Ini bukan kisah antara pria dingin dengan wanita kepribadian ceria. Tetapi ini adalah kisah percintaan suami-istri yang bersifat Tsundere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valfitrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ingin Berpisah
Kembali seperti di awal pernikahan, Kaila tidak lagi tidur sekamar dengan Ellan, melainkan tidur di kamar lamanya yang sudah cukup lama kosong.
Hanya saja ia harus menyiapkan sarapan lebih untuk Ellan yang kini lebih memilih masakan rumah. Setelah beberapa menit menunggu, Ellan tak juga kunjung keluar dari kamar. Padahal kalau sudah pukul setengah delapan, Ellan sudah hampir terlambat kerja.
"Apa mungkin dia masih tidur?" batin Kaila
Itulah yang dipikirkan Kaila saat ini dan sekarang Kaila sedang mencari keputusan apa yang akan dilakukan untuk selanjutnya. Pergi bekerja atau membangunkan Ellan terlebih dahulu?
Pada akhirnya Kaila memilih menunggu Ellan keluar dari kamar. Namun, setengah jam telah berlalu Ellan masih tak kunjung juga keluar kamar.
"Nanti terjadi apa-apa dengannya?" batin Kaila segera berjalan cepat menghampiri Ellan yang masih di kamar.
Kaila membuka pintu perlahan, dan tampaklah Ellan masih terbaring di atas ranjang dengan wajah merah kepanasan.
Melihat hal itu Kaila segera mendekati Ellan dan meletakkan punggung tangannya tepat di kening Ellan. "Ya ampun panas sekali."
Kaila hendak mengambil kompres air hangat, namun Ellan mencegahnya. "Kamu pergi kerja aja... Panasnya cuman sedikit kok."
"Enggak, aku nggak kerja hari ini. Sebentar aku ambil air hangat dulu."
"Tapi..."
"Ssttt, tunggu sebentar di sini."
Selang beberapa menit Kaila kembali dengan. membawa kompresan air hangat dan kain untuk Ellan. Kemudian meletakkannya tepat di dahi Ellan.
"Kamu udah banyak bolong di hari kerja.Takutnya kamu dimarahi sama atasan," ujar Ellan.
"Aku bakal kasih surat pengunduran diri, kalau kualitas pekerjaanku kinerjanya nggak sesuai," jawab Kaila sedikit percaya diri.
Ellan tersenyum kecil, kemudian memejamkan matanya kembali seraya berbaring telentang. "Ternyata istriku keren sekali ya."
Kaila sedikit salah tingkah, ia segera mengalihkan topik percakapan, "ka- kamu mau makan dulu? Biar langsung minum obat."
Ellan mengangguk. "Boleh, asal kamu suapin."
"Kalau begitu tunggu sebentar ya, aku masak bubur dulu."
"Jangan! Sarapan biasa aja. Aku nggak suka bubur."
"Oke. Tunggu di sini!" titah Kaila.
...
Di sisi lain Sean sedang menggerutu kesal karena Ellan selalu seenaknya tidak masuk kerja.
"Kabar nggak ada sama sekali, pekerjaan ditinggalkan semua ke aku? Haha kenapa gak aku aja CEOnya? Menyebalkan!" Kesal Sean sembari merapikan setumpukan kertas.
"Ellan sakit," ucap Sana.
Sean menoleh ke arah sumber suara, "Tahu dari mana? Dia nggak ada ngabarin aku sama sekali."
"Kaila yang bilang. Dia juga nggak masuk kerja hari ini."
Sean menghela nafas berat setelah mendengar jawaban Sana. Ia kembali duduk di kursi Ella sembari mengurus tumpukan kertas itu kembali. Mata Sean kembali menatap Sana yang masih memperhatikannya.
"Oh iya, tadi kamu kapan masuk ke sini?" tanyanya.
"Sejak kamu mengoceh."
"Ohh..."
Sana mengerutkan keningnya. "Ohh saja?"
"Jadi aku harus jawab apa coba?" jawab Sean dengan nada terkesan malas. Sana tidak menjawab, ia memilih duduk tepat di depan Sean.
"Aku ke sini mau tanya soal yang terjadi semalam dengan Kaila."
"Aku masih banyak kerjaan jadi nanti saja."
"Waktu kerja kamu gak bakal terganggu. Kamu tinggal jawab sambil bekerja, harusnya bisa kan?"
"Sana dengar..., aku nggak bisa kasih tahu kamu soal masalah itu. Aku tahu, Kaila sahabat kamu. Tapi itu privasi dan urusan mereka. Ellan cerita karena dia percaya samaku. Kalau kamu mau dengar masalah antara mereka, kamu harus nunggu cerita itu keluar dari mulut Kaila."
"Tapi aku ragu ini ada hubungannya dengan Bima, mantannya."
"Nanti aku sampaikan ke Ellan soal itu."
"Oke."
Sean kembali melanjutkan pekerjaannya, namun matanya malah teralihkan melihat Sana yang tidak keluar dari ruangan, melainkan berbaring di sofa.
"Kenapa belum pergi juga? Ada lagi yang mau ditanya?" tanya Sean.
"Kaila sibuk. Jadi aku nggak punya teman selain kamu," jawab Sana santai.
Sean hanya ber'oh' ria. Tidak masalah baginya, jika Sana tetap di tempat itu. Asalkan gadis itu tidak buat kebisingan.
...
Kembali pada Ellan yang sedikit bersyukur karena tertimpa demam. Ia jadi bisa menikmati kasih sayang yang diberikan Kaila yang hampir tidak pernah ia dapat. Pria itu memandangi wajah istrinya yang tengah duduk di dekat meja dengan beberapa berkas.
"Bahkan di mana pun dia berada ia sempatkan untuk bekerja," pikir Ellan. Entah dia harus senang atau tidak dia juga ragu.
Kaila menoleh ke arah Ellan. "Kamu butuh sesuatu?"
Ellan tersadar, dan refleks berpura-pura kesakitan. "Kepalaku tambah pusing, kayaknya obatnya nggak bekerja."
Raut wajah Kaila berubah khawatir, "Ayo kita ke rumah sakit aja."
"Jangan-jangan! Aku nggak mau ke dokter, aku takut disuntik."
"Tapi kalau tambah sakit gimana?"
"Jangan pleaseee, ya sayang?" Ellan mengubah ekspresinya menjadi memelas.
Kaila menghela nafasnya berat, "Yaudah, tapi kalau butuh sesuatu langsung dibilang ya..." Ellan mengangguk cepat.
Setelah beberapa menit Kaila kembali fokus mengerjakan pekerjaannya. Tapi konsentrasinya seketika buyar, ketika tanpa sadar Ellan memeluknya dari belakang.
Menghadap ke belakang pun rasanya susah, karena Ellan menahannya agar tetap di posisi itu.
"Sebenarnya kepalaku gak pusing lagi..., aku juga gak butuh ke dokter, aku butuh kamu, Kai. Bisa gak kamu luangkan waktu untuk kita berdua? Sebentaaar saja,"
Ellan melanjutkan kalimatnya. "Setidaknya kamu pasti sadar pernikahan kita udah hampir 3 tahun. Beberapa bulan ini kita semakin dekat tapi terlalu sering bertengkar, dan waktu kemarin itu sudah ketiga kalinya kamu minta cerai,"
"Nggak masalah kamu udah gak perawan lagi atau apapun itu. Itu cuman masa lalu, aku bisa terima gimana pun keadaan kamu yang sekarang."
Kaila tidak bisa bergeming, ia hanya bisa mencermati kata-kata Ellan yang membuat tekadnya untuk berpisah semakin luntur.
Kaila berdiri dari kursinya, dan berputar memeluk Ellan yang berada di belakangnya. "Yang kemarin adalah terakhir kali aku minta kita berpisah."
"Maaf, aku nggak akan ngulang kata-kata itu lagi," Kali ini hanya Kaila yang mengeluarkan air mata menyesal.
Sekarang gantian Ellan menepuk-nepuk pelan punggung Kaila untuk menenangkannya.
"Gapapa, semua udah berlalu... Aku juga minta maaf kalau selama ini udah egois."
Rasanya sudah cukup lama berdiri, sekarang Ellan merasa benar-benar pusing. Alhasil Ellan oleng hampir terjatuh, untung Kaila masih berada di dekatnya. Jadi gadis itu bisa memapahnya ke tempat tidur.
"Dingin," keluh Ellan.
Kaila menarik selimut untuk menyelimuti Ellan yang kedinginan. Tetapi Ellan mencegahnya dan menarik gadis itu ke ranjang sambil memeluknya dengan erat.
"Begini saja, lebih hangat."
Ellan menarik selimut itu kembali untuk menutupi tubuhnya dan Kaila. "Temani aku sampai tertidur ya!" titahnya.
Tapi masih banyak yang typo thor