Pindah ke Become a Human in Another World
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aener, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT 1:Bab 12 - Kecerobohan Suzu
Suzu samar samar bisa mendengar suara Ren meneriakkan namanya. Dia juga sepertinya berusaha untuk berteriak memanggil manggil nama Ren dengan hanya bisa merasakan kegelapan disana.
"Aku sepertinya dibawa oleh seseorang, dan dibungkus dengan kain hitam. Apa mungkin aku diculik? Tidak mungkin! Kenapa tidak ada yang menyelamatkanku?" Suzu membatin.
"Ren!" Suzu kembali merintih perlahan. Tapi penculik itu justru berlari semakin cepat, dan merubah arah dengan keras. Suzu jelas khawatir Ren tidak bisa mengejarnya.
Tapi sepertinya kenyataan berkata lain. Terdengar suara Ren yang berteriak keras dan memohon untuk dilepaskan. Suzu dengan cepat menyimpulkan bahwa ada seseorang yang mengejarnya. Sepertinya mereka berhasil menangkap Ren.
"Itu artinya aku berhasil diculik?!" Suzu bertanya dalam panik. Tapi sepertinya sudah tidak ada suara Ren lagi yang berteriak mengejarnya. Suzu hanya bisa pasrah setelah itu.
***
"Adududuh!" Suzu mengaduh perlahan ketika dia dilempar masuk ke suatu tempat yang dingin dan keras. Sepertinya mereka mengurungnya di suatu tempat.
Suzu hanya diam tidak berani mengatakan apapun. Karena mungkin kalau aku salah kata, bisa satu nyawanya yang melayang. Dia hanya memperhatikan dengan diam ketika mereka menutup dan mengunci pintu pagar.
Suzu akhirnya bisa menarik nafas lega ketika mereka sudah pergi.
"Sepertinya mereka menangkap orang lain lagi ya?" Sebuah suara muncul dari belakangnya. Jelas saja dia terkejut, dan segera mengambil sikap siap untuk melawan.
"Suzu?" Seseorang memanggil namanya dari kegelapan. Suzu juga sedikitnya mengenal suara ini, tapi dia tidak ingin percaya begitu saja.
Suzu tetap tidak menurunkan penjagaannya ketika dia mendengar sosok itu melangkah maju. Perlahan, orang itu keluar dan menunjukkan wajahnya.
"Senya!" Suzu berteriak senang ketika dia bertemu dengan orang yang dia kenal.
Orang itu adalah Senya, salah satu sahabat Suzu dan juga cucu dari manajer "Tea paradise". Dia jelas berbakat karena masuk ke dalam kelas S, tapi Suzu tidak pernah membayangkan akan bertemu dengannya disini.
"Apa kau juga diculik?" Tanya Suzu sedikit panik.
"Ya. Dan juga beberapa teman-teman kita juga di sini. Aku tidak tahu apa tujuannya tapi sepertinya kebanyakan dari teman-teman kita di kelas." Senya menjawab dengan menunduk.
Mendengar itu, Suzu segera melongok ke belakang Senya. Terlihat wajah wajah yang sudah dia kenal melambaikan tangannya pada Suzu. Walau begitu, terlihat jelas senyum menyedihkan di wajah mereka.
"Jadi, walaupun bertambah satu orang pun tidak akan merubah kadang kita bukan?" Sela salah seorang.
Dia Armin, salah satu teman kelas mereka berdua. Secara umum, dia juga berbakat dan berasal dari keluarga bangsawan. Tapi bisa dikatakan bahwa dia adalah orang yang menyebalkan karena tidak mau berusaha. Mungkin memang sebagian besar bangsawan seperti itu.
"Lalu, kenapa kalian tidak berusaha untuk melarikan diri dari tadi?" Suzu sedikit prihatin.
"Itupun kalau bisa. Kami tidak bisa kemana-mana tahu!" Armin berteriak, sepertinya kesal. Suzu segera melihat sekeliling. Sejujurnya saja, dengan melihatnya dia sudah tahu.
"Hmm, benar juga. Kalau kita hancurkan pintu ini, penjaga akan segera datang, dan itu akan menjadi bahaya yang lebih. Kecuali kita bisa memancingnya kesini." Suzu mulai berpikir.
Sepertinya orang orang mulai menatapnya. Dalam hatinya, dia cukup takut jika mereka menaruh harapan besar padanya.
"Bukankah kita murid kelas S akademi? Kita harus bisa lakukan sesuatu." Suzu menatap tajam mereka semua.
"Ahh, berisik sekali, dasar half elf disana." Terdengar suara ketus. "Eh? Dia tahu aku half elf?" Suzu berbisik.
"Permisi?" Suzu sedikit menelisik kehadirannya. Dia sedari tadi terdiam sambil menutup matanya, membuat Suzu sedikit menghilangkan rasa penasarannya padanya.
"Apa maksudmu?! Suzu itu temanku! Kau sedari tadi diam dan sekarang tiba tiba menghina Suzu, apa masalahmu?!" Senya berteriak maju, marah karena Suzu yang dihina. Tapi mau bagaimanapun, orang tadi benar.
"Kenapa? Tidak terima?" Dia menatap Senya dan Suzu datar sambil mengangkat sebuah pisau besar di tangan kirinya.
?!!
"Aku tidak tahu, tapi hanya dengan ditatap olehnya, aku merasa merinding. Aku tidak tahu berapa tinggi levelnya, tapi aku yakin dia adalah orang yang terampil. Senya bahkan sampai mundur karena ini." Batin Suzu memancarkan rasa bahaya.
"Kenapa? Kau takut?" Katanya tetap dengan wajah datar, dan tidak merubah posisi nya.
"Asal kalian tahu. Aku tahu kalian semua adalah murid murid akademi, dengan kata lain seorang bangsawan. Aku bisa melakukan bela diri jarak dekat dengan kecepatan, dan aku juga memiliki kemampuan sihir yang sama dengan kalian. Jadi, kalau kalian nekat untuk menyerangku bersamaan aku tidak menjamin kalian akan hidup." Dia memperingatkan kami.
"Aku tahu itu bukan omong kosong. Kemampuannya ini benar."
"Bicara apa kau? Kau ini perempuan!" Armin yang terpancing emosi berteriak sambil melayangkan pukulan.
Pukulan itu sangat lemah dan sangat lambat, itu dapat dengan mudah dihindari oleh orang tadi, dan dia mendorong Armin sedikit ke samping, membuatnya jatuh terjungkal.
"Cih! Menyedihkan!" Dia mendecak perlahan. Armin memang ceroboh, tapi juga beruntung tidak mengalami luka serius.
"Baiklah cukup. Kami mengerti. Aku minta maaf karena mengganggumu. Dan juga, apa kau tidak ingin pergi dari sini? Kita bisa keluar jika kita bekerja sama." Suzu yang melihat itu segera menyela. Dia sempat menggunakan [Evaluator], dan pastinya bisa melihat pekerjaannya.
"Ahh, kau menggunakan [Evaluator] ya? Tidak perlu. Aku akan memperkenalkan diri." Dia menarik nafas, lalu menyarungkan pisaunya.
"Aku Soeye. Mungkin kalian tidak tahu, tapi aku adalah seorang thief dengan nama samaran "Minighost". Kalian pasti tahu itu." Dia menjelaskan dengan singkat.
"Minighost?! Minighost yang itu?!" Beberapa orang mulai saling berbisik. Memang nama "Minighost" sudah sangat terkenal di Eldergale ini. Dia adalah pencuri yang mencuri rumah bangsawan kaya dan tidak pernah tertangkap sama sekali.
Walaupun di kalangan orang kaya dia adalah penjahat, tapi di masyarakat bawah dia pahlawan. Jadi, menangkapnya memberikan beberapa ketidak setujuan.
"Baiklah. Aku akan memperkenalkan diriku sendiri. Aku Suzu Larvest, putri ke 5 dari guild master, Roy Larvest. Salam kenal." Suzu mengulurkan tangan, menyambutnya dengan tersenyum.
"Heehh, kukira aku salah, tapi ternyata kau memang putri guild master itu, ya? Kalau begitu, kemungkinan kita selamat akan cukup tinggi." Soeye menggumam perlahan.
"Aku tidak akan menebak nebak apa yang akan terjadi, tapi kemungkinan aku akan ada rencana. Apa kau bisa membantuku?" Tanya Suzu sambil tersenyum simpul.
"Ha ha! Kukira kau akan dengan cepat menyambar apa yang akan aku katakan. Kau wanita yang menarik, ya!" Soeye tertawa keras, dengan tajam menatap Suzu.
"Ahahaha, aku sudah menduganya. Lalu, jangan panggil aku wanita karena aku benar benar masih 6 tahun. Selain itu, kau juga wanita, bukan?" Suzu membalikkan kata katanya, membuat Soeye terdiam.
"Baiklah. Kita sudah mulai berteman, bukan? Aku juga tahu bahwa kau juga ingin segera keluar dari sini. Karena aku tahu, penyebab kenapa kau menjadi thief menunggumu pulang," Suzu memberhentikan kalimatnya disana, sedangkan Soeye tampak memalingkan muka.
"Yahh, kita harus tahu penyebab dan kemungkinan kita bisa tahu apa kita harus melarikan diri atau tidak. Aku yakin melihat Syila disana." Suzu sedikit melambai pada perempuan yang terlihat malu malu.
"Eh- apa? Kenapa? A-Aku? Apa aku dibutuhkan?" Dia menjawab dengan tergagap. Semua orang mengangguk segera.
"Baiklah apa yang akan kita lakukan dengannya sekarang?" Soeye sedikit penasaran.
"Oke. Kita laksanakan rapat darurat sekarang. Kita kumpulkan informasi yang ada, dan mungkin akan membuat kita mencapai kesimpulan." Suzu mengawali menjadi kepala mereka.
"Ahh, aku menjadi sok memimpin! Yahh, walaupun aku tahu, bisa juga ini kujaikan latihan untuk hal yang lebih tinggi. Selain itu, aku juga dikenal anak guild master, bisa diikuti dengan mudah." Suzu membatin.
"Pertama, alasan kenapa kita semua diculik, harus diketahui. Kenapa mereka menculik kita semua? Apa persamaan diantara kita?" Suzu bertindak sebagai moderator disana.
"Ras?" Seseorang angkat bicara.
"Menurutku alasan itu terlalu umum. Jika mereka benar benar menculik kita karena ras, mungkin mereka akan menyulut api perang antar ras. Dan mereka akan melakukannya terang terangan dengan mengatasnamakan ras tertentu, jadi kita pass kemungkinan ini." Syila segera memberikan pendapatnya.
"Kalau begitu, bagaimana dengan umur?" Kini Senya mengutarakannya.
"Itu, mungkin saja. Kalau aku 6 tahun, dan ada beberapa kakak kelas kita, dan Soeye disana-"
"10 tahun." Soeye menginterupsi singkat.
"10 tahun ya, mungkin jaraknya adalah sebesar itu. Dan kemungkinan besar mereka juga mengincar para anak dengan Magic Point tinggi. Karena mereka mengincar para murid pada kelas S." Jelas Syila.
"Kalau begitu, jelas sudah kalau kita memiliki Fehl tinggi, dan umurnyang mirip. Selanjutnya?" Suzu menjembatani keheningan.
"Ahh, tidak! Tunggu dulu! Kita belum bertanya apa apa pada Larvest ini, bukan?" Soeye berteriak dengan nada protes. Semua berpandangan.
"Sebut namaku saja, jangan nama keluargaku. Kita sudah berteman kan?" Suzu tersenyum.
"Ahh, terserah. Maksudku, bisa saja kunci dari rapat ini ada dia Suzu. Dia pasti memiliki beberapa informasi penting." Jelas Soeye.
"O-oke, seperti apa?" Jawab Suzu sedikit bingung.
"Bagaimana kau tertangkap, aku yakin kau tidak akan tertangkap dengan mudah, bukan?" Tanya Soeye.
"A-ah, soal itu. Aku bahkan tidak tahu dari asal mana mereka menyerangku. Jadi itu termasuk mudah, mungkin?" Jawab Suzu sambil menggaruk kepalanya.
"Yhaa!" Teriak mereka semua hampir secara bersamaan. Dan kemudian, Suzu ingat sesuatu.
"Ah ya! Aku sedang pergi bersama kakakku saat itu, namanya Ren. Jadi dia mungkin menyadari itu." Jelas Suzu lagi.
"Tunggu! Kau punya kakak?"
"Kenapa tidak masuk akademi?"
"Apakah dia tidak terlalu pintar jadi tidak bisa masuk akademi?" Semua segera bertanya mendekat.
"Oke satu satu! Aku punya kakak, dia bisa dibilang kembar denganku karena berumur sama denganku. Dia bukannya tidak layak untuk akademi, tapi akademi yang tidak layak untuknya. Dia terlalu pintar untuk akademi." Jelas Suzu sambil berhenti sesaat.
"Dan kalau bisa dibilang, dia bisa disetarakan, tidak. Jauh lebih baik dalam hal analisis jika dibandingkan dengan Syila. Dia cerdik dan berkepala dingin." Cerita Suzu panjang lebar.
"Kalau dilihat dari cara Suzu menceritakannya, Suzu sangat menghormatinya, dan berarti dia sangatlah hebat. Kalau dia mengetahui ini, maka!" Soeye berteriak.
"Dia akan segera mengetahui siapa dalang penculikan ini, dan menyarankan Guild Master untuk membuat party pencarian besok! Dengan kata lain, kita harus menunggu sampai besok, dan party penyelamat akan datang!" Jelas Syila.
"Yaa!" Teriak mereka semua yang ada disana senang. Sampai sampai, monster mirip kuda yang ada di sebelah mereka meringkik keras.
"Hei! Ada apa?! Diam!" Seorang penjaga yang terlihat membawa seorang anak lagi menggebrak pagar kayu. Semua sontak terdiam.
"Rambut putih itu, jangan jangan?!" Suzu sedikit panik ketika melihat anak dengan rambut putih yang diseret mereka berdua.
"Ahh, itu bukan Ren." Suzu segera menarik nafas panjang ketika tahu kekhawatirannya salah.
"Lagi lagi mereka menangkap anak kecil, ya!" Senya sedikit berbisik ke arahku.
"Tapi mereka tidak membawanya kemari. Hmm, aku sepertinya pernah tahu tentang hal ini, tapi dimana aku membacanya? Aku lupa!" Soeye setengah menggumam pada dirinya sendiri mengatakan pikirannya.
Penjaga itu berlalu dengan cepat, meninggalkan sel mereka semua. Mereka yang tadi terdiam segera melanjutkan suka cita mereka akan kebebasan mereka yang besok datang.
***
"Baiklah. Semua sudah senang dan tenang. Yang menjadi masalah sekarang adalah dia." Kata Suzu pelan sambil emnoleh kearah seseorng yang sedang meringkuk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, membenamkan kepalanya ke lututnya.
"Ahh! Aku sudah tidak tahan lagi!" Suzu tak urung menghampirinya.
"Soeye, ada apa?" Tanya Suzu pelan.
"Ha?" Soeye membalas dengan tatapan kosong di matanya. Terpancar raut muka kecewa dan putus asa dari matanya.
"Apa yang terjadi, Soeye?" Tanya Suzu lagi. Soeye tampak berpkir sesaat, mungkin mempertimbangkannya.
"Arrgggh! Baiklah. Kau mungkin juga akan merasakan hal yang sama denganku. Tapi aku akan langsung jujur. Kemungkinan kita selamat sangat kecil." Jelas Soeye sambil mengacak acak rambutnya.
"Apa maksudmu?" Raut muka Suzu mulai berubah.
"Aku, aku pernah melihat sebuah ritual seperti ini sebelumnya di buku. Seorang anak dengan fragmen dewa, dikorbankan untuk memanggil demon ke dunia ini. Dan selain itu, korbannya adalah anak dengan Fehl tinggi dengan rentang umur 5-10 tahun." Cerita Soeye.
Suzu terdiam. Matanya terbelalak, seperti tidak bisa menerima apa yang dikatakan Soeye barusan. Dia tersenyum perlahan.
"Heri, kan kita akan diselamatkan besok! Hei! Tidak apa, bukan? Kita akan selamat dari sini besok! Hei!" Suzu setengah berteriak mengguncang badan Soeye.
"Ritual itu dilakukan pada malam bulan purnama, yang terjadi malam ini." Soeye memotong perkataan Suzu cepat.
"Bohong! Bagaimana kau bisa tahu ini malam bulan purnama?" Suzu kini mulai histeris.
"Aku thief! Aku selalu menghindari malam bulan purnama karena cenderung lebih terang! Aku juga selalu menghitung sejak pertama kali aku dibawa kemari. Dan hitunganku tepat!" Balas Soeye dengan berteriak.
"Ahh, jadi apa yang harus kita lakukan?" Kini Suzu terduduk bersama dengan Soeye, dengan raut wajah muram.
"Haruskah kita ceritakan pada mereka?" Tanya Suzu pelan.
"Tidak. Kalau kau ingin bertindajlk, maka lakukanlah sendiri. Melibatkan banyak orang hanya akan menimbulkan banyak masalah." Kata Soeye menatap Suzu.
Suasana diantara mereka menjadi kelabu. Syila mengetahui itu, dan mendekat.
"Sepertinya kalian sudah mengetahuinya." Syila berkata pelan sambil duduk berjajar dengan mereka berdua.
"Sejak awal kau sudah tahu ini, Syila?!" Suzu dengan segera menoleh perlahan.
"Ya, dan seperti yang kalian pilih, aku tidak memilih memberitakannya pada kalian. Tapi, sepertinya ini bukanlah akhir yang baik buat kita." Jawab Syila dengan nada pasrah.
"Tidak! Aku, kita tidak boleh menyerah! Aku tahu, kita bisa. Apapun itu, mari kita coba bagaimanapun caranya!" Kata Suzu sambil berdiri.
Mereka semua terdiam, mungkin menyadari ketidak berdayaan mereka. Mereka tahu, apapun yang mereka lakukan mereka hanya akan mati. Dan sekarang, mereka hanya menunggu waktu menjemput mereka.
"Hei, Suzu. Kau tahu monster Dori, bukan? Monster itu dikembang biakkan untuk diambil dagingnya, karena dikenal enak dan bisa dimakan. Dan keadaan itu sama seperti kita. Kita hanya menunggu untuk mati atau mati secara sendirinya." Kata Syila sambil menggunakan analogi yang mengerikan.
"Tunggu! Sepertinya itu bisa! Bagus kau! Entah siapa namamu! Aku punya sebuah cara!" Soeye berteriak senang.
"Ah um, namaku Syila. Tapi baiklah. Apa rencanamu?" Jawab Syila sedikit bingung.
"Ahm! Sepertinya kalian tidak akan menyukai rencana ini!" Kata Soeye sambil tersenyum jahat.
***
"Ahh, sangat menyenangkan bukan, bagi anak anak itu? Mereka bisa langsung berkorban untuk Demon God yang agung! Aku merasa iri!" Dua orang penjaga akan segera lewat sel yang didiami Suzu dan yang lain.
"Ya! Aku sangat iri dengan mereka." jawab salah satunya.
"Hei! Bau darah!" Seseorang diantara mereka segera menepuk bahu yang lainnya. Mereka segera berlari mendekati sel yang didiami Suzu.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Terlihat Suzu yang membelakangi pagar, dengan pisau berlumur darah. Selain itu, ada banyak darah yang menggenang disana, serta teman temannya yang juga sudah banyak bermandikan darah.
"Apa ini?!" Teriak penjaga itu.
"Ahh, maaf. Tanganku licin!" Suzu tersenyum sadis.
"Apa yang-!" Suara mereka tertahan ketika mereka terjatuh pingsan disergap oleh Soeye dengan cepat. Soeye yang terbiasa menjadi thief yang bekerja cepat, ini bukanlah hal yang sulit untuknya. Justru aneh dia bisa tertangkap disini.
"Bagus Soeye! Kita berhasil jalankan rencana pertama!" Kata Suzu riang.
"Ahh, ya! Dan peran itu, sangat cocok untukmu." Jawab Soeye sambil sedikit mengejek.
"Sebenarnya, kenapa kita tidak menunggu tim penyelamat besok?" Tanya Admin yang membersihkan darah di wajahnya.
"Diam saja dan ikuti kami!" Syila yang mengatakan hal itu seperti berubah kepribadian.
Mereka semua segera mengendap endap untuk keluar dari gua itu, dan mereka akhirnya tiba di pintu Gua. Suasana sangat gelap, sangat cocok untuk melakukan pelarian yang tidak diketahui. Tapi itu juga menandakan bahwa waktu mereka sudah sangat sedikit.
"Ada penjaga!" Armin sedikit berbisik melihat siluet yang ada di depan gua.
BRAK! Sebuah batu jatuh dan menimbulkan suara berisik.
"Sial!" Soeye segera menyiapkan pisau di tangannya.
Suzu segera bergerak, maju berlari ke arah jalan lain untuk memancing mereka dengan suara suara keras.
"Apa itu?! Kejar dia!" Teriak kedua penjaga. Soeye yang mengetahui itu sontak ingin mengejar Suzu. Tapi Suzu mengetahui itu, dan segera berteriak.
"Kau larilah, Soeye! Kau adalah pelari tercepat disini! Kau pasti bisa mencari bantuan tepat waktu! Aku, aku percaya padamu! Dan aku minta maaf!" Teriak Suzu sambil masih terus berlari.
"Tapi!" Soeye masih disana sedangkan teman temannya yang lainnya sudah berlari keluar tanpa memperdulikan apa yang ada di belakangnya.
"Lakukan saja apa yang kusuruh!" Teriakan Suzu mulai menghilang ditelan dinding gua yang dalam.
"Eh, ahh, SIALAAN!! Kau seenaknya saja sendiri! Bangsat kau!! Kau, kau, kau tidak akan kumaafkan jika kau tidak bertahan!" Soeye segera berlari secepat yang dia bisa. Nafasnya tersengal sengal, dengan air mata berderai di pelipisnya.
"Ahhh! Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika kau mati! Kenapa?! Kenapa?!" Teriak Soeye dalam gelapnya hutan.
Tapi yang jelas, dia harus menemukan seseorang, tidak. Sebuah party untuk membantu mereka, dan itu harus tepat waktu. Kalau tidak, nyawa Suzu akan dalam bahaya!