Kisah gadis muda yang hidup dalam kesederhanaan. Hidup yang penuh dengan tangis dan tawa. Harta tak lantas menjadi bahagianya. Kala tak ada hangat dalam keluarga.
Gadis yang memilih jalan berbeda dari kedua saudaranya. Putri bungsu keluarga terpandang, tapi seolah hidup selayaknya yatim-piatu. Sampai akhirnya, hatinya terpaut pada satu nama. Seorang laki-laki di masa kecilnya, perwira yang gagah dan perkasa.
Namun rasa itu takkan pernah bersatu, saat dua keluarga tak lagi bisa menyatu. Cinta yang pupus dan berakhir, bahkan jauh sebelum cinta itu bersemi. Akankah sang gadis bersatu dengan cinta sejatinya? Menyatu dalam ikatan suci sakral tak terpisahkan. Ataukah cintanya tumbang oleh tajam penolakan keluarga besarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa harus aku?
plaakkk
Satu tamparan mendarat sempurna di wajahku. Terasa panas dan sakit, sesakit hatiku saat ini. Malam itu, saat darah Dimas menetes. Di malam yang sama, tangisku pecah tak terbendung. Deras hujan tak mampu menutupi air mataku. terasa ngilu dan tak mampu aku tahan. Di tengah malam, aku berlari keluar dari kamarku. Berdiri di bawah tangis langit, beralaskan air langit yang jernih dan berselimut angin malam yang dingin. Aku berdiri tepat di bawah langit yang gelap, segelap hatiku saat mengingat tamparan papa di pipiku. Demi Dimas papa menamparku, meluapkan amarah yang entah apa sebabnya?
Aku masih mengingat, keras tamparan papa. Suara tangan papa menggema di ballroom hotel. Aku terdiam tanpa kata, rasa sakit seolah mematikan tubuhku. Tangan Dimas mengusap pipiku, darahnya membekas di wajahku. Rasa khawatir terlihat di wajahnya. Sejenak hatiku luluh, merasakan perhatian Dimas yang begitu tulus. Namun detik berikutnya aku tersadar, semua ini hanya kamuflase semata. Ini tak pernah nyata dan takkan pernah nyata. Dimas dan aku takkan pernah ada dalam satu kata. Aku menepis tangan Dimas kasar. Sekilas terdengar rintihan dari mulut Dimas, saat aku menghempaskan tangan Dimas. Aku masih mengingat jelas, kesakitan yang sengaja ditahan Dimas. Jiwaku terenyuh, tapi hatiku sakit. Dimas alasan tamparan papa. Luka Dimas dasar amarah papa. Dia penyebab aku terhina di depan banyak orang.
Dua hari semenjak itu, aku sengaja mengunci diri di kamar. Tak sekali saja aku keluar, aku hidup dalam sepi kamarku. Tempat ternyaman bagiku, ketenangan yang takkan aku temukan dalam rumah ini. Aku tak ingin bertemu papa atau siapapun? Aku marah, aku terluka, aku rapuh. Hidupku seakan tak berarti, semua orang menyalahkan diriku atas luka Dimas. Tak ada yang peduli akan luka dan sakitku. Dua hari sudah aku berpikir, dimana letak kesalahanku? Dalam setiap sujud dan hembusan doa, aku mencari alasan kemarahan mereka. Bahkan Faiz yang selama ini mendukungku. Tiba-tiba marah dan menyalahkanku atas pertunangan Dimas.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu. Setelah dua hari, mereka menyadari ketidakhadiranku. Mungkin mereka mulai menyadari, aku telah mengurung diri selama dua hari. Entah aku harus bahagia atau terluka? Menyadari mereka peduli padaku setelah dua hari. Mereka mencemaskanku setelah 48 jam tak melihatku. Meski terlambat, jauh di dalam hatiku. Aku bahagia ada yang peduli padaku.
Kreeekkk
"Ada Apa?" Suara lemahku, bersamaan dengan pintu yang terbuka. Wajahku pucat, aku merasa lemas. Dua hari, aku memutuskan berhenti makan. Aku merasa lemas, kepalaku pusing. Setelah dua hari, aku hanya meminum air. Tak ada sebutir nasi yang masuk ke dalam mulutku.
"Bisa kita bicara!" Sahut Dimas, aku langsung mendongak. Kedua mataku membulat sempurna, tak percaya melihat Dimas berdiri di depan kamarku.
braakkk
Aku langsung menutup kasar pintu kamar. Aku terkejut sekaligus malu, saat menyadari Dimas ada di depan kamarku. Wajah pucatku, rambut panjangku yang terurai menjadi alasanku tak ingin bertemu dengan Dimas. Aku langsung naik ke atas tempat tidur. Aku tidak ingin bicara dengan Dimas. Aku menutup telinga dengan bantal. Aku memilih tidur, tak lagi peduli akan ketukan pintu Dimas. Berkali-kali Dimas menggedor pintu, tapi tak sedikitpun aku peduli. Aku tidak ingin bertemu dengan Dimas. Dia penyebab sakit yang kini aku rasakan.
"Papa hitung sampai tiga, kamu buka pintu atau papa akan memaksa masuk!" Teriak papa lantang, tubuhku bergidik ngeri. Tamparan papa teriang di telinga. Rasa sakit dan panas tamparan papa, terasa menyakitkan.
"Tuan Arya, biarkan saya yang membujuk!"
"Nisa!" Teriak papa, Dimas menggeleng pelan. Papa mulai menghitung, tegas dan keras itu yang aku rasakan selama hidup bersama papa.
Kreekkk
"Bagus, kamu masih bisa diajak bicara!" Ujar papa, saat melihatku membuka pintu.
"Nak Dimas, saya tinggal ke bawah!" Ujar papa hangat, Dimas mengangguk pelan.
Tatapan Dimas nanar, jelas dia sedih melihat wajah pucatku. Aku keluar setelah memakai hijab instan warna abu-abu. Aku tidak ingin merasakan tamparan papa. Rasa sakit akan hilang, tapi rasa kecewa dihatiku tidak akan mudah terhapus. Kami terdiam tanpa kata, Dimas iba melihat keadaanku. Sebaliknya aku merasa bersalah, saat melihat perban di tangan kanan Dimas. Meski aku tak pernah mengetahui alasan kemarahan Dimas. Sampai Dimas melukai dirinya sendiri.
"Kenapa tuan Dimas diam?" Ujarku memecah keheningan, Dimas langsung tersadar dari lamunannya. Aku mencoba tetap berdiri tegak, meski kepalaku terasa berat. Dua hari menahan lapar, hal bodoh yang pernah aku lakukan. Aku ingin melihat seberapa besar kepedulian papa. Namun nyatanya papa tidak peduli padaku. Dia hanya peduli pada Dimas, bukan aku putrinya.
"Nisa, kenapa kamu melakukan semua ini? Kenapa kamu menyiksa diri? Maafkan aku atas tamparan papamu. Lakukan apapun, tapi jangan sakiti dirimu!" Ujar Dimas, sesaat setelah kami berdiri di balkon lantai dua.
"Tidak ada yang menyalahkan anda. Apa yang aku lakukan itu pilihanku?"
"Tapi pilihanmu membunuhku!"
"Kenapa? Tidak ada hubungan diantara kita. Aku tiada tidak akan mempengaruhimu. Hidupmu masih panjang!" Ujarku, Dimas langsung menutup mulutku. Dimas menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, aku mohon jangan katakan itu!" Ujarnya lirih, aku tertegun. Aku menatap dua bola mata Dimas, tersirat kepedihan yang teramat dalam.
"Lepaskan!" Ujarku, sembari menepis tangan Dimas. Terlihat noda merah membekas, tanganku terlalu kuat menghempaskan tangan Dimas.
"Kenapa harus aku? Kamu tuan muda keluarga Sebastian. Akan banyak wanita mengharapkan cintamu. Ada banyak cinta dan kasih sayang ya g mereka tawarkan. Aku hanya wanita biasa, penuh luka dalam hidupnya. Hatiku gelap, dingin penuh dengan kepahitan. Kenapa harus aku yang menjadi korbanmu? Kenapa harus aku?" Ujarku lantang, aku menggenggam erat teralis pembatas balkon. Malam terasa dingin, menusuk ke tulang lemahku.
"Nisa, bukan aku yang memilihmu. Hatiku yang memilihmu, jiwaku yang menuntunku. Kenapa harus kamu? Aku juga bertanya, kenapa kamu selalu menolakku? Apa kesalahanku? Jika aku pantas dicintai, kenapa kamu membenciku?"
"Karena kamu tuan muda keluarga Sebastian. Karena kamu laki-laki pilihan papa. Karena kamu laki-laki hebat. Karena kamu pantas bahagia!"
"Itu bukan alasan, tidak cukup menjadi alasan kemarahan dan kebencianmu padaku!" Cecar Dimas, aku langsung menoleh. Aku menatap tajam, dua bola mata kami saling memandang.
"Karena aku takut mencintaimu, maka aku membencimu. Karena aku takut terluka, maka aku menyakitimu. Karena aku takut patah hati, maka aku menolakmu. Aku tidak cukup berani hidup bersama tuan muda keluarga Sebastian. Cukup aku melihat hinaan papa pada mama. Aku tidak sekuat mama, terus diam dan sabar menerima hinaan papa. Kamu pantas bahagia, dia wanita yang hebat!"
"Siapa?"
"Dokter Savira!"
"Aku tidak mencintainya!"
"Tapi keluargamu menerimanya, dia wanita terhormat dari keluarga terpandang. Dia ibu terbaik untuk Alvia Putrimu. Dia pintar, terpandang, dan sederajat denganmu!"
"Katakan sekali saja, syarat agar aku bisa bersamamu. Aku akan melakukannya!"
"Jika aku memintamu memilih keluarga atau aku, siapa yang kamu pilih?" Ujarku lantang, Dimas terdiam. Tak ada suara lantangnya, aku tersenyum sinis. Diam Dimas menjadi jawaban paling jelas.
"Pulanglah!"
Bruugggghhh
"Nisa!" Teriak Dimas histeris, melihat tubuhku jatuh.