Aku seorang Pembisnis, aku juga laki-laki playboy. Suatu hari tanpa disengaja aku bertemu kamu, perasaanku tidak lagi mampu berpindah dan pada orang lain. Hanya kamu yang mampu memporak-porandakan hati serta duniaku. Begitu banyak wanita yang dekat denganku sebelum aku bertemu dirimu, begitu banyak wanita cantik yang ingin dekat denganku, tetapi hanya kamu yang dapat membuat hatiku luluh. Hatiku seakan terkunci dan kunci itu dibawa oleh mu.
Dan karena suatu kejadian yang tidak terduga, demi menyelamatkannya aku harus menikahinya.
Siapa dia?
Iya...kamu orang nya, sang gadis yang sedang kuliah di Universitas MS.
Apakah kamu adalah jodoh yang diberikan Tuhan untukku?
Aku tidak tahu, aku hanya bisa berserah pada Tuhanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Fitrianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepo
Dua hari kemudian, Adila belum juga memaafkan aku. Aku sudah tidak tahan karena di cuekin oleh istri tercinta.
"Sayang, udah dong jangan marah terus,"
"Aku gak marah..,"
"Kamu bohong. Kamu masih marah sama aku, aku minta maaf..,"
"....,"
"Tolong lah, Sayang. maafin aku..," sambil menarik-narik baju istriku seperti anak yang ingin meminta belikan permen.
"Kamu urusin aja pacar atau selingkuhan kamu itu," ketusnya menatap TV.
"Kan udah aku jelasin ke kamu, aku gak selingkuh.., Dia itu mantan ku.., aku juga gak cinta sama dia., aku hanya cinta sama kamu..,"
"Hm," sahutnya.
"Sayang, maafin aku..," aku berlutut di depan istriku yang tengah duduk menghadap TV.
"Mas, apaan sih. Jangan kayak gini!!" kesalnya.
"Maafin aku, hiks," air mata pun lolos dari mata ku. Tak mampu lagi ku tahan.
Hati Adila terhenyu melihat suaminya yang sungguh-sungguh meminta maaf, padahal Adila sudah memaafkannya dari kemarin. Hanya saja ia ingin tau seberapa keras usaha suaminya agar memastikan bahwa tidak salah dan sudah jujur. Dan ia hanya ingin memastikan seberapa cintanya sang suami kepadanya.
"Mas..," panggilnya. Mengajak Gibran duduk di sampingnya.
"S-Sayang, maafin aku.., aku gak bohong, sayang, hiks. Aku hanya mencintai kamu, Sayang. Selamanya.., hiks," air mata masih tak kunjung berhenti seraya menggenggam tangan istriku.
'Greb'
"Mas, jangan nangis..," memeluk. "Mas, aku juga mencintai mu..,"
Mereka saling berpelukan beberapa menit.
"Sayang, setelah acara wisuda kamu, aku ingin menunjukkan sesuatu ke kamu," melepaskan pelukannya.
Mengerutkan kedua alisnya.
"Tenang lah.., aku gak macam-macam kok..,"
"Baiklah, aku percaya," seraya memutar bola matanya.
Aku hanya tersenyum.
Jiwa kepo Adila meronta-ronta. "Emang kamu mau nunjukin apa sih, Mas?. Sekarang aja deh!"
"Kepo yeee," ledekku.
"Huh," mendengus kesal. "Awas aja kalau macam-macam, aku potong tuh sosis," sambil nenunjuk ke arah tersebut.
Langsung menutupnya dengan kedua telapak tangan. 'Gleg' Gibran susah payah menelan salivanya sendiri.
"Ah Sayang, jangan gitu dong..," cemberut.
"Makanya jangan aneh-aneh," menatap tajam.
"Hehe, iya-iya,"
Akal jahil ku pun tiba-tiba muncul, ku mendekat ke arah istriku, ku dekatkan wajahku ke telinga istriku.
"Fyuuuh," ku tiup telinganya. Lalu berbisik, "Kalau sosis ku kamu cincang, nanti aku gak bisa ****** kamu,"
'bugh'
"Awsss, sakit Syaang,' keluh ku karena merasa sakit akibat pukulan Adila di dada ku.
"Makanya jangan mesum," langsung beranjak pergi meninggalkan aku.
"Mau kemana, Sayang?"
"Kamar," jawabnya singkat.
"Punya istri galak amat!"
****
Adila semalaman terlihat gelisah, bahkan pagi ini ia belum bangun dari tidurnya. Aku duluan, aku tak ingin membangunkan Istriku.
"Tumben jam segini belum bangun juga," gumam ku. Setelah aku selesai berpakaian rapih karena hendak pergi kerja. Ku hampiri istri tercinta ku yang belum bangun sedari tadi.
"Sayang, bangun..,"..Ku goyang-goyang tubuhnya yang di bawah selimut.
"....," tidak menjawab.
Ku singkapkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya hingga menampakkan wajah istriku.
Mengelus pipi. "Kok panas?" bertanya pada diri sendiri. Mencoba menyamakan panas pipinya dengan panas pipi istrinya.
"Emm," merasa terganggu. Mengerjapkan matanya.
"Mas udah bangun., Maaf aku telat bangun..," ucapnya dengan nada serak khas bangun tidur.
"Kamu sakit, Sayang?"
Menggeleng. Hendak duduk, "Awws," memegang kepalanya.
"Kenapa, Sayang?" khawatir.
"Kepala aku sakit, Mas," sahutnya.
Aku paham jika istriku memang sedang sakit. Tapi ia berusaha menutupinya agar aku tidak khawatir. Begitulah istriku, ia takut menjadi beban.
"Kita ke Dokter ya!"
Menggeleng cepat. "Bentar lagi pasti sembuh kok, Mas,"
"Tapi-," terpotong.
"Aku gak apa-apa, Mas..," meyakinkan. "Aku minum obat yang ada di rumah aja," imbuhnya.
Gibran langsung mengambil obat pereda sakit kepala, kemudian meminumkannya pada istrinya.
"Mas mau kerja kan?"
"Tadi sih iya, tapi kamu kan sedang sakit,"
"Apa hubungannya?"
"Aku takut kamu kenapa-kenapa..," khawatir sampe kebangetan.
"Kan ada bibi,". "Nanti kalau aku butuh sesuatu aku pasti hubungi kamu atau minta bantuan bibi..," menyakinkan suaminya agar tidak terlalu khawatir.
Belum sempat berbicara, sudah di potong oleh Adila. "Aku gak apa-apa, Mas..," ucapnya. "Pergilah cari uang yang banyak, biar aku bisa beli apa pun yang aku mau," senyum pada suaminya.
Menganggu dan senang melihat istrinya tersenyum. "Yaudah, aku berangkat kerja dulu ya..," ucapnya. "Aku pasti menuruti apa pun yang kamu mau, kecuali laki-laki," mengecup kilas istrinya.
"Iya, Mas..,". Mencium punggung tangan sang suami.
****
Siang hari.
'Tok'
'Tok'
'Tok'
Salah satu Maid di minta untuk mengantarkan makan siang serta obat untuk Adila.
"Non Adila, ini makan siangnya," ucap maid dari luar kamar. Beberapa kali, maid itu mengetuk pintu tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar.
"Apa Non Adila pergi ya?. Tapi gak mungkin," mengingat bahwa Adila sedang sakit.
Bi Miah pun memberanikan diri membuka pintu kamar. "Eh, gak di kunci," gumamnya. Perlahan-lahan masuk kedalam kamar. Ternyata Adila sedang tidur. Bi Miah pun membangunkan Adila karena udah waktu jam makan siang serta harus minum obat.
"Emm," Adila merasa terusik.
"Non makan siang dulu...!"
"....," Adila tidak menjawab dan wajahnya terlihat sedikit pucat.
Memegang dahi milik Adila.
"Astagfirullah," kaget sebab dahi Adila sangat panas.
Bi Miah buru-buru mengambil kompresan, lalu mengompres dahi Adila.
"Harus telpon Tuan Gibran," membatin.
****
"Ada apa, Bi?"
"Apa??"
"Saya segera pulang,"
"Terimakasih, Bi,"
****
"Pak, mau kemana?. Setengah jam lagi ada meeting deng-," ucapannya terhenti.
"Batalkan semuanya!!" berbicara dengan raut wajah dingin dan sorot mata yang tajam.
"Ba-baik, Pak," takut.
"Nanti saya suruh Fian untuk menghandle semua yang ada di perusahaan," ucap Gibran.
Mengangguk paham.
Gibran langsung mengirim pesan kepada Fian. Fian adalah tangan kanan Gibran yang sedari dulu sudah bekerja bersama dirinya. Setelah itu ia juga menghubungi dokter agar datang ke rumahnya.
****
"Kenapa harus macet sih,"
'Bugh' Gibran memukul stir mobilnya.
Di sisi lain, Adila sedang di rawat oleh bi Miah.
"Astaghfirullah, belum turun juga panasnya," bingung plus khawatir pake kebangetan.
"Bi, dingin..., tolong matikan AC nya!" dengan suara yang sudah bergetar Adila meminta bi Miah untuk mematikan AC kamarnya.
Menuruti perkataan Adila.
"Ya tuhan gimana ini..?" membatin sambil menyelimuti Adila.
Adila sedari tadi tidak mau makan dan tidak mau minum obat. Adila hanya merasa kedinginan sedari tadi. Tubuhnya menggigil tak karuan.
Tak lama kemudian, Bi Nina mengantar dokter kenalan Gibran ke dalam kamar Adila.
"Silahkan masuk, Dokter..,"
"Terimakasih,"
Dari awal sampai selesai memeriksa Adila. Kedua maid itu senantiasa menemani Adila.
'Ceklek'
"Sayang," Langsung menghampiri istriku. ku lihat jarum infus yang tertengger di tangan kiri istriku.
Para Maid melihat raut wajah Gibran yang sangat khawatir.
"Mas," dengan wajah yang terlihat lemas, istriku tetap mengembangkan senyumannya. Serta meraih tangan ku dan menciumnya seperti biasa setiap pulang kerja.
"Mas maafin aku ya.., gara-gara aku, Mas jadi pulang cepat..," merasa bersalah.
Ku peluk istriku dengan penuh kelembutan, aku sangat bersyukur memiliki istri seperti Adila. "Jangan katakan itu, Sayang..,". Mataku sudah tak mampu membendung air mata.
"Semoga kalian selalu bahagia dan selalu bersama sampai tua, hanyalah maut yang memisahkan kalian," membatin. Bi Miah juga ikut terhenyu hatinya melihat pemandangan di depannya.
"Ya Tuhan, aku sangat terharu," membatin. Bi Nina juga ikut terharu.
Beberapa menit.
"Jadi apa kata dokter tadi, Bi?"
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...Ikuti Terus ya..!...
...LIKE, COMENT, VOTE :)...