Cerita berawal dari seorang CEO sukses bernama Leo, yang merasa menyesal atas kehilangan cinta sejatinya, Elizabeth. Dalam keputusasaannya, Leo menemukan sebuah benda misterius yang memungkinkannya untuk kembali ke masa lalu dan mengubah nasibnya.
Dengan bantuan alat canggih yang ditemukannya, Leo kembali ke masa lalu saat dia dan Elizabeth masih remaja. Dia berusaha untuk mendekati Elizabeth dan membuatnya jatuh cinta padanya. Namun, dalam perjalanan waktu ini, Leo harus menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang menghalangi cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenie Juliyantie Barbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Malamnya Leo dan Derick berencana untuk mencari hiburan sebentar di salah satu tempat hiburan di Jakarta, Saat mereka tiba di tempat hiburan malam yang penuh dengan musik dan cahaya yang berkilauan itu, Mereka merasa antusias dan siap untuk menikmati malam yang menyenangkan.
Mereka memasuki tempat tersebut dan mencari tempat duduk yang nyaman. Mereka memilih meja di dekat panggung, sehinngga bisa menikmati pertunjukan dengan lebih baik.
Setelah duduk, Leo dan Derick melihat daftar menu yang tersedia. Mereka memutuskan untuk memesan beberapa makanan ringan dan minuman untuk menemani malam mereka.
Leo memesan beberapa potongan pizza yang lezat dan Derick memesan chicken wings yang pedas. Mereka juga memesan minuman favorit mereka, Leo memilih untuk minum jus jeruk segar, sedangkan Derick memesan cocktail khas dari tempat tersebut. Sungguh Anak kuliahan yang baik bukan?
Saat menunggu pesanan mereka datang, Leo dan Derick menikmati suasana yang riuh di sekitar mereka. Mereka melihat penari dan penyanyi yang tampil di panggung, sambil mengobrol dan tertawa bersama.
Tiba-tiba, seseorang duduk di sebelah mereka. Itu adalah teman sekelas mereka, Sarah. Sarah bergabung dengan mereka dan mereka semua mulai bercerita dan tertawa bersama.
Leo dan Derick menikmati kebersamaan dengan Sarah, sambil saling berbagi cerita dan tawa. Mereka merasa senang bisa bersenang-senang bersama di tempat hiburan malam yang seru. Meski mereka tidak memesan alkohol, tapi mereka menikmati pemandangan intim dari beberapa pengunjung.
Waktu terus berlalu dan tiba-tiba mereka melihat jam menunjukkan pukul 2 pagi. Mereka menyadari bahwa sudah waktunya pulang. Leo mengantar Derick pulang lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan sendiri dengan mobilnya.
Setelah mengantar Derick pulang, Leo melanjutkan perjalanannya sendiri di tengah malam yang sunyi. Dia berkendara dengan hati-hati, memperhatikan jalan yang sepi.
Saat berhenti di lampu merah, Leo tiba-tiba merasa ada yang mengetuk pintu mobilnya. Dia terkejut dan melihat ke arah suara tersebut. Ketika dia membuka kaca mobil, dia melihat Isabella, seorang gadis yang terlihat berantakan dengan tampilan rambut yang acak-acakan.
Leo teringat bahwa ini adalah kali pertama dia bertemu Isabella, Saat gadis itu mengalami pemerkosaan. Meski di tempat berbeda dan suasana yang juga berbeda, tapi tanggal, bulan, dan harinya tepat malam ini. Ia merasa campur aduk dengan kehadiran Isabella di tengah malam yang sunyi.
"Isabella? Apa yang terjadi?" tanya Leo dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Isabella terlihat sedih dan bingung. Dia menjelaskan dengan suara yang gemetar, "Leo, aku dalam masalah besar. Aku tidak tahu harus pergi ke mana atau apa yang harus aku lakukan."
Leo merasa iba melihat keadaan Isabella. Meskipun mereka memiliki hubungan di masa depan, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membantu Isabella dalam situasi sulit ini.
"naiklah ke mobilku. Kita akan mencari tempat yang aman dan kemudian kita bisa bicara lebih lanjut." Ucap Leo.
Isabella mengangguk dengan tanda terima kasih dan masuk ke mobil Leo. Mereka berdua memulai perjalanan mencari tempat yang aman untuk berbicara dan mencari solusi untuk masalah Isabella.
Setelah Leo mengajak Isabella ke dalam mobilnya, mereka berdua pergi ke sebuah penginapan yang tenang dan nyaman. Leo ingin memberikan Isabella tempat yang aman untuk membersihkan diri dan berbicara tentang masalah yang sedang dihadapinya.
Sesampainya di penginapan, Leo membantu Isabella keluar dari mobil dan mereka berjalan menuju kamar yang sudah mereka pesan sebelumnya. Kamar itu memiliki balkon dengan pemandangan yang indah, yang bisa memberikan mereka kedamaian untuk berbicara.
Di kamar itu, Isabella membersihkan diri dan merapikan penampilannya. Mereka duduk bersama di balkon kamar. Leo melihat ke arah Isabella dengan penuh perhatian, memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa masalah yang sedang dia hadapi.
Isabella menatap Leo, ada keraguan dibalik matanya.
Leo menunggu, Meski dia tahu apa masalah yang tengah Isabella alami. Mengingat itu, Dia menjadi kasihan pada Isabella.
"Aku.... Aku baru saja menjadi korban kebejatan para pria, Leo." Tiba-tiba Isabella menangis, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Leo tidak terkejut lagi. Dia sudah mengalami ini di masa depannya. Dia menghadapkan dirinya penuh pada Isabella, meraih kedua tangan yang menutupi wajah gadis itu, dan menghapus air matanya.
Isabella masih terisak. Membuat Leo tidak bisa menahan rasa ibanya, Dia memeluk gadis itu membawanya dalam ketenangan yang membuat Isabella merasa degupan jantung yang berbeda.
Isabella terdiam didalam pelukan itu, mencoba menstabilkan denyut jantungnya.
"Jangan menangis, Aku akan membantumu jika kau mau mengatakan siapa pria yang sudah memperkosamu padaku." Ucap Leo. Karena Leo mengingat bahwa Isabella tak pernah mau mengatakan siapa yang sudah memperkosanya dulu.
"Aku tidak mengenal mereka, aku hanya melihat wajah salah satu dari mereka. Tapi aku tidak mengenal siapa pria itu." Begitulah penjelasan yang diberikan Isabella di masa depan.
Bagaimana dengan hari ini? Apakah Isabella akan mengatakan hal yang sama?
"Aku tidak tahu siapa mereka. Aku tidak mengenalinya." Jawabnya dengan ragu.
Leo menghela nafas berat. Dia semakin mempererat pelukannya pada gadis itu. Entah kenapa, Ia merasa hatinya sakit.
Waktu itu, Leo melakukan kesalahan pertamanya ketika dia tidak mengajak Isabella ke kantor polisi. Leo malah mengajak Isabella untuk menginap semalam lagi di hotel itu dan menyatakan cintanya pada Isabella sehingga mereka mejalin hubungan dewasa.
Tapi, Leo tidak mau membuat kesalahan lagi dengan mempercayai Isabella seperti dulu. Dia ingin mengetahui siapa pria yang sudah memperkosa Isabella. Dia membawa gadis itu ke kantor polisi meski Isabella awalnya menolak dengan alasan tidak mau berurusan dengan polisi. Opsi itu semakin membuat Leo curiga.
Polisi menginterogasi Isabella di samping Leo. Polisi bertanya bagaimana ciri-ciri pria itu, Tapi Isabella menjelaskannya dengan begitu rumit membuat para polisi ragu dengan cerita yang dibuat Isabella.
Begitu juga dengan Leo. Tapi dia tidak berhenti hanya disitu saja.
"Lalu, dimana tempat kejadian yang anda alami? Supaya kami bisa memeriksanya dan mengecek cctv disekitar tempat itu."
Isabella terlihat memasang wajah terkejutnya. Leo mendapati itu, dia mengernyitkan alisnya.
"Pak polisi menanyaimu, Bella. Cobalah untuk menjawabnya dengan jujur, Kau tidak perlu takut." Tutur Leo setelah isabella tidak menjawab apa-apa.
Isabella menelan ludahnya, "Di.. di dekat taman tengah kota, Pak." Jawab Isabella.
Leo menghela nafas, Ia langsung meminta polisi untuk memeriksa taman sekarang juga. Beberapa polisi pergi ke tempat yang dimaksud Isabella. Benar saja, Di sana ada beberapa barang bukti yang di temukan.
Isabella dan Leo masih duduk di kantor polisi. Menunggu kabar selanjutnya. Polis tidak mengajak mereka ke tkp karena takut Isabella trauma dengan tempat itu. Alhasil, mereka menunggu disini.
"Kau baik-baik saja kan, Bella?" Tanya Leo.
Isabella mengangguk. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Setelah ini aku akan mengantarmu pulang." Ucap Leo.
Isabella tidak menjawabnya, ia hanya menganggukkan kepala.
Setelah polisi mengizinkan mereka untuk pulang dulu, Leo mengantar Isabella sampai ke rumah gadis itu. Mereka akan mendapat kabar besok pagi, mengingat sebentar lagi adzan shubuh.
Mobil Leo berhenti didepan rumah Isabella. Rumah lama ini memiliki nuansa klasik dengan sentuhan era kolonial Belanda. Di sekitar rumah, terdapat bangunan modern bertingkat namun masih terdapat rumah-rumah tua yang terawat. Kawasan huniannya asri dan adem karena banyak pepohonan. Dulu, Leo hanya dua kali datang kesini, karena keluarga Isabella sangat tidak harmonis, ayah dan ibunya sering bertengkar. Itulah alasan mengapa Leo mengajak Isabella untuk tinggal bersama di apartement mereka berdua.
"Terimakasih, Leo." Isabella turun dari mobil Leo. Tidak lupa ia berterimakasih karena Leo sudah banyak membantu.
Leo menganggukkan kepalanya, tersenyum ke arah Isabella. "Kamu tidak perlu khawatir. Besok polisi akan menghubungi lagi. Masuklah, Istirahatlah dulu sebentar lagi hari sudah mulai terang." Ucap Leo.
Isabella mengangguk, dia melambaikan tanggannya sebelum dia masuk kedalam rumah.
Leo menghela nafas saat Isabella sudah menghilang, Dia memutar mobilnya dan keluar dari pekarangan rumah Isabella yang luas.
Setidaknya dia sudah merubah kondisi yang akan membuat dirinya dan Isabella terikat lebih jauh.
Keesokan harinya, Leo dan Derick sedang duduk di parkiran untuk melihat gadis-gadis cantik seperti biasa. Mereka sesekali menggoda gadis-gadis yang menurut mereka sangat aduhai. wkwk.
"Bagaimana? Kapan kau akan berangkat ke Washington, Leo?" Tanya Derick ketika mereka sudah mulai bosan duduk disana.
Leo mengangkat satu kakinya, Menyilangkannya diatas kaki yang satunya lagi. "Secepatnya, Tapi aku belum meminta izin pada ibu dan ayahku."
"Loh, kenapa?"
Leo menghela nafasnya, "Semalam saat aku pulang dari mengantarmu, aku bertemu Isabella. Kau tahu? Aku melupakan bahwa malam itu memang adalah hari pertamaku bertemu dia di masa depan."
"Ohya? Lalu bagaimana?" Derick mencondongkan tubuhnya.
"Masih sama dengan yang di masa depan, Dia tiba-tiba datang mengetuk pintu mobilku ketika di lampu merah. Kondisinya sangat berantakan, Rambutnya acak-acakan. Dia bilang dia menjadi korban pemerkosaan." Ucap Leo.
Leo menceritakan semua kejadiannya dari awal hingga akhir. Derick mendengarkannya dengan penasaran.
"Tapi aku bersyukur setidaknya aku merubah sedikit kekacauan yang aku alami di masa depan bersama Isabella. Kalau di masa depan aku tertarik dan meniduri Isabella, Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Menidurinya? Jadi dulu kau sudah tidur bersama Isabella di awal pertemuan kalian? Apa kau gila? Dia baru saja berkata bahwa dia menjadi korban pemerkosaan? Dan kau? Kau malah ikut memperkosanya?! Wooahh, gila kau yo!" Derick memberi tanggapan yang terkejut.
Leo tersenyum miris mengingat betapa jahatnya dia di masa lalu. Tapi dia mengaku tidak memperkosa Isabella, Isabella juga menikmatinya, Itu artinya dia bercinta bukan memperkosa.
Tapi tiba-tiba gadis yang sedang mereka bicarakan datang. Isabella terlihat begitu tertekan, Dia menghampiri Leo.
"Isabella.." Leo berdiri dari duduknya. "Kamu gimana? Sehatkan?"
Isabella mengangguk, "Leo, Apa kau punya waktu untuk berbicara empat mata denganku?"
Leo terdiam sejenak, dia menatap Derick yang hanya memberikan anggukan seakan-akan menyuruh mereka untuk berbicara berdua saja.
"Ee.... Yasudah, ayo. Mau bicara dimana?" Tanya Leo.
"Ruang kesehatan, boleh?"
Leo hanya mengangguk setuju. Dia berpamitan pada Derick, Melangkah mengikuti langkah Isabella yang terlihat berat. Apa ada masalah? Tanya Leo dalam hati.
Setibanya di ruangan kesehatan, Tiba-tiba Isabella menangis. Dia duduk di salah satu ranjang dan menangis disana.
Leo bingung menatapnya. "Apa ada hal buruk yang terjadi?"
Apa ini saatnya Isabella mengaku bahwa dia hamil? Padahal di masa depannya Isabella mengatakannya dua bulan kemudian. Lalu, Apa yang tengah terjadi? Apa ada konsekuensi lain dari situasi yang Leo ubah?
"Ayahku mengusirku dari rumah." Ungkap Isabella, membuat Leo menganga tak percaya.
"Polisi tadi pagi menelpon lewat ponselku, tapi ayah yang mengangkatnya. Polisi akhirnya mengatakan apa yang terjadi, dan ayahku marah besar. Dia menyuruh ku pergi dari rumah bahkan baju-bajuku sudah diletakkan di luar rumah." Lanjutnya dalam tangisannya.
Leo tak menyangka ini akan terjadi. Jadi ini konsekuensi jika hari itu Leo melapor pada polisi? Apakah mereka akan berakhir di apartement yang sama seperti masa depan? Tapi di tahun itu Leo dan Isabella belum tinggal satu atap.
"Aku tidak tahu harus tinggal dimana.." Ucapnya lagi masih dengan tangisannya.
Leo terdiam sejenak. Mungkin dia bisa mengubah situasi yang sulit menjadi lebih mudah, tapi dia tidak bisa merubah garis besarnya.
Akhirnya setelah pulang dari kuliah, Leo membeli sebuah apartement untuk Isabella. Apartement yang sama yang ada di masa depan. Tapi Leo berjanji bahwa dia tidak akan ikut tinggal disini.
"Ku harap kamu betah disini. Kamu bisa mengajak teman-temanmu kesini, Supaya kamu tidak sendirian." Ucap Leo.
Isabella menatap ruangan yang besar ini. Dia tak percaya Leo akan memberikannya sebuah apartement yang cukup mewah. Dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan indah dan furnitur yang elegan. Di sudut ruang tamu, terdapat sebuah sofa yang nyaman dan meja kopi di depannya.
Kamar tidur utama apartemen ini sangat nyaman dengan tempat tidur yang besar dan empuk. Di sekitarnya, terdapat lemari besar untuk menyimpan pakaian dan barang-barang pribadi. Jendela di kamar tidur memberikan pemandangan yang indah dan membiarkan cahaya alami masuk ke dalam ruangan.
Selain kamar tidur utama, apartemen ini juga memiliki kamar tidur tambahan yang dapat digunakan sebagai kamar tidur anak atau ruang kerja. Terdapat juga kamar mandi yang modern dengan perlengkapan lengkap, seperti shower, wastafel, dan toilet.
"Tapi ini berlebihan untukku sendiri, Leo. Kau bisa menyewa kos-kosan kecil. Lagi pula ayahku hanya mengusirku untuk sementara bukan untuk selamanya." Ucap Isabella.
Leo tersenyum. Andai saja Isabella tahu bahwa setelah ini dia akan mengandung anak pria yang sudah memperkosanya, Dan ayahnya tidak akan pernah menerimanya sampai pria itu tutup usia.
"Aku hanya ingin kamu merasa nyaman. Setidaknya kau tidak perlu khawatir tentang bayar bulanan." Tutur Leo.
Isabella tersenyum, dia mengucapkan terimakasih banyak untuk Leo karena sudah banyak membantunya dalam waktu yang singkat. Leo tidak mempermasalahkannya, dia berkata bahwa Isabella harus nyaman tinggal di tempat yang baru. Isabella setuju.
Setelah pulang dari apartement baru Isabella, Leo pergi ke kantor polisi karena tadi siang dia mendapat panggilan dari polisi. Dia tidak memberitahu Isabella karena gadis itu tengah mempunyai masalah.
Namun, saat dia datang kekantor polisi dan duduk di hadapan polisi. Dia mendapat sebuah kabar yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
"Ini adalah foto orang yang telah memperkosa, Isabella."
Leo menatap foto itu. Memperlihatkan ketiga orang pria yang tengah tersenyum kearah kamera, salah satu dari mereka Leo kenali. "Alex?" Pria itu Alex, pria yang sudah menabrak Elizabeth.
"Anda mengenalnya?" Tanya polisi menatap Leo yang terlihat terkejut.