Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Dirga
“Kenapa aku selalu bertemu denganmu di lokasi kejadian? Apa kamu sudah siap untuk mengatakan kebenarannya?” tanya Firlan begitu berada di depan Saka.
Saka mendongakkan kepalanya. Pria itu segera bangkit. “Aku hanya kebetulan berada di sini. Kenapa kamu selalu mencurigaiku?”
“Karena sejak awal kamu memang mencurigakan,” jawab Firlan santai.
Tidak mau berdebat dengan Firlan, Saka memilih pergi. Pria itu mengajak Dirga untuk meninggalkan tempat tersebut.
Sepeninggal Saka, Firlan masih berada di tempatnya. Pandangannya terus tertuju kepada Saka yang semakin menjauh.
Lamunan Firlan buyar saat salah seorang personel mendekat. Personel tersebut menjelaskan situasi yang terjadi.
“Pria yang tadi berbicara denganku, kapan dia datang?”
“Menurut keterangannya, dia datang tepat saat ledakan terjadi. Dia juga yang mendekati korban lebih dulu. Ada beberapa warga yang juga membenarkan kesaksiannya.”
“Lalu bagaimana dengan korban? Apa sudah dibawa ke rumah sakit?”
“Sudah, Pak,” jawab personel itu cepat.
“Penyebab ledakan sudah diketahui?”
“Menurut petugas pemadam kebakaran, ledakan kemungkinan berasal dari selang gas yang bocor.”
Firlan mengangguk. Pria itu kemudian berjalan memasuki rumah susun. Dia langsung menuju lantai empat, lokasi tempat ledakan terjadi.
Pada saat Firlan sedang menyelidiki kasus ledakan yang terjadi, Saka dan Dirga sudah menjauh dari lokasi.
Dirga berinisiatif membawa sahabatnya menenangkan diri. Mereka menuju kedai kopi tempat biasa mereka bersantai.
Saka memilih duduk di bagian depan kedai, sedangkan Dirga memesan kopi serta camilan.
Tak lama kemudian Dirga kembali dengan membawa pesanan lalu meletakkannya di atas meja.
Saka dibuat terkejut saat Dirga menyodorkan iced shaken espresso ke dekatnya. Selain itu, Dirga juga sudah memesan roti bakar isi tuna mayo.
“Kenapa bengong?” tanya Dirga yang melihat Saka tampak bingung. “Itu semua pesanan kesukaanmu kalau kita lagi nongkrong di sini.
Apa jangan-jangan, setelah kecelakaan, selera kamu berubah?” seloroh Dirga sambil menggigit croissantnya.
“Nggak. Aku heran aja, kamu tahu semua makanan dan minuman kesukaanku,” elak Saka.
Padahal pria itu dibuat terkejut karena semua yang dipesan Dirga sama persis dengan yang disukainya.
Jika berkunjung ke kedai kopi, Saka memang lebih sering memesan makanan yang sama persis seperti di depannya sekarang.
“Apa sih yang aku nggak tahu soal kamu. Aku juga tahu berapa senti panjang ular kobramu, hahaha!”
“Kampret!” umpat Saka. Candaan Dirga justru membuat Saka berpikir apakah ada hubungan istimewa antara Aryan dan Dirga selain persahabatan. Namun dengan cepat dia mengusir pikiran buruknya itu.
“Ar, sebenarnya aku mau nagih janji.”
“Janji apa?” kening Saka tampak berkerut.
“Kamu kan janji mau dekatin aku sama Gina.”
“Gina? Gina siapa?”
“Astaga masa kamu nggak ingat Gina? Dia pegawai bagian administrasi di pool.”
“Ooh,” jawab Saka singkat. Pria itu memilih memakan roti bakarnya. Ternyata dugaannya tadi salah. Dirga masih pria normal. Saka tertawa sendiri mengingat kekonyolannya tadi.
“Kenapa ketawa?” tanya Dirga bingung.
“Nggak apa-apa.”
Saka meneguk kopinya sambil terus menikmati roti bakarnya. Pria itu kembali teringat korban yang gagal diselamatkan olehnya. Andai dia bisa tiba lebih cepat, mungkin ledakan itu bisa dicegah.
“Ar, ngomong-ngomong, tadi kamu ngapain ajak aku ke rumah susun itu? Emangnya kamu tahu bakal ada ledakan di sana?”
Pertanyaan Dirga sukses membuat Saka terkejut. Pria itu terdiam sesaat, tidak tahu harus menjawab apa.
“Apa jangan-jangan kamu memang bisa melihat masa depan? Kamu juga sempat tanya, apa sebelumnya kamu bisa melihat masa depan?”
Berondongan pertanyaan Dirga sama sekali tidak dijawab Saka. Pria itu masih belum sepenuhnya mempercayai sahabat Aryan tersebut.
Apalagi sebelumnya Dirga bercerita bahwa Revan juga tengah mencari tahu tentangnya. Siapa yang akan menjamin bahwa Dirga tidak akan membocorkan soal dirinya yang bsia melihat masa depan kepada Revan.
“Kalau kamu belum mau cerita nggak apa-apa. Tapi yang harus kamu ingat, aku akan selalu berada di pihakmu. We are best friends forever you know,” ujar Dirga sambil menepuk dadanya.
Saka hanya tersenyum mendengar ucapan Dirga. Pria itu menghabiskan roti bakar dan kopinya.
Pandangannya kemudian tertuju pada seorang wanita yang baru saja memasuki kedai. Seketika Saka teringat bahwa tadi Ayura mengirimkan pesan padanya.
Saka segera mengambil ponselnya. Dia kembali membuka pesan yang dikirimkan Ayura tadi. Dengan cepat dia membalas pesan tersebut.
[Maaf, aku tadi sedang sibuk. Aku akan ke tokomu sekarang.]
Setelah membalas pesan, Saka segera menghabiskan minumannya. Melihat gelagat Saka yang sepertinya hendak pergi, Dirga pun segera menghabiskan minumannya juga.
“Kamu mau ke mana?” tanya Dirga yang melihat Saka hendak meninggalkan kedai kopi.
“Aku mau ke toko kue.”
“Ya sudah, aku antar.”
Tidak ada penolakan dari Saka. Pria itu segera duduk di belakang Dirga. Kendaraan roda dua itu langsung bergerak meninggalkan area parkir kedai kopi.
Dua puluh menit kemudian mereka sudah tiba di toko pastry and cake tempat Ayura bekerja. Sambil melepas helmnya, mata Dirga terus memandangi bangunan di depannya.
Seingatnya toko ini baru berdiri setahun yang lalu. Sekalipun Aryan belum pernah mengunjungi toko ini sebelumnya.
Kedatangan Saka langsung disambut Ayura yang juga sedang menunggu kedatangannya. Wanita itu masuk ke dalam lalu kembali lagi dengan membawa dua piring kecil dengan sepotong kue di atasnya.
“Jadi ini kue baru buatanmu?” tanya Saka sambil memandangi kue di atas meja.
“Iya. Tolong dicoba. Kalau enak, aku mau jual ini mulai besok.”
“Ehem!” Dirga sengaja mendeham kencang supaya Saka mau memperkenalkan dirinya dengan wanita cantik di depannya.
Apa yang dilakukan Dirga membuahkan hasil. Saka segera mengenalkan Ayura kepada Dirga. Ayura menyalami Dirga sambil menyebutkan namanya.
“Kalian cicipi aja dulu kuenya, nanti jangan lupa kasih review jujur. Aku mau ke belakang dulu.”
Ayura bergegas kembali ke dapur. Masih ada pesanan kue yang harus diselesaikan olehnya.
“Ssssttt … siapa?” tanya Dirga setelah Ayura berlalu.
“Nggak dengar tadi namanya Ayura?”
“Bukan gitu. Maksudnya apa hubungannya denganmu?” goda Dirga.
“Teman.”
“Yakin cuma teman?” Dirga terus menggoda sahabatnya ini sambil menikmati kuenya. Dia langsung mengangkat jempolnya begitu merasakan kue buatan Ayura. “Enak banget nih kue,” seru Dirga.
“Pasti enak, kan gratis.”
Dengan santainya, Dirga menoyor kepala Saka. Hal tersebut tentu saja membuat Saka terkejut. Ini pertama kalinya ada yang berani melakukan itu padanya.
Namun kemudian Saka menyadarkan diri bahwa sekarang dirinya bukan lagi Saka Pradipta Adiguna, tetapi Aryan Satrio.
“Dir, habisin kuenya terus pulang.”
“Dih ngusir,” sewot Dirga.
“Pulang aja, sana. Aku masih ada yang mau dibicarakan dengan Ayura.”
Mengira sahabatnya hendak melakukan pendekatan kepada Ayura, Dirga pun bersedia pulang lebih dulu.
Setelah menghabiskan kuenya, pria itu segera bangkit. “Besok pagi aku jemput lagi. Kita ke rumah sakit lagi buat dengar hasil pemeriksaan tadi.”
“Oke,” jawab Saka sambil mengangkat ibu jarinya.
Dirga segera keluar dari toko tersebut. Saka terus memandangi Dirga yang tengah menaiki sepeda motornya. Seolah pria itu tengah menilai apakah Dirga layak untuk dipercaya.
***
Setelah menghabiskan waktu bersama Ayura dan mengantarkannya pulang, Saka pulang ke rumah. Pria itu berbaring di atas kasur sambil memandangi langit-langit kamar.
Senyum tersungging di wajahnya saat mengingat kembali momen kebersamaan mereka tadi.
Plafon berwarna putih tiba-tiba beriak. Perlahan, Saka melihat langit-langit kamar itu berubah seperti layar yang menayangkan video.
***
Penglihatan apalagi nih?
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/