Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Iyain Aja Biar Cepat

"Itu.. kita, kita cuman mau ngasih dia kerjaan biar adil. Semuanya kerja." Terang salah satu teman Lola.

"Gue yang nyuruh dia duduk aja. Kenapa? Gak terima?" Tanya Baffin membuat Lola dan kedua temannya langsung menggelengkan kepalanya.

"Ya udah. Inget ya! Silva itu urusan gue. Gak ada yang boleh nyuruh-nyuruh dia." Peringat Baffin membuat ketiganya mengangguk patuh.

"Boleh juga Lo kulkas." Celetuk Kenya sebelum melanjutkan kegiatan bersih-bersih kelas yang sempat tertunda.

•••

Kriiiing!

Bel istirahat pertama menggema membelah koridor Highscape High School. Dalam hitungan detik, ketegangan dari sesi bersih-bersih kelas langsung mencair.

Murid-murid mulai berhamburan keluar kelas demi mengisi perut mereka yang sudah keroncongan sejak upacara pagi.

Baffin meletakkan sapunya di pojok kelas, lalu menatap Silva sekilas.

Ternyata Gavi langsung menghampiri Silva dan Kenya. Ia meletakkan penghapus papan tulis dan berjalan menghampiri meja Silva dan Kenya dengan senyuman hangat khasnya.

"Mau makan bareng gue ke kantin?" tawar Gavi ramah, berusaha mencairkan suasana agar kedua mantan teman SMP-nya itu tidak merasa canggung di hari pertama sekolah.

"Boleh banget, Gav! Gue udah kelaperan gara-gara ngadepin singa sirkus tadi," sahut Kenya antusias sambil merapikan sisa kain lap.

Namun, belum sempat Silva beranjak dari kursinya, sesosok tubuh tinggi besar mendadak sudah kembali berdiri di samping meja mereka.

Tangan kekar Baffin langsung menyambar pergelangan tangan Silva dan menariknya lembut untuk berdiri.

"Silva makan sama gue," ucap Baffin singkat, padat, dan mutlak tanpa bantahan. Mata elangnya sempat melirik Gavi sekilas dengan kilat memperingatkan, sebelum ia menuntun Silva keluar kelas begitu saja.

"Eh, Kenya ayo.." Kenya melongo menatap kepergian sahabatnya, lalu buru-buru menoleh ke arah Gavi dengan wajah tidak enak. "Gav, gue makan sama dia ya... gue duluan!" pamit Kenya cepat, sebelum akhirnya berlari kencang mengejar langkah lebar Baffin dan Silva di koridor.

Kantin Highscape High School siang itu benar-benar penuh sesak dan bising oleh ratusan murid. Beruntung bagi Silva, ia tidak perlu ikut berdesakan mengantre.           Begitu sampai di sana, Baffin langsung membawanya ke meja pojok yang paling strategis—meja kekuasaan yang sudah dihuni oleh Novel, Kaisan, dan Archard.

"Duduk di sini," suruh Baffin sambil menarikkan kursi untuk Silva.

Silva duduk dengan canggung, disusul oleh Kenya yang tiba dengan napas agak terengah-engah dan langsung mengambil posisi duduk di sebelah Silva secara protektif.

"Biar gue yang pesen makanan. Lo pada mau makan apa?" tanya Cyriel yang berdiri di ujung meja.

Di antara kumpulan anak-anak sultan ini, Cyriel memang merupakan orang yang paling tidak berada secara ekonomi.

Karena tidak bisa sesuka hati mengeluarkan uang dan lebih sering dibayarin atau dibelikan oleh teman-temannya, Cyriel dengan senang hati membalas kebaikan mereka dengan menjadi orang yang selalu memesankan makanan.

Ia bahkan yang paling rajin memasakkan Pop Mie untuk mereka jika sedang berkumpul di markas seperti tempo hari.

"Samain aja semua, Riel. Bakso plus es teh manis. nih," ujar Kaisan sambil menyodorkan selembar kartu, yang langsung diterima Cyriel dengan anggukan paham sebelum cowok itu berjalan membelah antrean kantin.

Selagi menunggu Cyriel mengantre, Novel langsung memajukan tubuhnya ke arah meja, menatap Silva dengan binar mata jahil yang berbinar-binar. "Eh, Ibu Negara, cerita dong, gimana bisa lo kepikat sama si Kulkas Berjalan ini? Padahal di luar sana banyak lho cowok yang lebih anget, contohnya gue—"

"Diem lo, Vel," potong Baffin dingin, melemparkan tatapan membunuh yang sukses membuat Novel langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil pura-pura mengunci mulutnya dengan kunci tak kasat mata.

Kaisan yang melihat itu terkekeh pelan. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan agar Silva tidak terlalu canggung. "Silva, setahu gue starlight itu cukup bagus. Kenapa tiba-tiba Lo pindah-"

"Lo juga diem." Potong Baffin lagi

Kaisan langsung mendengus pasrah. "Buset, Fin. Protektif banget kayak lagi jagain aset negara. Kita cuman mau kenalan doang elah."

Silva yang melihat interaksi itu hanya bisa menyembunyikan senyum kecilnya, merasa agak terhibur sekaligus bersyukur karena Baffin menjaganya dengan cara yang unik.

Tak lama kemudian, sebuah suara riang yang sangat familier tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka. "Kak Baffin!"

Silva menoleh. Edelweiss sudah berdiri di sana bersama seorang teman perempuannya.

Gadis cantik anak kepala sekolah itu tersenyum sangat lebar sambil membawa nampan berisi bakso dan es teh.

"Aku gabung di sini ya...?" pinta Edel dengan mata berbinar dan langsung mengambil posisi duduk kosong di dekat Baffin tanpa memedulikan aura meja tersebut yang biasanya steril dari murid kelas sepuluh

Melihat Edelweiss bergabung di meja mereka, Novel—yang memang tidak bisa diam barang semenit saja—langsung memanfaatkan kesempatan untuk membuka obrolan.

Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Lo sepupunya Baffin, kan?" cecar Novel antusias. "Ceritain dong, gimana kronologi si Baffin bisa tunangan? Kenal dari mana dan mereka udah pacaran berapa lama?"

"Mereka dijodohin," balas Edel sesingkat mungkin. "Kalau kenal dari mana, mereka itu teman dari kecil. Tetanggaan."

Alis Novel bertaut heran. "Masa dijodohin? Tapi keliatannya Baffin bucin dan posesif banget, ya? Gak kayak perjodohan di novel-novel yang biasanya saling benci dulu."

"Benci itu kan benar-benar cinta," balas Edel santai sambil mengedikkan bahu.

Novel manggut-manggut, membenarkan dalam hati. "Bener juga lo. Tapi karena apa mereka dijodohin? Cuma karena tetanggaan dan udah kenal lama?"

Edel melambaikan tangannya di udara. "Bukan—"

"Diem, Edel. Kamu makan aja, atau pindah meja lain." potong Baffin cepat. Cowok itu sepertinya memang punya hobi baru: memotong kalimat orang lain sebelum rahasianya terbongkar.

Edel melirik Baffin sekilas. Alih-alih membantah, ia hanya mengangguk patuh sambil membentuk gestur jari 'OK' . Gadis itu kemudian menggerakkan jarinya dari ujung bibir kanan ke kiri, memperagakan gerakan mengunci ritsleting mulutnya rapat-rapat.

Novel berdecak kesal karena pasokan gosipnya diputus sepihak. "Kenapa gak boleh tahu alasannya, sih? Atau jangan-jangan alasannya karena lo... lo..."

Dugh! Tanpa ampun, Baffin menendang tulang kering Novel dari bawah meja.

Sial*n. Apakah cowok bermulut ember itu mau menuduh bahwa Baffin telah berbuat yang tidak-tidak pada Silva hingga mereka harus bertunangan? Tentu saja Novel sangat pantas dihadiahi tendangan maut.

Sedangkan Novel yang lagi-lagi menjadi korban kekerasan itu langsung meringis. Baffin tidak punya hati. Begitulah pikirnya.

Sebenarnya punya, sih. Tapi jelas bukan untuk makhluk sejenis Novel. Mungkin.. untuk Silva seorang?

Setelah rasa nyerinya agak mereda, penyakit tidak bisa diamnya kembali kambuh. Ia menatap gadis yang duduk di sebelah Edel. "Ini teman lo namanya siapa?" tanya Novel mengalihkan isu.

Edel menghentikan aktivitas makannya sebentar, lalu melirik gadis di sampingnya. "Ini namanya Alifasa. Dipanggilnya Alif."

Novel mengangguk paham dengan senyum sok tahu yang terbit di wajahnya. "Pasti nama lengkapnya Alifasa Prakoso Kusworo, kan?" tebak Novel asal-asalan.

Edel langsung mengacungkan jempolnya tanpa minat, lalu lanjut mengunyah. Namun, sedetik kemudian, Alifasa diam-diam menginjak sepatu Edel di bawah meja, merasa tidak nyaman dengan candaan Novel. "Kenapa, Lif? Kamu gak mau dibilang Alifasa siapa itu tadi ya?" tanya Edel polos tanpa dosa menatap Alif yang cemberut.

Edel kemudian menatap Novel dan kembali berucap, "Biarin aja, Lif. Kata Kak Baffin, Kak Novel itu orangnya emang agak rada-rada. Jadi kalau dia ngomong, kita iyain aja biar cepet." Sebagai sepupu yang cukup dekat dengan Baffin, Edel memang sudah khatulintas menghafal tabiat buruk teman-teman tongkrongan abangnya itu.

Mendengar kalimat jujur yang menyakitkan itu keluar dari mulut polos Edel, Novel langsung menoleh ke arah Baffin dengan dramatis.

Ia memasang wajah terluka yang dibuat-buat, lengkap dengan binar mata seolah hendak menangis. "Ternyata selama ini lo jelek-jelekin gue di belakang, Fin?" tanya Novel dengan suara yang digetar-getarkan.

"Gue udah bilang kan ke lo, tiap malam gue selalu angkat tangan, doain lo biar dapet hidayah dan cepet dapet jodoh. Tapi ternyata, ini balasan lo ke gue?!" Sambungnya.

Di ujung meja, Archard yang sejak tadi menyimak drama tidak bermutu itu akhirnya melirik Novel dengan tatapan setajam silet. Ia sungguh lelah, muak, dan kepalanya mendadak pening mendengarkan ocehan Novel yang tak ada habisnya.

"Mending lo pindah meja, Vel. Berisik," usir Archard dingin tanpa ekspresi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!