Indonesia
NovelToon NovelToon
Falling In Love

Falling In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Trauma masa lalu / Teen Angst / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Cintapertama
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: oohzaya_

Setiap manusia pasti memiliki kehidupan yang berbeda dengan manusia lain. Kebahagiaan juga kesedihan pasti ada didalamnya. Kecemasan, rasa takut, antusias, kegembiraan dan perasaan yang lain akan turut menyertai. Tidak mengenal Tua atau Muda, Orang tua atau anak. Mereka semua pasti merasakan hal itu.

Tidak terkecuali dua manusia yang sedang berada pada usia dewasa muda ini. Masa disaat mereka menempuh kehidupan sebagai mahasiswa. Berusaha memperbaiki diri ditengah gempuran pergaulan bebas yang menakutkan. Naik turunnya proses mereka dalam mendekatkan diri kepada sang pencipta. Juga usaha mereka untuk bertahan ditengah badai yang datang.

Ini kisah mereka, seorang gadis cantik dan ceria, juga seorang lelaki tampan yang dikenal dengan kesempurnaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oohzaya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Tuhan Sakittt

Azan subuh terdengar, Galen baru bangun dari pingsan nya dengan tubuh menggigil. Mengambil hp yang jatuh, Galen berjalan menuruni tangga dengan sesekali bersin. Galen memasuki kamarnya dan mendapati Varo yang baru saja selesai shalat. Varo melihat Galen dari atas hingga bawah, baru kemudian geleng-geleng kepala melihat Galen yang lari-lari mengambil air wudhu berusaha menghindar.

"Dari mana aja Gal?" Tanya Varo setelah Galen keluar dari kamar mandi.

"Ketiduran di rooftop hehe" Galen menunjukkan cengirannya. Baru saja Varo akan menjawab, Galen sudah mendorong Varo pergi keluar kamar.

Galen menunaikan kewajibannya itu dengan cepat, tubuhnya terus meminta untuk di istirahatkan. Selesai shalat Galen menuju almari mencari sweeter tebalnya, baru kemudian keluar berniat membuat minuman hangat.

"Lah napa lagi Lo Gal?" Tanya Varo heran melihat temannya itu berjalan ke dapur dengan sweeter tebalnya.

"Buat minum, lo mau?" Tawar Galen mulai meracik susu untuk dirinya dan Varo yang baru saja mengangguk.

"Lo yang bawa gua yang takut Gal" timpal Varo ketika melihat Galen membawa dua susu dengan tangan bergetar.

"Omong doang ga ada inisiatif bantuin" kesal Galen lalu menjatuhkan tubuhnya disamping Varo.

"Biar lo rasain siapa suruh tidur di rooftop" Varo mulai meminum susu coklat buatan Galen.

"Namanya ketiduran mana tahu gua bangun-bangun dah subuh" Galen menjatuhkan kepalanya di paha Varo, Ia ingin tidur di kamar tapi sepertinya tidak bisa, kakinya begitu lemas untuk berjalan.

"Panas Gal?" Tanya Varo yang dibalas gelengan oleh Galen, tubuhnya memang tidak demam, hanya rasa dingin saja yang begitu kuat.

Varo yang melihat itu mengangguk-angguk lalu lanjut menikmati susu dengan tv didepannya. Membiarkan Galen tidur di pahanya, mereka berdua memang sudah begitu dekat. Kurang lebih enam bulan mereka kenal ini Galen sudah mulai bergantung dengan Varo. Bagi Galen, Varo itu seperti Abangnya mengingat umur Galen yang memang satu tahun lebih muda, dan bagi Varo, Galen itu bukan hanya teman tapi juga sahabat juga terkadang seperti adek.

"Tidur kamar sana Gal, biar Ga keganggu"

"Peluk Roo" rengek Galen langsung saja terkena tendangan Varo.

"Geli nj* udah ah sana" usir Varo mendorong-dorong tubuh Galen menuju kamar.

Galen tertawa keras melihat wajah geli campur takut Varo, Ia menghabiskan susunya baru kemudian berjalan menuju kamar. Varo tidak tahu, jika Galen sebenarnya tidak bercanda.

"Mabar lagi aja dah yok" ajak Galen.

Berakhirlah keduanya mabar ditemani makanan juga minuman yang penuh di meja. Galen dan Varo, mereka hanya berdua tapi suara mereka sudah lebih dari cukup untuk membuat apartement itu dipenuhi boleh kebisingan. Tanpa siapa pun yang tahu mereka sama-sama bersyukur karena sudah dipertemukan, banyak kesamaan dan perbedaan diantara mereka namun meski begitu entah mengapa keduanya merasa sangat cocok untuk berteman. Keduanya sama-sama tampan, sama-sama pintar, sama-sama berisik tapi yang satu terbuka yang satu tertutup, yang satu suka pedas satu nya tidak suka, yang satu suka mengeluh yang satu nya lagi ga pernah mengeluh.

Keabstrakan mereka membuat keduanya bisa bergantung satu sama lain, bahkan untuk Galen yang tidak mudah percaya dengan orang. Keasikan mereka terus berlanjut dan baru berhenti pukul sepuluh saat Varo sudah harus pulang.

"Serius mau balik Ro? Ga liburan sama gua aja?" Ucap Galen lagi-lagi membuat Varo jengah.

Varo dibuat heran dengan teman nya satu ini, kemarin-kemarin selalu mengusirnya sekarang justru melarangnya balik ke bandung. Galen yang ditatap jengah pun hanya cengengesan.

"Please Gal gua masih normal" kesal Varo lalu pergi begitu saja meninggalkan apartement tanpa mempedulikan teriakan Galen.

Melihat Varo sudah benar-benar pergi Galen baru beranjak menuju kamar untuk beristirahat. Sejak tadi Ia tahan tubuhnya yang terus merasa kedinginan karena tidak mau Varo membatalkan pulangnya hanya karena dirinya, memang lain di mulut lain di hati.

Sweeter tebal itu tidak membuat tubuh Galen menghangat, bahkan selimut yang sudah membungkus tubuhnya kini pun tidak berhasil menghilangkan rasa dinginnya.

"Mama dingin"

....

Dengan cuaca yang sama, ditempat yang tidak jauh berbeda Lia tengah berbahagia dengan liburannya. Baru hari pertama libur tapi Ia dan kedua orang tuanya memilih segera melakukan liburan sebelum jadwal kembali padat. Liburan kali ini sedikit berbeda karena tanpa sengaja Ia bertemu dengan Kak Gavin dan keluarganya disana, di salah satu villa yang ada di bogor, tanpa disangka villa mereka ternyata bersebelahan membuat dua keluarga itu memutuskan liburan bersama untuk satu hari ini.

Senyum pria tampan disamping Lia ini belum pernah Lia lihat sebelumnya. Kak Gavin, iya senyum dan tawanya terlihat lebih lepas dibandingkan biasanya atau mungkin hanya perasaan Lia? Tidak ada yang tahu.

Halaman luas di depan villa milik Opa dan Oma Kak Gavin menjadi tempat mereka melakukan lunch siang ini. Beraneka menu terhidang di meja, senda gurau ikut menemani mereka semua. Sejujurnya Lia penasaran mengapa Galen tidak ikut liburan dengan keluarga nya namun Lia tidak berani bertanya, lebih baik Ia menanyakan langsung saja pada Galen nantinya.

"Gavin ini saya pikir kenapa berhenti menjadi dokter, ternyata mau jadi pengusaha tah" canda Mama Lia yang dibalas ramah juga dengan yang lain.

"Pengusaha uangnya lebih mantap bund" timpal Gavin tak kalah seru membuat tawa di meja itu lagi-lagi keluar.

"Pas lah nanti kalau pengusaha sama dokter" goda Oma Gavin melirik Cucunya juga Lia yang duduk berdampingan.

"Waa boleh tuh" sahut Opa Gavin mendukung penuh, yang lain hanya membalasnya dengan tawa tanpa ikut menimpali.

"Gavin mah udah dapat restu ya bund" Gavin menaik turunkan alisnya menatap Bunda, Ayah juga Lia dengan tatapan menggoda.

Lia tertawa melihat percakapan yang tiba-tiba mengarah kesana. Lucu saja mendengarnya bahkan kuliah saja Ia baru dapat satu semester sudah bahas pasangan hidup saja. Tak urung Lia menanggapinya dengan candaan bersikap sopan namun juga friendly seperti biasanya.

Sisa hari mereka habiskan bermain bersama, mengunjungi wisata, berfoto bersama hingga bercengkrama sampai mana-mana. Lia senang liburan kali ini lebih ramai, dan Ia merasa akan lebih menyenangkan jika ada Galen disini sekarang.

...****...

"Kenapa jadi gampang sakit gini si gua?" Tanya Galen entah kepada siapa.

Galen masih bergelut di bawah selimut hingga malam datang. Cowok tampan itu hanya bangun untuk shalat dan makan selepasnya Galen terus tidur. Tubuh yang semula hanya kedinginan itu pun kini mulai naik suhunya, tanpa seorangpun yang tahu lagi dan lagi Galen harus merasakan sakitnya sendiri.

Bangavin

Bangavin : harusnya lo ikut kita liburan sii Gal

Bangavin : ketemu Lia nih gua

Bangavin : cantik banget ya dia Gal

Bangavin : send a photo

Ayaa

Ayaa : Galen kenapa ga ikut liburan Kak Gavin?

Ayaa : pasti tambah seru kalau ada Galen

Galen menatap kosong pesan-pesan yang masuk dalam hp nya, juga story-story yang menunjukkan teman juga keluarganya yang sedang berlibur.

Bangavin

Galen : wii ga beruntung guaa wkkwk

Galen : cantik atuu masa depan gua itu

Ayaa

Galen : Iya hehe

Galen : pasti lahh apalagi Aya seneng banget pasti ada gua

Dengan cepat Galen membalas dua pesan itu, sebelum kemudian kembali menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dengan tangan yang terkepal erat menahan apa yang Ia rasakan kini.

'Hiks'

'Hiksss.. hiks'

Suara tangis itu lambat laun terdengar dari balik selimut. Tangis yang membuat siapa pun yang mendengar tahu jika pria tampan ini sedang tidak baik-baik saja. Tangis yang sebenarnya sudah ingin keluar mengingat kata cerai dari kedua orang tuanya kemarin dan baru bisa Ia keluarkan saat ini.

Sakit rasanya melihat teman-teman nya bisa bercanda gurau dengan kedua orang tuanya, sakit rasanya melihat teman-teman nya bisa melakukan liburan bersama orang-orang yang mereka sayang dan sangat sakit rasanya ketika melihat kedua orang tuanya pergi berlibur tanpa mengajak dirinya, melihat mereka tertawa bebas tanpa mengingat dirinya yang bahkan sekarang tengah jatuh sakit. Sudah lama Ehan tidak menangis untuk hal seperti ini namun entah mengapa kali ini rasanya lebih menyakitkan mengingat kedua orang tuanya akan bercerai dan harapan untuk mendapat keluarga harmonis itu telah pupus. Tidak sekarang dan tidak di masa depan.

"Tuhan sakittttt"

...****************...

1
Amelia
semangat terus ❤️❤️❤️
Rinjani Putri
semangat KK ijin promo karyaku ya kk mf masih pemula 🙏
Amelia
❤️❤️❤️❤️❤️👍👍
Aegis
aku mampir dulu kak.
oohzaya_: silahkan makasihh 🤗
total 1 replies
Amelia
lanjut ❤️❤️❤️😊
Amelia
semangat ❤️❤️😊
Tuxedo Mask
Wooh, saya kagum author bisa bikin twist cerita yang menarik!
oohzaya_: thank you kak 🙂
total 1 replies
Nagisa Furukawa
Ayo thor, kangen sama kelanjutan cerita yang seru ini! Update sekarang juga, ya!
Laili Sabilla
lanjut... tetep semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!