Indonesia
NovelToon NovelToon
Langkah Sunyi Arunika

Langkah Sunyi Arunika

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:20.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunaya

Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.

Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Kehangatan di Tengah Gerimis

Frustrasi dan muak karena tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Lina di rumah sakit, Saka berpikir Kakek Agung pasti tahu siapa sosok ayah kandungnya. Saka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah kemacetan ibu kota menuju kawasan perumahan elite Jakarta Pusat untuk mendatangi rumah utama Daniswara demi menemu sang Kakek. Di dalam batinnya yang terluka, Saka meyakini bahwa kakek tua yang selama dua puluh delapan tahun ini memanjakan dan membanggakannya sebagai cucu satu-satunya menjadi benteng perlindungan terakhir yang ia miliki di dunia ini.

Saka turun dari mobil, melangkah lebar menerobos masuk melewati gerbang utama kediaman Daniswara. Namun, begitu ia menginjakkan kakinya di teras depan, suasana sepi laksana rumah kosong menyambut kehadirannya. Pintu perpustakaan pribadi yang biasanya selalu terbuka, siang ini terkunci rapat.

Seorang pelayan tua kepercayaan rumah utama melangkah mendekat dengan kepala tertunduk takzim. "Mencari Tuan Besar Agung, Tuan Muda?"

"Di mana Kakek, Bik?! Kenapa rumah ini sepi sekali?" tanya Saka dengan nada memburu penuh kegelisahan.

Pelayan tua itu menghela napas pendek, menatap Saka dengan pandangan mata yang sarat akan rasa iba. "Tuan Besar Agung sudah tidak ada di Jakarta sejak beberapa hari yang lalu, Tuan Muda. Beliau bersama Tuan Darma berangkat menuju Yogyakarta... Beliau pergi untuk mencari dan menemui Ibu Arunika Wiranata.

DEG!

Kata-kata pelayan tua itu seketika menghantam Saka laksana palu godam raksasa yang meremukkan jantungnya hingga hancur berantakan. Tubuh Saka mendadak lemas tak bertenaga, mundur satu langkah dengan pandangan mata yang memancarkan kekalahan.

Hantaman kenyataan itu merobek ulu hatinya tanpa ampun. Kakek Agung, pria tua yang dulu hanya melihat dirinya, memanjakan, dan mengagungkannya sebagai cucu kesayangan, kini telah resmi berbalik arah, mengabaikan dirinya, dan memilih terbang demi menyusul Arunika di Yogyakarta.

Di Yogyakarta.

Aroma wangi masakan mangut lele khas Jogja dan wedang serai hangat mengepul wangi dari arah dapur, mengusir dinginnya udara Sleman yang malam itu mulai dibasahi oleh rintik gerimis tipis. Rumah bergaya Jawa klasik milik Ibu Sandra yang biasanya sunyi, selama beberapa hari ini mendadak berubah menjadi sarat akan kehangatan sebuah keluarga besar yang hidup. Kakek Agung Daniswara mengambil keputusan untuk menginap di paviliun samping rumah Sleman selama beberapa hari ini, karena ingin berada sedekat mungkin di samping cucu kandungnya, Arunika.

Di ruang tengah yang beralaskan tikar anyaman dan sofa kayu jati, berkas strategi korporasi berserakan di atas meja. Dinda, yang juga ikut menginap di kamar tengah untuk menemani Arunika, malam itu tampak duduk bersila sembari memangku laptopnya. Di seberangnya, Mas Anggoro fokus membaca lembaran pengalihan tujuh persen saham pribadi Kakek Agung yang baru saja disahkan.

"Mas Anggoro... ini poin nomor empat tentang audit manifes logistik pelabuhan Tanjung Priok mendingan diubah polanya," celetuk Dinda ceplas-ceplos, matanya berkedip jenaka menatap wajah kaku pria di depannya. "Orang-orangnya Saka di Jakarta itu licik, Mas. Kalau polanya terlalu lurus begini, yang ada nanti Kang Mas Anggoro malah dikerjai di ruang rapat Daniswara."

Mas Anggoro menghentikan goresan penanya, mendongak menatap Dinda yang sedang menopang dagu menatapnya dengan senyuman jail. Pria Jogja yang biasanya selalu dingin dan berwibawa itu langsung berdeham canggung, meraba tengkuknya yang mendadak terasa hangat akibat godaan spontan gadis Jakarta tersebut. Namun, alih-alih membalas dengan kata-kata, Mas Anggoro justru menggeser cangkir wedang ronde hangat yang baru saja ia buat ke depan laptop Dinda.

"Diminum dulu, Dinda. Udara Sleman malam ini dingin, jangan sampai asisten pribadiku ini masuk angin sebelum kita terbang menggebrak Daniswara Group dalam waktu dekat," balas Mas Anggoro pendek dengan suara baritonnya yang datar, meskipun ujung telinganya yang memerah tipis tidak bisa membohongi batinnya yang mulai punya rasa pada Dinda.

Dinda tertegun sesaat, menatap mangkuk wedang ronde yang masih mengepulkan uap hangat tersebut. Seulas senyum manis yang tulus terbit di bibirnya. Watak Mas Anggoro yang kaku namun selalu memberikan perhatian mendalam melalui tindakan nyata alih-alih bualan manis, diam-diam menembus sudut hati Dinda yang selama ini lelah dengan kepalsuan beberapa teman laki-laki yang pernah dekat dengannya.

Arunika yang sedang duduk bersandar di sofa sembari mengusap lembut perut, hanya bisa tersenyum tipis menyaksikan chemistry manis yang mulai mengalir alami di antara sang kakak dan sahabat terbaiknya.

Ketukan pintu depan yang teratur memecah keheningan ruang tengah malam itu. Saat Mas Anggoro melangkah membuka pintu jati, sosok Pak Kevin masuk untuk kembali membantu mematangkan strategi korporasi bersama Kakek Agung. Namun sore ini, pengacara muda berwibawa itu tidak datang seorang diri. Di dalam dekapan lengan kirinya, berdiri seorang balita perempuan berpipi tembam dengan rambut dikuncir dua yang teramat menggemaskan.

Keysha, putri kecil Kevin yang baru berusia tiga tahun, sengaja Kevin bawa ikut menginap di rumah Mahendra selama beberapa hari kunjungan dinasnya di Jogja. "Maaf mengganggu waktunya, Ibu Sandra, Arunika," ucap Kevin sangat sopan, menurunkan Keysha ke atas lantai ubin. "Saya datang untuk menyerahkan berkas final pembagian otoritas operasional."

Belum sempat Kevin merampungkan kalimat hukumnya, Keysha kecil yang biasanya sangat rewel, cuek, dan selalu menolak setiap kali didekati oleh wanita-wanita sosialita pilihan ibunya Kevin di Jakarta, mendadak menghentikan gerakannya. Sepasang mata bulat balita itu berbinar jernih saat menangkap sosok Anggita yang sedang berjalan membawa nampan berisi cangkir teh hangat dari arah dapur.

Tanpa disangka-sangka oleh siapa pun, Keysha langsung berlari kecil dengan langkah kaki balitanya yang menggemaskan, menuju ke arah Anggita, lalu memeluk erat ujung gamis polos gadis tersebut. "Kakak... gendong..." celoteh Keysha manja, mendongakkan wajah tembamnya dengan binar mata memohon yang lucu.

Anggita tersentak kecil, hampir saja menjatuhkan nampan di tangannya. Dia menatap balita perempuan yang langsung menempel manja di kakinya tersebut. Dengan kelembutan dan ketulusannya, Anggita meletakkan nampannya di atas meja, lalu merosotkan tubuhnya berlutut untuk merengkuh tubuh kecil Keysha ke dalam pelukannya. Ajaibnya, Keysha langsung menyandarkan kepalanya di ceruk leher Anggita, mengulas senyum lelap yang teramat nyaman laksana menemukan pelindung setianya.

Kevin tertegun kaku di tempatnya berdiri, sepasang matanya menatap takjub menyaksikan pemandangan langka tersebut. "Keysha... biasanya dia sulit sekali dekat dengan orang baru, apalagi wanita," bisik Kevin parau, sorot matanya melembut dalam-dalam menatap Anggita yang kini sedang mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. Senyum tipis yang teramat tulus terukir di wajah tampan sang pengacara setelah dua tahun lamanya terkunci dalam kedukaan mati rasa sejak mendiang istrinya wafat.

Di sudut ruangan dekat meja saji, batin Anggita sebenarnya sedang didera oleh gejolak perang batin yang hebat. Selama beberapa hari terakhir ini sejak pertemuan pertama mereka, dia memaksa dirinya sendiri untuk memadamkan riak kekaguman pada Kevin karena salah paham mengira pria itu sudah beristri murni akibat kalimat "putri kecil saya tidak bisa tidur kalau saya belum pulang". Anggita merasa bersalah karena menyukai suami orang lain.

Melihat ekspresi kaku dan wajah menunduk dari Anggita, Dinda yang dasarnya bermulut ceplas-ceplos langsung menyenggol lengan Anggita sembari terkekeh renyah, memecah kesalahpahaman tersebut di depan semua orang.

"Lucu banget sih Keysha... Tahu aja ya mana calon ibu baru yang tulus," seloroh Dinda jail, membuat wajah Anggita instan memerah padam laksana udang rebus di balik hijab bersahajanya. "Lagian Pak Kevin ini hebat lho, Anggita. Sudah dua tahun ini dia menduda sendirian sejak mendiang istrinya wafat akibat sakit, mengurus firma hukum sambil membesarkan Keysha seorang diri dan tidak pernah dekat dengan wanita mana pun di Jakarta."

Deg.

Mendengar kata "menduda" dan "sejak mendiang istrinya wafat" keluar dari bibir Dinda, jantung Anggita seketika berdegup dengan ritme yang luar biasa kencang. Pasokan udara di paru-parunya seolah kembali penuh. Rasa sesak yang menyiksa batinnya selama beberapa hari terakhir ini mendadak lenyap tak berbekas, digantikan oleh gelombang kebahagiaan dan kehangatan yang luar biasa membuncah di dalam dadanya. Anggita mendongak kecil, dan tepat saat itu juga, sepasang mata bertubrukan kembali dengan pandangan mata Kevin yang sedang menatapnya dengan senyuman dewasa yang dalam dan sarat akan getaran ketertarikan.

Kesalahpahaman itu resmi runtuh lebur malam itu, menanam takdir baru yang kian manis di antara sang pengacara tunggal dan Anggita.

Kakek Agung yang duduk bersandar di kursi rotan hanya bisa tersenyum teduh menyaksikan bagaimana rumah Sleman malam itu dipenuhi oleh benih-benih takdir baru yang suci.

1
Noey Aprilia
Kl cwoknya ky kang mas mh, msti dinda yg bnyk usahabiar dia peka....
aku gmes.....
Ade Chubi
baru mampir Thor 😄
Noey Aprilia
Biar saka tau skitnya d khianati orng yg dia prcya,blm lg kl trungkp spa bpk kndungnya....
laah...ni ga kebalik apa y....mstinya kang mas yg ngajakin dinda,tp ni sbliknya...🤣🤣🤣
Bunaya: cewek ibu kota vs mas-mas Jawa Kak. Yang berani yang perempuan 🤭🤣🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bayangkan perasaan papa Raditya yang juga dikhianati tapi tetap diam 😡😡 serta Nika yang juga kamu khianati 😡😡😡
Noey Aprilia
Gmna rsanya d khianati???sakit kn???
gtu jg yg arunika rsakan dlu...jd trima nsib aja,hkum krma udh dtang.......
Lucy
nah ketauan juga kan Valeri,ank rian kau blg ank saka untung saka pinter GK mau kejadian dirinya terulang lagi😀😀
Lucy
lanjut Thor,penasaran isi surat keterangan Test DNA nya😃😃
Sri Widiyarti
lanjut kak penasaran..
Noey Aprilia
Kevin sm anknya udh nyman sm gita,tp oma'nya msih ttp mau mnjdohkn dgn kluarga yg setara ktanya....tp tnang aja,ibunya kevin udh ngsih lmpu hjau kyanya....
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya...
Lucy
Oma Kevin seharusnya LBH mementingkan Kevin dan Keysha drpd martabat kluarga😡jgn mau di atur Oma mu kevin
Sri Widiyarti
arunika bahagia setelah lepas dari kamu saka....
Sri Widiyarti
saka...saka muak arunika liat mukamu...
Noey Aprilia
Oma'nya kevin mstinya lbh mmentingkn prsaan ccunya drpd skdr gengsi.....ngpn jg pke jdoh2an kl ga bsa bkin nyman,apa lg ada ank kcil yg btuh ssok ibu....udh nmpel gt sm anggita,msa ga ngrti.....
udh msuk rak kk,tp aku glau bcanya....sedih.....😭😭😭
Sri Widiyarti
semoga Abang mahen jodohnya sejatinya arunika ..
Sri Widiyarti
selamat hancur saka penyesalanmu ga guna ..
Noey Aprilia
Mga aja ga ada drama mnyebalkn dr kluarganya mahen,kn kl holang kaya biasanya songong....mskpn ga smua sih.....tkutnya blm apa2 udh kluar kta" tidak merestui krna prbedaan sosial"....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuuuut kak
Noey Aprilia
Jgn usik nika....
skrng pawangnya bnyak,pd galak pula...sklinya ngusik,abis d bntai....😁😁😁
Nurhartiningsih
suka sama novel yg tokoh wanitanya cerdas..kuat .dan tangguh .nggak cengeng nggak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!