Terkenal dingin, dan keras kepala. Siapa lagi kalau bukan Galang Pratama si ketua genk motor.
Pada suatu hari yang menegangkan saat pertemuannya dengan calon Ibu tirinya itu, membuat awal kebencian kepada anak perempuan tersebut.
Pemuda itu membutuhkan sosok Ibu yang melahirkannya, tapi mengapa Ayahnya membawa perempuan lain?.
Dara, gadis muslimah cantik dan manis harus menelan pil pahit, saat melangsungkan pernikahan kedua Bundanya telah meregang nyawa.
Perempuan cantik itu menahan sakit hati, kala tahu yang membunuh Bundanya ternyata sosok pengagum rahasianya.
Akankah cinta dapat mengalahkan kebencian dihati keduanya?
————
Tunggu apalagi, jom bacaa!🥀🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benci
Dalam ruangan gelap tanpa penerang, tampaklah pemuda berhodie hitam dan topi hitamnya menampilkan senyum miring.
Dia berjalan mendekati perempuan cantik yang masih tak sadarkan diri. Galang berjongkok didepan Dara, seraya memperhatikan lebih dalam wajah itu.
Tapi semakin lama menatap, ada perasaan aneh yang mengusiknya. Galang bahkan tidak mengerti dengan dirinya saat ini, dan diapun sedikit menjauh pada gadis tersebut.
“Apa yang terjadi padaku?” gumamnya heran, dan mengambil cepat rokoknya disaku.
“Hufttt!” Galang mengepulkan asap rokoknya hingga Dara disana terbatuk.
“Uhuk! uhuk! apa i--ni?” Suara Dara begitu serak dan merasa pusing melihat dirinya berada ditempat berbeda.
Dara ingin memegang kepalanya tetapi, tangannya tidak bisa bergerak dan ia yakin ia telah disekap seseorang.
“Akhh! Siapa disana?” teriak Dara.
Sebelum berteriak ia dapat melihat ada seseorang yang tidak jauh dirinya berada. Dara sulit melihat lebih jelas akibat lampu yang tidak ada, apalagi Galang memang memakai serba hitam.
Galang melangkahkan mendekat membuat Dara takut sendiri.
“Anak pelakor sudah sadar rupanya,” ucap Galang.
Seketika Dara melongo tak percaya mendengar suara itu, suara yang tak asing lagi ditelinganya.
“Ga--lang? mau apa loh, hah?!” tanya Dara sedikit berteriak.
“Ohhh shitt ...!” Galang mengucek telinganya. “Bisa nggak, loh diam!” bentaknya.
“Gue nggak akan diam sebelum loh lepasin gue, GALANG PRATAMAAA!” teriak Dara lagi, dan pada akhirnya menekan nama Galang.
Galang maju lagi satu langkah, hingga jarak keduanya sangat dekat. Bahkan pemuda itu mendengar dengan jelas deru nafas gadis didepannya yang seperti ketakutan.
‘Takut? haha kamu akan menyesal dara, kamu pasti akan sangat menyesal telah mengusik keluargaku.’ Galang membatin puas, dan membayangkan apa yang dia lakukan pada gadis itu.
“Lepas? lepas saja sendiri,” kata Galang sambil tersenyum mengejek.
Dara semakin was-was kepada Galang, dalam hatinya terus beristigfar.
Mencoba menarik nafasnya dalam-dalam. “Apa salah saya?”
Galang berjalan menjauh pada Dara. “Salah kamu adalah menjadi wanita yang tidak tahu diri!” kata Galang sinis.
Deghh!
“Maksud loh?” tanya Dara tak mengerti.
“Apa maksud kamu dekat dengan papa saya, Dara? jangan bilang kamu seperti ibumu merayu suami orang!” jawab Galang dengan suara meninggi.
Dara lagi-lagi terdiam, matanya memanas mendengar nama Bundanya dibawa-bawa. Ia menutup mata dalam-dalam dan mencoba membuang nafasnya kasar. Ada rasa lelah.
Lelah mendengar mulut itu tidak henti-hentinya membawa nama Bundanya. Kenapa? kenapa Galang tidak mengerti juga? ingin ia mengungkapkan sesuatu yang tidak diketahui Galang saat ini, tapi dia juga teringat Om Bram yang akan mengatakan semuanya pada anaknya.
“Apa perdulimu? itu tidak penting diketahui oleh seseorang yang tidak ada hatinya sama sekali.”
Galang beralih menatap Dara tajam, dan ia berjalan menyalakan saklar lampu diruangan tersebut.
Dara membuang pandangannya kesamping saat tahu Galang berjalan lagi kearahnya.
“Rupanya loh ingin bermain-main sama gue?” Sambil tersenyum devil.
Dara tidak menjawab, ia lebih baik diam dalam ketakutan yang sedari tadi ia sembunyikan.
Brak!
Galang menendang kursi kayu yang diduduki Dara, yang mana ia sedikit menggertak perempuan berjilbab putih itu.
“Takut?” tanya Galang dingin.
Dara gemetar, tapi ia hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Galang kepadanya dan itu membuat Galang emosi.
*****
“Langit kemana sih?!” gerutu Lisa.
Sisi yang sedang ngemilpun berhenti sejenak memasukkan makanan didalam mulutnya.
“Yo telpon lah! apa susahnya?” saran Sisi.
“Nomornya nggak aktif,” ucap lemah Lisa.
“Yaudah, biarin saja.”
Lisa menatap Sisi tak suka, dan dia berjalan mendekati temannya itu yang sibuk dengan Snack di tangannya.
Tanpa aba-aba langsung menjatuhkan tubuhnya kesofa, alhasil sisi terguncang dan membuat snak ditangannya jatuh.
“Aaa Lisaaa!” pekik Sisi, membuat Lisa tersenyum puas dengan itu.
“Sorry, sapa suruh loh sibuk dengan makanan. Temannya lagi bete, harusnya didukung bukan dibiarin,” timpal Lisa tanpa rasa bersalah.
“Huff ... jadi gue harus ngapain, Sa? hujan badai angin ribut telah kulakukan untukmu!” jawab asal Sisi.
“Nggak tahu,” balas Lisa membuat Sisi menatapnya malas.
“Apasih nggak jelas. Jadi cewek nggak sabaran amat, emang dunia Langit cuman loh doang?” sindir Sisi.
Lisa tampak diam menatap lurus kedepan. “Loh tahu, 'kan gue orangnya posesif banget sama dia. Tapi semua itu karena gue cinta sisi, mungkin dunia dia luas kayak Luh sedang gue?” kata Lisa terlihat sedih.
Sisi tertegun, dan menyesali perkataannya sendiri yang sudah melukai teman yang sudah ia anggap sebagai saudara.
Lisa yang memang dianggap jahat, ternyata ia juga mempunyai kesedihan yang amat dalam. Semua yang terjadi padanya hanyalah Sisi yang menjadi sandaran ketika waktu terpuruk, dan Sisi memang anak yang bebas jadi Lisa ikut dalam pergaulan yang tidak semestinya terjadi pada anak muda.
Stres yang Lisa hadapi ia akan berlari ke klub bersama Sisi dan teman sekelasnya. Bukannya berlari kemasjid untuk mengadu, malah mereka seni menyiksa diri karena kurangnya rasa malu.
“Jangan sedih, jom kita senang-senang dulu. Sudahi galaumu tuan putri, teman-teman lainnya dah sampe di klub.” Sisi mengusap kepala Lisa lembut, dan Lisa mengangguk setuju.
Keduanya lekas bersiap-siap ke klub, dimana perjanjian mereka saat pulang sekolah.
Lisa bahkan melupakan kegalauan memikirkan Galang yang hilang tanpa kabar sedikitpun. Sedangkan ditempat lain, Dara sudah ketakutan bukan main karena ulah Galang.
Dimana Galang tersenyum smirk dan mata tajam tak lepas dari pandangannya ke-Dara. Gadis itu pucat pasi, melihat langkah kaki Galang yang terus mendekat.
“Ja-jangan sentuh guee!” bentak Dara gemetar.
“Ckk! lebih baik loh diam!” kata Galang datar.
Galang membukakan ikatan tali ditangan Dara dan tanpa aba-aba gadis itu menamparnya.
Plakk!
“Kau ...?” Galang tidak habis pikir, sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras itu.
Dara gemetar hebat, ia malah menatap tangannya. Dirinya juga tidak tahu kenapa bisa ia menampar Galang, tapi semuanya sudah menjadi bubur pemuda itu semakin marah dan kesal.
Sangat jelas wajah tampan itu mengeras dengan wajah memerah menahan emosi. Matanya nyalang menatap Dara, dan ....
Settt!
Dara melotot kepada Galang yang sudah menarik jilbab yang ia kenakan. Hati dara kini berasa jatuh ditempat dan air mata lolos dari pipinya.
“KEMBALIKAN JILBABKUU!” teriak Dara dengan linang air mata.
Galang masih bengong ditempat dengan apa yang sudah ia lihat, bahkan matanya tidak berkedip sama sekali melihat Dara begitu cantik.
Bahkan ia lebih cantik dan manis, kalah jauh sama Lisa.
“Ke--mbalikan jilbabku, hikss!” Dara terisak ditempat membuat Galang sadar dari terpananya.
Deghh!
Ada rasa sesak melihat Dara menangis kerena kain yang menutupi kepalanya sudah ia tarik. Dan baru kali ini ia melihat perempuan menangis hanya karena jilbab, sedangkan dalam benaknya teman cewek yang muslim saja tidak memakai jilbab dan tidak mempermasalahkan. Tetapi berbeda dengan Dara, itu adalah kain yang menjaganya dan baru kali ini juga seseorang melepaskan jilbab tersebut yang mana nantinya ia akan melepasnya kepada suaminya kelak.
Harapan itu pupus begitu saja karena Galang!
“Hikss ... hikss, rambutku!” lirihnya.
“Ya Allah, ampunilah aku yang tidak bisa menjaganya, hiks ...!” Galang tersedak, ia menyadari satu hal yang tidak pernah ia ketahui.
Galang melempar jilbab itu ke-Dara, dan gadis itu memakainya cepat sambil terisak.
“Gitu aja nangis?!” ucap Galang tanpa beban.
Dara menarik nafasnya, dan berani menatap Galang dengan tatapan tajam.
“AKU MEMBENCIMU GALANG PRATAMA!” teriak Dara, “SAMPAI KAPANPUN AKU MEMBENCIMU.”
“Cihh, emang gue pikirin?”
...Komen dibawah yah...
ampe sedia tisu buat ingusss.😂