Setelah 3 tahun menjalin hubungan Virtual akhirnya Elfesta memutuskan bertemu dengan pacarnya. Namun bukannya pacarnya Elfesta yang datang melainkan istrinya sang pacar yang tengah mengandung. Mengetahui bahwa dirinya telah ditipu membuatnya sangan kecewa.
kebahagiaan yang ia nantikan berakhir menjadi air mata, lagi dan lagi Elfesta harus berusaha kuat.Sedari kecil ia selalu menutupi luka dengan tersenyum, terlebih El terlahir dari keluarga broken home.
Hingga suatu ketika takdir mempertemukan Elfesta dengan Alvares Smith Ackerley seorang pria yang tidak pernah jatuh cinta. Pertemuan tidak terduga mereka inilah yang membuat Alvares dengan Elfesta tinggal di tempat yang sama.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Al akan jatuh cinta kepada El atau sebaliknya?dan apakah Alvares berhasil menghilangkan luka lama Elfesta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flower vin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur di kelas
Setelah kejadian memalukan tadi, Elfesta langsung masuk ke kamarnya, wajahnya masih terasa panas karena malu. Ia mondar-mandir di dalam kamar, memegangi kepalanya dengan frustrasi, berusaha untuk melupakan momen canggung itu. Namun, bayangan Alvares yang tenang, dengan senyum misteriusnya, terus terngiang di pikirannya, membuatnya semakin bingung dan tidak nyaman.
"Kenapa dia nggak membantah? Dia kan dosenku!" Elfesta menggerutu sambil jatuh ke kasur dan memukul bantalnya pelan, merasa kesal pada dirinya sendiri. Ia mencoba menenangkan pikirannya, tetapi semuanya terasa begitu kacau.
Beberapa detik kemudian, ponselnya berbunyi. Elfesta langsung meraih ponsel yang tergeletak di meja, dan jantungnya langsung berdebar melihat nama Alvares muncul di layar. "Pak Alvares? Kenapa dia menelepon?" Elfesta bergumam, ragu untuk mengangkatnya. Setelah beberapa detik menimbang, ia akhirnya menarik napas panjang dan memutuskan untuk menjawab.
"Halo, Pak?" suaranya terdengar lebih gugup dari yang ia inginkan.
"Elfesta, saya cuma mau memastikan kamu sudah benar-benar aman di kos. Jangan lupa kunci pintu dan jendela, ya," suara Alvares terdengar serius, namun tetap lembut. Elfesta merasa sedikit tenang mendengarnya, meski jantungnya masih berdebar kencang.
Elfesta terdiam sejenak, merasakan kekhawatiran yang sedikit mengendur. "Eh, iya, Pak. Sudah kok. Terima kasih," jawabnya pelan, berusaha menenangkan dirinya.
Sebelum panggilan berakhir, Alvares menambahkan dengan nada yang lebih santai, "Dan soal tadi... jangan terlalu dipikirkan. Saya yakin mereka hanya bercanda." Elfesta ingin mengucapkan sesuatu, mungkin meminta maaf atau sekadar berterima kasih, tetapi Alvares sudah menutup telepon lebih dulu. Ia menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk—malu, bingung, dan entah kenapa, ada rasa senang yang tak bisa ia hindari.
...----------------...
Esok harinya di kampus, suasana terasa lebih canggung dari sebelumnya. Elfesta berusaha menghindari tatapan siapapun, terutama Alvares, yang mungkin sudah tahu betapa canggungnya dia. Kelas pun berlangsung dengan cukup tenang, kecuali untuk Elfesta yang duduk di bangkunya dengan mata mulai terpejam. Setelah semalaman bergelut dengan rasa malu dan bingung, tubuhnya tak bisa lagi menahan kantuk. Perlahan, kepalanya mulai terkulai, dan akhirnya dia tertidur dengan posisi yang sangat tidak karuan—kepala menunduk ke meja, mulut sedikit menganga.
Tiba-tiba Elfesta berada di sebuah taman yang sangat indah. Taman itu penuh dengan bunga berwarna cerah, dan suasananya begitu romantis. Elfesta berjalan pelan, menikmati udara segar, hingga matanya tertuju pada sosok yang sangat dia kenal—Alvares.
Namun, ada yang aneh di sini—Alvares tidak terlihat dingin seperti biasanya. Bahkan, dia mengenakan kemeja kasual yang terlihat nyaman, tersenyum hangat kepadanya.
"Elfesta," katanya, dengan suara lembut yang belum pernah Elfesta dengar sebelumnya. "Mau jalan-jalan?"
Elfesta yang merasa jantungnya berdegup kencang akhirnya mengangguk dan menerima ajakan Alvares. Mereka berjalan berdua di bawah langit cerah, Alvares dengan senyum misteriusnya, dan Elfesta yang makin kebingungan dengan perasaannya.
Tiba-tiba, Alvares berhenti dan menarik Elfesta ke dekat sebuah pohon besar. Dia memandang Elfesta dengan mata yang sangat intens, membuat Elfesta merasa seolah-olah dunia hanya ada mereka berdua.
Alvares mendekat dengan sangat perlahan, wajahnya semakin mendekat. Elfesta yang terkejut hanya bisa menutup matanya, berusaha untuk tetap tenang, meskipun hatinya sudah melompat-lompat.
Dan kemudian mereka—ciuman.
Sebuah ciuman yang lembut dan penuh perasaan, yang membuat Elfesta merasa seolah-olah semuanya berhenti bergerak.
“ELFESTA!!”
Suara keras itu membuat Elfesta langsung terbangun dengan gerakan sangat dramatis. “WHAAT?!” Elfesta terkejut, melompat dari meja, sambil menyadari bahwa dia baru saja terbangun di kelas, dan bukan di taman indah itu.
Alvares sudah berdiri di sampingnya, dengan ekspresi yang campur aduk antara bingung dan sedikit marah. Semua mata di kelas tertuju padanya, dan Elfesta, yang masih setengah bingung, baru menyadari bahwa dia baru saja tidur dengan posisi yang sangat aneh—kepalanya menunduk, mulut terbuka sedikit, dan wajahnya… masih manyun.
Jantung Elfesta berdegup kencang, dan dia langsung menyadari bahwa mulutnya—mulutnya!—masih berwajah seperti ingin cium seseorang! Itu pasti sangat memalukan!
“Apa-apaan ini, Elfesta?! Kamu tidur di kelas?!” Alvares bertanya dengan nada serius, tapi ada semacam ketegangan yang aneh di antara mereka.
Elfesta yang masih bingung dan sedikit terkejut langsung duduk tegak, mencoba untuk bersikap tenang, meskipun semua orang sudah terbahak-bahak. “S-saya nggak tidur, Pak! Saya cuma... cuma... tidur sebentar,” jawabnya dengan suara yang tercekat, berusaha memberi alasan yang masuk akal.
Namun, teman-temannya mulai tertawa geli. "Wah, Elfesta! Jangan-jangan kamu ngimpiin Pak Alvares ya? Pasti seru tuh, ngigau sambil senyum-senyum sendiri!" seorang teman berteriak dari belakang kelas.
Elfesta merasa sangat panas di wajahnya. “S-saya nggak ngigau!” jawabnya buru-buru, berusaha menutupi rasa malu yang luar biasa.
Alvares, yang sudah cukup kesal melihat Elfesta tidak fokus di kelas, melanjutkan, "Elfesta, kamu itu... harus lebih serius di kelas ini. Kalau kamu nggak bisa fokus, saya bisa beri tugas ekstra untuk kamu!"
Elfesta yang mendengar ini langsung panik. “Tugas? Gak! Saya serius kok, Pak! Tapi saya... saya nggak ngigau lho!” jawabnya terbata-bata.
Namun, teman-temannya sudah tak bisa menahan tawa. “Kalian lihat nggak sih? Tadi dia ngigau dengan mulut manyun kayak orang mau cium Pak Alvares!” sahut teman lainnya sambil tertawa keras.
Elfesta merasa wajahnya semakin memerah, dan dia terdiam sebentar. “Pak, s-saya cuma... capek aja, Pak. Mungkin... saya kebanyakan mikir tentang kuliah, jadi... tidur sebentar...” jawabnya, cemas kalau Alvares tambah marah.
Alvares, yang awalnya terlihat serius, akhirnya menghela napas panjang. “Lain kali jangan tidur lagi di kelas. Tapi jangan khawatir, saya nggak bakal kasih tugas ekstra... kali ini,” katanya, dengan nada yang tak bisa dipahami, antara serius dan geli.
Elfesta, yang masih merasa canggung, tersenyum kaku. “Terima kasih, Pak. Saya... saya janji nggak bakal tidur lagi di kelas...” jawabnya, berusaha keras untuk tetap tenang.
Namun, teman-temannya sudah tidak bisa menahan tawa. “Elfesta, hati-hati ya. Kalau ngigau lagi, Pak Alvares bisa aja datang beneran, loh!” terdengar teriakan teman dari belakang kelas.
Elfesta yang semakin terpojok hanya bisa tertawa kecil, mencoba untuk melupakan momen canggung ini, meskipun hatinya masih berdegup kencang dan pipinya sudah merah merona.
Di sisi lain, Alvares yang sedikit bingung dengan reaksi teman-temannya akhirnya memilih untuk melanjutkan materi pelajaran, meskipun masih tersisa sedikit senyum di bibirnya yang hampir tidak terlihat. Elfesta, di sisi lain, duduk dengan canggung, tapi ada sedikit rasa senang yang tak bisa ia pungkiri di dalam hatinya.