Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Pria itu menghempaskan dokumen tebal di atas meja kerjanya. Di bawah pendar lampu remang ruang kerja yang sunyi, lembar demi lembar laporan intelijen mengenai Kavano Archelio dan ayahnya, Frans Archelio, terpampang nyata.
Iris mata elangnya menyipit tajam, membaca tiap detail rekam jejak kelam keluarga tersebut. Muka dan rahang pria itu mengeras. Rekam jejak Kavano bukan sekadar urusan bisnis gelap biasa—pria itu adalah seorang predator gila. Bisnis sampingan berupa perdagangan wanita, transaksi gadis-gadis muda yang dijadikan jaminan utang, hingga ritual penyiksaan mengerikan demi memuaskan hasrat sadisnya terkuak tanpa sisa. Bahkan laporan itu mencatat puluhan nyawa gadis tak berdosa yang tewas mengenaskan dan dibuang begitu saja setelah tubuh mereka tak lagi bernyawa.
*Frans dan Kavano... dua bangkai yang berlindung di balik nama besar,* batin pria itu dingin.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang megah, memutar-mutar gelas wiski di tangannya. Sebagai seorang penguasa yang bergerak di dunia hitam, pria ini memang dikenal sangat dingin, tak berbelas kasihan, dan bertangan besi. Namun, ada batas tegas antara kekuasaan yang kejam dengan ketidakmampuan yang hina. Apa yang dilakukan Kavano dan Frans adalah bentuk kebusukan paling rendah yang sangat ia benci.
Pikirannya mendadak melayang pada sosok Ruby.
Gadis yang sore tadi tertawa polos menghirup aroma bunga di tamannya adalah salah satu korban yang berhasil lolos dari neraka gila milik Kavano. Pria itu kini paham sepenuhnya mengapa tubuh Ruby hancur berantakan saat pertama kali ditemukan di bagasi mobilnya, dan mengapa ketakutan mendalam begitu mencengkeram jiwa gadis itu saat pertama kali terbangun dari koma.
"Kamu memperlakukan manusia seperti bangkai cuma buat pemuas nafsu gila, Kavano?" bisik pria itu dalam hati dengan nada ancaman yang amat pekat.
Pria itu melambaikan tangan pelan pada asistennya yang berdiri siap di depan meja.
"Tuan?" panggil sang asisten menanti perintah.
"Pantau terus pergerakan Kavano dan Frans," ujar pria itu dengan suara rendah yang amat berbahaya. "Dan pastikan... tidak ada satu pun anak buah Kavano yang tahu kalau barang jaminannya ada di dalam rumah saya."
"Baik, Tuan. Bagaimana dengan Miss Ruby?"
Pria itu menatap ke arah pintu keluar, lalu menyesap wiskinya hingga kandas. "Biarkan dia tetap di sini. Kalau Kavano pikir dia bisa bertindak seenaknya... dia belum tahu siapa lawan yang sedang memegang mainannya."
......................
Malam itu, aula ballroom hotel bintang lima bernuansa kemewahan yang mengintimidasi menjadi tempat berkumpulnya para penguasa ekonomi. Di antara kerumunan konglomerat, nama Luca Oliver berdiri sebagai puncak hierarki—sosok taipan misterius yang mengendalikan jaringan bisnis raksasa sekaligus memegang kendali penuh atas mayoritas saham di industri tersebut.
Kavano Archelio hadir dengan gaya arogannya yang biasa. Mengenakan setelan jas mahal, ia melangkah penuh percaya diri, merasa dirinya adalah pemain utama dalam proyek kerjasama ini. Namun, aura kesombongannya seketika terkikis saat pengawal pribadi melapisi koridor utama, memberi jalan bagi sang penguasa tertinggi.
Luca Oliver melangkah masuk.
Postur tubuhnya yang tegap, paras tampannya yang kaku bak pahatan es, serta aura dominasi yang mematikan membuat seluruh isi ruangan mendadak hening. Setiap pengusaha di ruangan itu menunduk hormat, tak terkecuali Kavano yang refleks melangkah mundur satu pijakan, menahan napasnya.
Dalam rapat tertutup pemegang saham, Luca duduk di kepala meja oval yang megah. Tatapan matanya yang dingin dan tajam menyapu satu per satu wajah direksi, sebelum akhirnya terkunci lurus pada Kavano.
"Proyek ekspansi sektor selatan," suara Luca mengalun rendah, berat, dan dipenuhi penekanan mutlak yang menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya. "Saya mendengar perusahaan keluarga Archelio mengajukan dana investasi besar untuk memegang kendali penuh di sana."
Kavano berdehem, berusaha menyembunyikan getar ragu di suaranya sembari menegakkan punggung. "Benar, Tuan Oliver. Rekam jejak kami di sektor tersebut sangat solid. Kami menjamin keuntungan berlipat untuk para pemegang saham."
Luca tidak tersenyum. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, menatap Kavano bagaikan seekor elang yang sedang mengamati mangsa kecil yang tak menyadari ancaman di depannya. Pikirannya melayang pada lembar dokumen kelam mengenai kekejaman Kavano dan sosok Ruby yang kini aman di bawah naungannya.
"Rekam jejak yang solid..." ulang Luca datar, jemarinya mengetuk meja kayu mahoni dengan nada teratur yang mengintimidasi. "Atau justru pengelolaan yang kacau akibat kepemimpinan yang impulsif dan tidak mampu menjaga aset pentingnya sendiri?"
Sindiran tajam itu terlontar begitu tenang, namun berhasil membuat rahang Kavano mengeras seketika. Muka Kavano memerah menahan malu dan amarah di depan seluruh petinggi bisnis, meski ia sama sekali tidak menyadari arti tersembunyi di balik kata-kata Luca.
Kavano tidak pernah tahu bahwa pria yang paling ia segani dan takuti di dunia bisnis ini adalah sosok yang sama yang sedang menyembunyikan "mainan" kesayangannya—dan memegang kendali penuh atas hidup dan matinya.
Kavano berusaha keras menekan amarah dan egonya yang terluka akibat sindiran tajam tadi. Ia paham betul siapa Luca Oliver. Pria di depannya bukan sekadar pengusaha kaya, melainkan penguasa absolut yang memegang kendali atas kelangsungan bisnis keluarga Archelio. Satu keputusan dingin dari Luca bisa menghancurkan imperium bisnis yang dibangun ayahnya dalam sekejap.
Dengan memaksakan ukiran senyum formal di wajahnya, Kavano memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja, berusaha memperbaiki ketegangan di antara mereka.
"Tuan Oliver," panggil Kavano dengan nada suara yang sengaja dibuat koperatif dan hormat. "Saya pastikan tidak ada hal yang kacau dalam kepemimpinan saya. Pertemuan ini sangat penting bagi kami, dan keluarga Archelio siap memberikan komitmen penuh serta transparansi total agar Anda bersedia menjalin kerja sama ini."
Luca hanya menatap Kavano dengan iris mata hitamnya yang pekat dan tak tersentuh. Tatapan itu begitu intens hingga membuat Kavano merasa telanjang, seolah Luca bisa membaca seluruh kebusukan dan kekacauan yang sedang terjadi di hidupnya saat ini.
"Transparansi?" sahut Luca pelan, nada suaranya begitu tenang namun sarat akan intimidasi yang menusuk. "Kita lihat saja sejauh mana komitmen itu bisa kamu buktikan, Kavano."
Luca memberi isyarat kecil dengan tangannya. Sang asisten pribadi yang berdiri di belakangnya langsung membagikan draf dokumen perjanjian kerja sama yang sangat ketat di depan Kavano dan para pemegang saham lainnya.
Kavano menerima dokumen itu dengan telapak tangan yang sedikit membasah. Di dalam hatinya, ia merasa sangat lega karena Luca masih membuka pintu kerja sama ini. Ia tidak sadar sedikit pun bahwa setiap klausal dan investasi yang ditawarkannya malam ini hanyalah umpan—bagian dari permainan catur Luca Oliver yang perlahan-lahan sedang menarik jerat di leher keluarga Archelio.