Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : ATURAN NYONYA RANTI
...BAB 17...
...ATURAN NYONYA RANTI...
Sudah hampir satu minggu Nyonya Ranti tinggal di rumah putranya. Awalnya Rian mengira kehadiran ibunya hanya akan berlangsung beberapa hari saja. Namun ternyata Ranti tidak memiliki rencana untuk segera kembali.
“Bunda akan tinggal di sini sampai dua minggu,” kata Ranti saat pertama kali memberitahunya.
Rian yang sedang membaca berkas hanya mengangkat wajah. “Dua minggu, Bun?”
“Iya.”
“Kenapa lama sekali?”
Ranti langsung memasang wajah tidak senang. “Bunda ini ibumu. Masa tinggal di rumah anak sendiri tidak boleh?” gerutunya.
“Tentu boleh, Bun.” Rian terkekeh kecil. “Rian cuma kaget saja.”
“Bagus. Biar kamu terbiasa.” sungutnya lagi.
Rian hanya menghela napas. Ia sudah tahu, dua minggu bersama ibunya tidak akan sesederhana yang dibayangkan.
Dan benar saja...
Sejak tinggal di rumah itu, Ranti mulai memperhatikan banyak hal.
Terutama pada Wulan. Perempuan itu seolah menjadi pusat perhatian Ranti setiap kali melakukan sesuatu.
Ketika Wulan menyiapkan sarapan, Ranti memperhatikannya. Ketika Wulan menemani Rana bermain, Ranti juga memperhatikannya. Bahkan ketika Wulan mengantar Delon dan Astrid ke halaman, Ranti masih memperhatikan dari kejauhan.
Ada satu hal yang paling membuat Ranti tidak nyaman. Panggilan anak-anak kepada Wulan dan Rian.
“Mama Wulan!”
“Papa!”
Setiap kali mendengarnya, wajah Ranti langsung berubah.
Pagi itu pun demikian.
Rana baru turun dari lantai atas bersama Rian.
Begitu melihat Wulan yang sedang menyiapkan sarapan, gadis kecil itu langsung berlari.
“Mama Wulan!” teriaknya.
Wulan tersenyum dan membuka kedua tangannya. “Sini.” Rana langsung menghambur memeluknya.
Ranti yang duduk di meja makan langsung menghela napas. “Rana.”
Rana menoleh. “Ya. Nenek?”
“Siapa yang kamu panggil tadi?”
“Mama Wulan.”
Ranti menatap Wulan. “Kenapa harus Mama?”
Wulan langsung terdiam. “Saya tidak pernah mengajarinya, Bu.”
Ranti mengangkat alis. “Saya tidak sedang bertanya padamu.”
Wulan menundukkan kepala. Rian yang baru saja menarik kursi langsung menatap ibunya.
“Bunda.”
“Apa?”
“Jangan begitu.”
Ranti mendengus. “Bunda cuma ingin ngasih tahu anakmu.”
Rian duduk. “Rana sendiri yang terbiasa memanggil Wulan begitu.”
“Justru itu masalahnya.”
Rian menghela napas. “Masalah apa sih Bun?”
“Dia itu pengasuh, Rian.”
Rian terdiam, lalu Ranti melanjutkan. “Dan bukan ibunya Rana.” tekannya.
“Aku tahu.” jawab Rian singkat.
“Kalau tahu kenapa terus dibiarkan? Lama-lama Rana bisa benar-benar menganggap Wulan sebagai ibunya.” cecarnya lagi.
Rian menatap putrinya yang sedang duduk di samping Wulan.
“Rana tahu siapa ibunya.”
“Kalau tahu, kenapa terus memanggil pengasuhnya Mama?”
Rian kali ini tidak menjawab. Karena ia sendiri sudah berkali-kali mencoba menjelaskan kepada Rana.
Namun anak itu tetap memanggil Wulan dengan sebutan Mama Wulan. Dan Rian juga tidak pernah merasa terganggu.
Masalah ternyata tidak berhenti sampai di sana.
Ketika sarapan akan dimulai, Ranti kembali melihat sesuatu yang membuat wajahnya semakin masam.
Delon dan Astrid duduk di meja makan yang sama dengan Rian dan Rana.
Astrid bahkan duduk di sebelah Rian. “Papa, tolong ambilin telur.”
Rian tersenyum dan langsung mengambilkannya. “Mau telur? Nih...”
“Makasih, Papa.” ucap Astrid.
Delon ikut menyodorkan piring. “Papa, aku juga.”
Rian terkekeh. “Wah, semua minta dilayani Papa.” candanya.
Wulan yang duduk di sisi lain meja hanya tersenyum. Pemandangan itu sebenarnya sudah menjadi kebiasaan di rumah tersebut. Rian tidak pernah mempermasalahkan Delon dan Astrid makan bersama mereka.
Namun bagi Ranti, hal itu tidak bisa diterima. “Kenapa mereka makan di sini?” tanyanya dengan nada suara tak enak didengar.
Pertanyaan itu membuat meja makan mendadak sunyi.
Wulan sontak menatap Ranti. Delon berhenti menyendok nasi. Astrid juga ikut terdiam.
Rian mengerutkan kening. “Mereka hanya anak-anak.”
“Bunda tahu.”
“Lalu?”
Ranti menunjuk meja. “Seharusnya mereka makan di tempat lain.” ujarnya.
Rian mengira dirinya salah dengar. “Kenapa?”
“Karena mereka anaknya pengasuh.” jelas Ranti.
Wulan langsung menundukkan kepala.
Rian meletakkan sendoknya. Menyentak napasnya sedikit kencang. “Bunda.” Nada suaranya berubah.
Ranti tetap tenang. “Dulu di rumah Bunda, anak pegawai tidak pernah makan satu meja dengan majikan.” sungutnya.
“Tapi ini rumah Rian.” sela Rian.
“Dan Bunda ini ibumu.” timpal Ranti tak mau kalah.
Rian terdiam. Ranti kini menatap Delon dan Astrid. “Bukan berarti mereka tidak boleh makan. Mereka kan bisa makan di dapur bersama ibunya.”
Wulan segera berdiri. “Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa membawa anak-anak—”
“Wulan duduk.” Rian segera memotong.
Wulan terkejut. Rian menatapnya serius.
“Kamu duduk saja.” ulangnya. Kemudian Rian kembali menatap ibunya. “Delon dan Astrid tetap makan di sini.”
Ranti mengerutkan dahi. “Rian!”
“Mereka hanya anak-anak.” tegas Rian.
“Bunda hanya sedang mengajarkan aturan.” perintah Ranti tak kalah tegas.
Rian kembali menarik napas. “Kalau aturan itu membuat anak kecil merasa lebih rendah hanya karena orangtuanya berbeda, aku tidak mau menurutinya.”
Ranti terdiam.
Wulan pun hanya bisa menatap Rian. Ia tidak menyangka pria itu akan membelanya sampai sejauh itu.
Rian mengambilkan lauk untuk Astrid. “Sudah kalian lanjutkan makannya ya...”
Astrid mengangguk kecil. “Makasih, Papa.”
Ranti kembali mendengar panggilan itu.
“Papa?” deliknya. Tatapan Ranti langsung tertuju kepada Astrid. “Sejak kapan kamu memanggil Rian, Papa?”
Astrid menjawab polos. “Dari kemarin-kemarin.”
“Siapa yang mengajarkanmu?”
Astrid menunjuk Rian. “Papa sendiri.”
Ranti langsung menatap putranya tajam. Sedang Rian tengah menikmati makannya dengan santai.
Wajah Ranti memerah, wanita tua itu tampak kesal. "Rian!"
“Iya. Aku sendiri yang minta.”
“Kenapa?”
“Biar tidak jomplang.”
Ranti mengerutkan dahi. “Tidak jomplang bagaimana?”
Rian menunjuk Rana. “Rana memanggil Wulan Mama Wulan. Jadi Delon dan Astrid memanggilku Papa.”
Ranti menggeleng tidak percaya. “Ini sudah keterlaluan.”
Rian menatap ibunya. “Yang keterlaluan apanya sih Bun?”
“Kamu membuat hubungan kalian seperti keluarga.”
Kalimat itu membuat Wulan langsung menunduk. Rian tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Delon, Astrid, dan juga Rana.
Ketiganya sedang makan dengan tenang. Tidak ada yang merasa ada sesuatu yang salah.
Akhirnya Rian berkata, “Bunda terlalu berpikir jauh.”
“Bunda justru melihat dengan jelas.” Ranti menatap putranya tajam. “Rian, dia hanya pengasuh Rana. Wulan bekerja di rumah ini. Bukan berarti kamu harus memperlakukannya seperti anggota keluarga.”
Rian terdiam sejenak. Kemudian ia berkata pelan, “Kenapa tidak?”
Ranti terlihat semakin kesal. “Karena ada batasnya!”
“Batas seperti apa, maksud Bunda?”
“Batas antara majikan dan pekerja.”
Rian mengangguk. “Kalau soal pekerjaan, aku tetap tahu batas.”
“Lalu kenapa anak-anak itu makan bersama kita?”
“Karena Rian yang menginginkannya.” jawabnya santai dan menurutnya hal itu tidak perlu di permasalahkan
Ranti tidak bisa berkata-kata lagi. Sementara Wulan, perasaannya semakin tidak nyaman.
Ia merasa dirinya menjadi penyebab pertengkaran kecil antara ibu dan anak itu.
“Pak Rian...” panggilnya pelan.
Rian menoleh.
“Saya bisa makan bersama Delon dan Astrid di dapur.”
“Tidak perlu.” larang Rian.
“Tapi saya tidak ingin membuat Ibu—”
“Wulan.” Rian memotong dengan lembut. “Kamu jangan merasa bersalah.” ucapnya tersenyum.
Ranti semakin memperhatikan putranya. Cara Rian berbicara kepada Wulan dan membelanya. Lalu cara putranya memperhatikan anak-anak Wulan. Semuanya membuat Ranti semakin tidak tenang.
*****
Setelah sarapan selesai, Ranti mengikuti Rian sampai ke ruang kerja.
“Rian.” panggilnya tegas.
“Iya, Bun?”
“Bunda mau bicara serius denganmu.”
Rian meletakkan berkasnya. “Silakan.”
“Kamu tidak sedang menyukai Wulan, kan?” tanyanya dengan ekspresi wajah serius dan menyelidik.
Rian terdiam. Pertanyaan itu datang begitu langsung. “Bunda kenapa berpikir begitu?”
“Karena sikapmu itu.” ucap Ranti yang langsung duduk di sofa. “Kamu terlalu memperhatikan dia.”
Rian menghela napas. “Dia bekerja di rumah ini. Wajar kalau Rian memperhatikan.”
“Bukan seperti itu yang Bunda maksud.” Ranti menatap putranya. “Dia tidak sepadan denganmu.”
Rian mengernyit. “Tidak sepadan?”
“Iya.” tegas Ranti.
“Dalam hal apanya?”
Ranti menghela napas. “Kamu anak Bunda. Pemilik perusahaan. Pendidikanmu bagus. Keluarga kita juga bukan keluarga sembarangan.” Ia lalu berhenti sejenak. Menatap Putranya lebih serius. “Sedangkan dia hanya seorang pengasuh.”
Kini Rian menatap ibunya tak kalah serius. “Bunda bahkan belum mengenalnya.”
“Bunda bisa melihat dari penampilannya.”
“Penampilan?”
“Iya.” Ranti menggeleng. “Bunda tidak ingin kamu melakukan kesalahan lagi setelah bercerai dengan Nita.”
Rian terdiam.
Ranti melanjutkan, “Nita memang sibuk. Tapi dia pantas berdiri di sampingmu.”
“Bunda masih ingin aku kembali dengan Nita?” tanya Rian, yang sedikit tersulut emosi.
“Tentu.” tak ingin mengingkarinya, Ranti memang masih sayang pada Nita mantan menantunya. Baginya, Nita adalah istri yang ideal buat Putranya.
Rian menghela napas panjang. “Bunda, perceraianku dan Nita bukan sesuatu yang terjadi tanpa alasan.”
“Semua rumah tangga itu punya masalah.” Ranti mencoba menasehati Putranya. Berharap Rian berpikir ulang dan tidak gegabah memutuskan begitu saja.
“Tapi masalah kami sudah selesai.”
Ranti menatap putranya. “Kalau begitu, jangan buat masalah baru.”
Rian memahami maksud perkataan ibunya. Tatapannya kemudian beralih ke arah pintu. Ia tidak tahu bahwa di balik pintu yang sedikit terbuka, Wulan baru saja berhenti.
Perempuan itu sebenarnya hendak mengambil beberapa pakaian anak-anak. Namun tanpa sengaja ia mendengar kalimat terakhir Ranti.
Jangan buat masalah baru.
Wulan menundukkan kepala. Ia menggenggam pakaian di tangannya lebih erat.
Mungkin Ranti benar. Mungkin dirinya memang sudah terlalu dekat dengan keluarga itu.
Dan mungkin mulai sekarang, ia harus kembali mengingat satu hal. Dirinya hanyalah seorang pengasuh. Bukan bagian dari keluarga Rian.
Sementara di dalam ruang kerja, Rian masih menatap ibunya.
“Bunda.”
“Apa?”
“Jangan menilai Wulan hanya karena pekerjaannya.”
Ranti mendengus. “Bunda hanya sedang melindungimu.”
“Kalau begitu, lindungi anak Bunda ini dengan mempercayai keputusannya.” tegasnya yang langsung berdiri. “Dan satu lagi.”
Ranti menatapnya.
“Selama Rian yang bertanggung jawab di rumah ini, tidak ada anak yang akan ku bedakan hanya karena status orangtuanya.” lanjutnya, yang lalu Rian berjalan meninggalkan ruangannya.
Ranti masih duduk terdiam di sofa . Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu. Putranya memang belum mengatakan bahwa ia menyukai Wulan.
Namun cara Rian membela perempuan itu sudah cukup membuat Ranti semakin curiga. Dan Ranti tidak akan membiarkannya begitu saja...
Bersambung...