Aslan memutuskan untuk menjadi seseorang yang egois, sehingga dengan brengseknya ia berlagak menjadi sosok pahlawan disaat dia merupakan tokoh yang berperan besar menghancurkan.
"Lo bajingan!"
"Iya , gue tau."
Dan Aslan juga sepenuhnya tau, bahwa orang sepertinya memang tidak akan pernah bisa akur dengan semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deelyure, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita yang tak lagi sama
Ada sebuah cinta di hatiku, dan itu adalah kamu
Ada sebuah gema di relungku, dan itu masihlah kamu
Dan ada seribu luka dalam diriku, lagi-lagi itupun kamu
---------------------
"Kai..."
"....."
"O-oh, itu-... Maksud gua--"
"Iya gue tau."
Liora mengerjabkan matanya berkali-kali ketika tubuhnya direngkuh oleh sepasang lengan milik Narel. Ya, Narel. Kainarel Givano.
"Gue harus gimana lagi , Ra?"
Mendengar nada lirih penuh keputusasaan di suara itu membuat Liora yang tadinya ingin mendorong Narel menjauh jadi mengurungkan niatnya.
"Bilang gue harus berbuat apa dengan kita yang saat ini?" ujar Narel melanjutkan kata-katanya yang sempat terhenti, "Kita yang tak lagi sama...." lirihnya di akhir kalimat.
"Gak ada yang perlu dilakukan, kita udah lama berakhir Kai...." Liora membalas sama pedihnya, namun meski bibirnya berucap demikian tubuhnya justru bereaksi lain dengan sepasang lengannya yang perlahan menjangkau punggung Narel membalas pelukannya.
Narel tertawa hambar mendengar kata-kata Liora yang semakin mempertegas kenyataan yang tidak ingin ia percaya hingga saat ini. Tidak salah lagi, mereka memang pernah menjalin hubungan dulunya hingga secara sepihak Liora memutuskan untuk mengakhiri semua tentang mereka begitu saja. Gadis itu dengan kejam menghancurkan dua tahun berharga yang telah mereka jalani bersama dan membiarkan Narel tenggelam sendirian, bertanya-tanya sekiranya apa kesalahannya hinga Liora memutuskan untuk pergi.
"Lupain semuanya, anggap itu gak pernah ada. Ingat, dunia lo sekarang bukan lagi gue, tapi Viora."
Bersamaaan dengan menyelesaikan kalimatnya, Liora mendorong Narel menjauh darinya. Sesaat ia seakan lupa caranya untuk bernafas begitu maniknya bertemu pandang dengan tatap sendu Narel. Liora sangat mencintai lelaki ini, sungguh! Namun, ia tak bisa lagi untuk bersama dengannya. Karena insiden satu tahun lalu sudah membuat nya hancur sedemikian rupa. Dan ia tak ingin Narel ikut terseret dalam kehancuran yang sama. Berpisah adalah cara yang paling bijaksana yang dapat dilaluinya.
"Liora!"
Aslan datang dengan tergesa menginterupsi Narel yang baru akan bicara, "Lo kemana aja sih?! Main ngilang aja! Gue panik tau gak?! Gue kira lo kesedot portal aneh trus jatuh ke dimensi lain."
Liora mendengus geli lalu menggeplak kepala cowok itu, "Lo tuh yang aneh, ngawur banget ini kepala isinya..." cerca Liora sambil mengacak acak rambut Aslan dengan tidak berperasaan.
"Woi! Elah!" berontak Aslan.
"Sep! Yok cabut!" seru Liora kemudian berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi kearah Narel seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Meski dalam hati ia merasa sakit sedemikian rupa dan terus membisikkan kepada diri sendiri untuk terus baik-baik saja.
Sedangkan Narel hanya bisa menatap sendu kepergian Liora. Berakhir sudah. Semuanya benar-benar berakhir sekarang diantara mereka. Lalu ketika ia menggeser pandangnya pada Aslan yang mengikuti Liora dari belakang, tiba-tiba anak itu menoleh. Pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus dan tanpa diduga potongan-potongan puzzle yang selalu mengahantui Narel tiap malamnya kembali muncul dengan begitu jelasnya.
"Kai, give me some candy, please....."
"No, Ken. Kamu masih sakit gigi, nanti mama marah."
"Dikiiitt ajaa, pwleeessss..."
"Satu aja..."
"Tiga."
"Ken!"
"Ken..." tanpa sadar Narel mengucapkan nama itu, nama yang terasa begitu akrab yang hanya dengan mengucapkannya saja membuat hatinya tercabik-cabik sedemikian rupa.
Sementara itu Aslan buru-buru berbalik begitu melihat gerak bibir Narel dari kejauhan. Namanya, Narel menyebut namanya! Langkah kakinya semakin tergesa menyusul Liora dan begitu berhasil menyamai gadis itu tanpa permisi Aslan menyisipkan jemarinya diantara jemari Liora dan menggenggamnya dengan erat. Untuk kali ini saja....biarkan Aslan menjadi egois kali ini saja.
Dan Liora yang mendapati tindakan tiba-tiba dari lelaki itu hanya diam dan memalingkan muka. Seolah dia sedang mencoba untuk tidak mau tau dengan sosok anak manusia bernama Kenaslan itu. Tentang bagaimana tangannya yang gemetar dan terasa dingin dalam genggaman Liora, juga tentang cairan bening yang telah menganak sungai di pipi lelaki itu, anggap saja Liora tak pernah melihat semuanya.
---------------
Nyatanya sekeras apapun Aslan menghindar pada akhirnya ia tetap harus menghadapi semuanya. Seperti sekarang ini, dimana Narel berdiri dihadapannya dengan sorot penuh amarah dan kebingungan yang kentara.
"Lo itu siapa sebenarnya?!"
Narel terlihat frustasi sekali. Dia sungguh merasa muak dengan misteri yang terus bermunculan. Tentang anak perempuan bernama Key, lalu sekarang tentang anak bernama Ken, tentang dirinya yang terus merasa tersiksa tiap kali mengingat mereka. Perasaan rindu yang begitu besar, yang dikalahkan oleh rasa bersalah dan penyesalan mendalam. Tapi untuk apa?!
"Aslan....Nama gue Aslan, teman sekelas Liora." sahut Aslan dengan kepala tertunduk. Entah ekspresi apa yang diperlihatkan anak itu saat ini ketika ia berdiri dibawah siraman cahaya lampu jalanan. Seakan malam ini semesta menyidiakan sebuah panggung penyiksaan untuk dirinya maupun Narel.
Jawaban yang Aslan berikan agaknya tidak cukup membuat Narel puas. Lantas dengan penuh kegusaran dia bergerak maju tanpa diduga dan mencengkram kerah baju Aslan sehingga membuat lelaki itu tersentak dan spontan mengangkat wajahnya.
"JANGAN BERCANDA! LO PASTI TAU SESUATU KAN?!!"
Dalam hitungan detik Aslan langsung menepis tangan Narel dan menatapnya dengan tajam, "Kalaupun iya, lo mau apa setelah tau nantinya?"
Mendapati pertanyaan seperti itu Narel terdiam. Ketika dia sudah tau, lalu setelahnya apa? Apa memuaskan keingintahuannya saja sudah cukup untuk menutupi lubang yang menganga dalam hatinya selama ini? Tapi jika ia tidak mencari tau sekarang selamanya ia akan terus terjebak dalam teka teki tak berkesudahan.
Sementara Narel larut dalam pikirannya sendiri, Aslan mulai membawa langkahnya menjauh. Namun tak berapa lama suara Narel kembali terdengar membuat ia mebgurungkan langkahnya dan berbalik menghadap lelaki itu.
"Apapun itu....gue mau tau....tentang semuanya. Kasih tau gue semua yang lo tau..."
Sepertinya Aslan benar benar tak bisa melarikan diri lagi. Jadi, haruskah ia mengungkit semua luka itu disini saat ini juga? Haruskah dia lakukan?
------------
Sementara itu, dibalik kemudi Altair menghisap rokoknya dalam dalam dan dihembuskan perlahan. Tak jauh dari tempat mobilnya terparkir, tampak dua orang yang masih bersiteru.
"Serius nih kita nontonin aja?" Rigel yang duduk dibangku belakang melongokkan kepalanya ke depan, tapi sial baginya karena tindakan itu bersamaan dengan Altair menghembuskan asap rokoknya membuat Rigel tanpa sengaja menghirup asap itu dan terbatuk. "Si anying!" makinya.
Altair menyerahkan sebuah kunci kepada Rigel, "Lo urus mobil tuh anak, sisanya gue yang urus," titahnya.
"Njir maen perintah aja pentol korek! Lagian ini kunci lo maling dimana coba?"
"Kunci cadangan." balas Altair sambil memelintir puntng rokoknya ke dalam bungkus rokok yang kosong. Setelahnya ia melangkah keluar dengan tenang.
------------
~petualangan5sahabat~
~petualangan 5 sahabat~