Anya yang merupakan seorang gadis cerdas dan merupakan alpha girl tiba-tiba rela menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karirnya demi mengurus suami dan anaknya di rumah. Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa bahwa sikap suaminya mulai berubah tak semanis dulu. Awalnya ia tetap berusaha untuk menjalani kehidupan rumah tangganya seperti pasangan normal pada umumnya. Namun, semakin ia mengalah, semakin semena-mena pula perlakuan suaminya terhadapnya. Ia mulai merasakan pahitnya kehidupan berumah tangga. Ia mulai sadar bahwa cintanya seolah telah layu. Namun, demi anak yang sedang tumbuh besar bersamanya, ia berusaha untuk terus mempertahankan keutuhan rumah tangganya meskipun saat itu cintanya pada sang suami telah mulai sirna. Di saat yang tak terduga, ia bertemu seorang laki-laki yang mampu membalut luka di hatinya. Akankah ia mempertahankan rumah tangganya yang tanpa cinta? Ataukah ia harus memilih si lelaki baru dan mengorbankan rumah tangga yang dibangunnya betahun-tahun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivin Febry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
“Ini rumahku.” Jelas Haris seolah mengetahui paa yang ada dalam pikiran Anya. “Dania sudah pindah rumah semenjak beberapa hari yang lalu. Kemarin kami sudah resmi bercerai. Jadi saat ini aku tinggal sendirian di sini.” Tambahnya. Anya mengangguk mengerti. Haris meraih tangan Anya dan menggenggamnya. Anya tak menghindar. Ia membiarkan tangan Haris memegang tangannya. Anehnya ia merasa damai. Seolah ia merasa menjadi lebih kuat dengan hadirnya Haris di sisinya. Apa yang sedang kurasakan ini, pikirnya. Aku tak mengerti sebenarnya apa arti Haris dalam hidupku, namun ketika bersamanya aku merasa nyaman. Entah ini perasaan yang hanya sesaat karena aku membutuhkan sosok untuk berbagi kepedihanku ataukah ini memang murni perasaan antara dua insan yang sama-sama menemukan kenyamanan, ujarnya dalam hati.
Haris masih memegang tangannya. Tatapannya tertuju pada Anya. Anya pun melakukan hal yang sama. Ia menatap wajah Haris. Matanya tajam namun memancarkan sirat kehangatan, wajahnya rupawan dengan hidung yang sempurna, dan bibirnya…jantung Anya berdegup kencang ketika tatapannya jatuh ke bibir Haris. ia menunduk untuk mengalihkan tatapannya. Namun tangan Haris memegang lembut dagunya. Anya kembali menatap mata Haris, saat itu Haris menatapnya lama sambil menangkupkan tangannya di pipi Anya. Anya terdiam, namun degup jantungnya terasa terdengar di telinganya sendiri. Tatapan Haris jatuh pada bibir Anya. Beberapa detik itu mereka terdiam seolah waktu berhenti. Tiba-tiba Haris mendekatkan wajahnya pada wajah Anya. Anya memejamkan matanya ketika bibir Haris menyentuh bibirnya. Haris begitu lembut. Jantung Anya saat ini terasa ingin melompat dari rongga dadanya. Entah karena terbawa perasaan ataukah karena dirinya sudah begitu lama merindukan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan selama ini, Anya mengalungkan lengannya di leher Haris. sedangkan tangan haris yang satunya berada di tengkuk Anya dan menariknya mendekat. Mereka saling berciuman seolah mereka baru pertama kalinya merasakan manisnya kehidupan. Mereka saling menikmati manisnya satu sama lain. Seolah mereka berdua telah memendam kerinduan yang begitu lama. Kali ini lidah haris menari dalam mulut Anya. Anya mengeratkan pelukannya di leher Haris. kini ciuman Haris berubah menjadi lebih intens seolah ia begitu kehausan dan ingin mereguk manisnya bibir Anya. Wanita ini begitu manis, pikir Haris. Kini lidah Anya yang menjelajahi mulut Haris. Jantung Anya semakin berdebar. Sudah lama sekali ia tak pernah merasakan kasih sayang. Kini ia merasa jiwanya hidup kembali. Dan Haris yang telah menghidupkan bara api dalam dirinya. Tanpa ada kata cinta yang terucap di antara mereka berdua, namun mereka menyadari bahwa mereka saling membutuhkan. Mereka sudah dewasa dan mereka sadar saat ini sudah tak ada lagi jalan kembali. Mereka berdua telah menautkan jiwa mereka. Tak ada kata yang terucap, namun jiwa merekalah yang saling mengikat. Haris melepaskan ciumannya karena ia sadar mereka berdua hampir kehabisan nafas karena saling menjelajahi manisnya satu sama lain. Namun Haris masih tetap mendekatkan wajahnya pada wajah Anya. Pandangan mereka saling terpaut seolah kini telah ada janji terikat di antara jiwa mereka. Haris menarik Anya dalam pelukannya. Anya merasa damai dalam pelukan Haris. “Aku akan melindungi mu.” Bisik Haris di telinga Anya. Mendengar ucapan Haris, seolah jiwa Anya melayang. Ia yakin Haris pasti menepati janjinya. Setelah beberapa menit saling berpelukan, akhirnya Haris melepaskan pelukannya sambil tertawa. “Aku nggak akan membiarkanmu lapar. Meskipun aku masih ingin tetap memelukmu seperti ini, aku nggak tega mendengar suara perutmu.” Godanya seraya tertawa. Pipi Anya merona karena malu, ia sendiri juga mendengar suara lapar perutnya. “Ayo kita makan dulu, tadi aku sudah memesan makanan.” Sambung Haris. Mereka berdua turun dari tempat tidur dan menuju ruang makan. Anya melihat ke sekeliling ruangan itu. Di sana ada sebuah meja makan minimalis yang elegan. Selera Haris lumayan elegan, pikir Anya. Di atas meja sudah tersedia makanan dan juga kopi. Haris benar-benar memperhatikan apa yang disukai Anya. Mereka makan dalam keheningan. Sakit kepala Anya sudah mendingan. Namun ia merasa masih begitu lelah dan lemas. Ia makan dalam diam. Ia bingung dan malu untuk berbicara setelah mengingat apa yang terjadi di kamar barusan. Ia merasa malu karena sudah begitu ceroboh. Kenapa aku tadi membalas ciumannya, pikirnya. Seharusnya aku menghindar, kini aku seperti perempuan bodoh yang haus akan cinta, pikirnya.
“Sudah berapa lama Davin bersikap tidak menyenangkan seperti itu?” Pertanyaan Haris membuatnya kaget. Anya kembali menceritakan awal mula Davin kehilangan pekerjaan dan usahanya bangkrut. “Tapi akhir-akhir ini sikapnya semakin tidak menyenangkan.” Ujar Anya. Anya menceritakan kembali kejadian tadi malam di rumahnya ketika ia meminta bercerai dari Davin dan seperti apa tanggapan Davin tentang hal itu. Haris mendengarkan ceritanya tanpa menyela sedikitpun. Setelah menghabiskan makanannya, ia meraih cangkir kopinya. Ah, aku benar-benar membutuhkan caffein, pikirnya. Ia menyesap kopinya. Ia melihat Haris juga sedang menikmati kopinya. Ketika tatapannya tertuju ke bibir Haris yang sedang meminum kopinya, ia kembali teringat seperti apa rasa bibir itu ketika bertemu dengan bibirnya. Lamunannya terhenti ketika Haris tatapan Haris bertemu dengan matanya. Kenapa sekarang jantungku selalu berdebar-debar begini, pikirnya dalam hati. “Mmmm, bagaimana rasanya setelah resmi bercerai?” tanya Anya untuk mencairkan keheningan. Haris mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum. “Rasanya seperti kamu bisa bernafas lega setelah sekian lama lehermu dicekik.” Ujarnya sambil tertawa. Mendengar jawaban Haris, Anya tersenyum. Seandainya aku juga bisa merasakan kebebasan itu, pikirnya. Seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, Haris meraih tangan Anya dan mengusapkan ibu jarinya di punggung tangan itu seolah ingin menenangkan dan meyakinkannya bahwa segalanya akan baik-baik saja. Mereka berdua menghabiskan kopinya. setelah itu Haris merapikan meja makannya dan membersihkan peralatan makan. Anya ingin membantunya namun Hari menyuruhnya untuk beristirahat. Anya ingin melihat sekeliling rumah. Ia berjalan ke arah ruang tamu, di sana ada sofa yang terlihat mahal. Kenapa Dania menyia-nyiakan pria sebaik ini, pikir Anya. Ia duduk di sofa itu sambil beristirahat. Beberapa menit kemudian Haris muncul di ruang tamu dan duduk di sebelahnya. “badanmu udah enakan?” tanya Haris. Anya mengangguk. “Nanti akan ku antar kau pulang.” Tambah Haris.
“Nggak usah, biar aku pulang sendiri. Lagipula aku masih mau mampir ke rumah ibu untuk nengok Azriel.” ujarnya.
“Kalau ada apa-apa, atau kalau kamu butuh bantuan apapun, jangan sungkan untuk menghubungi aku.” Ujar Haris. Mendengarnya berkata begitu, Anya menatap Haris. “Kenapa kamu baik sekali padaku?” tanyanya. “Seharusnya aku nggak melibatkan kamu ke dalam situasi sulit seperti ini.” Ucapnya lirih.
“Bukan kamu yang membawaku ke situasi ini, tapi memang aku yang sengaja ingin ikut kemanapun kamu pergi Anya. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu.” Ucap Haris. Anya kaget mendengar pengakuan Haris. itulah sebabnya ketika sedang di rumah sakit, Haris menyempatkan diri untuk menjenguk Azriel, ia pun sering menanyakan kondisi Azriel pada Anya. “Mulai saat ini aku akan melindungi mu.” Ujarnya pada Anya. Mendengar ucapan itu, mata Anya berkaca-kaca. Haris memeluk wanita rapuh yang ada di dekatnya. Ia berjanji dalam hatinya untuk melindunginya. Ia tak akan membiarkan siapapun menyakiti Anya termasuk Davin.