Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Suami Salah Tingkah
Meski Kaivan sibuk dengan pekerjaannya, tapi pagi ini dia masih sempat mengantarkan istrinya ke Bandara untuk pergi menjalankan tugas di Bali.
"Kak, Aisya pamit dulu," Aisyah membuka sabuk pengaman karena memang sudah terlambat, jadi Aisyah terlihat buru-buru.
"Kamu hati-hati, kalau sudah tiba di Bali kamu kabari saya," ucap Kaivan.
"Iya. Kakak juga kerjanya baik-baik, kabari Aisyah juga, jangan lupa Makan yang teratur dan jangan makan makanan luar," ucap Aisyah selalu mengingatkan suaminya itu.
"Baik Aisyah," sahut Kaivan.
"Assalamualaikum kak!" ucap Aisyah mencium tangan suaminya.
"Walaikumsalam," sahut Kaivan.
Aisyah kemudian langsung keluar dari mobil, tetapi Aisyah kembali mengetuk pintu mobil, ketika pintu itu sudah ditetapkan. Kaivan menurunkan kaca mobil.
"Koper Aisyah masih ada di bagasi," ucap Aisyah menyadari.
"Astagfirullah!" Kaivan juga bisa-bisanya kelupaan dan kemudian buru-buru membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
Kaivan membantu istrinya mengambil koper dari bagasi.
"Auhhhh...." Kaivan tiba-tiba saja kejedot pintu bagasi mobil.
"Kak oke?" tanya Aisyah panik, menunduk sedikit untuk melihat apa yang terjadi pada wajah suaminya.
Kaivan mengusap-usap dahinya yang terluka.
"Astagfirullah Kak," Aisyah geleng-geleng kepala melihat kecerobohan suaminya itu sampai melukai dahinya.
Aisyah menghela nafas, membuka tas yang berada di bahunya dan ternyata mengangkat handsaplast kemudian mendekatkan dirinya pada Kaivan dan langsung menempelkan hansaplast tersebut karena dahi sang suami luka.
Hal spontan yang dilakukan Aisyah membuat perhatian Kaivan tertuju pada wanita di hadapannya itu, jarak wajah mereka begitu dekat, Aisyah melakukannya dengan sangat lembut, ekspresi wajahnya terlihat khawatir, matanya begitu indah membuat Kaivan menatap lebih dalam.
"Lain kali hati-hati Kak," ucap Aisyah selesai menempelkan handsaplash tersebut membuyarkan lamunan Kaivan.
"Makasih Aisyah," sahut Kaivan tersenyum.
Keduanya malah saling melihat, semakin dalam menatap.
"Kak koper Aisyah!" Aisyah lagi-lagi menegur karena bisa-bisa dia benar-benar terlambat.
"Oh iya," sahut Kaivan akhirnya menurunkan koper tersebut.
"Ya sudah, Kak. Kalau begitu Aisyah pamit dulu. Assalamualaikum!" sapa Aisyah kembali
"Walaikumsalam," sahut Kaivan.
Kaivan melihat kepergian istrinya, memasuki Bandara untuk menjalankan tugasnya membuat Kaivan menghela nafas panjang dengan menggoyangkan kepalanya. Kaivan tiba-tiba saja menjadi tidak fokus, tidak biasanya dia seperti ini.
Seharusnya pasangan suami istri itu berbulan madu atau paling tidak menghabiskan waktu bersama untuk saling mengenal satu sama lain, tetapi sayangnya mereka harus LDR karena pekerjaan.
*****
Aisyah menjalankan tugasnya di Bali, ada pelatihan yang harus dilakukan para Dokter spesialis. Aisyah yang memang sebagai dokter onkologi mengikuti pelatihan dengan baik dan berbaur dengan rekan-rekan dokter dari rumah sakit lain.
Aisyah juga menginap di salah satu hotel di Bali yang memiliki view sangat indah yang dekat dengan pantai, setelah mengikuti pelatihan Aisyah kembali ke hotel yang baru saja selesai mandi dan terlihat menelpon sembari menyisir rambutnya di depan cermin.
"Apa yang aku katakan benar Aisyah. Kakakku hidupnya jauh lebih bergairah dan seperti orang normal ketika menikah dengan kamu, tidak seperti biasanya, pulang kerja berekspresi datar, makan dan hanya berbicara seperlunya saja," ucap Amira.
"Lalu kamu ingin menyimpulkan bahwa semua itu Karena aku?" tebak Aisyah.
"Lalu karena apa lagi Aisyah. Kalian baru satu minggu lebih menikah, tetapi Kak Kaivan terlihat sangat bahagia dan fresh, aura ketampanannya semakin kelihatan, mungkin dia juga menyadari bahwa tujuan hidupnya sekarang adalah menjalani pernikahannya dengan kamu dan move on dari mantan kekasih," ucap Amira.
"Matan kekasihnya .... jadi maksud kamu selama ini Kak Kaivan datar seperti itu karena belum bisa move on dari masa lalunya?" tanya Aisyah memastikan sampai menghentikan pekerjaannya untuk mendengar jawaban Amira.
"Hmmmm, bukan begitu maksudku. Ya sejak dulu dia memang memiliki ekspresi seperti itu, aku juga tidak tahu siapa mantan kekasihnya dan memang selama bertahun-tahun dia tidak punya kekasih, jadi lupakan saja perkataanku," ucap Amira.
Tidak ingin membuat sahabatnya kepikiran hanya karena seorang masa lalu. Lagi pula Amira sangat bahagia ketika kakaknya menikah dengan Aisyah.
"Oh iya Aisyah, kamu sekarang sedang apa?" Amira bertanya untuk mengalihkan suasana yang sempat canggung di antara mereka.
"Aku siap-siap keluar sebentar, karena lusa harus kembali ke Jakarta, jadi mau membeli beberapa kiriman Bunda sebelum kembali ke Jakarta," jawab Aisyah.
"Jangan hanya Bunda saja, jangan lupa untukku juga," sahut Amira.
"Iya-iya, kalau itu sudah pasti untuk orang yang tidak mau ketinggalan," sahut Aisya menekan suaranya.
"Isss kamu," sahut Amira.
"Ya sudah Amira, aku tetap teleponnya dulu, aku harus segera keluar," ucap Aisyah.
"Baik Aisyah, selamat malam sahabatku. Assalamualaikum!" ucap Amira.
"Walaikum salam," sahut Aisyah.
Amira yang berada di atas tempat tidur baru saja menghubungi Aisyah mengatur nafasnya.
"Apa-apaan coba kamu Amira, membuat suasana berantakan saja, tidak bisanya kamu menyebutkan mantan dari Kak Kaivan, kamu saja tidak tahu siapa mantannya yang membuat dia galau dan menjalin hubungan selama beberapa tahun, bagaimana jika Aisyah kepikiran dengan hal ini. Sudah tahu memiliki sahabat yang gampang kepikiran, kamu benar-benar!" Amira menyesal karena sempat menyebutkan sesuatu hal yang sudah pasti membuat sahabatnya bertanya-tanya.
Aisyah yang baru saja menghubungi sahabatnya itu meletakkan ponselnya.
"Benarkah. Kak Kaivan memiliki masa lalu yang susah dilupakan, lalu siapa orangnya? kenapa mereka mengakhiri hubungan? Amira mengatakan beliau sudah 7 tahun tidak berpacaran, apa wanita itu sangat istimewa?" Aisyah benar-benar kepikiran sesuai dengan tebakan Aisyah.
"Arghh, sudahlah Aisyah, kamu sudah menikah dan tidak baik jika memikirkan masa lalu, lagi pula masa lalu, sekarang kamu harus fokus pada pernikahan ada untuk apa fokus pada hal-hal yang tidak perlu," ucap Aisyah berusaha menenangkan dirinya.
*****
Aisyah berjalan di pinggir trotoar, melewati beberapa bangunan-bangunan yang berjualan pernak-pernik oleh-oleh, dari makanan, pakaian, dan lain sebagainya.
Aisyah tidak terlalu membeli banyak dan hanya membeli beberapa saja untuk Amira sahabatnya dan pesanan yang dikirim oleh Bundanya karena ada salah satu kue kesukaan Bundanya di Bali.
Tetapi karena Aisyah saat ini sudah punya keluarga baru, jadi Aisyah juga harus membelikan untuk ibu dan ayah mertuanya.
Langkah Aisyah terhenti di depan salah satu toko kue. Mata Aisyah melihat kue yang terpajang
"Ayah suka sekali kue strawberry tetapi tidak menyukai strawberry, aneh!" Aisyah mengingat bagaimana masa kecilnya saat berulang tahun, sang ayah pasti akan membelikan kue strawberry untuk mereka makan bersama.
Mengingat momen-momen indah itu ternyata membuat Aisyah terluka, merasa keluarganya benar-benar hancur dan sudah tidak seindah dulu, hubungan sang ayah dengan wanita lain, sedikit mengubah hidupnya menjadi wanita yang sensitif, tetapi lebih tegar.
"Aisyah!" di tengah lamunannya tiba-tiba saja terdengar suara yang tidak asing membuatnya kembali melihat ke depan.
Aisyah cukup kaget ketika melihat pria tersebut tak lain adalah Kaivan suaminya.
"Kak," sahut Aisyah
Kaivan kemudian menghampiri istrinya itu.
"Kakak kok bisa ada di sini?" tanya Aisyah.
"Hmmm, tadi subuh saya terbang ke Bali untuk memeriksa proyek yang ada di dekat sini, jadi kamu juga tugas di Bali di kota ini?" tanya Kaivan.
"Benar! tugasnya berada di gedung ujung sana dan Aisyah juga menginap di hotel yang ada di dekat sana, jadi tadi keluar sebentar untuk membeli oleh-oleh," jawab Aisyah.
"Begitu," sahut Kaivan.
"Lalu Kakak sendiri kenapa tidak mengabari Aisyah kalau ke Bali?" tanya Aisyah.
"Ini juga mendadak, seharusnya berangkat rekan saya tapi saya harus mengambil alih karena benar-benar penting," jawab Kaivan.
"Lalu Kakak menginap di hotel mana?" tanya Kaivan.
"Saya tidak menginap Aisyah, saya akan langsung ke bandara karena pesawatnya akan take off sekitar 20 menit lagi, jadi harus kembali ke Jakarta," jawab Kaivan.
"Kak, ini sudah malam, jarak ke bandara juga sekitar 15 menit, bisa pastikan sampai ke bandara juga pasti sudah telat, lebih baik istirahat saja di Bali dan besok baru pulang," ucap Aisyah memberi saran pada suaminya.
Bersambung....
suaminya loh ....pengantin baru looh