan wajahnya yang tebal luntur oleh air mata dan keringat, meninggalkan coretan hitam maskara yang menyeramkan di pipinya yang kendur.

Reza berdiri di dekat sofa, dasinya sudah terlepas entah ke mana, kerah kemejanya robek, dan tangannya gemetar hebat saat mencoba menyalakan sebatang rokok.

"Paman Reza... Bibi Ningsih..." Andi mendekat dengan langkah ragu, suaranya mengalun sangat lembut, sarat akan keprihatinan yang palsu. "Demi Tuhan, ada apa ini? Mengapa Bibi menangis seperti ini? Apa yang terjadi di kantor?"

Ningsih mendongak. Begitu melihat wajah Andi, tangisannya justru kian mengeras. Ia merayap, mencengkeram kaki celana Andi dengan tangan yang gemetar.

"Andi... Andi sayang... perempuan itu... Naya..." ratap Ningsih, suaranya tersendat oleh isak tangis yang memuakkan. "Dia mempermalukan Bibi di depan semua orang! Dia menyuruh sekuriti menyeret Bibi seperti anjing kurap! Dia... dia berbohong tentang uang-uang kita!"

Andi mengerutkan dahi, kepalanya mulai terasa pening. "Naya? Bagaimana bisa Naya melakukan itu? Bukankah dia hanya wanita kampung?"

"Dia bukan wanita kampung, Andi!" potong Reza dengan bentakan kasar. Ia melempar korek apinya ke meja hingga berdenting keras. Wajah Reza pucat pasi, matanya liar memandang sudut-sudut rumah yang kini terasa asing. "Dia Anindya Naya Atmadja. Pemilik dari seluruh tempat ini. Dia yang mengendalikan Sinar Surya... dia yang memecatku pagi ini!"

Mendengar nama "Atmadja", jantung Andi seolah berhenti berdetak selama satu detik yang berharga. Seluruh otot di tubuhnya menegang.

"P-Pemilik Sinar Surya?" gumam Andi, otaknya yang licik mencoba mencerna informasi tersebut. "Tapi... bagaimana dengan rumah ini? Dan mobil Paman?"

"Semuanya... semuanya atas nama yayasan miliknya," jawab Reza dengan suara yang mendadak melemah, seluruh keangkuhannya telah menguap, menyisakan seorang pria kerdil yang ketakutan. "Tabunganku nol, Andi. Fasilitas kartu kredit Ibu dibekukan. Sinar Surya menuntutku atas tuduhan manipulasi dana dan korupsi jabatan. Jika aku tidak bisa mengembalikan uang operasional yang kugunakan dalam waktu dekat, aku... aku bisa dipenjara."

Kenyataan itu menghantam Andi bagai gada besi yang tak kasat mata.

Dipenjara? Tabungan nol? Fasilitas dibekukan?

Pikiran Andi berputar liar. Jika Reza masuk penjara dan Ningsih tidak lagi memiliki uang sepeser pun, lalu siapa yang akan membayar utang judinya? Siapa yang akan memberi makan dirinya yang selama ini hidup menumpang dengan kemewahan cuma-cuma di rumah ini?

"Paman... Bibi... tenanglah," Andi mencoba menstabilkan suaranya yang mulai bergetar karena kepanikan pribadinya sendiri. Ia berlutut di samping Ningsih, mengusap bahu wanita tua itu dengan gerakan yang tampak menenangkan. "Pasti ada jalan keluar. Kita bisa melaporkan Naya atas tindakan kesewenang-wenangan. Atau... kita bisa meminta bantuan pengacara keluarga."

"Pengacara apa, Andi?!" Reza berteriak frustrasi, menjambak rambutnya sendiri. "Untuk membayar biaya konsultasi awal saja kita sudah tidak punya uang! Rian... bajingan itu bahkan tidak mau meminjamkanku uang sepeser pun! Semua orang menjauhiku!"

Ningsih terus meratap, memaki nama Naya dengan sisa-sisa kebenciannya yang mulai berubah menjadi ketakutan yang teramat sangat.

Andi berdiri perlahan, mundur satu langkah menjauh dari lingkaran penderitaan paman dan bibinya. Di dalam dadanya, rasa gelisah yang semula berupa riak kecil kini telah menjelma menjadi ombak raksasa yang siap menenggelamkannya.

Ia menatap kedua orang di hadapannya bukan lagi dengan rasa hormat atau sayang, melainkan dengan pandangan seorang predator yang menyadari bahwa mangsanya telah mati dan tidak lagi menyisakan daging untuk dimakan.

Aku harus pergi dari sini, batin Andi liar. Sebelum debt collector itu datang meremukkan tulangku, aku harus menemukan sesuatu yang berharga di rumah ini untuk kujual. Apapun itu.

Andi melirik ke arah kamar tidur Ningsih yang pintunya terbuka setengah. Matanya menyipit, memikirkan apakah masih ada sisa perhiasan emas atau berlian yang disembunyikan bibinya di tempat yang tidak diketahui orang lain.

Di bawah lampu gantung yang mulai temaram karena tegangan listrik yang tidak stabil, sang keponakan yang saleh kini mulai merencanakan pengkhianatan berikutnya—sebuah tikaman dari dalam selimut yang akan mempercepat keruntuhan mutlak keluarga Adijaya.

1
Tressye Nona Wawolangi
lha aku juga binggung tadinya blg mereka udah di kontrakan kecil koq sekarang masih di rumah mewah ceritanya ini gimana sih?
Jetva
lah..jual aza perhiasan n barang mewah di rumahmu...otak pendek...cuma liat duit di mata..tp otak mati tak bs siajak berpikir...udah terlena dgn harta org...
Dianra Malakut
cerita simple, pendek tp berkesan,, aku puas bacanya Thor.. makasih ya cerita mu keren,, d tunggu karya yg lainnya Thor 👍💐
Nani Krisnawati
rasakan kau reza dan ibunya sombong songong...kena batunya
Nani Krisnawati
bagus bngt ceritanya
Misaza Sumiati
kok ada LG di perumahan mewah bukannya dikontrakan STLH dipecat
Misaza Sumiati
ibunya kan punya perhiasan
Lila
Berarti si Reza ini, sdh kaya dr lahir jg??😁 mknya ga pernah naik bus dan memandang rendah org lain.
Lila
Astaga ga nyaman bgt baca, paman Reza-paman Reza, bukannya anak bibi Ningsih artinya Reza sepupu Andi!!
Lila
Ningsih tantenya Andi, sdh bener disebut bibi, tapi Reza kan anak dari bibi Ningsih (sepupu), dan istrinya Naya harusnya dipanggil Abang dan mba/kakak kan?
niktut ugis
lebih suka novel seperti ini bab sedikit tapi endingnya keren
niktut ugis
nah ini pencuri aslinya yg bertopeng alim
niktut ugis
kenapa nunggu 3thn untung membersihkan aroma menantu yg menurut kamu sial... ningsih mertua otak bodoh
Diny Julianti (Dy)
ko panggil reza paman? emang reza sma Ningsih kk ade? bukan anak sama ibu
Sulati Cus
👍🏻
Cheng Nyo
/Good//Good//Good//Good//Good/
Rehaan Aamir
ANEH BIN AJAIB JLN CRT MU THOR...PDHL UDAH JELAS2 WAKTU MEREKA KELUAR DARI RUMAH YG D MENTENG SI ANDI UDAH KABUR DULUAN...KOQ BISA2 NYA SI ANDI TAU KONTRAKAN REZA&IBUNYA YG SKRG...TRS KOQ TETANGGANYA KENAL SAMA SI ANDI...PDHL SI ANDI GK ADA IKUT SAMA SEKALI WAKTU REZA PINDAH....AMBURADUUUUUUUULLLLL
Rehaan Aamir
Laahhh...Koq Aneh...D Bab Sblm Nya Bukan Nya Mereka Udah Pindah K Kontrakan Kumuh Ya Koq Skrg Ada D Perumahan Mewah Lagi????...
echa purin
👍👍
Titien Prawiro
Nyesal kan? penyesalan tidak diawal
pasti yg akhir. sesal tiada guna.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!