Naila tak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam sekejap. Dihujani fitnah dan kebencian dari keluarga mantan suaminya, ia menjadi orang asing di rumah yang dulu dianggap tempat pulang. Difitnah suami dan dikhianati adik sendiri. Luka batin bertubi-tubi dan pengkhianatan yang mendalam memaksanya bangkit menjadi sosok baru yang tegas, penuh perhitungan, dan siap membalas setiap luka yang pernah diterimanya.
Lima tahun berlalu, Naila kembali dengan wajah dan tekad yang berubah. Bukan lagi wanita lemah, ia kini hadir sebagai ancaman nyata yang mengguncang rumah tangga mantan suaminya. Dalam perjalanan membalas dendamnya, ia akan menguak rahasia-rahasia kelam dan menetapkan aturan baru, tidak ada yang boleh melecehkannya lagi.
Siapakah yang akan bertahan saat permainan balas dendam dimulai?
Bersiaplah menyelami kisah penuh emosi, intrik, dan kekuatan wanita yang tak tergoyahkan dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wida_Ast Jcy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 AKHIRNYA JATUH JUGA
Tuan Wijaya semasa hidupnya hanya memiliki dua anak, yakni Nyonya Linda dan Abimanyu. Setelah ia meninggal dunia, seluruh aset dan perusahaan diwariskan kepada keduanya.
Namun karena Abimanyu, adik Nyonya Linda, menolak perjodohan yang telah diatur oleh sang ayah, maka wasiat Tuan Wijaya dialihkan. Ia menetapkan bahwa agar posisi Naufal sebagai pewaris tetap sah, pernikahan dengan calon pilihan keluarga harus tetap dijalankan tidak peduli siapa pengantinnya.
Dan kini, setelah peristiwa itu, Nadia menempati posisi yang seharusnya milik Naila. Segala warisan, saham, dan kekuasaan keluarga Wijaya kini berada di tangan keturunan Nyonya Linda dan Tuan Hendra.
Sebagai anak kedua dari Tuan Wijaya, Nyonya Linda memperoleh keuntungan khusus ia bisa menjaga warisan itu tetap berada dalam garis keluarga jika menikahkan Naufal putra semata wayangnya dengan anak dari keluarga Hasan.
Karena itu, posisi CEO kini resmi dipegang oleh Naufal. Jabatan tinggi itu tidak datang sendirian ia juga menerima fasilitas mewah dan hak istimewa lain selama menjalankan amanat wasiat tersebut.
Tuan Hendra dan Nyonya Linda menganggap pernikahan Naufal sebagai jalan terbaik untuk mempertahankan martabat keluarga. Bagi mereka, tidak ada yang salah dengan perjodohan selama semua tampak sempurna di mata publik.
Terlebih lagi, Nadia anak dari Pak Hasan memiliki paras menawan dan pendidikan yang cukup baik meskipun berasal dari keluarga sederhana. Itulah sekelumit kisah di balik alasan mengapa Naufal kini berbagi ranjang dengan seseorang yang tidak ia cintai. Karena jabatan dan kekuasaan.
Seharian penuh, Naufal memilih menjauh dari rumah megah yang kini terasa asing baginya. Ia menghabiskan waktu di tempat yang dulu menjadi saksi banyak kenangan bersama Naila tepi danau yang selalu tenang, di mana tawa mereka pernah berbaur dengan gemericik air.
Dari pagi hingga malam, ia hanya duduk diam di sana, menatap permukaan air yang beriak pelan, berharap Naila tiba-tiba muncul seperti dulu. Namun, ia tahu itu mustahil. Naufal sendirilah yang menghancurkan segalanya. Ia yang menolak mendengar penjelasan Naila. Ia yang menandatangani surat cerai dengan tangan bergetar, namun mata tetap dingin.
Kini, penyesalan itu menghantam dirinya tanpa ampun. Setiap kali mengingat video yang diperlihatkan Julian malam itu rekaman yang menjerat Naila dalam tuduhan keji hatinya terasa perih. Satu sisi hatinya ingin percaya bahwa itu semua kebohongan, tapi bukti yang tampak terlalu nyata untuk dibantah.
“AAARGGHHH!”
"Seru Naufal, membentak udara kosong.
Ia berteriak sekuat tenaga, seolah ingin mengeluarkan seluruh beban yang menyesakkan dada. Setiap kali bayangan itu muncul, ia merasa dunia seakan menghimpit tubuhnya. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tak berakhir.
Tubuhnya yang letih kemudian ia tenggelamkan ke dalam bathtub berisi air dingin air yang sebelumnya disiapkan oleh Nadia. Ia berharap suhu dingin itu bisa menenangkan panas di dadanya, meredakan amarah dan rasa sesak yang bergelayut di pikirannya.
Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat. Begitu keluar dari kamar mandi, Naufal kembali merasa hampa seolah air itu hanya membersihkan tubuhnya, tapi tidak pernah benar-benar menyentuh luka di hatinya. Naufal keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
“Aah, sial. Bajuku kenapa tidak sekalian kubawa,” gerutunya pelan.
Biasanya, Naufal tidak pernah merasa sungkan meskipun hanya bertelanjang dada di dalam rumah. Baginya, tidak masalah jika Naila melihat mereka sudah lama menikah dan terbiasa dengan hal itu. Namun, bersama Nadia, entah mengapa semua terasa canggung.
Ada jarak yang tak kasatmata, seolah udara di antara mereka dipenuhi rasa asing. Tidak ada debar seperti dulu saat ia bersama Naila. Dengan tergesa, Naufal melangkah keluar menuju lemari pakaian, hendak mengenakan baju. Namun langkahnya terhenti ketika suara lembut Nadia memecah keheningan.
“Mas, ini bajunya sudah aku siapkan,” ucap Nadia seraya menunjuk ke arah kasur.
Di sana, piyama telah tertata rapi. Ia menyiapkannya dengan penuh perhatian untuk suaminya itu. Tanpa senyum, Naufal mendekat. Tatapannya dingin, nadanya datar.
“Lain kali tidak usah, Nad. Aku bisa ambil sendiri,” ujarnya singkat.
Ucapan itu menohok hati Nadia. Tidak ada sapaan lembut, tidak ada panggilan sayang seperti “Dek” atau “Sayang” yang dulu sering ia dengar dari mulut Naufal.
Ia hanya diam, menelan getir yang tiba-tiba menggenang di dadanya. Ia tahu, meskipun kini sudah sah menjadi istri Naufal, hati pria itu masih tertambat pada masa lalu pada seseorang yang bukan dirinya.
Namun, Nadia tetap berusaha tersenyum, meski senyum itu terasa pahit di bibirnya. Ia menunduk, berbisik dalam hati,
“Sabar, Nadia. Pelan-pelan saja. Mas Naufal pasti akan membuka hatinya untukmu suatu hari nanti.”
“Kalau begitu, aku keluar dulu, Mas, supaya bisa ganti baju,” ucap Nadia lembut setelah mengatur napasnya.
Ia tahu Naufal terlihat tidak nyaman dengan keberadaannya di ruangan itu. Naufal hanya mengangguk pelan tanpa menatapnya. Tetesan air masih menuruni rambutnya yang basah, jatuh ke lantai satu per satu. Wajahnya datar, dingin seperti tembok tanpa celah.
Nadia melangkah perlahan melewatinya, menahan getaran di dadanya agar tak pecah menjadi tangis. Setiap langkah terasa berat, namun ia terus melangkah, menatap pintu kamar yang terasa semakin jauh.
Di balik punggungnya, Naufal berdiri diam, menatap kosong ke arah jendela. Hening. Hanya suara air yang menetes dari rambutnya dan gemericik hujan di luar yang menjadi saksi, betapa jauhnya hati dua insan yang kini tinggal di bawah atap yang sama, tapi tak lagi berbagi rasa.
Tubuh Naufal yang tegap dan berotot membuat siapa pun mudah terpana termasuk Nadia. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa berhenti mengagumi sosok pria itu. Sejak awal pernikahan mereka, Nadia tahu, cinta Naufal bukan untuknya. Namun, ia tidak pernah berniat menyerah begitu saja.
Tubuhnya yang sixpack membuat wanita mana pun terpesona, termasuk Nadia sendiri. Ia tak akan menyerah untuk mendapatkan pria itu. Hingga Nadia punya ide, ia pura-pura terpeleset tepat saat melewati suaminya.
"Aaahhh!!!" pekiknya seraya hampir terjatuh.
Refleks tangannya meraih tangan Naufal untuk berpegangan. Naufal yang kaget pun meraih tubuh Nadia yang hampir terjatuh itu.
DEGH.
Tatapan keduanya terkunci. Nadia masih berpegangan erat pada suaminya, sementara Naufal yang sejak tadi menahan hasrat untuk tidak melirik istrinya itu akhirnya pun tergoda. Bagaimana tidak, Nadia memakai gaun tidur dengan belahan terbuka. Sehingga saat hendak jatuh, ia bisa melihat dua benda kembar agak tersembul keluar.
Sekian detik dalam posisi yang sama, hingga akhirnya dengan berani Nadia melingkarkan tangannya yang tadi berpegangan erat pada tangan Naufal itu kini berpindah ke leher Naufal. Ia merasa ini adalah kesempatan terbaik untuk menggoda Naufal.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Naufal sama sekali tidak menolak ataupun menghindar ketika Nadia membelai wajahnya. Tak hanya itu, Nadia juga menarik Naufal untuk semakin mendekat. Tanpa ragu, ia mengecup bibir pria itu, memberikan rangsangan agar Naufal semakin larut dalam suasana yang membuat pria itu tak berkutik.
Satu sisi Naufal ingin menolak, namun ia juga pria normal yang mudah tergoda oleh keindahan yang disuguhkan oleh seorang wanita yang telah sah menjadi istrinya. Meski hatinya sedang berkecamuk, tapi ia memiliki hak untuk menyentuh wanita itu dalam ikatan halal.
BERSAMBUNG..