Marlina adalah seorang mantan reporter yang dipaksa untuk menikah dengan seorang anak pengusaha kaya raya dan berpengaruh di Italia yaitu Giovani Balzano demi memuluskan ambisi sang papa menjadi perdana menteri. Marlina sempat menolak namun pada akhirnya ia pun menyetujui pernikahan itu karena papanya mengancam akan membunuh pria yang ia cintai namun seiring berjalannya waktu justru Marlina menemukan cinta yang baru, apa yang akan terjadi pada kehidupan Marlina berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat
Marlina segera menuju sebuah rumah sakit tempat di mana Giovani memberikan alamatnya padanya lewat telepon barusan. Sepanjang perjalanan dari rumah menuju rumah sakit nampak Marlina tidak henti-hentinya untuk berdoa semoga saja Malek dalam kondisi yang baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang menimpa pria itu. Perjalanan dari rumah menuju rumah sakit ditempuh dalam kurang lebih 20 menit. Akhirnya Marlina tiba di rumah sakit dan ia langsung bergegas menuju ruang IGD yang mana di sana Giovani sudah berdiri menunggunya.
“Bagaimana kondisi Malek saat ini?”
“Dokter tengah menanganinya di dalam sana.”
“Semoga saja dia baik-baik saja.”
Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang IGD dan mengatakan bahwa kondisi Malek masih memburuk akibat luka yang ia terima ketika disiksa oleh Silvio dan kaki tangannya, Malek kemudan dipindahkan ke ruangan ICU yang mana Marlina hanya dapat melihat pria itu dari luar ruangan saja karena tidak sembarangan orang dapat masuk ke dalam sana.
“Kamu sudah mendapatkan kabar mengenai pria itu kan? Bagaimana, apakah kamu bahagia?”
“Aku bersyukur bahwa nyawanya masih dapat diselamatkan, terima kasih karena kamu sudah membawanya ke rumah sakit.”
Giovani kemudian menceritakan bagaimana ia dapat menemukan Malek rupanya ketika ia menemukan pria ini Malek sudah terbujur di pinggir jalan di luar kota dan di sana jarang sekali manusia atau kendaraan yang melintas, untung saja Giovani dibantu kaki tangannya berhasil menemukan Malek dan membawanya ke rumah sakit sesegera mungkin hingga akhirnya nyawa Malek dapat tertolong walau sekarang kondisinya masih kritis.
“Semoga saja dia baik-baik saja dan kondisinya akan segera pulih.”
“Aku akan pulang ke rumah, kamu mau ikut pulang?”
Marlina menggelengkan kepalanya, ia mengatakan ingin tetap tinggal di sini dan Giovani sama sekali tidak memaksanya untuk pulang ke rumah bersamanya.
“Kalau memang itu yang menjadi keputusanmu maka aku tidak akan mengganggunya.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Giovani kemudian bergegas pergi meninggalkan Marlina seorang diri yang masih berdiri di depan ruang ICU.
****
Keesokan paginya Silvio mendapatkan kabar dari orang suruhannya bahwa seseorang telah membawa Malek ke rumah sakit. Silvio tentu saja terkejut karena ternyata rencananya membiarkan Malek meninggal dunia di tepi jalan setelah disiksa berjalan tidak sesuai dengan rencananya. Silvio tentu saja tidak dapat tinggal diam, ia harus melakukan sesuatu supaya membuat Malek tidak dapat melihat dunia lagi untuk selama-lamanya.
“Apakah kamu sudah tahu siapa orang itu?”
“Belum Tuan, akan tetapi saat ini kami tengah menyelidiki siapa orang tersebut.”
“Baiklah kalau memang begitu, segera beritahu aku kalau kalian sudah mendapatkan petujuk.”
“Baik Tuan.”
Setelah itu orang suruhan Silvio pergi dari ruangan kerjanya dan tidak lama kemudian Alexa masuk ke dalam ruangan kerja sang suami. Alexa nampak begitu penasaran dengan apa pembicaraan yang dilakukan oleh suaminya dan orang suruhannya barusan.
“Sepertinya barusan kalian membicarakan sesuatu hal yang penting, ya?”
“Rencanaku terancam akan gagal kalau dia sampai selamat.”
“Apa maksudmu?”
Silvio tidak memberitahu lebih lanjut pada istrinya, pria itu memilih berlalu dari ruangan kerjanya meninggalkan Alexa yang nampak tak percaya dengan yang dilakukan oleh suaminya ini.
“Ya Tuhan, aku tidak percaya dengan hal ini. Apakah dia sama sekali tidak mendengarkanku?”
Alexa benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya dan ia pun kemudian pergi dari ruangan kerja sang suami.
****
Marlina mendapatkan kiriman makanan dari Giovani melalui orang suruhannya, Marlina berterima kasih pada orang suruhan Giovani yang membawakannya sarapan pagi ini. Marlina berpikir bahwa Giovani tidaklah seburuk apa yang dipikirkan olehnya walaupun memang pria itu adalah kaki tangan dari keluarga Balzano yang memiliki rekam jejak buruk karena sepak terjang Erik dalam bisnis dan beberapa skandal korupsi yang diduga dilakukan oleh kroninya.
“Tidak, jangan menaruh simpati berlebih pada pria itu, bisa saja dia melakukan kebaikan ini karena ada sebuah niat terselubung kan?”
Marlina jadi berpikiran hal tersebut karena ia yakin Giovani tidak menyukainya dan ia pasti diusuruh oleh papanya bersikap baik padanya untuk mendapatkan sesuatu dan sepertinya kalau memang pikiran Marlina itu memang benar maka sudah seharusnya mulai saat ini Marlina menjadi curiga dan tidka mudah percaya dengan Giovani.
“Baiklah, aku akan mencari tahu sebenarnya apa yang ia inginkan dariku.”
Marlina agaknya takut ketika menyantap sarapan yang diberikan oleh orang suruhan Giovani, ia berpikir bahwa bisa saja pria itu menaruh racun atau sebagainya di makanan tersebut.
“Bisa saja kan memang seperti itu.”
Awalnya Marlina tidak mau memakan sarapan itu namun karena ia sudah lapar dan tidak ada makanan lain maka ia pun menyantap sarapan itu.
****
Giovani dipanggil oleh papanya ke ruangan kerja sekarang karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Giovani tidak banyak bicara dan langsung menuju ruangan kerja sang papa yang mana di sana papanya sudah menunggunya.
“Kenapa Papa memanggilku ke sini?”
“Tentu saja karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Mengenai apa?”
“Ini soal istrimu.”
Giovani sontak saja merubah ekspresinya saat papanya menyinggung soal Marlina, Giovani penasaran dengan apa yang ingin papanya katakan mengenai Marlina.
“Kenapa dengan Marlina?”
Erik tidak mau berbasa-basi, ia sudah mengumpulkan banyak bukti mengenai perselingkuhan Marlina dengan Malek dan menyodorkan semua bukti itu pada Giovani, ia meminta Giovani untuk menjelaskan semua bukti yang sudah ia dapatkan ini.
“Memangnya kenapa kalau Marlina jalan dengan pria ini? Pria ini adalah pria yang dicintai oleh Marlina.”
“Kamu sadar bahwa kamu dan Marlina sudah menikah?”
“Tentu saja aku sadar bahwa aku dan dia sudah menikah namun apakah Papa tahu bahwa aku dan Marlina sama-sama saling tidak mencintai? Kami terpaksa menikah demi ambisi keluarganya.”
“Kalau sampai media mengetahui berita ini maka ini akan berpengaruh juga pada keluarga kita.”
“Aku dapat mengatur semuanya, kalau aku dapat membungkam banyak media ketika ada berita kedekatanku dengan Bela maka kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama pada Malek dan Marlina?”
****
Marlina sudah memakan sarapan yang diberikan oleh orang suruhan Giovani dan tidak ada efek apa pun yang ia rasakan selepas memakan sarapan itu hingga akhirnya Marlina percaya bahwa Giovani melalui orang suruhannya memang tidak ada niatan buruk apa pun padanya. Marlina kemudian masih menunggu hingga ada kabar baik dari Malek namun hingga hari sudah malam, ia tidak kunjung mendapatkan kabar apa pun justru ia malah mendapatkan telepon dari suaminya.
“Di mana kamu sekarang?”
“Tentu saja di rumah sakit, memangnya kenapa?”
“Pulang sekarang, dia masih di ruang ICU nanti kalau sesuatu hal terjadi padanya pasti dokter akan menelpon.”
“Aku tidak bisa meninggalkannya sekarang, bagaimana nanti kalau ada seseorang yang memiliki niatan buruk padanya saat aku pulang?”
“Pulang sekarang juga!”